Monday, September 10, 2012

Pelajar Beringas, Ada Apa dan Solusinya


Puluhan pelajar SMP sedang tawuran di jalanan dengan masih memakai seragam sekolah, bahkan ada yang membawa senjata tajam dengan beringas dan penuh amarah mengejar musuhnya. Kejadian diatas hanyalah sebagian dari puluhan, bahkan ratusan kasus yang menempatkan pelajar sebagai pelakunya. Muncul pertanyaan di kalangan masyarakat ada apa dengan pelajar kita? Siapakah yang sakit, pelajar atau masyarakat?

Dalam pandangan psikologis, perilaku semacam itu merupakan bentuk salah arah pada diri remaja dalam upaya menemukan jatidirinya. Masa remaja (adolescence) adalah masa paling rawan dalam proses pertumbuhan. Satu sisi secara fisik anak telah memenuhi syarat sebagai seorang dewasa, di sisi lain belum diimbangi dengan kedewasaan secara psikologis.

Kondisi semacam itu menempatkan mereka dalam posisi labil. Kecerdasan emosi yang belum matang mendorong remaja melakukan pencarian jati diri tanpa dilandasi dengan logika / rasio. Termasuk diantaranya bernagai perilaku yang cenderung beringas. Secara umum faktor - faktor yang turut berperan dalam pembentukan berbagai perilaku menyimpang tersebut yakni:

1. Beban kurikulum yang berat

Disadari atau tidak, sekolah saat ini menjadi salah satu tempat yang menyeramkan bagi sebagian siswa. KTSP yang digadang - gadang mampu memberikan rasa nyaman bagi siswa dalam belajar ternyata justru sebaliknya. Bagaimana tidak memberatkan jika dalam satu minggu seorang siswa SMA harus menyelesaikan 17 mata pelajaran yang terbagi dalam 39 - 43 jam pelajaran.

Tingkat frustasi siswa semakin tinggi dengan penentuan angka KKM yang dipaksakan, sehingga siswa yang tidak mampu secara akademis melakukan berbagai bentuk kompensasi negatif, mencontek, membolos, membuat kegaduhan dan lain - lain.

2. Kompetensi guru

Pada sisi lain guru juga dinilai turut berperan dalam pembentukan berbagai perilaku menyimpang pada diri pelajar. Dalam tataran ideal seorang guru mempunyai dua tugas penting, yaitu mengajar dan mendidik.

Tugas mengajar bagi seorang guru adalah tugas untuk mentransfer ilmu pada diri pelajar, sedangkan tugas mendidik bagaimana seorang guru harus mampu membentuk sikap dan perilaku siswa sesuai norma yang berlaku.

Ironisnya, sebagian guru hanya terfokus pada tugas mengajar dan mengabaikan aspek pembentukan sikap dan perilaku siswa. Akibatnya, seakan - akan guru hanya mengejar target materi pelajaran yang harus diselesaikan sesuai tuntutan silabus.

3. Perhatian orang tua

Menurut Ki Hajar Dewantara, orang tua merupakan salah satu pilar utama pembentukan pribadi pelajar. Namun, peran tersebut semakin berkurang dewasa ini, tuntutan ekonomi membuat orang tua tidak mempunyai waktu bagi putra - putrinya.

Pemenuhan dalam segi materi dianggap sebagai imbalan atas kurangnya perhatian terhadap anak - anak. Tugas pembentukan sikap dan perilaku anak sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Kontrol yang kurang dari orang tua membuat anak leluasa melakukan aktivitas yang tidak bertanggung jawab.

4. Tayangan kekerasan

Salah satu ciri khas orde reformasi adalah keleluasaan masyarakat untuk mengakses berbagai informasi. Kebebasan ini diam - diam membawa dampak kurang bagus bagi perkembangan jiwa anak - anak.

Tayangan kekerasan berupa film maupun berita - berita kriminal membuat anak - anak familiar dengan peristiwa - peristiwa kekerasan. Bahkan beberapa media menampilkan reka adegan yang bukan tidak mustahil justru memberikan inspirasi bagi sebagian pihak untuk melakukan tindakan tersebut.

Berkaca dari fakta - fakta itu, tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain terjalinnya kerja sama pihak pemerintah, sekolah dan orang tua. Komunikasi yang baik antara pelajar, sekolah dan orang tua memberikan rasa nyaman bagi mereka.

Gerakan Indonesia Berkibar adalah sebuah gerakan pendidikan yang secara terus-menerus menyokong program pemerintah. Gerakan ini dirancang untuk perbaikan kualitas mengajar dan belajar melalui pelatihan dan pendampingan lanjutan kepada para pendidik.
Model kerjasama yang melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, korporasi, media, komunitas dan seluruh masyarakat. Dengan menggunakan strategi dan teknik peningkatan kualitas sekolah yang telah terbukti, Gerakan Indonesia Berkibar bersifat mendukung program-program pemerintah. Gerakan ini dirancang untuk meningkatkan kualitas mengajar dan belajar melalui pelatihan dan pendampingan untuk para pendidik dan pengelola sekolah.
Dengan kerjasama antar pemerintah, orang tua, sektor industri dan filantropi serta kemitraan pemerintah-swasta, Gerakan Indonesia Berkibar dapat memberikan kekuatan kepada sekolah, siswa, dan negara kita untuk mencapai aspirasi kita bersama.

1 comments:

  1. semoga halaman ini dibaca banyak orang terutama kalangan pelajar, agar tidak terjadi kembali kejadian-kejadian yang sama di tempat lainnya,,

    seragam kerja kantor murah di surewi

    ReplyDelete