This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Karya Ilmiah. Show all posts
Showing posts with label Karya Ilmiah. Show all posts

Monday, February 2, 2015

Tujuan dan Jenis PTK

PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan mengingat tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Tujuan ini melekat pada diri guru dalam menunaikan misi profesional kependidikannya.
Manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas itu terkait dengan komponen pembelajaran, antara lain: (1) inovasi pembelajaran, (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas, dan (3) peningkatan profesionalisme guru.
Adapun ciri-ciri penelitian tindakan dikemukan oleh Zainal Aqib (2007:18-19) sebagai berikut:
(a) Penelitian tindakan partisipatori (participatory action research) yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan dengan menekankan keterlibatan anggota agar merasa ikut serta memiliki program kegiatan tersebut serta berniat ikut aktif memecahkan masalah berbasis umum.
(b) Penelitian tindakan kritis (critical action research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan menekankan adanya niat yang tinggi untuk memecahkan masalah dan menyempurnakan situasi.
(c) Penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran.
(d) Penelitian tindakan institusi (institutional action research), yaitu dilakukan oleh pihak pengelola sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan untuk meningkatkan kinerja, proses, dan produktivitas lembaga.

Jenis-jenis PTK antara lain: (a) PTK Diagnostik, yaitu penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Contohnya apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, perkelahian, konflik yang dilakukan antarsiswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas dengan cara mendiagnosis situasi yang melatarbelakangi situasi tersebut; (b) PTK Partisipan, apabila peneliti terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan. Dengan demikian, sejak perencanaan penelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencatat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisis data serta berakhir dengan melaporkan hasil penelitiannya; (c) PTK Empiris, ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitiannya berkenaan dengan penyimpangan catatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaan sehari-hari; (d) PTK Eksperimental, ialah apabila diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatan belajar-mengajar. Di dalam kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang diterapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.
Desain penelitian tindakan kelas menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Ide Awal
Seseorang yang berkehendak melaksanakan suatu penelitian baik yang berupa penelitian positivisme, naturalistik, analisis isi maupun PTK pasti diawali dengan gagasan atau ide, dan gagasan itu dimungkinkan yang dapat dikerjakan atau dilaksanakannya. Pada umumnya ide awal yang menggayut di PTK ialah terdapatnya suatu permasalahan yang berlangsung di dalam suatu kelas. Ide awal tersebut di antaranya berupa suatu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan penerapan PTK itu peneliti mau berbuat apa demi suatu perubahan dan perbaikan.
(2) Prasurvei
Prasurvei dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang kelas yang akan diteliti. Bagi pengajar yang melakukan penelitian di kelas yang menjadi tanggung jawabnya tidak perlu melakukan prasurvei karena berdasarkan pengalamannya selama ia di depan kelas sudah secara cermat dan pasti mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapinya, baik yang berkaitan dengan kemajuan siswa, sarana pengajaran maupun sikap siswanya. Dengan demikian para guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya sudah mengetahui kondisi kelas yang sebenarnya.
(3) Diagnosis
Diagnosis dilakukan oleh peneliti yang tidak terbiasa mengajar di suatu kelas yang dijadikan sasaran penelitian. Peneliti dari luar lingkungan kelas/sekolah perlu melakukan diagnosis atau dugaan-dugaan sementara mengenai timbulnya suatu permasalahan yang muncul di dalam kelas. Dengan diperolehnya hasil diagnosis, peneliti PTK akan dapat menentukan berbagai hal, misalnya strategi pengajaran, media pengajaran, dan materi pengajaran yang tepat dalam kaitannya dengan implementasinya PTK.
(4) Perencanaan
Perencanaan umum dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait dengan PTK. Sedangkan perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari siklus persiklus. Oleh karenanya dalam perencanaan khusus ini tiap kali terdapat perencanaan ulang (replanning). Hal-hal yang direncanakan di antaranya terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan materi pembelajaran, dan sebagainya.
(5) Implementasi Tindakan
Implementasi tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya. Strategi apa yang digunakan, materi apa yang diajarkan atau dibahas dan sebagainya.
(6) Pengamatan
Pengamatan, observasi atau monitoring dapat dilakukan sendiri oleh peneliti atau kolaborator yang memang diberi tugas untuk hal itu. Pada saat monitoring pengamat haruslah mencatat semua peristiwa atau hal yang terjadi di kelas penelitian. Misalnya mengenai kinerja guru, situasi kelas, perilaku dan sikap siswa, penyajian atau pembahasan materi, penyerapan siswa terhadap materi yang diajarkan, dan sebagainya.
(7) Refleksi
Refleksi ialah upaya evaluasi yang dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait dengan suatu PTK yang dilaksanakan. Refleksi ini dilakukan dengan kolaboratif, yaitu adanya diskusi terhadap berbagai masalah yang terjadi di kelas penelitian. Dengan demikian refleksi dapat ditentukan sesudah adanya implementasi tindakan dan hasil observasi. Berdasarkan refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan (replanning) selanjutnya ditentukan.
(8) Penyusunan Laporan
Laporan hasil penelitian PTK seperti halnya jenis penelitian yang lain, yaitu sesudah kerja penelitian di lapangan berakhir.
(9) Kepada Siapa Hasil PTK Dilaporkan
Sebenarnya, PTK lebih bersifat individual. Artinya bahwa tujuan utama bagi PTK adalah self-improvement melalui self-evaluation dan self-reflection yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.

Dengan demikian hasil pelaksanaan PTK yang berupa terjadinya inovasi pembelajaran akan dilaporkan kepada diri si peneliti (guru) sendiri. Guru perlu mengarsipkan langkah-langkah dan teknik pembelajaran yang dikembangkan melalui aktivitas PTK demi perbaikan proses pembelajaran yang dia lakukan di masa yang akan datang. Namun demikian hasil PTK yang dilaksanakan tidak menutup kemungkinan untuk diikuti oleh guru lain atau teman sejawat. Oleh karena itu guna melengkapi predikat guru sebagai ilmuwan sejati, guru perlu juga menuliskan pengalaman melaksanakan PTK tersebut ke dalam suatu karya tulis ilmiah. Karya tulis tersebut yang selama ini belum merupakan kebiasaan bagi para guru, sebenarnya masyarakat pengguna lain. Dengan melaporkan hasil PTK tersebut kepada masyarakat (teman sejawat, pemerhati atau pengamat pendidikan, dan para pakar pendidikan lainnya) guru akan memperoleh nilai tambah yaitu suatu bentuk pertanggungjawaban dan kebanggaan akademis atau ilmiah sebagai seorang ilmuwan hasil kerja guru akan merupakan amal jariah yang sangat membantu teman sejawat dan siswa secara khusus. Melalui laporan kepada masyarakat, PTK pada awalnya dilaksanakan dalam skala kecil yaitu ruang kelas akan memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.

Monday, January 5, 2015

Karakteristik PTK

Karakteristik PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (a) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; (b) adanya kolaborasi dalam pelaksanaan; (c) peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (d) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional; (e) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.
Menurut Hopkins (1993:57-61), ada 6 (enam) prinsip dalam PTK sebagai berikut:
(1) Pekerjaan utama guru adalah mengajar, dan apa pun metode PTK yang diterapkannya seyogyanya tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.
(2) Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
(3) Metodologi yang digunakan harus reliable, sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya.
(4) Masalah program yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukan, dan bertolak dari tanggung jawab profesional.
(5) Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap proses dan prosedur yang berkaitan dengan pekerjaannya.
(6) Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan class room excerding perpsective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan perspektif misi sekolah secara keseluruhan. Sebagai contoh yang dilakukan oleh Kepala Sekolah. Sekolah memperbaiki sekolah, sedangkan Pengawas Sekolah memperbaiki sistem pendidikan (operasional kepengawasan). PTK hanyalah sebuah modal, yang penting proses memperbaiki.

Wednesday, March 13, 2013

KAIDAH PENULISAN SOAL PILIHAN GANDA

Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda
Soal Ujian,Ulangan semesteran atau kegiatan tengah semester yang hendak kita susun adalah soal pilihan ganda. Terdapat  tiga kaidah yang perlu diperhatikan dalam penuisan soal pilihan ganda, yaitu (1) materi, (2) konstruksi, dan (3) bahasa (keterbacaan) (Depdiknas, 2007).
1.Materi
Berikut ini adalah kaidah dalam penulisan soal pilihan ganda ditinjau dari segi materi.
(a)Soal harus sesuai dengan indikator. Soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
(b)Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari  segi materi. Hal itu berarti bahwa semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang terkandung dalam pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
(c)Setiap soal harus mempunyai satu  jawaban yang  benar atau  paling benar.
2.Konstruksi
Berikut ini adalah kaidah dalam penulisan soal pilihan ganda ditinjau dari segi konstruksi.
(a)Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Hal itu berarti bahwa  kemampuan yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran ganda atau berbeda dari yang dimaksud penulis soal. Soal hanya mengandung satu persaoalan untuk setiap nomor.
(b)Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya bahwa apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut dihilangkan saja.
(c)Pokok soal jangan memberi petunjuk kearah jawaban yang benar.
(d)Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat  negatif ganda.
(e)Panjang rumusan soal harus relatif sama. Kaidah ini perlu diperhatikan karena ada kecenderungan siswa memilih jawaban yang paling panjang karena sering jawaban yang panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.
(f)Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, “Semua pilihan jawaban di atas salah,” atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”.
(g)Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologisnya. 
(h)Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfingsi. Artinya apa saja yang menyertai soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh siswa sehingga apabila soal dapat dijawab tanpa melihat grafik/gambar/tabel, maka grafik/gambar/tabel tidak perlu digunakan.
(i)Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab benar soal pertama menjadi tidak dapat menjawab benar soal berikutnya.
3.Bahasa
Berikut ini adalah kaidah dalam penulisan soal pilihan ganda ditinjau dari segi bahasa.
(a)Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
(b)Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal yang akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
(c)Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
(d)Pilihan jawaban jangan mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.

Saturday, March 9, 2013

Sejarah BAROMETER



Pada abad ke-17 seorang ilmuwan berkebangsaan Italia bernama Evangelista Torricelli (1608-1647) mencoba mengukur  tekanan udara. Karena keuletannya, dia berhasil melakukan percobaan untuk membuktikan  tekanan udara dengan memperkenalkan alat pengukur tekanan udara yang disebut barometer pertama yang sangat sederhana. Alatnya hanya menggunakan sebuah pipa kaca yang panjangnnya 1 meter dengan salah satu ujungnya tertutup dan raksa.
Torricelli melakukan percobaan di daerah pantai pada ketinggian  permukaan laut. Caranya pipa yang terbuka tersebut dimasukkan ke dalam bejana berisi raksa, hasil percobaannya menunjukkan bahwa raksa yang berada dalam pipa akan turun sampai 24 cm sehingga tinggi raksa yang berada dalam didalam pipa menjadi 76 cm. Lalu, Torricelli mengubah-ubah kemiringan pipa dan ternyata tinggi raksa tidak berubah. Dia menyimpulkan bahwa tekanan di permukaan laut itu sebesar 76 cmHg atau disebut 1 atmosfer.
Untuk mengukur tekanan atmosfer di daerah tertentu pun cara yang digunakan adalah sama, yaitu hanya dengan melihat ketinggian raksa didalam pipa Torricelli yang ditempatkan di daerah tersebut. Dengan demikian, tekannan atmosfer di daerah itu dapat diketahui.
Alat untuk mengukur tekanan udara disebut Barometer. Barometer banyak jenisnya, salah satunya sudah dibahas diatas yaitu Barometer Torricelli. Barometer Torricelli tentu tidak praktis karena kita harus membawa alat yang tingginya 1 meter dengan raksa yang sangat berbahaya apabila uapnya terserap oleh kita. Hal ini disebabkan massa jenis uap raksa sangat berat sehingga apabila terisap ke paru – paru sulit untuk keluar lagi. Oleh sebab itu, para ahli berusaha membuat alat pengukur tekanan udara yang praktis, diantaranya adalah :
      1.       Barometer Fortin
Barometer raksa disebut barometer Fortin karena yang pertama membuatnya adalah seorang ahli Fisika berkebangsaan Prancis Nicolas Fortin walaupun yang kali pertama menemukannya Torricelli. Barometer ini dapat mengukur dengan teliti karena dilengkapi dengan skala nonius atau skala vernier seperti halnya jangka sorong, ketelitian alat ukur ini mencapai 0,01 cmHg, Barometer ini cukup panjang seperti halnya barometer Torricelli sehingga sulit dibawa - bawa
.       2.Barometer Logam
Barometer logam disebut barometer aneroid. Barometer ini banyak digunakan di Badan Meteorologi dan Geofisika untuk memperkirakan cuaca dengan mengukur tekanan udaranya, Barometer logam biasa juga disebut barometer kering. Barometer logam lebih praktis untuk dibawa-bawa dan skalanya mudah dibaca karena berbentuk lingkaran. Bagian utama dari barometer ini adalah sebuah kotak logam kecil berisi udara dengan tekanan yang sangat rendah. Permukaan kotak dibuat bergelombang agar lebih mudah melentur di bagian tengahnya. Jika tekanan bertambah, bagian atas dan bawah kotak mengempis sehingga menekan kotak logam yang berisi udara. Akibatnya, tekanan naik dan akan menggerakkan tuas yang menarik rantai kiri sehingga jarum penunjuk barometer akan menyimpang ke kanan dengan menunjukkan angka tertentu.

Thursday, February 21, 2013

PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL DI JURNAL



PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL DI  JURNAL

A.  Artikel Hasil Penelitian

Sistematika Tulisan

Judul (informatif, lengkap, 5 – 15 kata).

Nama Penulis (ditulis tanpa gelar, nama lembaga di catatan kaki).

Abstrak  (pernyataan ringkas, padat ide-ide yang penting dari hasil penelitian, ditulis dalam bhs. Indonesia dan bhs.Ing-gris sebanyak 50-75 kata dari margin kiri dan kanan men-jorok ke dalam 1,2 cm).

Kata kunci (istilah yg menjadi dasar pemikiran, berupa kata tunggal atau gabungan, 3-5 kata).

PENDAHULUAN
    (tanpa sub judul, memuat latar belakang masalah, sedikit tin- jauan pustaka, rumusan masalah, dan tujuan penelitian).

METODE

 (memuat rancangan penelitian, populasi, sampel, metode pe-
  ngumpulan data/instrumen penelitian, teknik analisis data).

HASIL
 (memuat hasil analisis data baik secara deskriptif maupun
  analisis lainnya baik dalam bentuk grafik maupun tabel de-
  ngan pemaknaannya/interpretasinya).

PEMBAHASAN
 (membahas tiap temuan penelitian dibandingkan dengan te-ori-teori/hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan, rea-litas di lapangan, komentar dan analisis logis dari peneliti).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan (berisi ringkasan dari hasil penelitian dan pemba-
              hasan disajikan dalam bentuk uraian, bukan nomerikal.
Saran (disusun berdasarkan kesimpulan, terfokus pada tindak-
              an praktis).
DAFTAR RUJUKAN (hanya memuat buku-buku yang benar-benar dirujuk pada batang tubuh artikel dan harus lengkap)

B.  Artikel Nonpenelitian

Sistematika Tulisan

Judul (mencerminkan inti isi artikel, terdiri 5 – 15 kata).

Nama Penulis (ditulis tanpa gelar, nama lembaga di catatan kaki).

Abstrak  (ringkasan dari isi artikel yang dituangkan secara pa-dat, bukan komentar, ditulis dalam bhs. Indonesia dan bhs.Inggris, menjorok ke dalam dari margin kiri dan ka-nan 1,2 cm).

Kata kunci (istilah-istilah pokok yg menjadi dasar pemikiran, berupa kata tunggal atau gabungan, 3-5 kata).

PENDAHULUAN
    (uraian yang mengantarkan pembaca kepada topik utama yg dibahas, diakhiri rumusan singkat 1-2 kalimat tentang hal-hal pokok yang dibahas).

BAGIAN INTI
 (judul, subjudul, dan isi tergantung pada topik yg memuat fakta, konsep (apanya), prosedur (bagaimana), atau prinsip (mengapa) perlu ditata secara urut, kaitan antar isi).

PENUTUP (istilah untuk nonpenelitian)
(berisi kesimpulan hasil pembahasan pada bagian sebelum-nya).

DAFTAR RUJUKAN (hanya memuat buku-buku yang benar-benar dirujuk pada batang tubuh artikel dan harus lengkap)

TEKNIK PENULISAN

1.      Tepi kanan teks dibuat rata dengan cara memotong kata de-ngan tanda penghubung (-) setelah huruf akhir tanpa spasi.
2.      Letak nomor halaman di pojok kanan atas pada setiap hala-man, kecuali halaman pertama pada setiap judul ditulis di tengah bagian bawah.
3.      Semua nama penulis dalam daftar rujukan harus ditulis wa-laupun namanya sama. Nama awal dan tengah ditulis secara lengkap, atau dissingkat asal konsisten.
4.      Tidak boleh ada bagian halaman yang kosong, kecuali akhir suatu artikel.
5.      Tidak bolah menambahkan spasi antarkata dalam satu baris yang bertujuan meratakan tepi kanan.
6.      Tidak boleh menempatkan judul subbab dan identitas tabel pada akhir halaman.
7.      Model huruf (miring, tebal)
ü  Kata nonindonesia (asing & daerah), istilah yang belum lazim, bagian penting, contoh dalam teks utama, judul buku, jurnal, majalah, surat kabar dalam daftar rujukan--dicetak miring (italic).
ü  Judul bab, judul subbab (heading) dicetak tebal.
8.      Ukuran huruf
ü  untuk teks utama 11 point,
ü  untuk kutipan blok, abstrak, judul bagan/gambar, teks tabel 10 point
9.   Penulisan Tabel
ü  Jarak antara tabel atau gambar dg teks sebelum atau se-sudahnya 3 spasi.
ü  Judul tabel ditempatkan pada pada halaman yang sama dg diberi judul : Tabel …. (diberi nomor sbg identitas).
ü  Judul tabel ditulis dengan huruf besar pada huruf perta-ma setiap kata kecuali kata sambung/hubung. Jika judul tabel lebih satu baris, baris kedua dan seterusnya ditulis sejajar dengan huruf awal judul dengan jarak satu spasi.
ü  Tidak boleh memotong tabel menjadi dua bagian jika memang bisa ditempatkan pada halaman yang sama. Ji-ka tabel lebih dari setengah halaman harus ditempatkan pada halaman tersendiri.
ü  Pada teks tabel tidak menggunakan kolom, hanya garis lajur yang tampak.

       Contoh :

Tabel 3  Distribusi Frekuensi Skor Kinerja Guru SMP Negeri Kabu-
              paten Sukoharjo

No
Kelas Interval
Frekuensi
Persentase
Kategori
1
2
3
4
5
356  -  380
333  -  355
310  -  332
287  -  309
264 -  286
59
93
37
10
9
28,36
44,71
17,78
04,83
04,32
Sangat baik
baik
cukup baik kurang baik
tidak baik

Jumlah
208
100.00


10. Ukuran kertas
ü  A4  (21,0 x 29,7) di komputer tanpa s
ü  A4s (21,5 x 29,7)
      Karena itu Page Setup Paper Size pada komputer harus di-
      sesuaikan.

Saturday, June 16, 2012

Contoh PTK Matematika


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Matematika menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:6) merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.
Dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran induktif dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa.
Pengajaran menurut Rohani (2004:4) merupakan perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Pengajaran matematika akan bisa disebut berjalan dan berhasil dengan baik, manakala ia mampu mengubah diri peserta didik selama ia terlibat di dalam proses pengajaran itu, dan dapat dirasakan manfaatnya secara langsung.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karenanya diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika, agar siswa dapat berpikir secara sistematis, logis, berpikir abstrak, menggunakan matematika dalam pemecahan masalah, serta melakukan komunikasi dengan menggunakan simbol, tabel, grafik dan diagram yang dikembangkan melalui pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
Pembelajaran matematika memerlukan media yang sesuai, karena menurut Mulyasa (2005a:47) suatu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran antara lain belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun oleh peserta didik. Menurut Djamarah (2002:136) bahan ajar merupakan wahana penyalur informasi belajar.
Menurut Suharta (2001:1) dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Siswa mengalami kesulitan belajar matematika di kelas. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari. Selain itu, perlu menerapkan kembali konsep matematika yang telah dimiliki anak pada kehidupan sehari-hari atau pada bidang lain sangat penting dilakukan.
Oleh karena itu peneliti mengajukan penelitian dengan judul Peningkatan Prestasi Belajar Bangun Ruang Melalui Penggunaan Media Benda Asli Siswa Kelas IX SMP Al Muslim Waru Sidoarjo.
B. Perumusan Masalah
Permasalahan mendasar dalam penelitian ini adalah sebagian besar siswa kelas IX SMP Al Muslim Waru Sidoarjo kurang memahami konsep bangun ruang.
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
Apakah penggunaan media benda asli dapat meningkatkan prestasi belajar bangun ruang siswa kelas IX SMP Al Muslim Waru Sidoarjo?