Teman saya menganalogikan seperti ini, seorang guru ekonomi mungkin tidak dapat menjelaskan rumus Newton yang paling sederhana. Begitu pula seorang guru fisika, mungkin tidak mengerti dan hafal apa yang disebut sebagai Hukum Gossen dalam ekonomi. Padahal mereka sama-sama mempelajari hal tersebut ketika masih di sekolah menengah. Jadi jika saya bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan fisika, haruskah saya mempelajari ekonomi sekolah menengah? Begitu pula sebaliknya, jika saya ingin menjadi ahli ekonomi, saya seharusnya tidak terlalu mendalami fisika.
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Thursday, April 5, 2012
"PENJARA" KURIKULUM KITA
Teman saya menganalogikan seperti ini, seorang guru ekonomi mungkin tidak dapat menjelaskan rumus Newton yang paling sederhana. Begitu pula seorang guru fisika, mungkin tidak mengerti dan hafal apa yang disebut sebagai Hukum Gossen dalam ekonomi. Padahal mereka sama-sama mempelajari hal tersebut ketika masih di sekolah menengah. Jadi jika saya bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan fisika, haruskah saya mempelajari ekonomi sekolah menengah? Begitu pula sebaliknya, jika saya ingin menjadi ahli ekonomi, saya seharusnya tidak terlalu mendalami fisika.
Saturday, March 31, 2012
Demi Rindu
Yang telah menciptakan Nur Muhammad jauh sebelumnya
Demi Allah,
yang menciptakan Adam sebagai Khalifah di buminya
Demi Allah,
Yang menurunkan firman-firmannya
Yang memberikan Musa Kitab Taurat
Yang memberikan Daud Kitab Zabur
Yang memberikan Isa Kitab Injil
Dan Demi Allah,
Yang menceritakan itu semua pada Muhammad
Meliankan sebagai petunjuk, Al-Quran
Demi Muhammad,
Yang ditanggannya menggenggam rembulan dan matahari
Demi Muhammad,
Yang hatinya lembut nan berlimpah kasih sayang
Demi Muhammad,
Yang hidupnya diliputi kelaparan
Yang hidupnya senantiasa difitnah
Yang hidupnya penuh cobaan dan air mata
Yang hidupnya sendiri adalah perjuangan
Dan demi Muhammad
Yang hingga akhir hayatnya berwasiat:
"umati... umati... umati..."
YA RASUL SALAM
YA RASUL SALAM
YA RASUL SALAM
Demi rindu
Demi cinta
Demi yang tidak tertahankan lagi
Tuesday, March 27, 2012
BERSYUKURLAH, MAKA BAHAGIA AKAN MENJEMPUTMU
BERSYUKURLAH, MAKA BAHAGIA AKAN MENJEMPUTMU
Thursday, March 22, 2012
1. Ikhlas dalam mengajar dan menanamkan nilai ini kepada peserta didik kita.Kalau setelah sertifikasi tidak ada perubahan niat maka yang kita dapatkan hanya penambahan nominal saja tanpa ada penambahan amal.
2. Jujur dalam mengajar dan menanamkan sifat ini kepada peserta didik, jangan pernah malu mengatakan tidak bisa ketika ada pertanyaan dari siswa, yang tidak bisa kita jawab pada saat itu,dari pada kita menjawab dengan asal-asalan lebih baik kita katakan maaf ini menjadi pekerjaan rumah bagi saya dan puji anak tersebut sehingga mereka tidak akan mencemooh kita.Karena dunia kita adalah dunia ilmiyah yang dipakai adalah nalar bukan ego.
3. Perkataan dan perbuatan kita harus selaras, guru profesional tidak berani mengatakan sesuatu sementara ia belum pernah melakukannya.Dan apabila dia berani mengatakan sesuatu yang didasarkan pada kebohongan maka itu akan menjatuhkan martabatnya sendiri.
4. Adil dan egaliter, guru yang profesional tidak pernah membeda-bedakan muridnya, karena ia punya prinsip semuanya punya hak yang sama yaitu memperoleh ilmu dan kebaikan dari dirinya.
5. Guru profesional adalah guru yang punya akhlak mulia dan mengajarkan akhlak ini kepada peserta didik.
6. Tawadhu, guru yang profesional tidak akan mengannggap dirinya hebat, ia sama dengan peserta didik sebagai makhluk Tuhan yang harus mengabdi padaNYA.
7. Berani untuk mengakui kesalahan apabila dalam kegiatan belajar mengajar terjadi kekeliruan terhadap ilmu yang disampaikan pada peserta didiknya.
8. guru yang profesional adalah guru yang punya jiwa humor yang sehat sehingga kelas terasa cair, menyenangkan dan jauh dari rasa jenuh.
9. Guru profesinal adalah mereka yang sabar dan menahan amarah, kita harus paham bahwa yang kita hadapi adalah makhluk hidup dengan karakter yang berbeda-beda, kita tidak bisa menangani banyak peserta didik dengan satu cara.
10. Guru propesional adalah guru yang mampu menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat.
11. Guru yang profesional adalah guru yang sinergi dan musyawarah dengan komponen lainnya dalam rangka peningkatan mutu pendidikan disekolahnya.
Saturday, March 3, 2012
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ta'mir masjid Al Muttaqin Kaliwungu Kendal tahun ini menggelar peringatan haul Wali Musyafak dan Mbah Ru'yat yang merupakan tokoh penting sekaligus ulama dan wali dalam sejarah di Kaliwungu.
Haul diikuti ribuan masyarakat dan santri yang ada di Kaliwungu. Bahkan, lembaga pendidikan maarif yang berada di bawah naungan NU diliburkan agar seluruh siswa dapat turut mengikuti haul yang diadakan hari Senin (14/3) lalu bertempat di dalam dan di luar masjid besar Kaliwungu.
Peringatan haul tersebut adalah tradisi keagamaan yang begitu mengakar di Kaliwungu mengingat kaliwungu merupakan basis NU dan pesantren yang besar. Oleh karenanya, peringatan haul wali maupun ulama selalu diikuti seluruh masyarakat dengan antusias. Antusiasme masyarakat akan terlihat ketika masyarakat, utamanya ibu-ibu para aktivis desa bergotong royong dalam menyediakan konsumsi bagi masyarakat dan santri yang mengikuti haul, suasana guyup begitu terasa.
Peringatan haul diisi dengan pembacaan barzanji dan tahlil, serta diisi pula dengan tausiyah dari KH Hafidhin Ahmad Dum (salah satu ulama Kaliwungu) yang membahas tentang sejarah Wali Musyafak dan Mbah Ru'yat. Selain membahas kedua tokoh tersebut, beliau juga menyampaikan tentang manfaat haul itu sendiri.
"Wali dan ulama merupakan orang yang dekat dengan Allah, maka dengan mendoakan mereka, kita juga termasuk orang yang dekat dengan Allah," katanya.
Wali Musyafak sendiri merupakan wali yang makamnya ramai dikunjungi para peziarah hingga saat ini. Kaliwungu menyimpan banyak kisah kewalian Kyai Musyafak, terutama ketika masa penjajahan Jepang. Di suatu kisah diceritakan, pada tahun 1940, Wali Musyafak menggali tanah yang begitu dalam, masyarakat terheran-heran dan mengira tanah itu akan digunakannya untuk membuat sumur. Namun selang beberapa saat, tiba-tiba saja pasukan penjajah dari Jepang menyerbu Kaliwungu, dan lubang tanah yang digali Wali Musyafak itu pun menjadi tempat persembunyian masyarakat yang ada di sekitar rumahnya.
Sementara Mbah Ru'yat juga merupakan wali yang sangat kharismatik dan begitu disegani masyarakat Kaliwungu, nasab Mbah Ru'yat sampai pada Jaka Tarub, leluhur dari raja-raja kesultanan Mataram. Kontribusi besar yang diberikan Mbah Ru'yat untuk masyarakat Kaliwungu adalah berdirinya Pondok Pesantren Putri Pertama Kali di Kaliwungu, yakni Aribatul Islami. Waktu itu, Mbah Ru'yat menginginkan ada kesetaraan hak baik laki-laki maupun perempuan dalam ngangsu kaweruh di pondok pesantren.
Kedua wali Kaliwungu, Mbah Ru'yat dan Wali Musyafak merupakan tokoh yang memberikan sumbangsih yang begitu banyak dalam sejarah di Kaliwungu, terutama di terkait perkembangan Islam ala Ahlussunah wal Jamaah dan pondok pesantren.
Saturday, November 26, 2011
SETELAH SERTIFIKASI LALU APA
- Apa saja yang harus dipersiapkan?
- Bagaimana menghitung skornya?
- Siapa yang menilai?
- Siapa yang mengeluarkan sertifikat?
- Bagaimana untuk yang tidak lulus sertifikasi?
- Apakah harus ikut DPG (Diklat Pelatihan Guru)?
- Berapa lama DPG dilangsungkan?
- Dimana DPG diadakan?
- Kapan sertifikat dikeluarkan?
- Kapan tunjangan yang lulus sertifikasi diterima?
Mungkin Anda masih bisa menambahkan atau punya pertanyaan lainnya seputar sertifikasi.
Wednesday, November 16, 2011
DIMANAKAH RUH DUNIA PENDIDIKAN
Sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukan pengembangan pendidikan yang “sesuai” dengan tuntutan perkembangan zaman, dengan mempertimbangkan aspek-aspek pengaruh positif dan negatif. Hal ini karena pendidikan sebagai bagian dari peradaban manusia, mau tidak mau pasti akan mengalami perubahan dan perkembangan.
Kondisi pendidikan yang demikian saat ini, mendorong kita untuk membangkitkan kembali jiwa atau ruh pendidikan pada hakikatnya yang tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan (knowledge oriented) dan ketrampilan (skill oriented), namun juga berorientasi pada nilai (values oriented). Sebagaimana bunyi Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 20. Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Proses pembelajaran yang menekankan pada nilai-nilai (spiritual keagamaan, azas manfaat, akhlaq mulia, dan lainnya) adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan, apalagi dielakkan. Dengan demikian, pendidikan harus memenuhi tiga unsur: pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Dimana di dalamnya sarat dengan nilai-nilai etik dan estetik dalam proses pembelajaran.
Pengetahuan ('ilmu / knowledge)
Dimensi duniawi yang dimaksud adalah proses belajar-mengajar hendaknya mampu menghasilkan ilmu yang berupa kemampuan pada tiga ranah yang menjadi tujuan pendidikan/ pembelajaran, baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Pengajaran (ta'lim / instruction)
Pengasuhan yang baik (tarbiyah / education)
Pola hubungan atau relasi antara guru dan siswa dapatlah diilustrasikan semacam “laboratorium” pembelajaran akhlak untuk relasi yang lebih besar. Relasi ini dijiwai oleh sifat-sifat sufi (akhlaq mulia) seperti tawadhu’, sabar, ikhlas, penuh pengertian, dan saling menghormati. Ketika siswa telah memiliki “pengalaman” relasi hidup sebagaimana dalam “laborat akhlak” maka yang akan muncul adalah pribadi-pribadi dengan bobot kualitas sebagaimana formulasi dalam laborat tersebut. Harapan yang akan terjadi adalah munculnya relasi yang sebenarnya dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan sikap sebagaimana disebut di atas, kehidupan akan harmonis karena tidak ada “dominasi”, intimidasi, kecongkakan, keserakahan, dan kemunafikan..
Saturday, April 9, 2011
Penyakit yang menghambat terwujudnya Keluarga Sakinah
Sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan, segala sesuatru mengandung unsur positif dan negatif. Dalam membangun keluarga sakinah juga ada faktor yang mendukung ada faktor yang menjadi kendala. Faktor-faktor yang menjadi kendala atau penyakit yang menghambat tumbuhnya sakinah dalam keluarga adalah,
1. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, magis dan sejenisnya. Bimbingan dukun dan sejenisnya bukan saja membuat langkah hidup tidak rasional, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.
2. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al haram ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.
3. Kemewahan. Menurut al Qur’an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku manyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.
4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL dan PIL). Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi berduaan dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis berduaan akan dapat menggiring pada perselingkuhan.
5. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial. Akibat Kebodohan sosial & matematis sosial maka sering terjadi pertengkaran dalam keluarga.
6. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.
7. Jauh dari agama. Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan menjanjikan padahal palsu.
Thursday, April 7, 2011
Mutiara Kalbu
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”,… sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.“Tidak”, …jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 65-66. ISBN 978-6028-686-402.
Info buku, silakan klik link (tautan) di bawah ini:
http://www.facebook.com/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465
Tuesday, March 3, 2009
Tipe Pemimpin
Tipe kepemimpinan akan identik dengan gaya kepemimpinan seseorang. Tipe kepemimpinan yang secara luas dikenal dan diakui keberadaannya adalah
1. Tipe Otokratik
Seorang pemimpin yang tergolong otokratik memiliki serangkaian karakteristik yang biasanya dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin otokratik adalah seorang yang egois. Egoismenya akan memutarbalikkan fakta yang sebenarnya sesuai dengan apa yang secara subjektif diinterpretasikannya sebagai kenyataan. Dengan egoismenya, pemimpin otokratik melihat peranannya sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan organisasional. Egonya yang besar menumbuhkan dan mengembangkan persepsinya bahwa tujuan organisasi identik dengan tujuan pribadinya. Dengan persepsi yang demikian, seorang pemimpin otokratik cenderung menganut nilai organisasional yang berkisar pada pembenaran segala cara yang ditempuh untuk pencapaian tujuannya. Berdasarkan nilai tersebut, seorang pemimpin otokratik akan menunjukkan sikap yang menonjolkan keakuannya dalam bentuk
1. Kecenderungan memperlakukan bawahan sama dengan alat lain dalam organisasi
2. Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas
3. Pengabaian peranan bawahan dalam proses pengambilan keputusan
Sikap pemimpin demikian akan menampakkan diri pada perilakunya dalam berinteraksi dengan bawahannya, misalnya tidak mau menerima saran dan pandangan bawahannya, menonjolkan kekuasaan formal.
Dengan persepsi, nilai, sikap, dan perilaku demikian, seorang pemimpin yang otokratik dalam praktek akan menggunakan gaya kepemimpinan
* Menuntut ketaatan penuh bawahannya
* Menegakkan disiplin dengan kaku
* Memberikan perintah atau instruksi dengan keras
* Menggunakan pendekatan punitip dalam hal bawahan melakukan penyimpangan.
2. Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin ini umumnya terdapat pada masyarakat tradisional. Popularitas pemimpin yang paternalistik mungkin disebabkan oleh beberapa faktor antara lain
* Kuatnya ikatan primordial
* Extended family system
* Kehidupan masyarakat yang komunalistik
* Peranan adat istiadat yang kuat
* Masih dimungkinkan hubungan pribadi yang intim
Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya dalam kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai oleh harapan bawahan kepadanya. Harapan bawahan berwujud keinginan agar pemimpin mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap kepentingan dan kesejahteraan bawahannya. Pemimpin yang paternalistik mengharapkan agar legitimasi kepemimpinannya merupakan penerimaan atas peranannya yang dominan dalam kehidupan organisasional. Berdasarkan persepsi tersebut, pemimpin paternalistik menganut nilai organisasional yang mengutamakan kebersamaan. Nilai tersebut mengejawantah dalam sikapnya seperti kebapakan, terlalu melindungi bawahan. Sikap yang demikian tercermin dalam perilakunya berupa tindakannya yang menggambarkan bahwa hanya pemimpin yang mengetahui segala kehidupan organisasional, pemusatan pengambilan keputusan pada diri pemimpin. Dengan penonjolan dominasi keberadaannya dan penekanan kuat pada kebersamaan, gaya kepemimpinan paternalistik lebih bercorak pelindung, kebapakan dan guru.
3. Tipe Kharismatik
Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi. Pengikutnya tidak mempersoalkan nilai yang dianut, sikap, dan perilaku serta gaya yang digunakan pemimpin itu.
4. Tipe Laissez Faire
Persepsi seorang pemimpin yang laissez faire melihat perannya sebagai polisi lalu lintas, dengan anggapan bahwa anggota organisasi sudah mengetahui dan cukup dewasa untuk taat pada peraturan yang berlaku. Seorang pemimpin yang laissez faire cenderung memilih peran yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri.
Nilai yang dianutnya biasanya bertolak dari filsafat hidup bahwa manusia pada dasarnya memiliki rasa solidaritas, mempunyai kesetiaan, taat pada norma, bertanggung jawab.
Nilai yang tepat dalam hubungan atasan –bawahan adalah nilai yang didasarkan pada saling mempercayai yang besar. Bertitik tolak dari nilai tersebut, sikap pemimpin laissez faire biasanya permisif. Dengan sikap yang permisif, perilakunya cenderung mengarah pada tindakan yang memperlakukan bawahan sebagai akibat dari adanya struktur dan hirarki organisasi. Dengan demikian, gaya kepemimpinan yang digunakannya akan dicirikan oleh
* Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
* Pengambilan keputusan diserahkan kepada pejabat pimpinan yang lebih rendah
* Status quo organisasional tidak terganggu
* Pengembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif diserahkan
kepada anggota organisasi
* Intervensi pemimpin dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang minimal
5. Tipe Demokratik
Ditinjau dari segi persepsinya, seorang pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator. Karenanya, pendekatan dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya adalah holistik dan integralistik. Seorang pemimpin yang demokratik menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan demi tercapainya tujuan organisasi. Seorang pemimpin yang demokratik melihat bahwa dalam perbedaan sebagai kenyataan hidup, harus terjamin kebersamaan. Nilai yang dianutnya berangkat dari filsafat hidup yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi. Nilai tersebut tercermin dari sikapnya dalam hubungannya dengan bawahannya, misalnya dalam proses pengambilan keputusan sejauh mungkin mengajak peran serta bawahan sehingga bawahan akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Dalam hal menindak bawahan yang melanggar disiplin organisasi dan etika kerja, cenderung bersifat korektif dan edukatif. Perilaku kepemimpinannya mendorong bawahannya untuk menumbuhkembangkan daya inovasi dan kreativitasnya. Karakteristik lainnya adalah kecepatan menunjukkan penghargaan kepada bawahan yang berprestasi tinggi.
Berdasarkan persepsi, nilai, sikap, dan perilaku, maka gaya kepemimpinannya biasanya mengejawantah dalam hal:
Pandangan bahwa sumber daya dan dana yang tersedia bagi organisasi, hanya dapat digunakan oleh manusia dalam organisasi untuk pencapaian tujuan dan sasarannya.
Selalu mengusahakan pendelegasian wewenang yang praktis dan realistik
Bawahan dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan
Kesungguhan yang nyata dalam memperlakukan bawahan sebagai mahluk politik, sosial, ekonomi, dan individu dengan karakteristik dan jati diri yang khas
Pengakuan bawahan atas kepemimpinannya didasarkan pada pembuktian kemampuan memimpin organisasi dengan efektif.
Dikutip dari www.cari ilmu online










