This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Showing posts with label pendidikan karakter. Show all posts
Showing posts with label pendidikan karakter. Show all posts
Wednesday, March 20, 2013
Pendidikan Budi Pekerti disekolah
Pencanagan Pendidikan Budi
Pekerti disekolah hendaknya diterima dan disikapi bukan karena terjadi krisis
akhlak semata melainkan karena secara substansial, koneksitas, keruangan dan
waktu,kausalitas, dan formalitas. Mengajarkan pendidikan budi pekerti memang
sulit dan rumit, selain sarat nilai, diperlukan dukungan semua pihak,
konsistensi antara kata dan perbuatan, kualitas kata dan perbuatan,
keteladanan, pembiasan, keterpaduan, dan kesinambungan.
Hasil pemikiran
menyimpulkan bahwa :
(1) pendidikan budi pekerti seharusnya terintegrasi dengan
semua mata pelajaran
(2) bentuknya dapat dalam hari terpadu, kurikulum
terpadu, pembelajaran terpadu, dimana semua mata pelajaran/tema yang merupakan
center core atau center of interest itu selalu mengaitkan dengan nilai-nilai
dalam pendidikan budi pekerti yang relevan yang akan dikembangkan dalam
pembelajaran semua mata pelajaran/tema dimaksud
(3) komitmen yang perlu
disikapi yaitu pengembangannya harus diproses sejak sebagai ide, dokumen, dan
proses, memerlukan kejelian profesional dan penguasaan material, pendekatannya
berkesinambungan, terpadu, dan berlanjut dengan pendidikan luar sekolah,
pengarahan dam penguatan segera dan spontan.
Thursday, March 14, 2013
MEMBERI PINJAMAN
Memberi Pinjaman
Saya pernah mendengar seorang mubalig mengatakan bahwa pinjaman itu pahalanya lebih banyak ketimbang memberi sedekah atau hadiah.
Lipat sepuluh kali. Alasannya memberi pinjaman adalah memberi kepada orang yang pasti dan lebih memerlukan ; sedang memberi sedekah atau hadiah, belum tentu orang yang diberi orang yang memerlukan sama sekali.
Terlepas dari pahalanya, alasan itu sendiri tentu masih bisa dipersoalkan. Setidak tidaknya menyangkut pengertian “memerlukan” yang mengandung kadar nisbi nyaris tak terbatasi itu. Kecuali jika pembicaran dibatasi pada kerangka “kehidupan komsumtif” yang sederhana saja.
Sebab dalam kehidupan yang “cangih” seperti sekarang ini, tentu kurang relevan mengaitkan pemberian, terutama pemberian pinjaman, dengan sekedar faktor “keperluan” pihak yang diberi. Pemberian pinjaman masa kini justru lebih mempertimbangkan persyaratan-persyaratan bagi mereka yang benar-benar memerlukan, masalah sulit dipenuhi.
Ya, orang sekarang tidak peduli “memerlukan” atau tidak yang memperoleh pinjaman, yang penting haruslah bonafide. Bagi pihak pemberi pinjaman, “keperluan” si peminjam boleh jadi nomor dua atau tiga. Yang pokok si peminjam itu bonafide atau tidak ? Punya goodwill dan likuiditas atau tidak ? ada kelakar kalo mau cari utangan, anda mesti kaya dulu. Sebab mana ada orang melarat bonafide?
Orang sekarang tentu tidak kaget atau bertanya-tanya mendengar ada permintaan pinjaman dari orang yang kaya raya. Jika ada orang yang terkenal kaya mencari utangan, pastilah yang mendengar senang hati atau bangga, memberinya. Meminjami orang kaya, rasanya tidak hanya ringan, tapi ada semacam “kenikmatan” tersendiri. Dan berbeda dengan orang yang melarat , orang kaya jika meminjam, pengembalianya pasti terjamin dan biasanya lebih pula.
Namun anehnya, ada “permintaan pinjaman” dengan janji pengembalian berlipat ganda plus bonus, kok tidak banyak yang menyambutnya. Padahal yang meminta pinjaman, bonafiditas dan goodwill serta kekayaan dan kemurahannya tidak ada seorangpun yang meragukanya. Kok tidak banyak yang serta-merta menangkapnya sebagai satu kesempatan baik untuk investasi misalnya.
Ratusan tahun yang lalu, “permintaan pinjaman” dengan janji yang menggiurkan itu telah ditawarkan. Dan seorang petani dipinggir kota Madinah, yang tentu saja belum mengenal istilah investasi, deposito dan sebagainya, dengan spontan menyambutnya penuh gairah.
Abu ad-Dahdah, demikian nama petani itu, begitu mendengar tawaran, langsung memnyatakan kepada utusan yang menyampaikan tawaran itu, “Aku serahkan kebun kurmaku sebagai pinjaman”. Dan kepada istri serta anak-anaknya yang tingal menunggui kebunnya, Abu ad-Dahdad mengatakan, “Kemasi barang-barang! Pindah dari sini! Kebun ini telah kulepaskan, hari ini sebagai pinjaman”.
Eloknya, sang istri sambil mengemasi barang-barangnya, berkata mantap kepada suaminya, “saya yakin transaksimu ini pasti mengguntungkan”. Dan hari itu juga, keluarga petani itu meningalkan kebun yang konon berisi 600 pohon kurma berbuah itu.
Abu ad-Dahdah boleh menjadi mengharapkan keuntungan besar dikemudian hari, tapi jelas dia tidak berspekulasi. Bagaimana mungkin petani berspekulasi denagn menyerahkan tanah kebunnya yang luas itu ? Tidak, dia tidak berspekulasi. Dia dan juga istrinya yang mendukung tindakannya itu, amat yakin karena sangat mengenal siapa yang dipinjamnya.
Kita pun bila mengenalnya, seperti Abu ad-Dahdah dan istrinya mengenalnya, tentu tidak ragu-ragu memberikanpinjaman kepadanya. Soalnya betapa pun banafiditas, likuiditas, dan goodwill pihak yang meminjam, jika tidak atau belum begitu mengenalnya, rasanya masih berat juga memberikan pinjaman kepadanya. Apabila diharapkan memberikanya dengan ringan dan rasa “nikmat”.
Jadi persoalannya adalah sejauhmana pengenalan kita. “Tawaran” itu sendiri tetap terbuka setiap saat:” Man dza alladzi yuqridlu allaha qardalan hasanan fayudalla’ifahu lahu wal lahu ajrun kariem. (Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Dia akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan mendapatkan pahala yang agung).” (Q.s. 57:11).
Sumber : http://gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=404
Saya pernah mendengar seorang mubalig mengatakan bahwa pinjaman itu pahalanya lebih banyak ketimbang memberi sedekah atau hadiah.
Lipat sepuluh kali. Alasannya memberi pinjaman adalah memberi kepada orang yang pasti dan lebih memerlukan ; sedang memberi sedekah atau hadiah, belum tentu orang yang diberi orang yang memerlukan sama sekali.
Terlepas dari pahalanya, alasan itu sendiri tentu masih bisa dipersoalkan. Setidak tidaknya menyangkut pengertian “memerlukan” yang mengandung kadar nisbi nyaris tak terbatasi itu. Kecuali jika pembicaran dibatasi pada kerangka “kehidupan komsumtif” yang sederhana saja.
Sebab dalam kehidupan yang “cangih” seperti sekarang ini, tentu kurang relevan mengaitkan pemberian, terutama pemberian pinjaman, dengan sekedar faktor “keperluan” pihak yang diberi. Pemberian pinjaman masa kini justru lebih mempertimbangkan persyaratan-persyaratan bagi mereka yang benar-benar memerlukan, masalah sulit dipenuhi.
Ya, orang sekarang tidak peduli “memerlukan” atau tidak yang memperoleh pinjaman, yang penting haruslah bonafide. Bagi pihak pemberi pinjaman, “keperluan” si peminjam boleh jadi nomor dua atau tiga. Yang pokok si peminjam itu bonafide atau tidak ? Punya goodwill dan likuiditas atau tidak ? ada kelakar kalo mau cari utangan, anda mesti kaya dulu. Sebab mana ada orang melarat bonafide?
Orang sekarang tentu tidak kaget atau bertanya-tanya mendengar ada permintaan pinjaman dari orang yang kaya raya. Jika ada orang yang terkenal kaya mencari utangan, pastilah yang mendengar senang hati atau bangga, memberinya. Meminjami orang kaya, rasanya tidak hanya ringan, tapi ada semacam “kenikmatan” tersendiri. Dan berbeda dengan orang yang melarat , orang kaya jika meminjam, pengembalianya pasti terjamin dan biasanya lebih pula.
Namun anehnya, ada “permintaan pinjaman” dengan janji pengembalian berlipat ganda plus bonus, kok tidak banyak yang menyambutnya. Padahal yang meminta pinjaman, bonafiditas dan goodwill serta kekayaan dan kemurahannya tidak ada seorangpun yang meragukanya. Kok tidak banyak yang serta-merta menangkapnya sebagai satu kesempatan baik untuk investasi misalnya.
Ratusan tahun yang lalu, “permintaan pinjaman” dengan janji yang menggiurkan itu telah ditawarkan. Dan seorang petani dipinggir kota Madinah, yang tentu saja belum mengenal istilah investasi, deposito dan sebagainya, dengan spontan menyambutnya penuh gairah.
Abu ad-Dahdah, demikian nama petani itu, begitu mendengar tawaran, langsung memnyatakan kepada utusan yang menyampaikan tawaran itu, “Aku serahkan kebun kurmaku sebagai pinjaman”. Dan kepada istri serta anak-anaknya yang tingal menunggui kebunnya, Abu ad-Dahdad mengatakan, “Kemasi barang-barang! Pindah dari sini! Kebun ini telah kulepaskan, hari ini sebagai pinjaman”.
Eloknya, sang istri sambil mengemasi barang-barangnya, berkata mantap kepada suaminya, “saya yakin transaksimu ini pasti mengguntungkan”. Dan hari itu juga, keluarga petani itu meningalkan kebun yang konon berisi 600 pohon kurma berbuah itu.
Abu ad-Dahdah boleh menjadi mengharapkan keuntungan besar dikemudian hari, tapi jelas dia tidak berspekulasi. Bagaimana mungkin petani berspekulasi denagn menyerahkan tanah kebunnya yang luas itu ? Tidak, dia tidak berspekulasi. Dia dan juga istrinya yang mendukung tindakannya itu, amat yakin karena sangat mengenal siapa yang dipinjamnya.
Kita pun bila mengenalnya, seperti Abu ad-Dahdah dan istrinya mengenalnya, tentu tidak ragu-ragu memberikanpinjaman kepadanya. Soalnya betapa pun banafiditas, likuiditas, dan goodwill pihak yang meminjam, jika tidak atau belum begitu mengenalnya, rasanya masih berat juga memberikan pinjaman kepadanya. Apabila diharapkan memberikanya dengan ringan dan rasa “nikmat”.
Jadi persoalannya adalah sejauhmana pengenalan kita. “Tawaran” itu sendiri tetap terbuka setiap saat:” Man dza alladzi yuqridlu allaha qardalan hasanan fayudalla’ifahu lahu wal lahu ajrun kariem. (Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Dia akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan mendapatkan pahala yang agung).” (Q.s. 57:11).
Sumber : http://gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=404
Tuesday, March 12, 2013
Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru 2013
Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru 2013
Ibu-Ibu Guru dan Bapak-Bapak Guru yang kami hormati!
Menyambut Hari Ulang Tahun Ke-40 Majalah Bobo, tanggal 14 April 2013 nanti, Majalah Bobo kembali menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerpen oleh Guru. Kami mengundang Ibu dan Bapak Guru sekalian untuk ikut serta dalam lomba ini.
Majalah Bobo berharap, karya Ibu dan Bapak Guru bisa memberikan hiburan,
sekaligus panduan nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerpen bebas. Boleh tentang apa saja. Yang penting cerita itu indah, menarik, dan sesuai untuk anak.
Untuk teman-teman pembaca Bobo, tolong, sampaikan pengumuman ini kepada Ibu dan Bapak Guru di sekolahmu, di sekolah temanmu, atau di sekolah saudaramu. Terima kasih, ya!
Syarat Lomba
1. Lomba ini untuk para guru.
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide dari karya lain yang sudah ada.
4. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun elektronik) dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
5. Tema bebas, asalkan sesuai untuk anak.
6. Atas karya yang menang, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo.
7. Atas naskah yang tidak menang lomba tetapi memenuhi syarat untuk diterbitkan, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo. Penulis akan mendapat honor atas pemuatan naskah tersebut.
8. Naskah yang masuk menjadi hak Redaksi dan tidak dikembalikan.
9. Keputusan juri mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.
10. Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium pemuatan di Majalah Bobo maupun segala alih bentuknya.
Ketentuan Teknis
1. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen.
2. Naskah diketik di kertas berukuran folio dengan jarak 2 (dua) spasi. Panjang tulisan maksimal 3 halaman.
3. Lampirkan di setiap naskah: biografi singkat penulis, surat keterangan dari Kepala Sekolah serta cap sekolah, fotokopi KTP, nomor telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan selembar foto terbaru ukuran kartu pos (3R).
4. Naskah dimasukkan ke dalam amplop. Tuliskan: Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru di sudut kiri atas amplop.
5. Karya dikirimkan ke: Panitia Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru, Redaksi Majalah Bobo, Jl. Panjang No. 8A, Jakarta 11530.
6. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 13 April 2013.
Hadiah:
Juara I: Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah)
Juara II: Rp6.500.000,00 (enam juta lima ratus ribu rupiah)
Juara III: Rp5.500.000,00 (lima juta lima ratus ribu rupiah)
10 (sepuluh) pemenang harapan, masing-masing berhadiah Rp1.000.000,00.(satu juta rupiah)
Lain-Lain
1. Pengumuman Pemenang akan dimuat di Majalah Bobo No. 08/XLI, yang terbit tanggal 30 Mei 2013.
2. Hadiah akan dikirim melalui transfer lewat bank.
3. Pemenang akan mendapat surat pemberitahuan langsung dari Majalah Bobo dan tidak melalui agen/perantara lain.
4. Waspadalah dengan penipuan yang berkedok ingin membantu/mengurusi pemenang. Jangan pernah melayani permintaan transfer uang sedikit pun. Kalau ada hal yang mencurigakan, segeralah menelepon Redaksi Majalah Bobo: (021) 5330150, (021) 5330170, pesw. 33201, 33206.
Ibu-Ibu Guru dan Bapak-Bapak Guru yang kami hormati!
Menyambut Hari Ulang Tahun Ke-40 Majalah Bobo, tanggal 14 April 2013 nanti, Majalah Bobo kembali menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerpen oleh Guru. Kami mengundang Ibu dan Bapak Guru sekalian untuk ikut serta dalam lomba ini.
Majalah Bobo berharap, karya Ibu dan Bapak Guru bisa memberikan hiburan,
sekaligus panduan nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerpen bebas. Boleh tentang apa saja. Yang penting cerita itu indah, menarik, dan sesuai untuk anak.
Untuk teman-teman pembaca Bobo, tolong, sampaikan pengumuman ini kepada Ibu dan Bapak Guru di sekolahmu, di sekolah temanmu, atau di sekolah saudaramu. Terima kasih, ya!
Syarat Lomba
1. Lomba ini untuk para guru.
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide dari karya lain yang sudah ada.
4. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun elektronik) dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
5. Tema bebas, asalkan sesuai untuk anak.
6. Atas karya yang menang, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo.
7. Atas naskah yang tidak menang lomba tetapi memenuhi syarat untuk diterbitkan, Redaksi Bobo berhak menerbitkannya di Majalah Bobo, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Majalah Bobo. Penulis akan mendapat honor atas pemuatan naskah tersebut.
8. Naskah yang masuk menjadi hak Redaksi dan tidak dikembalikan.
9. Keputusan juri mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.
10. Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium pemuatan di Majalah Bobo maupun segala alih bentuknya.
Ketentuan Teknis
1. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen.
2. Naskah diketik di kertas berukuran folio dengan jarak 2 (dua) spasi. Panjang tulisan maksimal 3 halaman.
3. Lampirkan di setiap naskah: biografi singkat penulis, surat keterangan dari Kepala Sekolah serta cap sekolah, fotokopi KTP, nomor telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan selembar foto terbaru ukuran kartu pos (3R).
4. Naskah dimasukkan ke dalam amplop. Tuliskan: Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru di sudut kiri atas amplop.
5. Karya dikirimkan ke: Panitia Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru, Redaksi Majalah Bobo, Jl. Panjang No. 8A, Jakarta 11530.
6. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 13 April 2013.
Hadiah:
Juara I: Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah)
Juara II: Rp6.500.000,00 (enam juta lima ratus ribu rupiah)
Juara III: Rp5.500.000,00 (lima juta lima ratus ribu rupiah)
10 (sepuluh) pemenang harapan, masing-masing berhadiah Rp1.000.000,00.(satu juta rupiah)
Lain-Lain
1. Pengumuman Pemenang akan dimuat di Majalah Bobo No. 08/XLI, yang terbit tanggal 30 Mei 2013.
2. Hadiah akan dikirim melalui transfer lewat bank.
3. Pemenang akan mendapat surat pemberitahuan langsung dari Majalah Bobo dan tidak melalui agen/perantara lain.
4. Waspadalah dengan penipuan yang berkedok ingin membantu/mengurusi pemenang. Jangan pernah melayani permintaan transfer uang sedikit pun. Kalau ada hal yang mencurigakan, segeralah menelepon Redaksi Majalah Bobo: (021) 5330150, (021) 5330170, pesw. 33201, 33206.
Monday, March 11, 2013
BAHAYANYA SUSU SAPI
Anak anda dan kita semua tentu butuh kalsium, tapi kadarnya tak sebanyak petuah sesat iklan yang bikin khawatir orangtua. Sejauh ini susu sapi asli mengandung 143 mg kalsium/100 gram.Kalsium tepung susu skim (bahan baku susu bubuk di pasaran) lebih tinggi lagi, 1300 mg/100 gram.(Yen, 2012)
Meski kalsium pada ASI cuma 34 mg kalsium/100 gram, tapi lebih kaya asam lemak esensial ketimbang susu sapi maupun susu bubuk. Pada ASI, asam linoleat yang penting bagi pertumbuhan saraf, kandungannya 11 kali dibanding susu sapi.(Ibid)
Protein bernama kasein pada susu sapi 300 kali lipat dibanding pada ASI. Namun ada horor mengintai bila dikonsumsi, yakni penggumpalan (koagulasi) pada saluran pencernaan berupa gumpalan besar, padat, keras yang sulit dicerna. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak orangtua amat bersedih melihat derita anaknya yang diberi susu formula lantaran anaknya susah BAB, sambil orangtua mencongkel-congkel tinja anak yang susah keluar.Dan koagulasi itu pun sebabkan gangguan penyerapan zat gizi penting lainnya.(Ibid)
Diabetes tipe 1, kasus alergi anak dan reaksi auto-imun diduga terkait konsumsi rutin susu sapi.Begitu pun risiko kanker dan mad-cow akibat metode pemberian pakan sapi yang membuat kelenjar hipofise sapi jadi tak normal, maupun munculnya protein asing pada sapi. (Ibid)
Pada "World Breastfeeding Week", 1-7 Agustus 2006, Elisabeth Sterken, BSc, MSc, Nutritionist INFACT Canada/North America menyebutkan, susu di luar ASI membuat peningkatan beragam risiko seperti asma, alergi, infeksi saluran pernapasan anak, kanker anak, kekurangan nutrisi, penyakit kronik, diabetes, penyakit kardiovaskuler, infeksi pencernaan, radang telinga,penurunan perkembangan kecerdasan, efek samping akibat penambahan zat yang tak semestinya ada dalam susu.
Meski kalsium pada ASI cuma 34 mg kalsium/100 gram, tapi lebih kaya asam lemak esensial ketimbang susu sapi maupun susu bubuk. Pada ASI, asam linoleat yang penting bagi pertumbuhan saraf, kandungannya 11 kali dibanding susu sapi.(Ibid)
Protein bernama kasein pada susu sapi 300 kali lipat dibanding pada ASI. Namun ada horor mengintai bila dikonsumsi, yakni penggumpalan (koagulasi) pada saluran pencernaan berupa gumpalan besar, padat, keras yang sulit dicerna. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak orangtua amat bersedih melihat derita anaknya yang diberi susu formula lantaran anaknya susah BAB, sambil orangtua mencongkel-congkel tinja anak yang susah keluar.Dan koagulasi itu pun sebabkan gangguan penyerapan zat gizi penting lainnya.(Ibid)
Diabetes tipe 1, kasus alergi anak dan reaksi auto-imun diduga terkait konsumsi rutin susu sapi.Begitu pun risiko kanker dan mad-cow akibat metode pemberian pakan sapi yang membuat kelenjar hipofise sapi jadi tak normal, maupun munculnya protein asing pada sapi. (Ibid)
Pada "World Breastfeeding Week", 1-7 Agustus 2006, Elisabeth Sterken, BSc, MSc, Nutritionist INFACT Canada/North America menyebutkan, susu di luar ASI membuat peningkatan beragam risiko seperti asma, alergi, infeksi saluran pernapasan anak, kanker anak, kekurangan nutrisi, penyakit kronik, diabetes, penyakit kardiovaskuler, infeksi pencernaan, radang telinga,penurunan perkembangan kecerdasan, efek samping akibat penambahan zat yang tak semestinya ada dalam susu.
Saturday, May 19, 2012
10 Karakter Pemimpin yang Unggul.
1. Kekuatan
Kekuatan badaniah dan rohaniah merupakan syarat pokok bagi pemimpin yang harus bekerja lama dan berat pada waktu-waktu yang lama serta tidak teratur dan ditengah-tengah situasi yang sering tidak menentu.
2. Stabilitas Emosi
Pemimpin yang baik itu memiliki emosi yang stabil artinya dia tidak mudah marah, tersinggung perasaan dan tidak meledak-ledak secara emosional. Ia menghormati martabat orang lain, toleran terhadap kelemahan orang lain dan bisa memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak terlalu prinsipiil. Semua itu diarahkan untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun, damai, harmonis dan menyenangkan.
3. Pengetahuan Tentang Relasi Insani.
Salah satu tugas pokok pemimpin ialah : memajukan dan mengembangkan semua bakat serta potensi anak buah untuk bisa bersama-sama maju dan mengecap kesejahteraan. Karena itu pemimpin diharapkan memiliki pengetahuan tentang sifat, watak dan perilaku anggota kelompoknya agar ia bisa menilai kelebihan dan kelemahan/keterbatasan pengikutnya, yang disesuaikan dengan tugas-tugas atau pekerjaan yang akan diberikan pada masing-masing individu.
4. Kejujuran
Pemimpin yang baik itu haru memiliki kejujuran yang tinggi, yaitu jujur pada diri sendiri dan pada orang lain (terutama bawahannya). Dia selalu menepati janji, tidak selingkuh atau munafik, dapat dipercaya, dan berlaku adil terhadap semua orang.
5. Obyektif
Pertimbangan pemimpin itu harus berdasarkan hati nurani yang bersih, supaya obyektif (tidak subyektif pada prasangka sendiri). Dia akan mencari bukti-bukti nyata dan sebab musabab setiap kejadian dan emberikan alasan yang rasional atas penolakannya.
6. Dorongan Pribadi
Keinginan dan kesediaan untuk menjadi pemimpin itu harus muncul dari dalam hati sanubari sendiri. Dukungan dari luar akan memperkuat hasrat sendiri untuk memberikan pelayanan dan pengabdian diri kepada kepentingan orang banyak.
7. Keterampilan Berkomunikasi
Pemimpin diharapkan mahir berbicara dan menulis , mudah menangkap maksud orang lain, cepat menangkap esensi dari pernyataan orang luar, mudah memahami maksud dari anggotanya. Juga pandai mengkoordinasi macam-macam sumber tenaga manusia dan mahir mengintegrasikan pelbagai opini serta aliran-aliran yang berbeda untuk mencapai kerukunan dan keseimbangan.
8. Kemampuan Mengajar
Pemimpin yang baik itu diharapkan juga menjadi guru yang baik. Mengajar itu adalah membawa siswa (orang yang belajar) secara sistematis dan intensional pada sasaran-sasaran yang tertentu, guna mengembangkan pengetahuan keterampilan/kemahiran tekni tertentu dan menambah pengalaman mereka. yang dituju ialah agar para pengikutnya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan partisipasinya.
9 Keterampilan Sosial
Pemimpin juga diharapkan memiliki kemampuan untuk “mengelola” manusia, agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensinya. Pemimin dapat mengenali segi-segi kelemahan dan kekuatan setiap anggotanya agar bisa ditempatkan pada tugas-tugas yang cocok dengan pembawaan masing-masing. Pemimpin juga mampu mendorong setiap orang yang dibawahinya untuk berusaha dan mengembangkan diri dengan cara-caranya sendiri yang dianggap paling cocok.
10. Kecakapan Tekhnis atau Kecakapan Manajerial
Pemimpin harus superior dalam satu atau beberapa kemahiran tekhnis tertentu. Juga memiliki kemahiran manajerial untuk membuat rencana, mengelola, menganalisa keadaan, membuat keputusan, mengarahkan, mengontrol dan memperbaiki situasi yang tidak mapan. Tujuan semua ini adalah tercapainya efektifitas kerja, keuntungan maksimal, dan kebahagiaan kesejahteraan anggota sebanyak-banyaknya.
Kekuatan badaniah dan rohaniah merupakan syarat pokok bagi pemimpin yang harus bekerja lama dan berat pada waktu-waktu yang lama serta tidak teratur dan ditengah-tengah situasi yang sering tidak menentu.
2. Stabilitas Emosi
Pemimpin yang baik itu memiliki emosi yang stabil artinya dia tidak mudah marah, tersinggung perasaan dan tidak meledak-ledak secara emosional. Ia menghormati martabat orang lain, toleran terhadap kelemahan orang lain dan bisa memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak terlalu prinsipiil. Semua itu diarahkan untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun, damai, harmonis dan menyenangkan.
3. Pengetahuan Tentang Relasi Insani.
Salah satu tugas pokok pemimpin ialah : memajukan dan mengembangkan semua bakat serta potensi anak buah untuk bisa bersama-sama maju dan mengecap kesejahteraan. Karena itu pemimpin diharapkan memiliki pengetahuan tentang sifat, watak dan perilaku anggota kelompoknya agar ia bisa menilai kelebihan dan kelemahan/keterbatasan pengikutnya, yang disesuaikan dengan tugas-tugas atau pekerjaan yang akan diberikan pada masing-masing individu.
4. Kejujuran
Pemimpin yang baik itu haru memiliki kejujuran yang tinggi, yaitu jujur pada diri sendiri dan pada orang lain (terutama bawahannya). Dia selalu menepati janji, tidak selingkuh atau munafik, dapat dipercaya, dan berlaku adil terhadap semua orang.
5. Obyektif
Pertimbangan pemimpin itu harus berdasarkan hati nurani yang bersih, supaya obyektif (tidak subyektif pada prasangka sendiri). Dia akan mencari bukti-bukti nyata dan sebab musabab setiap kejadian dan emberikan alasan yang rasional atas penolakannya.
6. Dorongan Pribadi
Keinginan dan kesediaan untuk menjadi pemimpin itu harus muncul dari dalam hati sanubari sendiri. Dukungan dari luar akan memperkuat hasrat sendiri untuk memberikan pelayanan dan pengabdian diri kepada kepentingan orang banyak.
7. Keterampilan Berkomunikasi
Pemimpin diharapkan mahir berbicara dan menulis , mudah menangkap maksud orang lain, cepat menangkap esensi dari pernyataan orang luar, mudah memahami maksud dari anggotanya. Juga pandai mengkoordinasi macam-macam sumber tenaga manusia dan mahir mengintegrasikan pelbagai opini serta aliran-aliran yang berbeda untuk mencapai kerukunan dan keseimbangan.
8. Kemampuan Mengajar
Pemimpin yang baik itu diharapkan juga menjadi guru yang baik. Mengajar itu adalah membawa siswa (orang yang belajar) secara sistematis dan intensional pada sasaran-sasaran yang tertentu, guna mengembangkan pengetahuan keterampilan/kemahiran tekni tertentu dan menambah pengalaman mereka. yang dituju ialah agar para pengikutnya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan partisipasinya.
9 Keterampilan Sosial
Pemimpin juga diharapkan memiliki kemampuan untuk “mengelola” manusia, agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensinya. Pemimin dapat mengenali segi-segi kelemahan dan kekuatan setiap anggotanya agar bisa ditempatkan pada tugas-tugas yang cocok dengan pembawaan masing-masing. Pemimpin juga mampu mendorong setiap orang yang dibawahinya untuk berusaha dan mengembangkan diri dengan cara-caranya sendiri yang dianggap paling cocok.
10. Kecakapan Tekhnis atau Kecakapan Manajerial
Pemimpin harus superior dalam satu atau beberapa kemahiran tekhnis tertentu. Juga memiliki kemahiran manajerial untuk membuat rencana, mengelola, menganalisa keadaan, membuat keputusan, mengarahkan, mengontrol dan memperbaiki situasi yang tidak mapan. Tujuan semua ini adalah tercapainya efektifitas kerja, keuntungan maksimal, dan kebahagiaan kesejahteraan anggota sebanyak-banyaknya.
Friday, April 13, 2012
STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini dimulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Masalah tersebut dapat berasal dari peserta didik atau dari pendidik. Peserta didik akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, peserta didik belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah.
Dengan demikian peserta didik belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana.
Menurut Agus dalam buku cooperative learning, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan. Sintaks PBL adalah sebagai berikut :
Fase-fase
|
Perilaku pendidik
|
Fase 1 : memberikan orientasi tentang
permasalahannya kepada peserta didik. |
Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran,
mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah. |
Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik
untuk meneliti |
Pendidik membantu peserta didik
mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya. |
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan
kelompok |
Pendidik mendorong peserta didik untuk
mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi. |
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan
artefak dan exhibit |
Pendidik membantu peserta didik dalam
merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain. |
Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses
mengatasi masalah |
Pendidik membantu peserta didik melakukan
refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan. |
David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :
1) Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2) Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
3) Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4) Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5) Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)
Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :
Tahap-tahap
|
Kemampuan yang diperlukan
|
Merumuskan masalah
|
Mengetahui dan merumuskan masalah secara
jelas |
Menelaah masalah
|
Menggunakan pengetahuan untuk memperinci,
menganalisis masalah dari beberapa sudut. |
Merumuskan hipotesis
|
Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup,
sebab akibat, dan alternatif penyelesaian. |
Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai
bahan pembuktian hipotesis |
Kecakapan mencari dan menyusun data.
Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, dan table. |
Pembuktian hipotesis
|
Kecakapan menelaah dan membahas data.
Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan. |
Menentukan pilihan penyelesaian
|
Kecakapan membuat alternative penyelesaian
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan. |
Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis danmengevaluasi proses dan hasil.
Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya.
[Sumber : http://edukasiana.com]
Tuesday, January 10, 2012
Alternatif Pendidikan Karakter
Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, guru:
pembelajaran;
a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses
b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan
sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
dan
d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai
silabus.
Contoh alternatif :
a. Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)
b. Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang
kelas (contoh nilai yang ditanamkan: santun, peduli)
c. Berdoa sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: religius)
d. Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin)
e. Mendoakan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainnya
(contoh nilai yang ditanamkan: religius, peduli)
f. Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu (contoh nilai yang
ditanamkan: disiplin)
g. Menegur siswa yang terlambat dengan sopan (contoh nilai yang ditanamkan:
disiplin, santun, peduli)
h. Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter
i. Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar, menyampaikan butir
karakter yang hendak dikembangkan selain yang terkait dengan SK/KD
2. KEGIATAN INTI
Sesuai permen 41 tahun 2007 Pembelajatan melalui 3 tahapan yakni :
a. Eksplorasi (peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan
dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa)
1) Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang
topik/tema materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi
guru dan belajar dari aneka sumber (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir
logis, kreatif, kerjasama)
2) Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan
sumber belajar lain (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, kerja keras)
3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik
dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan:
kerjasama, saling menghargai, peduli lingkungan)
4) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran
(contoh nilai yang ditanamkan: rasa percaya diri, mandiri)
5) Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau
lapangan (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kerja keras)
b. Elaborasi (peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan
serta sikap lebih lanjut melalui sumber-sumber dan kegiatan-kegiatan pembelajaran
lainnya sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan
dalam.)
1) Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugastugas
tertentu yang bermakna (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif,
logis)
2) Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk
memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang
ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun)
3) Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah,
dan bertindak tanpa rasa takut (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri,
kritis)
4) Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif
(contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab)
5) Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan
prestasi belajar (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras,
menghargai)
6) Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan
maupun tertulis, secara individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan:
jujur, bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
7) Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun
kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri,
kerjasama)
8) Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta
produk yang dihasilkan (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling
menghargai, mandiri, kerjasama)
9) Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan
kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan:
percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
c. Konfirmasi (peserta didik memperoleh umpan balik atas kebenaran, kelayakan, atau
keberterimaan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh oleh siswa)
1) Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan,
isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik (contoh nilai yang
ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis)
2) Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik
melalui berbagai sumber (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis)
3) Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman
belajar yang telah dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan
dan kekurangan)
4) Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/dalam/luas memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan sikap, antara lain dengan guru:
a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan
peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang
baku dan benar (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, santun);
b) membantu menyelesaikan masalah (contoh nilai yang ditanamkan: peduli);
c) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil
eksplorasi (contoh nilai yang ditanamkan: kritis);
d) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh (contoh nilai yang
ditanamkan: cinta ilmu); dan
e) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum
berpartisipasi aktif (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, percaya diri).
3. PENUTUP
Dalam kegiatan penutup, guru:
a. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan
pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kritis, logis);
b.melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan
secara konsisten dan terprogram (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, mengetahui
kelebihan dan kekurangan);
c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran (contoh nilai yang
ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis);
d.merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program
pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual
maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan
e.menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar internalisasi nilai-nilai terjadi dengan
lebih intensif selama tahap penutup.
a. Selain simpulan yang terkait dengan aspek pengetahuan, agar peserta didik
difasilitasi membuat pelajaran moral yang berharga yang dipetik dari
pengetahuan/keterampilan dan/atau proses pembelajaran yang telah dilaluinya
untuk memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan pada pelajaran tersebut.
b. Penilaian tidak hanya mengukur pencapaian siswa dalam pengetahuan dan
keterampilan, tetapi juga pada perkembangan karakter mereka.
c. Umpan balik baik yang terkait dengan produk maupun proses, harus menyangkut
baik kompetensi maupun karakter, dan dimulai dengan aspek-aspek positif yang
ditunjukkan oleh siswa.
d. Karya-karya siswa dipajang untuk mengembangkan sikap saling menghargai
karya orang lain dan rasa percaya diri.
e. Kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan,
layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun
kelompok diberikan dalam rangka tidak hanya terkait dengan pengembangan
kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian.
f. Berdoa pada akhir pelajaran.
Faktor Lain yang Perlu Diperhatikan:
1. Guru harus merupakan seorang model dalam karakter. Dari awal hingga akhir
pelajaran, tutur kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilainilai
karakter yang hendak ditanamkannya.
2. Guru harus memberikan reward kepada siswa yang menunjukkan karakter yang
dikehendaki dan pemberian punishment kepada mereka yang berperilaku dengan
karakter yang tidak dikehendaki. Reward dan punishment yang dimaksud dapat
berupa ungkapan verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat (misalnya
classroom award) atau catatan peringatan, dan sebagainya. Untuk itu guru harus
menjadi pengamat yang baik bagi setiap siswanya selama proses pembelajaran.
3. Hindari mengolok-olok siswa yang datang terlambat atau menjawab pertanyaan
dan/atau berpendapat kurang tepat/relevan. Pada sejumlah sekolah ada kebiasaan
diucapkan ungkapan Hoo … oleh siswa secara serempak saat ada teman mereka
yang terlambat dan/atau menjawab pertanyaan atau bergagasan kurang berterima.
Kebiasaan tersebut harus dijauhi untuk menumbuhkembangkan sikap bertanggung
jawab, empati, kritis, kreatif, inovatif, rasa percaya diri, dan sebagainya.
4. Guru memberi umpan balik dan/atau penilaian kepada siswa, guru harus mulai
dari aspek-aspek positif atau sisi-sisi yang telah kuat/baik pada pendapat, karya,
dan/atau sikap siswa.
5. Guru menunjukkan kekurangan-kekurangannya dengan ‘hati’.Dengan cara ini
sikap-sikap saling menghargai dan menghormati, kritis, kreatif, percaya diri, santun,
dan sebagainya akan tumbuh subur.








