This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label TIK. Show all posts
Showing posts with label TIK. Show all posts

Saturday, September 15, 2012

Seputar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)



1.  Teknologi Informasi diartikan sebagai teknologi untuk memperoleh, mengolah, menyimpan, dan menyebarkan berbagai jenis file informsi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir dari dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas baru yang dapat mengatasi segala kemalasan dan kelambatan kinerja manusia.
2.  Media komunikasi tradisional terdiri dari Asap, Kentongan, Prasasti dan Daun Lontar. Sedangkan media komunikasi modern meliputi Telegraf, Televisi, Telepon, Handphone, Poket PC, LCD Proyektor, Faksimili, Radio, Komputer dan Internet.
3.  Kata komputer berasal dari bahasa Yunani yaitu “computare” yang berarti menghitung. Komputer sendiri adalah alat yang digunakan untuk memanipulasi dan mengelola data berdasarkan perintah yang diberikan oleh penggunanya.
4.  Internet adalah kepanjangan dari Interconnected Network atau jaringan Komputer yang saling terhubung satu sama lain di seluruh dunia.
5.  Sejarah intenet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik. Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET.
6.  Pada masa Pra Sejarah, manusia berkomunikasi dengan menggambarkan informasi pada dinding-dinding gua tentang berburu dan binatang buruannya. Manusia mulai mengenal berbagai benda yang ada disekitarnya dan melukiskan benda tersebut pada dinding-dinding gua untuk mewakilinya.
7.  Pada tahun 3000 SM, bangsa Sumeria menemukan tulisan berupa simbol-simbol yang disebut piktograf untuk pertama kalinya.
8.  Masa Modern, diawali dengan beredarnya koran pertama di Eropa sekitar tahun 1450 M.
9.  Pada tahun 1969 M, lahirlah ARAPANET yang merupakan cikal bakal dari Internet dunia.
10. Perkembangan dan kemajuan berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi tidak terlepas dari perkembangan alat hitung, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit seperti komputer. Beberapa alat hitung yang digunakan dimulai dari Abacus, Kalkulator roda numerik, kalkulator roda menanik dan kalkulator mekanik.
11. Komputer generasi pertama ini mempunyai ciri menggunakan tabung vakum untuk memproses dan menyimpan data, cepat panas dan mudah terbakar, oleh karena itu beribu-ribu tabung vakum diperlukan untuk menjalankan operasi keseluruhan komputer, dan juga memerlukan daya yang sangat besar.
12. Komputer generasi kedua menggantikan bahasa mesin dengan bahasa assembly.   Bahasa assembly adalah bahasa yang menggunakan singkatan-singkatan untuk menggantikan kode biner.
13. Konsep  semakin  kecil  dan  semakin  murah  dari  transistor,  akhirnya  memacu  orang  untuk terus melakukan pelbagai penelitian. Ribuan transistor akhirnya berhasil digabung dalam satu bentuk yang sangat kecil. Sedikit silicium yang mempunyai ukuran beberapa milimeter berhasil diciptakan, dan inilah yang disebut sebagai Integrated Circuit atau IC-Chip yang merupakan ciri khas komputer generasi ketiga.
14. Pada komputer generasi ke-empat ini, ilmuwan berhasil menyusun chip-chip dalam sebuah sirkuit dan berhasil membuat microprocessor. Microprocessor pertama adalah Intel 4004 yang dibuat pada tahun 1971 membawa kemajuan pada IC dengan meletakkan seluruh komponen dari sebuah komputer (central processing unit, memori, dan kendali input/output) dalam sebuah chip yang sangat kecil.
15. Negara  yang  mempelopori  perkembangan  komputer  generasi  kelima  ini  adalah  Jepang.Kemungkinan pengembangan komputer lainnya ialah kemampuan komputer memecahkan masalah sendiri dengan bantuan AI (Artificial Intellegence).
16. Di dalam peraturan hak cipta ada beberapa hak yang didapatkan oleh seseorang atau beberapa orang yang secara hukum telah menjadi pemegang hak cipta, yaitu hak ekslusif, hak ekonomi dan hak moral.
17. Kejahatan  dapat  dilakukan  juga  melalui  internet  dengan  menggunakan  sarana  komputer. Kejahatan melalui internet, dalam hal ini sering disebut dengan Cybercrime. Beberapa nama kejahatan yang dilakukan di internet adalah Hacking, Cracking, Carding, Spamming, Phising, Phreaking, Illegal Contents, dan Cyber Sabotage.
18. Virus komputer adalah sebuah Program yang berukuran relatif kecil dan bersifat sebagai parasit yang mampu hidup dan menggandakan dirinya menyerupai file maupun folder dan sangat mengganggu pengguna komputer yang terinfeksinya. Jika sebuah file terinfeksi virus, maka dia akan menyebar bukan hanya pada sistem komputer yang terinfeksi tetapi juga ke komputer dalam satu jaringan LAN dan bahkan ke internet.
19. Virus komputer meyebar melalui berbagai media termasuk media internet dan penyimpanan (file storage) seperti CD-ROM, Disket, Flash Disk, Hard Disk, dan Memory Card.
20. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan menurut peraturan undang-undang yang berlaku.

Wednesday, May 9, 2012

Sistem Informasi Manajemen Sekolah

Sistem Informasi Manajemen Sekolah ini akan dirancang sebagai alat pemrosesan data sekolah berupa perangkat lunak berbasiskan web untuk menunjang seluruh kegiatan sekolah yang mempunyai tujuan-tujuan sebagai berikut :
  • Tersedianya Informasi utk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan bagi kepentingan sekolah ke depan
  • Tersedianya layanan informasi bagi komunitas sekolah seperti guru, siswa, staf, pimpinan, orang tua, alumni dan masyarakat pada umumnya
  • Memberikan nilai tambah bagi profil sekolah sehingga bisa meningkatkan daya saing yang lebih baik
Tujuan-tujuan diatas sesuai dengan perkembangan yang dinamis bagi keperluan pengembangan sekolah di masa datang yaitu fleksibilitas, akuntabilitas dan transparansi sehingga sekolah diharapkan tidak akan ketinggalan jaman dalam mempersiapkan anak didiknya menghadapi era global yang sudah berjalan dengan sangat cepat ini. Dalam pengembangan SIM Sekolah ini, kami harapkan aplikasi berbasis web ini memiliki keunggulan-keunggulan diantaranya :
  1. Berbahasa Indonesia, hal ini untuk memudahkan pengguna dalam mengoperasionalkan SIM Sekolah ini
  2. Jumlah pengguna tidak dibatasi, karena sistemnya menggunakan basis web sehingga siapa saja yang terhubung ke jaringan server SIM Sekolah bisa mengakses melalui browser
  3. Memiliki fitur backup database secara manual dan otomatis, sehingga keamanan data bisa lebih terjamin
  4. Pengaturan Menu yang user-friendly sesuai dengan hak akses masing-masing pengguna sehingga memberikan kemudahan dalam menggunakannya
  5. Menghasilkan laporan-laporan yang berguna bagi pengambilan keputusan dan perencanaan, baik laporan bersifat khusus maupun umum
Dari tujuan dan keunggulan yang dicanangkan diatas, maka kami membagi SIM Sekolah dalam 8 sistem yang semuanya akan terintegrasi saat dioperasionalkan, yaitu :
  1. Sistem Informasi Profil (Portal Sekolah) : yang nantinya akan berisi Profil Sekolah, Visi, Misi, Fasilitas, program-program, Berita/Artikel, kegiatan/agenda, informasi kesiswaan, forum, galeri foto, dan buku tamu.
  2. Sistem Informasi Personalia : yang berisi Data Guru dan Staf untuk mengelola informasi penting tentang tenaga pengajar maupun staf yang terdaftar di sekolah, seperti biodata, pangkat, jabatan, alamat, status bekerja, jam kerja, riwayat pendidikan, riwayat karir, riwayat pelatihan, tingkat kehadiran, info gaji dan lain-lain
  3. Sistem Informasi Sarana dan Prasarana : berisi mengenai Manajemen Aset sekolah mulai dari penomoran aset, lokasi aset, penggunaan aset dan jumlah aset
  4. Sistem Informasi Keuangan : akan berisi data pembayaran biaya pendidikan siswa, seperti SPP, uang pembangunan, dan biaya-biaya lain. Data pembayaran tersebut akan ditampilkan dalam format laporan yang akan memudahkan pihak sekolah dalam melakukan pemeriksaan dan evaluasi, seperti :
    • Laporan siswa yang belum melakukan pembayaran
    • Laporan siswa yang sudah melakukan pembayaran
    • Laporan-laporan yang berkenaan dengan honor guru/karyawan
  5. Sistem Informasi Siswa : akan berisi data Penerimaan Siswa Baru, Biodata siswa, Pengelolaan Kenaikan Kelas Siswa (manual maupun otomatis), Pengelolaan Kelulusan/Alumni, Pencetakan Kartu Siswa, dan Pengelolaan Kedisiplinan Siswa
  6. Sistem Informasi Akademik : berisi Pengelolaan Kurikulum, Penjadwalan Satuan Pengajaran, Pengelolaan Nilai Akademik Siswa dan Laporan Hasil Studi Siswa, dan Presensi Siswa dalam kegiatan PBM
  7. Sistem Informasi Perpustakaan : berisi Pengelolaan buku, Pengelolaan anggota, Transaksi peminjaman dan pengembalian buku, dan Manajemen Arsip Digital
  8. Sistem E-Learning : berisi Proses pendidikan menggunakan sistem online maupun intranet bagi siswa dan guru berupa modul sekolah, tanya-jawab, kuis online, maupun tugas-tugas.

Sunday, May 6, 2012

Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pendidikan

SIMDIK adalah sebuah sistem informasi untuk kebutuhan manajemen lembaga pendidikan dalam hal ini adalah sekolah. Sekolah yang dapat di cover dengan SIMDIK ini adalah sekolah TK, SD, SMP, SMA dan sederajat.
SIMDIK dikembangkan secara terpadu dimulai dari proses operasional pendaftaran siswa baru, proses akademik, pengelolaan keuangan, sampai operasional siswa menjadi alumni.
SIMDIK merupakan core proses operasional sekolah.
SIMDIK juga dirancang sesuai dengan standar JARDIKNAS. Segala kebutuhan pelaporan dari sekolah ke Dinas Pendikan Daerah maupun untuk kebutuhan Depdiknas dapat dilakukan dengan mudah. Dengan adanya SIMDIK manajemen pendidikan menjadi lebih mudah dan terkontrol.




Latar Belakang
* Pemanfaatan ICT dalam bidang pendidikan sudah sangat diperlukan dalam proses pengelolaan sekolah, baik dalam hal pengelolaan administrasi akademik, administrasi kepegawaian, dan untuk proses pelaporan.
* Kebutuhan aplikasi database yang dapat mengelola data dan informasi sekolah, manajemen sekolahan, dan konten-konten pengajaran dan pembelajaran.
* Kebutuhan untuk menyediakan laporan-laporan dari sekolah secara cepat dan valid kepada instansi terkait, seperi laporan ke Diknas Pendidikan Daerah maupun laporan ke Departemen Pendidikan Nasional.

Tentang Sistem Informasi Manajemen Sekolah
* Sistem Informasi Manajemen sekolah adalah konsep manajemen sekolah menggunakan ICT.
* Sistem Informasi Manajemen sekolah merupakan konversi manajemen sekolah secara manual ke Sistem manajemen sekolah berbasis program komputer (database).
* Sistem Informasi Manajemen sekolah adalah proses manajemen data akademik dan data pendukung akademik secara mudah, cepat dan efisien.

Nilai Lebih SIMDIK

* Sesuai standar JARDIKNAS (Departemen Pendidikan Nasional), sehingga pembuatan laporan dari masing-masing sekolah maupun dari Dinas Pendidikan dapat dengan mudah dan cepat di sampaikan tanpa harus membuat laporan ulang dan tanpa harus mencetaik laporan, hal ini karena format laporan dan jaringan sudah disesuaikan dan menggunakan konsep singkronisasi online.
* Kemudahan dan kecepatan proses pengolahan, penyimpanan, pencarian, pelaporan data dan informasi yang dibutuhkan.
* Dikembangkan secara integrated untuk kebutuhan administrasi akademik sekolah.
* Sistem dapat disesuaikan dengan kebutuhan lembaga/institusi pendidikan terkait.
* Secara teknis, proses instalasi dan setup yang mudah.
* Tampilan user friendly dengan mengadopsi interface Office 2007.
* Harga lisensi yang sangat kompetitif.

Cakupan SIMDIK
Ruang Lingkup SIMDIK Back-office :

1. Koneksi dan setting
Identitas sekolah, setting tahun ajaran, seting kurikulum, koneksi database, dan format tanggal.
2. Pengelolaan Kesiswaan
Pengelolaan biodata masing-masing siswa, beasiswa, kasus kedisiplinan, data kesehatan, data periksa, prestasi, perpindahan (mutasi) siswa, sampai pengelolaan data alumni.
3. Pengelolaan Akademik
Laporan nilai hasil ujian secara periodik, data nilai KTSP, data nilai KBK, data absensi, data bimbingan dan penyuluhan, data kasus siswa, rencana pengajaran, pengelolaan mata pelajaran, penjadwalan, dan prestasi akademik.
4. Pengelolaan Guru dan Karyawan
Manajemen biodata guru dan karyawan, data keluarga, riwayat pendidikan, pendidikan tambahan(kursus, training, seminar, workshop dsb).
5. Pengelolaan Keuangan
Manajemen pembayaran biaya pendidikan, administrasi dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah)dan penggunaannya, biaya tambahan, seperti : biaya praktikum, biaya ekstra, dll.
6. Pengelolaan Perpustakaan
Pengelolaan buku (judul, kategori & deskripsi), status keanggotaan dan peminjam, stock inventory, Jurnal keluar masuk buku, laporan-laporan terdiri dari : statistik peminjaman, statistik keluar masuk buku, rekap peminjaman, dan rekap pengembalian.
7. Pelaporan
Pelaporan siswa (induk siwa, kesehatan, periksa kesehatan, biasiswa, kasus, dan bimbingan) per siswa, per kelas dan seluruh siswa, pelaporan guru/pegawai (induk pegawai, bidang pengajaran), rencana pengajaran, nilai, kelulusan, statistik dan laporan ke DEPDIKNAS (data sekolah, siswa dan guru)
8. Bank Soal
Pengolahan data bank soal, penyimpanan soal,pencarian dan pencetakan

Friday, May 4, 2012

Mencari FPB Dan KPK Menggunakan Excel

Faktor persekutuan terbesar (FPB) dari dua bilangan atau lebih adalah suatu bilangan terbesar yang merupakan faktor dari bilangan - bilangan tersebut. Kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dari dua bilangan atau lebih adalah sebuah bilangan terkecil yang merupakan kelipatan bilangan-bilangan tersebut.
Bagaimana cara mencari FPB dan KPK dari dua bilangan atau lebih? Untuk mencari FPB dari dua bilangan atau lebih, dapat ditempuh melalui beberapa cara salah satunya menggunakan Excel.
  1. Untuk mencari FPB, fungsi yang digunakan adalah GCD (Greatest Common Divisor).
  2. Sebagai contoh mencari FPB dari 20, 35, dan 40 adalah =GCD(20,35,40) hasilnya adalah 5
  3. Untuk mencari KPK, fungsi yang digunakan adalah LCM (Least Common Multiple of Integer).
  4. Sebagai contoh mencari FPB dari 20, 35, dan 40 adalah =LCM(20,35,40) hasilnya adalah 280

Thursday, March 29, 2012

Lomba Pengayaan Sumber Belajar Tahun 2012

Lomba Pengayaan Sumber Belajar Tahun 2012
Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dapat menyelenggarakan Kegiatan Lomba Pengayaan Sumber Belajar Berbasis Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) dan Blog bagi guru serta Lomba Pengayaan Sumber Belajar pada Website/Blog sekolah di Jawa Tengah untuk kedua kalinya.
Kegiatan yang dilaksanakan untuk kedua kalinya ini akan berupaya membenahi segala kekurangan yang ada pada lomba pertama tahun 2011 yang lalu, sehingga diharapkan pelaksanaan lomba ini kan lebih baik dibanding tahun yang lalu.
Download Panduan Lomba: disini
Brosur: disini

Wednesday, July 13, 2011

Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam dunia Pendidikan dan Pembelajaran

Penyempurnaan kurikulum dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, bahan kajian yang harus dikuasai oleh siswa disesuaikan dengan tuntutantuntutan
tersebut. Selain itu, bukan hanya bahan kajian saja yang harus dikuasi oleh siswa tetapi
juga kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian
yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa
memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah
yang dihadapinya. Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu
dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information
and Communication Technology (ICT) yang berfungsi baik sebagai alat maupun bahan
pembelajaran.
Mata pelajaran baru yang akan atau mungkin diterapkan di sekolah dari segala jenis dan
tingkat pendidikan ini belum ada kata sepakat, selain materinya baru juga oleh kesiapam SDM
(guru) dan sasana pendidikan di sekolah. Namun demikian, kita akan melihatnya dari sisi lain,
bukan dari sisi adan tidaknnya mata pelajaran tersebut tetapi, kemampuan sekolah dan guru
mengadopsi teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran di kelas .
Alasan lain yang memperkuat adalah, mana mungkin memperkenalkan sebuah teknologi
dengan ceramah, dan mana mungkin labor lama dapat mengadaptasi penemuan-penemuan baru
dalam ilmu pengetahuan, apalagi sekeliling anak ada handphone, ada rental komputer, ada rental
internet dan ada macam-macam lagi.
Pembahasan secara komfrehensif mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan
difokuskan pada pengembangan dan penerapan konsep belajar terbuka, termasuk belajar jarak
jauh, dan belajar berbasis aneka sumber (resource based learning). Pembahasan meliputi
perkembangan dari aspek kerekayasaan, aspek kemasyarakatan, serta aspek ekonimis, aspek
psikologis dam aspek pendidikan sendiri. Kegiatan belajar di sekolah adalah pemberian
pengalaman langsung (hands on experience) dalam memanfaatkan teknologi canggih dalam
proses pembelajaran.
Konsep belajar terbuka di sekolah atau berbasis aneka sumber (resource based learning)
akan mengubah fungsi guru dikelas – yang tidak hanya satu-satunya sumber belajar dan dapat
mengembangkan metode mengajar di kelas. Konsep belajar terbuka artinya guru tidak hanya
mempunyai suatu sumber belajar (buku) dan satu metode (ceramah) tetapi dapat melakukan
variasi dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif.
Sumber belajar terbuka bisa bersumber dari (1) internet, (2) Radio, (3) Televisi, (4) Tape
Recorder, (5) CD Player, (6) komputer, (6) laboratorium alam (masyarakat) dan sejenisnya.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat masing-masing bagian.
1. Internet
Apa itu internet (international nelwork). Internet adalah kumpulan komputer antarsatu
wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan
komunikasi ini diatur oleh protokol. (Gatot Subroto, 1999) Dengan kata lain, internet adalah
media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya
disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang
komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan,
maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara
bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh
perangkat digital non komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi
komputer yang global. Dengan internet, maka di manapun kita berada dapat berhubungan satu
sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah
yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi informasi sekarang ini, ada semacam
persiapan yang bisa ditempuh orang tua dalam membantu anak-anak mereka untuk tetap berjalan
seiring dalam era informasi ini. Beberapa langkah persiapan yang bisa ditempuh orang tua
adalah, pertama orang tua harus memastikan diri bahwa mereka mempunyai pengetahuan dan
kemampuan praktis tentang komputer pribadi. Alasannya sangat sederhana, bagaimana orang tua
bisa mengajarkan anak-anak mereka naik sepeda sedangkan mereka sendiri tidak bisa naik
sepeda. Namun demikian, orang tua tidak perlu menjadi seorang ahli dalam menggunakan
komputer supaya menjadi contoh positif bagi anak-anak mereka menggunakan teknologi ini.
Dapat dipertimbangkan untuk mengikuti pelajaran komputer di tempat anak bersekolah, atau
mempelajari melalui buku tentang komputer bagi pemula khususnya.
Kedua, mulai membiasakan anak-anak untuk menggunakan komputer. Ini seperti
layaknya mengendarai sepeda, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,
mengendarai sepeda menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Langsung menggunakan komputer
juga dapat memberikan semacam pengalaman bagi anak-anak untuk merasakan nyaman dan
senang, sehingga dapat berkreasi dalam mengoperasikan teknologi canggih tersebut. Salah satu
kunci utama untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam rumah dari media
adalah secara langsung mengamati anak-anak. Artinya orang tua harus berada dekat dengan
anak-anak pada saat mereka menjelajah jaringan Internet. Kalau memang khawatir, sebetulnya
komputer pribadi dapat dipindahkan ke ruang keluarga berkumpul atau tempat-tempat yang
terbuka dan mudah diawasi.
Bila di rumah anda belum terpasang jaringan internet, anda tidak perlu berkecil hati.
Sekarang sudah banyak wartel, warung telekomunikasi yang tidak hanya menyediakan jasa
fasilitas telepon saja, tapi juga internet. Kita bisa menggunakan (baca: sewa) selama kita mau
dan mampu. Hanya tinggal membayar sewanya, dan harga sewanya cukup terjangkau dengan
tarif rata-rata adalah Rp.10.000,- per jam.
Lebih jauh, sekarang pelayanan jasa internet sudah dikemas dengan lebih apik, nyaman,
dan menyenangkan. Di Jakarta, Gatot Subroto (1999) pernah menjumpainya di daerah Blok M
Plaza (lantai IV dan V) yaitu Smashnet dan X-Trac, adalah dua tempat gaul internet yang bisa
dikunjungi oleh semua orang (kebanyakan pada umumnya remaja). Di Citraland dan Roxy Mas,
juga ada fasilitas seperti ini, kalau hari Sabtu tempat ini penuh akan antrean remaja yang hobi
akan teknologi dan menjelajah atau melanglang buana di dunia maya. Satu lagi di Mall Taman
Anggrek, sebuah tempat bernama NetCafe yang mengkemas dan meramu pojok internetnya
lebih bersuasana café. Sedangkan internet untuk keperluan anak-anak, pada dasarnya tidak jauh
berbeda dengan servis internet yang digunakan untuk internet biasa secara umum, yang
menonjol di sini mengenai informasi dan isi pengetahuan yang ditampilkannya, khususnya yang
mendukung perkembangan anak. Namun, salah satu tantangan yang cukup besar di dunia
internet adalah masalah penggunaan bahasa Inggris, sehingga dibuatkan perbendaharaan kata
dan pemahaman bahasa Inggris yang memadai bagi mereka untuk menjelajahi jaringan Internet.
Hal ini sekaligus merupakan suatu sarana untuk melatih dan mempraktikan kemampuan
berbahasa Inggris.
Beberapa contoh aplikasi internet untuk pendidikan yang mungkin akan menarik untuk
anak kita akan diberikan di bawah ini. Misalkan situs www.safekids.com – yang didirikan tahun
1994. Lawrence Magid menulis "Child Safety on the Information Highway" dan melanjutkan
penelitiannya pada masalah ini serta menciptakan Safekids.com. Sebuah situs yang membantu
orang tua guru, anak-anak dan remaja dalam mempelajari cara-cara yang aman dalam
menjelajahi dunia Internet. Letsfindout.com merupakan tempat yang sangat baik untuk
menambah pengetahuan atau untuk anak-anak atau siapapun yang ingin tahu tentang berbagai
hal.
2. Televisi
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan
dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi.
Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anakanak.
Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan
program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang
sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya
dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab
mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis
bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor
keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada
anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar,
majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi
merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis,
bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi
korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak
lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan
penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel
Indonesia, tampak hidup di layar televisi.
Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk
menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah
dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan.
Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui
stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu
bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung
dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi
sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para
penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang
televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari.
Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam
aspek kognetif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara
lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan
instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang
jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas.
Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta
didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar,
teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai
dengan tujuan yang dikehendaki.
Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan
sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991),
gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini
Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah
kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan
kesan pada diri pemirsa.
Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk
menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah
mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa
menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya
yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses
penyuntingan.
Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi
mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa mengakrabkan objek yang
jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga
Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan
komunikasi interpersonal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih,
simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan
keempat adalah perilaku para penyair televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita,
memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya.. Mereka mempunyai posisi
stategis dalam menyampaikan pesan pada khalayak.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan
kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai
positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat
merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai
masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan
ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.
3. Radio
Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di berbagai daerah di seluruh
Indonesia, belum termasuk stasiun radio yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998.
Wilayah jangkauannya secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan
Nusantara -meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan dapat mencakup setiap
desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus
yang diperlukan khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau keterampilan
membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja sudah lebih dari 69% penduduk yang
berusia 10 tahun ke atas mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu, angka ini diperkirakan telah
meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio oleh masyarakat sudah begitu
merata dan banyak, sehingga statistik mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat:
Direktorat Jenderal RTF (1998), BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan kelurahan adalah
data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua arah perkembangan. Di
dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang sebagai industri non pemerintah penunjang
kehidupan ekonomi dan politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan
sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara; perhatikan misalnya Voice of
America, Radio Free Europe, dsb. Di Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam
negeri sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah walaupun dengan sifat
yang independen, umpamanya BBC. (Untuk informasi mengenai perkembangan radio sebagai
institusi, lihat: Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
Dengan teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas mulai pula
berkembang sebagai radio global melalui jaringan internet. Setidaknya ratusan stasiun radio
lokal dari segenap penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara online.
4. Tape Recorder, CD Player dan Televisi
Ketika jenis benda elektrokik ini sudah dikenal umum, Tape recorder adalah untuk
merekam dan memutar kaset, sedangkan CD Player adalah untuk memutar CD Rom, di mana
televisi selain sebagai wadah tontonan adalah sebagai media pelengkap CD|rom.
5. Komputer
Komputer yang digunakan sebagai basis dalam kegiatan pembelajaran pada dasamya
menerapkan konsep efektivitas dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan. Pada fase I,
komputer memainkan peran sebagai alat bantu yang dikenal dengan sebutan Computer-asisted
instruction (CAI), Computer based instruction (CBI), Computer-enriched instruction (CEI), dan
Computer-managed instruction (CMI). Namun memasuki fase II komputer telah memainkan
peran dalam bentuk CMC (Computer mediated communication). Pemunculan CMC menggeser
peran komputer dalam kegiatan pembelajaran dari alat bantu menjadi sumber belajar. Namun
tidak mengurangi arti sebagai alat bantu guru dalam mengajar materi yang sulit (bahaya) dan
berulang dan yang kurang dikuasainya. Misalnya tentang gerak, pertumbuhan, ledakan,
pembedahan, pewarnaan, desain, audio dan video dan sebagainya. Karena itu komputer bisa
merangsang inovasi, kreatifitas, dan produkifitas guru dan siswa.
Berbagai software telah diciptakan untuk mendesain pembelajaran dengan komputer, di
mana dikenal istilah program interaktif, yaitu suatu desain pembelajaran, di mana pemakainya
seperti sedang melakukan interaksi dengan seseorang, layaknya sebuah game, sehingga tidak
membosankan, selain itu dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dan hidup dan
merangsang belajar.
Pada fase II memungkinkan komputer membantu lebih luas, karena CMC telah ditopang
dengan berbagai media (multimedia) untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan dalam
upaya meningkatkan kegiatan pembelajaran secara efektif. Melalui media ini unsur-unsur dasar
kegiatan pembelajaran memungkinkan untuk tercapai secara optimal. Unsur-unsur itu antara lain
terjadinya interaksi antar individu - baik guru-siswa, antarsiswa, siswa dengan orang lain
(pakar), dan/atau masyarakat sosial lainnya.
Pergeseran pemakaian sistem komputer ini bukan tanpa dasar, pergeseran ini merupakan
perwujudan pergeseran konsep belajar dari prinsip-prinsip yang cenderung behavioristik ke
prinsip-prinsip belajar kognitivistik, dari pola preskriptif ke deskriptif, dari yang menekankan
pada proses pengulangan (drill) ke pola-pola pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Di sisi lain, perubahan prinsip belajar berbasis komputer ini juga memberikan dampak pada
profesionalitas guru. Dalam hal ini, guru sudah harus menambah pengetahuan dan keterampilan
dalam profesi yang baru dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan mencapai tujuan
belajar.
Dengan pergeseran sistem pembelajaran yang berbasis komputer, dari alat bantu menjadi
sumber belajar ini, khasanah pengetahuan terbuka luas. Belajar tidak lagi terkukung dalam ruang
kelas semata, melainkan telah mampu menjelajah ke dunia lain baik dalam intranet maupun
secara global internet. Guru dan siswa hampir tanpa batas waktu dan ruang untuk berinteraksi,
begitu juga antara siswa dengan para pakar. Semua terpampang di depan mata. Dalam hal ini,
kemampuan mengorganisir, menganalisis dan menyeleksi informasi-informasi yang paling tepat
sangat penting artinya. Dengan kata lain ruang ini telah kebanjiran data atau informasi untuk
senantiasa dicermati oleh berbagai pihak, temasuk siswa-siswa dan para pendidik. Dari luapan
informasi itu mungkin saja sebagian besar informasi itu tidak perlu, dan tidak dibutuhkan oleh
siswa atau pendidik. Begitu juga dalam upaya mengambil kebijakan, tidak semua informasi
memberikan dukungan terhadap kebijakan.
B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Teknologi Pembelajaran
Uraian berikut bukan bermakud suatu keharusan sebuah sekolah memiliki atau membeli
semua perankat yang disebutkan karena selain harga yang mahal, juga teknis pemakaian,
perawatannya yang sulit, juga sulit mencarinya, tetapi uraian ini bermaksud memberikan
gambaran ideal bila sekolah mampu memilikinya sendiri, jika tidak sekolah bisa memanfaatkan
dengan sistem kerja sama atau bagi hasil dengan pihak luar.
Hardware (perangkat keras) yang harus dipunyai oleh sekolah adalah: (a) Radio, (b)
televisi, (c) Tape recorder (d) CD Player, (e) Camera tustel, (f) Kamera video, (g) CCTV, (h)
Handy Talky, (i) Proyektor, dan sejenisnya, sementara software yang harus dimiliki adalah (1)
Identifikasi Program, (2) Kaset pembelajaran (3) Video Pembelajaran, (4) Internet.
Bagaimanakah teknis atau strategi pembelajaran mengunakan alat dan sumber ini, hal ini
akan dibicara pada kesempatan lain.
C. Starategi Penerapan
Setiap sekolah, setiap daerah desa, kecamatan dan kabupaten di mana saja berbeda.
Makin sederhana suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten, makan semakin sederhana
perubahan/ pembaharuan yang dapat dilakukan tetapi semakin maju suatu sekolah, desa,
kecamatan dan kabupaten maka semakin kompleks pula perubahan yang dapat dilakukan, atinya,
perubahan/ penbaharuan membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar dan banyak.
Berdasarkan pemikiran ini, maka pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tergantung
dengan karakteristik sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten yang bersangkutan, artinya makin
sederhana sekolahnya makin sederhana teknologi yang diterapkan dan semakin maju sekolah itu
maka semakin kopmpleks teknologi yang dapat diterapkan.
Namun, betapun kesimpulan ini sederhana, kita tidak boleh mengatakan nanti, kalau bisa
dilakukan hari mengapa harus esok, karena hari esok kita sudah dibelakang lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M, H. (1994). Ilmu Perbandingan Pendididikan. Jakarta: Golden Trayon Press
Adningsih, Utami. (1999). Kualitas dan Profesionalisme Guru. Internet.
Anwas, M. Oos, (2004) Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis). Jurnal
Pustekkom Depdiknas.
Balitbang,Biro Humas dan Hukum. (Kompas, 2 Juli 2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Baru Diimplementasi Tahun 2004.
Belawati, Tian. (2000). Prinsip-Prinsip Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta:
Depdiknas.
Debdikbud. (1996-1997). Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud
____________. (1997-1998). Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru
Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Darmaningtyas. (1999). Pendidikan pada dan Selepas Kriris: Evaluasi Pendidikan di Masa
Krisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Duta Hari Murthi Consultants, PT. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Duta Hari
Murthi Consultants, PT.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2001). Modul Manajemen Berbasis Sekolah. Badung.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kuntjaraningrat. (1982) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mulyasa. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remadja Rosdakarya.
Nurholis. (1991). Hakekat Desenteralisasi Model MBS. Pendidikan Networ: internet.
Puspitasari, Ambar, Kristanti. (2002). Layanan Bantuan Belajar Dalam Sistem Pendidikan
Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Padmo, Dewi. (2001). Ragam dan Pemilihan Media Dalam Sistem Pendidikan Terbuka dan
Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Suarabaya: Usaha Nasional.
Saepudin Asep. (2000). Potret Pendidikan dalam Alih Ilmu dan Teknologi, internet.
Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar. Jakarta: Paramadia.
Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra
Gama Widyaa.
Sindhunata. (2000, editor). Menggas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suparman, Atwi. (1996). Pendidian Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Tilar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.

Friday, July 8, 2011

Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran


Penyempurnaan kurikulum dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, bahan kajian yang harus dikuasai oleh siswa disesuaikan dengan tuntutantuntutan
tersebut. Selain itu, bukan hanya bahan kajian saja yang harus dikuasi oleh siswa tetapi juga kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) yang berfungsi baik sebagai alat maupun bahan pembelajaran.
Mata pelajaran baru yang akan atau mungkin diterapkan di sekolah dari segala jenis dan tingkat pendidikan ini belum ada kata sepakat, selain materinya baru juga oleh kesiapam SDM (guru) dan sasana pendidikan di sekolah. Namun demikian, kita akan melihatnya dari sisi lain, bukan dari sisi adan tidaknnya mata pelajaran tersebut tetapi, kemampuan sekolah dan guru mengadopsi teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran di kelas .
Alasan lain yang memperkuat adalah, mana mungkin memperkenalkan sebuah teknologi dengan ceramah, dan mana mungkin labor lama dapat mengadaptasi penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, apalagi sekeliling anak ada handphone, ada rental komputer, ada rental internet dan ada macam-macam lagi.
Pembahasan secara komfrehensif mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan difokuskan pada pengembangan dan penerapan konsep belajar terbuka, termasuk belajar jarak jauh, dan belajar berbasis aneka sumber (resource based learning). Pembahasan meliputi perkembangan dari aspek kerekayasaan, aspek kemasyarakatan, serta aspek ekonimis, aspek psikologis dam aspek pendidikan sendiri. Kegiatan belajar di sekolah adalah pemberian pengalaman langsung (hands on experience) dalam memanfaatkan teknologi canggih dalam
proses pembelajaran.
Konsep belajar terbuka di sekolah atau berbasis aneka sumber (resource based learning) akan mengubah fungsi guru dikelas – yang tidak hanya satu-satunya sumber belajar dan dapat mengembangkan metode mengajar di kelas. Konsep belajar terbuka artinya guru tidak hanya mempunyai suatu sumber belajar (buku) dan satu metode (ceramah) tetapi dapat melakukan variasi dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif.
Sumber belajar terbuka bisa bersumber dari (1) internet, (2) Radio, (3) Televisi, (4) Tape Recorder, (5) CD Player, (6) komputer, (6) laboratorium alam (masyarakat) dan sejenisnya.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat masing-masing bagian.
1. Internet
Apa itu internet (international nelwork). Internet adalah kumpulan komputer antarsatu wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan komunikasi ini diatur oleh protokol. (Gatot Subroto, 1999) Dengan kata lain, internet adalah media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan,
maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh perangkat digital non komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi komputer yang global. Dengan internet, maka di manapun kita berada dapat berhubungan satu sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi informasi sekarang ini, ada semacam persiapan yang bisa ditempuh orang tua dalam membantu anak-anak mereka untuk tetap berjalan seiring dalam era informasi ini. Beberapa langkah persiapan yang bisa ditempuh orang tua adalah, pertama orang tua harus memastikan diri bahwa mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan praktis tentang komputer pribadi. Alasannya sangat sederhana, bagaimana orang tua bisa mengajarkan anak-anak mereka naik sepeda sedangkan mereka sendiri tidak bisa naik sepeda. Namun demikian, orang tua tidak perlu menjadi seorang ahli dalam menggunakan
komputer supaya menjadi contoh positif bagi anak-anak mereka menggunakan teknologi ini.
Dapat dipertimbangkan untuk mengikuti pelajaran komputer di tempat anak bersekolah, atau mempelajari melalui buku tentang komputer bagi pemula khususnya.
Kedua, mulai membiasakan anak-anak untuk menggunakan komputer. Ini seperti layaknya mengendarai sepeda, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mengendarai sepeda menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Langsung menggunakan komputer juga dapat memberikan semacam pengalaman bagi anak-anak untuk merasakan nyaman dan senang, sehingga dapat berkreasi dalam mengoperasikan teknologi canggih tersebut. Salah satu kunci utama untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam rumah dari media adalah secara langsung mengamati anak-anak. Artinya orang tua harus berada dekat dengan anak-anak pada saat mereka menjelajah jaringan Internet. Kalau memang khawatir, sebetulnya
komputer pribadi dapat dipindahkan ke ruang keluarga berkumpul atau tempat-tempat yang terbuka dan mudah diawasi.
Bila di rumah anda belum terpasang jaringan internet, anda tidak perlu berkecil hati. Sekarang sudah banyak wartel, warung telekomunikasi yang tidak hanya menyediakan jasa fasilitas telepon saja, tapi juga internet. Kita bisa menggunakan (baca: sewa) selama kita mau dan mampu. Hanya tinggal membayar sewanya, dan harga sewanya cukup terjangkau dengan tarif rata-rata adalah Rp.10.000,- per jam. Lebih jauh, sekarang pelayanan jasa internet sudah dikemas dengan lebih apik, nyaman, dan menyenangkan. Di Jakarta, Gatot Subroto (1999) pernah menjumpainya di daerah Blok M Plaza (lantai IV dan V) yaitu Smashnet dan X-Trac, adalah dua tempat gaul internet yang bisa dikunjungi oleh semua orang (kebanyakan pada umumnya remaja). Di Citraland dan Roxy Mas, juga ada fasilitas seperti ini, kalau hari Sabtu tempat ini penuh akan antrean remaja yang hobi akan teknologi dan menjelajah atau melanglang buana di dunia maya. Satu lagi di Mall Taman Anggrek, sebuah tempat bernama NetCafe yang mengkemas dan meramu pojok internetnya lebih bersuasana café. Sedangkan internet untuk keperluan anak-anak, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan servis internet yang digunakan untuk internet biasa secara umum, yang menonjol di sini mengenai informasi dan isi pengetahuan yang ditampilkannya, khususnya yang mendukung perkembangan anak. Namun, salah satu tantangan yang cukup besar di dunia internet adalah masalah penggunaan bahasa Inggris, sehingga dibuatkan perbendaharaan kata dan pemahaman bahasa Inggris yang memadai bagi mereka untuk menjelajahi jaringan Internet.
Hal ini sekaligus merupakan suatu sarana untuk melatih dan mempraktikan kemampuan berbahasa Inggris.
Beberapa contoh aplikasi internet untuk pendidikan yang mungkin akan menarik untuk anak kita akan diberikan di bawah ini. Misalkan situs www.safekids.com – yang didirikan tahun 1994. Lawrence Magid menulis "Child Safety on the Information Highway" dan melanjutkan penelitiannya pada masalah ini serta menciptakan Safekids.com. Sebuah situs yang membantu orang tua guru, anak-anak dan remaja dalam mempelajari cara-cara yang aman dalam menjelajahi dunia Internet. Letsfindout.com merupakan tempat yang sangat baik untuk menambah pengetahuan atau untuk anak-anak atau siapapun yang ingin tahu tentang berbagai hal.
2. Televisi
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi. Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anak anak. Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis
bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar, majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis, bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel
Indonesia, tampak hidup di layar televisi. Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah
dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan.
Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari. Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam
aspek kognetif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas.
Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar, teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.
Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991), gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan kesan pada diri pemirsa.
Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses penyuntingan.
Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa mengakrabkan objek yang jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga
Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan komunikasi interpersonal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih, simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan keempat adalah perilaku para penyair televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita, memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya.. Mereka mempunyai posisi stategis dalam menyampaikan pesan pada khalayak.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.
3. Radio
Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di berbagai daerah di seluruh Indonesia, belum termasuk stasiun radio yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998.
Wilayah jangkauannya secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan Nusantara -meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan dapat mencakup setiap desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus yang diperlukan khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau keterampilan membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja sudah lebih dari 69% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu, angka ini diperkirakan telah meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio oleh masyarakat sudah begitu merata dan banyak, sehingga statistik mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat: Direktorat Jenderal RTF (1998), BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan kelurahan adalah data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua arah perkembangan. Di dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang sebagai industri non pemerintah penunjang kehidupan ekonomi dan politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara; perhatikan misalnya Voice of America, Radio Free Europe, dsb. Di Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam negeri sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah walaupun dengan sifat yang independen, umpamanya BBC. (Untuk informasi mengenai perkembangan radio sebagai institusi, lihat: Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
Dengan teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas mulai pula berkembang sebagai radio global melalui jaringan internet. Setidaknya ratusan stasiun radio lokal dari segenap penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara online.
4. Tape Recorder, CD Player dan Televisi
Ketika jenis benda elektrokik ini sudah dikenal umum, Tape recorder adalah untuk merekam dan memutar kaset, sedangkan CD Player adalah untuk memutar CD Rom, di mana televisi selain sebagai wadah tontonan adalah sebagai media pelengkap CD|rom.
5. Komputer
Komputer yang digunakan sebagai basis dalam kegiatan pembelajaran pada dasamya menerapkan konsep efektivitas dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan. Pada fase I, komputer memainkan peran sebagai alat bantu yang dikenal dengan sebutan Computer-asisted instruction (CAI), Computer based instruction (CBI), Computer-enriched instruction (CEI), dan Computer-managed instruction (CMI). Namun memasuki fase II komputer telah memainkan peran dalam bentuk CMC (Computer mediated communication). Pemunculan CMC menggeser peran komputer dalam kegiatan pembelajaran dari alat bantu menjadi sumber belajar. Namun tidak mengurangi arti sebagai alat bantu guru dalam mengajar materi yang sulit (bahaya) dan
berulang dan yang kurang dikuasainya. Misalnya tentang gerak, pertumbuhan, ledakan, pembedahan, pewarnaan, desain, audio dan video dan sebagainya. Karena itu komputer bisa merangsang inovasi, kreatifitas, dan produkifitas guru dan siswa.
Berbagai software telah diciptakan untuk mendesain pembelajaran dengan komputer, di mana dikenal istilah program interaktif, yaitu suatu desain pembelajaran, di mana pemakainya seperti sedang melakukan interaksi dengan seseorang, layaknya sebuah game, sehingga tidak membosankan, selain itu dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dan hidup dan merangsang belajar.
Pada fase II memungkinkan komputer membantu lebih luas, karena CMC telah ditopang dengan berbagai media (multimedia) untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan dalam upaya meningkatkan kegiatan pembelajaran secara efektif. Melalui media ini unsur-unsur dasar kegiatan pembelajaran memungkinkan untuk tercapai secara optimal. Unsur-unsur itu antara lain terjadinya interaksi antar individu - baik guru-siswa, antarsiswa, siswa dengan orang lain (pakar), dan/atau masyarakat sosial lainnya.
Pergeseran pemakaian sistem komputer ini bukan tanpa dasar, pergeseran ini merupakan perwujudan pergeseran konsep belajar dari prinsip-prinsip yang cenderung behavioristik ke prinsip-prinsip belajar kognitivistik, dari pola preskriptif ke deskriptif, dari yang menekankan pada proses pengulangan (drill) ke pola-pola pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Di sisi lain, perubahan prinsip belajar berbasis komputer ini juga memberikan dampak pada profesionalitas guru. Dalam hal ini, guru sudah harus menambah pengetahuan dan keterampilan dalam profesi yang baru dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan mencapai tujuan belajar.
Dengan pergeseran sistem pembelajaran yang berbasis komputer, dari alat bantu menjadi sumber belajar ini, khasanah pengetahuan terbuka luas. Belajar tidak lagi terkukung dalam ruang kelas semata, melainkan telah mampu menjelajah ke dunia lain baik dalam intranet maupun secara global internet. Guru dan siswa hampir tanpa batas waktu dan ruang untuk berinteraksi, begitu juga antara siswa dengan para pakar. Semua terpampang di depan mata. Dalam hal ini, kemampuan mengorganisir, menganalisis dan menyeleksi informasi-informasi yang paling tepat sangat penting artinya. Dengan kata lain ruang ini telah kebanjiran data atau informasi untuk senantiasa dicermati oleh berbagai pihak, temasuk siswa-siswa dan para pendidik. Dari luapan informasi itu mungkin saja sebagian besar informasi itu tidak perlu, dan tidak dibutuhkan oleh
siswa atau pendidik. Begitu juga dalam upaya mengambil kebijakan, tidak semua informasi memberikan dukungan terhadap kebijakan.
B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Teknologi Pembelajaran
Uraian berikut bukan bermakud suatu keharusan sebuah sekolah memiliki atau membeli semua perankat yang disebutkan karena selain harga yang mahal, juga teknis pemakaian, perawatannya yang sulit, juga sulit mencarinya, tetapi uraian ini bermaksud memberikan gambaran ideal bila sekolah mampu memilikinya sendiri, jika tidak sekolah bisa memanfaatkan dengan sistem kerja sama atau bagi hasil dengan pihak luar.
Hardware (perangkat keras) yang harus dipunyai oleh sekolah adalah: (a) Radio, (b) televisi, (c) Tape recorder (d) CD Player, (e) Camera tustel, (f) Kamera video, (g) CCTV, (h) Handy Talky, (i) Proyektor, dan sejenisnya, sementara software yang harus dimiliki adalah (1) Identifikasi Program, (2) Kaset pembelajaran (3) Video Pembelajaran, (4) Internet.
Bagaimanakah teknis atau strategi pembelajaran mengunakan alat dan sumber ini, hal ini akan dibicara pada kesempatan lain.
C. Starategi Penerapan
Setiap sekolah, setiap daerah desa, kecamatan dan kabupaten di mana saja berbeda. Makin sederhana suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten, makan semakin sederhana perubahan/ pembaharuan yang dapat dilakukan tetapi semakin maju suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten maka semakin kompleks pula perubahan yang dapat dilakukan, atinya, perubahan/ penbaharuan membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar dan banyak.
Berdasarkan pemikiran ini, maka pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tergantung dengan karakteristik sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten yang bersangkutan, artinya makin sederhana sekolahnya makin sederhana teknologi yang diterapkan dan semakin maju sekolah itu maka semakin kopmpleks teknologi yang dapat diterapkan.
Namun, betapun kesimpulan ini sederhana, kita tidak boleh mengatakan nanti, kalau bisa dilakukan hari mengapa harus esok, karena hari esok kita sudah dibelakang lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M, H. (1994). Ilmu Perbandingan Pendididikan. Jakarta: Golden Trayon Press
Adningsih, Utami. (1999). Kualitas dan Profesionalisme Guru. Internet.
Anwas, M. Oos, (2004) Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis). Jurnal
Pustekkom Depdiknas.
Balitbang,Biro Humas dan Hukum. (Kompas, 2 Juli 2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Baru Diimplementasi Tahun 2004.
Belawati, Tian. (2000). Prinsip-Prinsip Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta:
Depdiknas.
Debdikbud. (1996-1997). Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud
____________. (1997-1998). Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru
Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Darmaningtyas. (1999). Pendidikan pada dan Selepas Kriris: Evaluasi Pendidikan di Masa
Krisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Duta Hari Murthi Consultants, PT. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Duta Hari
Murthi Consultants, PT.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2001). Modul Manajemen Berbasis Sekolah. Badung.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kuntjaraningrat. (1982) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mulyasa. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remadja Rosdakarya.
Nurholis. (1991). Hakekat Desenteralisasi Model MBS. Pendidikan Networ: internet.
Puspitasari, Ambar, Kristanti. (2002). Layanan Bantuan Belajar Dalam Sistem Pendidikan
Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Padmo, Dewi. (2001). Ragam dan Pemilihan Media Dalam Sistem Pendidikan Terbuka dan
Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Suarabaya: Usaha Nasional.
Saepudin Asep. (2000). Potret Pendidikan dalam Alih Ilmu dan Teknologi, internet.
Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar. Jakarta: Paramadia.
Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra
Gama Widyaa.
Sindhunata. (2000, editor). Menggas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suparman, Atwi. (1996). Pendidian Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Tilar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.