This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Budaya Jawa. Show all posts
Showing posts with label Budaya Jawa. Show all posts

Friday, March 16, 2012

Budaya Jawa Sarat Nilai
image
''Adigang, Adigung, Adiguna,.. Ojo Dumeh''

UNGKAPAN Jawa tersebut sering kita dengar, tapi banyak di antara kita tidak mengetahui makna di ballik ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut mengajarkan kita agar tidak sombong dan tidak meremehkan orang lain, saat kita berkuasa, karena apa yang dimiliki dapat hilang sewaktu-waktu.

Itulah sekelumit pembahasan tentang nilai-nilai luhur yang terkandung pada ungkapan Jawa pada seminar nasional ''Revitalisasi Nilai-nilai Budaya Jawa dalam Membentuk Generasi Berkarakter'' yang diadakan oleh FIP UNY. Acara yang berlangsung, di ruang Abdullah Sigit FIP UNY, dibuka secara resmi oleh Rektor UNY, Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA.



Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengirimkan keynote speechyang dibacakan oleh Joko Dwiyanto MHum, menulis definisi karakter yang berasal dari bahasa latin, kharakter yang bermakna alat untuk menandai, mengukir, atau memahat. Dengan pengertian tersebut, dapat dikatakan membentuk generasi berkarakter adalah proses mengukir atau memahat jiwa sebuah generasi dengan sedemikian rupa sehingga berbentuk unik, menarik yang dapat membedakannya dengan orang lain.

Pesan leluhur Jawa dalam serat wulangreh menyebutkan bahwa keluarga adalah wadah pendidikan pergaulan, watak, norma sosial, tata krama, agama dan pendidikan tentang baik buruk. Tugas keluarga adalah anggaluwentah (mendidik) anak (pamardi siwi) dengan sebaik-baiknya. Maka upaya untuk membentuk generasi berkarakter dimulai dari keluarga kemudian lingkungan sekolah.

Pembicara lain Ir Yuwono Sri Suwito MM menyampaikan topik ''Implementasi Nilai-nilai Budaya Jawa dalam Pendidikan Karakter''. Dia dengan tuntas menjelaskan tentang kearifan lokal Yogyakarta yang terkandung dalam nilai-nilai budaya Jawa Yogyakarta, di antaranya hamemayu hatyuning bawanadudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan, asih ing sesame, wani ngalah luhur wekasane, aja dumeh, adigang, adigung, adiguna dan masih banyak lagi.

''Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan kepada generasi muda untuk regenerasi bangsa yang tidak hanya mengenal nilai nilai tetapi juga memahami dan menghayati serta mengamalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa,'' tegasnya.

Sementara, Bambang Saptono MSi Ketua Pelaksana berharap seminar itu bermanfaat dalam menggali potensi dan memahami nilai-nilai Jawa untuk membentuk generasi berkarakter
.

Thursday, March 15, 2012

SESAJEN

SESAJEN merupakan sebuah keharusan yang pasti ada dalam setiap acara bagi orang yamg masih teguh memegang adat Jawa. Penyebutan sesajen biasanya bermacam-macam, ada yang di sebut dengan Dang Ayu dan ada yang disebut dengan Cok Bakal. Namun pada dasarnya inti dan tujuannya sama.
Banyak orang yang mengartikan sesajen mengandung arti pemberian sesajian-sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari paranormal atau tetuah-tetuah. Sehingga warisan budaya Hindu dan Budha ini dianggap sebagai suatu kemusyrikan. Sebelum menilai demikian, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu arti simbol-simbol atau siloka kearifan lokal ini.
1. Padi, gabah, beras, dan nasi (tumpeng): melambangkan ketuntasan dan kesempurnaan. Artinya, jika melakukan sesuatu harus dengan tuntas dan tidak setengah-setengah. Sedangkan tumpeng berasal dari kata tumungkulo sing mempeng, artinya jika kita ingin selamat, hendaknya kita selalu rajin beribadah.
2. Urap: artinya jika selama hidup harus mempunyai arti bagi sesama, lingkungan, agama, bangsa dan negara. Bisa diartikan bahwa, dalam bermasyarakat harus bisa berbaur dengan siapa saja agar hidup tentram.
3. Bubur panca warna: bubur beras merah, ketan hitam, bubur jagung, ketan putih, kacang hijau. Ditempatkan di empat penjuru mata angin, satu di tengah. Melambangkan elemen alam (air, api, udara, tanah, dan angkasa)
4. Jajanan pasar: menggambarkan kerukunan walaupun ada perbedaan, tenggang rasa.
5. Pisang raja gandeng: pisang raja menyimbolkan agar cita-cita kita senantiasa luhur, sehingga dapat membangun bangsa dan negara.
6. Ayam ingkung: melambangkan pengorbanan selama hidup, cinta kasih terhadap sesama juga melambangkan hasil bumi (hewan darat)
7. Ikan bandeng atau ikan asin (berduri banyak): melambangkan rejeki berlimpah, ikan teri (yang hidupnya bergerombol) melambangkan kerukunan
8. Telur: melambangkan asal mula kehidupan yang selalu berasa dari dua sisi yang berlainan seperti warna telur kuning putih, di antaranya laki-perempuan, siang-malam, dll.
9. Air di gelas dan bunga: melambangkan air minum yang menjadi kebutuhan hidup manusia
10. Kopi pahit: melambangkan elemen air namun bukan suatu minuman pokok (kebutuhan sekunder), dan menjadi minuman persaudaraan bila ada perkumpulan/pertemuan.