This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, May 20, 2020

Penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia tentang teks deskprisi



Pada dasarnya ketrampilan membaca dan menulis sangat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena pengetahuan apapun tidak terlepas dari membaca dan menulis. Tanpa memiliki ketrampilan tersebut, maka pengetahuan apapun yang diberikan akan sia-sia dan tidak berarti, mengingat saat ini merupakan era globalisasi yang banyak menuntut berbagai ketrampilan. Oleh sebab itu, penguasaan ketrampilan membaca dan menulis sangat diperlukan. 

Keberhasilan suatu proses pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil belajar siswa kelas VII B SMP N 2 Kaliwungu Kabupaten Kendal masih rendah khususnya Bahasa Indonesia. Ini dapat dilihat dari hasil evaluasi belajar pra siklus 66,66% dari jumlah siswa, memperoleh nilai dibawah KKM 75 dan hasil rata-rata kelas 72,56. Untuk meningkatkan hasil belajar diperlukan penggunaan metode demonstrasi, untuk memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan. Maka dapat dilakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia tentang teks deskripsi dengan metode demonstrasi siswa kelas VII B SMP N 2 Kaliwungu Kendal

Metode demonstrasi menurut Fat Hurrahman (2011), menyatakan bahwa “yang dimaksud dengan metode demonstrasi ialah suatu upaya atau praktek dengan menggunakan peragaan yang ditujukan pada siswa yang tujuannya ialah agar supaya semua siswa lebih mudah dalam memahami dan mempraktekkan dari apa yang telah diperolehnya dan dapat mengatasi suatu permasalahan apabila terdapat perbedaan”.

Wina Sanjaya (2006), Sumatri dan Permana (1999) menyatakan bahwa “ metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan cara memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topic bahasan yang harus didemonstrasikan”. 

Langkah-langkah metode demonstrasi sebagai berikut : a)Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. b)Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan. c)Menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan. d)Menunjuk salah seorang peserta didik untuk mewakili kelompoknya untuk mendemonstrasikan sesuai sekenario yang telah disiapkan. e)Seluruh peserta didik memperhatikan demonstrasi dan manganalisa.  f ) Menarik kesimpulan.

Penggunaan metode demonstrasi pada pembelajaran bahasa Indonesia : a )Melatih siswa untuk gemar membaca. b) Melatih siswa membaca nyaring dengan lafal dan intonasi yang tepat. c )Melatih siswa untuk percaya diri.d )Setelah membaca siswa memahami isi bacaan.

Langkah-langkah dalam penerapan pembelajaran teks deskripsi dengan menggunakan metode demostrasi sebagai berikut : a ) Siswa dibagi menjadi 6 kelompok. b) Siswa berkelompok sesuai dengan kelompoknya. c) Masing-masing kelompok memberi nilai pada waktu temannya membaca. d) Masing-masing kelompok membacakan hasil diskusi. e) Guru dan siswa bersama-sama membahas hasil diskusi.

Setelah dilaksanakan pembelajaran teks deskripsi dengan menggunakan metode demonstrasi  kenaikan hasil belajar yang ditunjukkan adanya kenaikan rata-rata kelas. Pada siklus 1 nilai rata-rata kelas mencapai 76, ketuntasan belajar 60% dan semua siswa tuntas belajar sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75. Sedangkan pada siklus 2 rata-rata kelas mencapai 80, ketuntasan belajar 85%.

Berdasarkan hasil penelitian  di atas, maka peneliti menyimpulkankan bahwa Penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia tentang teks deskprisi pada siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Kaliwungu Kabupaten Kendal.

*)Ery Kundyarti, terbit tanggal 5 Mei 2020, Radar Semarang Jawa Pos )


Friday, May 15, 2020

Strategi pembelajaran Card Sort untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia

 


Membiasakan membaca atau literasi merupakan hal penting bagi setiap umat manusia. Masyarakatpun mempunyai perhatian yang serius terhadap pembimbingan membaca atauliterasi, hal ini terbukti dengan banyaknya lembaga pendidikan yang melakukan gerakan literasi di sekolah. Tapi kenyataannya masih banyak siswa siswi SMP N 2 Kaliwungu yang belum dapat membaca Puisi dengan benar, bahkan belum dapat memahami sebuah puisi dengan baik,, walaupun sarana prasarana sangat memadai. Hal tersebut akan sangat berpengaruh pada hasil belajar siswa, hususnya materi membaca karya sastra. Setelah diadakan proses belajar mengajar dan diadakan evaluasi, ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan.


Hasil belajar yang belum memuaskan itu dikarenakan dalam proses pembelajaran belum menggunakan strategi yang menarik bagi siswa, tapi hanya menggunakan methode ceramah, sehingga cenderung siswa itu pasip dan hanya mendengarkan saja, peneliti berharap dengan menggunakan strategi pembelajaran yang menarik akan dapat memotivasi siswa untuk belajar yang ahirnya dapat meningkatkan hasil belajarnya.

Motivasi siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar juga rendah, hal ini terbukti dengan kondisi siawa, ketika peneliti masuk kelas masih ada beberapa siswa yang belum mempersiapkan perlengkapan belajar, bahkan masih ada siswa yang belum duduk di tempatnya. Selain itu peneliti juga belum  menggunakan strategi pembelajaran Card Sort.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti menganggap Standar Kompetensi Membaca Karya sastra dengan Kompetensi Dasar Membaca Puisi perlu diteliti lewat PTK. Dengan menerapkan strategi Pembelajaran Card Sort,  peneliti berharap dapat mengoptimalkan aktifitas belajar siswa serta melatih siswa untuk bekerja sama yang baik dengan teman-temannya. Peneliti menganggap penelitian ini penting dilakukan dengan harapan dapat menemukan strategi yang jitu bagi guru untuk  melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya membaca puisi yang lebih efektif serta memotivasi siswa untuk mempelajari Bahasa Indonesia dengan sepenuh hati yang pada ahirnya dapat meningkatkan kemampuan membaca Puisi sesuai dengan ilmu yang ada.

                   Untuk menerapkan strategi pembelajaran Card Sort, dilakukan secara kelompok besar yaitu antara 4-5 siswa, kemudian dilakukan dengan dengan berpasangan. Dengan cara ini peneliti berharap dapat memaksimalkan hasil belajar yang diperoleh siswa.   Strategi pembelajaran Card Sort (Sortir Kartu), merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klasifikasi, fakta tentang obyek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dilakukan dalam strategi ini dapat membantu mendinamiskan kelas yang jenuh atau bosan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menerapkan strategi pembelajaran Card Sort adalah sebagai berikut :1) Guru menyiapkan kartu berisi tentang materi pokok sesuai SK/KD mapel ( Catatan : @ perkirakan jumlah kartu sama dengan jumlah murid di kelas. @ isi kartu terdiri dari kartu induk /topik utama dan rincian). 2) Seluruh kartu diacak/dikocok agar tercampur. 3) Bagikan kartu kepada murid dan pastikan masing-masing memperoleh satu (boleh dua). 4) Perintahkan setiap murid bergerak mencari kartu induknya dengan mencocokkan kepada kawan sekelasnya. 5) Setelah kartu induk beserta seluruh rinciannya ketemu, perintahkan masing-masing membentuk kelompok dan menempelkan hasilnya di papan secara urut. 6) Lakukan koreksi bersama setelah semua kelompok menempelkan hasilnya. 7) Mintalah salah satu penanggungjawab hasil sortir kartunya, kemudian mintalah komentar dari kelompok lainnya. 8) Berilah apresiasi setiap hasil kerja murid. 9) Lakukan klarifikasi, penyimpulan dan tindak lanjut.

Strategi pembelajaran Card Sort bertujun untuk mengaktifkan setiap individu sekaligus kelompok ( Cooperative learning) dalam belajar.

                Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: satu) aktivitas belajar Bahasa Indonesia dengan penerapan model pembelajaran Card Sort lebih tinggi daripada aktivitas belajar Bahasa Indonesia dengan penerapan model pembelajaran konvensional, dua) hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan model pembelajaran Card Sort lebih tinggi daripada hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Jadi dapat disimpulkan bahwa, penerapan model pembelajaran Card Sort terbukti efektif terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia.

Thursday, March 5, 2020

Penggunaan metode Reading Guide untuk meningkatkan hasil belajar IPA

             
Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah selayaknya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan, Pendidikan hendaknya memandang dan selalu memikirkan apa yang akan dihadapi siswa di masa yang akan datang.

Pembelajaran yang bersifat kooperatif sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah memahami dan menemukan konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah yang kompleks (Trianto,2007:41)

Keberhasilan suatu pembelajaran sangat dipengaruhi dalam pemilihan metode yang akan digunakan. Metode dalam Ilmu Pengetahuan Alam merupakan cara penerapan prinsisp-prinsip didaktis, pendidikan dan psikologis dalam menyediakan kondisi, yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk memperoleh seperangkat pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai-nilai yang mengakibatkan perubahan tingkah laku maupun pertumbuhan sebagai pribadi (Shalahuddin, 1987:23)                       

Penggunaan metode yang tidak tepat akan berdampak pada kurang efektifnya proses pembelajaran sehingga akan berpengaruh terhadap perilaku dan hasil yang didapatkan siswa pada mata pelajaran tersebut.

Dalam pengamatan yang dilaksanakan sebelum penelitian, partisipasi siswa dalam proses pembelajaran kurang sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang dapat dilihat dari hasil belajar yang didapatkan pada nilai Ulangan Tengah Semester yang rendah.

Membaca adalah suatu kuci pokok seseorang untuk dapat meraih kesuksesan dalam berbagai hal dalam kehidupan kita sehari-hari baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan fakta tersebut, maka penulis sebagai guru IPA berfikir untuk mencoba menerapkan metode Reading Guide dalam rangka meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar sehingga diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.

Sebagai alasan dalam pemilihan metode Reading Guide adalah karena Metode Reading Guide ini bersifat efektif, komprehensif, Melekat, dan Menyenangkan.

Lokasi sekolah yang berada di wilayah pedesaan seperti SMP Negeri 2 Kaliwungu Kendal sangat mendukung untuk melakukan pembelajaran dengan Metode Reading Guide di sekitar sekolah. Penggunaan metode Reading Guide merupakan metode pembelajaran inovatif yang lebih banyak melibatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran IPA yang diharapkan dapat meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA Fisika bagi siswa. 

Hasil belajar merupakan sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa dari proses belajar. Menurut Sudjana (2012: 3) pada hakikatnya hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris.

Reading Guide atau disebut juga bacaan terbimbing adalah suatu metode pembelajaran yang dalam pelaksanaannya menitik beratkan pada unsur membaca dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan yang didalamnya merupakan inti dari apa yang ingin di gali dari pokok bahasan materi tersebut.

Langkah-langkah / sintaks dalam pembelajaran dengan Metode Reading Guide adalah sebagai berikut: 1)Tentukan bacaan yang akan dipelajari. 2) Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab oleh peserta atau kisi-kisi dan boleh juga bagan atau skema yang dapat diisi oleh mereka dari bahan bacaan yang telah dipilih tadi. 3) Bagikan bahan bacaan dengan pertanyaan atau kisi-kisi kepada peserta. 4) Tugas peserta adalah mempelajari bahan bacaan tersebut dengan menggunakan pertanyaan atau kisi-kisi yang ada. Batasi aktivitas ini sehingga tidak memakan waktu yang berlebihan. 5) Bahas  pertanyaan  atau  kisi-kisi  tersebut  dengan menanyakan kepada peserta. 6) Pada akhir pembelajaran, berilah ulasan atau penjelasan secukupnya. 7) Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak lanjut. (lsmail,2008:80).

Dengan menggunakan metode Reading Guide ini diharapkan dapat membuat siswa lebih konsentrasi, perhatian pada satu fokus, dapat dilaksanakan dimana saja, dan siswa terbiasa untuk membaca dan menyimpulkan materi bacaan.

Membaca adalah salah satu aktifitas yang paling pokok dalam mencapai kesuksesan dalam belajar karena dengan membaca akan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam diri kita. Orang bijak mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia.

                Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: satu) aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan metode Reading Guide lebih tinggi daripada aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional, dua) hasil belajar IPA siswa dengan penerapan metode Reading Guide lebih tinggi daripada hasil belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Jadi dapat disimpulkan bahwa, penerapan metode Reading Guide terbukti efektif terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA. ( Artikel diterbitkan tanggal 02 Maret 2020, Radar Semarang Jawa Pos )

Monday, February 17, 2020

              
Keberhasilan pembelajaran amat ditentukan oleh kondisi yang terbangun selama pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang semakin kondusif dan menyenangkan menyebabkan tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajarnya akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya, keberhasi!an peserta didik akan rendah jika kondisi pembelajaran kurang kondusif dan membosankan. Dengan kata lain, terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif akan menjadikan proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien dan peserta didik akan berhasil dengan optimal dalam mewujudkan tujuan/kompetensi yang diharapkan dalam proses pembelajaran.

                Proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif apabila didukung oleh motivasi belajar yang kuat dan siswa. Teori-teori belajar apa pun apabila didukung oleh motivasi belajar yang tinggi dalam proses pembelajaran, maka akan memperoleh hasil yang maksimal. S. Nasution:2004)                       

               Pada tataran realitas, melalui survey awal ditemukan bahwa secara umum siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Kaliwungu masih banyak mengalami kesulitan dan tingkat motivasi yang rendah daam mempelajari IPA pada materi Tekanan pada Zat, indikasi itu terlihat dari beberapa segi antara lain dalam hal kepemilikan buku pelajaran hanya 25% sswa yang memilikinya. Siswa yang mau bertanya pada teman tentang materi IPA baru mencapai 31,25%. Siswa yang mau bertanya kepada guru sebesar 18,75%. Siswa yang selalu mengulang pelajaran IPA di rumah berkisar 3,125%. Siswa yang selalu tepat waktu mengumpulkan tugas IPA 25%. Siswa yang mengganggap materi IPA sangat sulit sebanyak 40,625%. Siswa yang sangat serius mengikuti pelajaran IPA hanya 6,25% dan siswa yang mengaku rugi jika tidak mengikuti materi petajaran IPA hanya sebanyak 75%.

Dengan fakta tersebut, maka penulis sebagai guru IPA berfikir untuk mencoba menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dalam rangka meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar sehingga diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.

             Think-Pair-Share (TPS) atau Berpikir-Berpasangan-Berbagi merupakan jenis cooperative learning yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-5 orang) dan lebih dicirikan oeh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individu. Langkah-Iangkahnya adalah: Thinking (berpikir) mengenai pelajaran, Pairing (berpasangan) untuk berdiskusi dan Sharing (berbagi); membahas hasil diskusi. Model pembelajaran Think-Pair-Share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakn salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana, Teknik ini memberi kesempaan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004:57).

             Model pembelajaran Think-Pair-Share adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain.

             Adapun angkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair-Share adalah:1) guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan membenikan tugas kepada semua kelompok, 2) setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri, 3) siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya, 4) kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat (Lie, 2004: 58).

             Think-Pair-Share memiliki prosedur ynag ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Nurhadi dkk, 2003 : 66). Sebagai contoh, guru baru saja menyajikan suatu topik atau siswa baru saja selesai membaca suatu tugas, selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik/bacaan tersebut.

             Dalam model ini, guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas.

             Tahap utama dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim (2000: 26-27) adalah sebagal berikut: Tahap 1: Thingking (berpikir) Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

             Tahap 2: Pairing, Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap mi, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan. Tahap 3: Sharing (berbagi) Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi tentang apa yang telah mereka bicarakan. dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. Kegiatan “berpikir-berpasaangan-berbagi” dalam Think-Pair-Share memberikan keuntungan, Siswa secara mengembangkan pemikirannya masing-masing karena berpikir (think time), sehingga kuatas jawaban juga dapat meningkat.

                Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: satu) aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran Think-Pair-Share lebih tinggi daripada aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional, dua) hasil belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran Think-Pair-Share lebih tinggi daripada hasil belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Jadi dapat disimpulkan bahwa, penerapan model pembelajaran Think-Pair-Share terbukti efektif terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA.

terbit tanggal 13 Feb 2020, Radar Semarang Jawa Pos

Sunday, January 5, 2020

Penggunaan Animasi model untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi Tata surya

                
                                                    Pembelajaran IPA harus diajarkan baik sebagai
produk maupun sebagai proses. Produk IPA terdiri atas fakta, konsep, prinsip, prosedur,  teori, hukum dan postulat. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang mengajarkan IPA hanya sebatas IPA sebagai produk. Siswa jarang diajak untuk melakukan pembelajaran sebagai proses sehingga siswa kerap kali mempelajari IPA sebatas teori dan hukum-hukum, serta postulat-postulat dalam IPA.

Pembelajaran yang bersifat teacher centered, di mana guru hanya  meyampaikan IPA sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual akan berdampak pada kurang berkembangnya sikap ilmiah siswa. Hal ini dikarenakan peserta didik hanya mempelajari IPA pada domain kognitif yang terendah, peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya, cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif dan psikomotor.

Kenyataan bahwa hasil belajar siswa masih rendah tersebut mendorong diperlukannya suatu perbaikan pembelajaran guna meningkatkan sikap ilmiah pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang dipandang dapat mendorong berkembangnya sikap ilmiah adalah animasi model. Melalui pembelajaran animasi model, siswa dapat berperan sebagai modelnya menggantikan peredaran bumi dan matahari sebagai pusat tata surya.

Animasi model dilakukan oleh beberapa siswa. Dalam satu kelompok 8 orang siswa bergandengan tangan membentuk Lingkaran dengan posisi saling membelakangi. Salah satu siswa berdiri di luar lingkaran dan meyalakan senter, seolah- olah menjadi Matahari. Arahkan nyala senter pada siswa yang membentuk lingkaran, siswa yang terkena cahaya senter mengalami siang dan yang tidak terkena cahaya mengalami malam. Siswa yang mengalami pagi hari mengatakan selamat pagi, yang mengalami siang mengatakan selamat siang, sore mengatakan selamat sore, dan malam mengatakan selamat malam. Siswa yang membentuk lingkaran untuk selalu berputar dari arah barat ke timur berlawanan dengan arah perputaran jarum jam

Seandainya siswa yang membentuk lingkaran dianalogikan sebagai Bumi, maka akan terjawab kala rotasi bumi, gerak semu harian matahari yang terlihat bergerak dari timur ke barat, kejadian yang sebenarnya adalah bergeraknya bumi mengelilingi matahari atau berotasi dari barat ke timur.     Hasil belajar merupakan sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa dari proses belajar. Menurut Sudjana (2012: 3) pada hakikatnya hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris.

                Dengan animasi model memungkinkan siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Siswa diberikan kesempatan untuk tampil menjadi model sehingga dapat berperan sebagai obyek sekaligus sebagai subyek pembelajaran. Siswa dapat mengamati, mengalami dan mempelajari sendiri secara langsung tentang materi tata surya khususnya pada materi Rotasi bumi dan juga akaibat dari rotasi bumi. Dengan kata lain siswa diajak untuk melakukan percobaan, untuk menguji kebenaran prediksi yang mereka sampaikan.

                Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: satu) aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan animasi model  lebih tinggi daripada aktivitas belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional, dua) hasil belajar IPA siswa dengan penerapan animasi model lebih tinggi daripada hasil belajar IPA siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Jadi dapat disimpulkan bahwa, penerapan animasi model terbukti efektif terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA. 

*)Sukasmo, terbit tanggal 25 Des 2019, Radar Semarang Jawa Pos