This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts

Tuesday, April 17, 2012

11 Indikator Pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)

KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk dapat mengungkapkan segala potensi dirinya untuk dapat meraih sekian kompetensi sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan sebaliknya hanya disuapi oleh guru dengan segala macam pengetahuan. Pembelajaran yang bermakna juga demikian, mengedepankan pengembangan potensi peserta didik, sehingga pembelajaran bukan bersumber atau terfokus pada guru, melainkan berfokus dan terpusat pada peserta didik. Proses pembelajaran yang demikian idealnya dilakukan dengan cara yang santun dan menyenangkan. Bukan dengan doktrinisasi dan intimidasi/tekanan. Sehingga dapat dikatakan pembelajaran tersebut adalahpembelajaran ramah anak atau dengan prinsip asah, asih, asuh. Ada sebelas indikator/tolok ukur bahwa pembelajaran dapat dikategorikan sudah PAKEM, yaitu :

1. Metode Pembelajaran :
  • Kegiatan belajar siswa menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi (wawancara, pengamatan, bermain peran, penelitian, berlangsung di luar dan di dalam kelas) sesuai dengan mata pelajaran. Idealnya lebih dari 3 jenis.
  • Kegiatan belajar siswa menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan spesifikasi bahan ajar.
  • Penggunaan metode dalam kegiatan belajar siswa sesuai dengan RPP.
2. Pengelolaan Kelas :
  • Kegiatan belajar siswa variatif (individual, berpasangan , kelompok, klasikal). Idealnya lebih dari 3 jenis.
  • Kelompok belajar siswa beragam (gender, sosial-ekonomi, intelegensi). Idealnya lebih dari 3 variabel.
  • Keanggotaan kelompok belajar berubah-ubah sesuai kebutuhan belajar (sesuai KD, materi, metode, dan alat bantu belajar).
  • Kegiatan pembelajaran menggunakan tata tempat duduk (meja/kursi) yang memudahkan siswa berinteraksi dengan guru maupun dengan siswa lainnya. Idealnya lebih dari 3 variasi tata tempat duduk.
  • Tata tertib kelas dibuat (dan disepakati) bersama antara siswa dan guru. Idealnya murni inisiatif siswa (khusus kelas tinggi).
3. Ketrampilan Bertanya :
  • Pertanyaan yang diajukan guru dapat memancing/mendukung siswa dalam membangun konsep/gagasannya secara mandiri.
  • Guru mengajukan pertanyaan selalu memberikan jeda (waktu tunggu) yang memberikan keleluasaan seluruh siswa untuk berfikir, lalu menunjuk siswa yang harus menjawab tanpa pilih kasih secara acak.
  • Guru juga mendorong siswa untuk bertanya, berpendapat dan/atau mempertanyakan gagasan guru/siswa lain.
  • Siswa menjawab pertanyaan guru dengan lebih dulu mengacungkan tangan tanpa suasana gaduh.
  • Siswa berani bertanya, berpendapat dan/atau mempertanyakan pendapat baik secara lisan/tulisan.
4. Pelayanan Individual :
  • Terdapat program kegiatan belajar mandiri siswa yang terencana dan dilaksanakan dengan baik.
  • Siswa dapat menyelesaikan tugas /permasalahannya dengan membaca, bertanya atau melakukan pengamatan dan percobaan.
  • Guru melakukan identifikasi, merancang, melaksanakan, mengevaluasi dan menindaklanjuti Program Pembelajaran Individual (PPI) sebagai respon adanya kebutuhan khusus (hiperaktif, autis, lamban, dsb).
  • Kegiatan pembelajaran melayani perbedaan individual ( tipe belajar, siswa: audio, visual, motorik, audio-visual, audio-visual-motorik) menggunakan multimedia.
  • Siswa melakukan kegiatan membaca dan menulis atas keinginan sendiri dan didokumentasikan.
5. Sumber Belajar dan Alat Bantu Pembelajaran
  • Guru menggunakan berbagai sumber belajar (sudut baca, perpustakaan, lingkungan sekitar) yang sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan.
  • Guru membuat alat bantu pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan sendiri dan /atau bersama siswa/orangtua siswa.
  • Guru trampil/menguasai alat bantu pembelajaranyang tersedia dan sesuai dengan materi yang diajarkan.
  • Lembar kerja mendorong siswa dalam menemukan konsep/gagasan/rumus/cara (tidak hanya mengerjakan perintah) dan dapat menerapkannya dalam konteks kehidupan nyata sehari-hari.
6. Umpan Balik dan Evaluasi
  • Guru memberikan umpan balik yang menantang (mendorong siswa untuk berpikir lebih lanjut) sesuai dengan kebutuhan siswa.
  • Guru memberikan umpan balik (lisan/tulisan) secara individual.
  • Guru menggunakan berbagai  jenis penilaian (tes dan non tes) dan memanfaatkannya untuk kegiatan tindak lanjut.
  • Setiap proses dan hasil pembelajaran disertai dengan reward /penghargaan dan pengakuan secara verbal  dan/atau non verbal.
7. Komunikasi dan Interaksi
  • Bantuan guru kepada siswa dalam pembelajaran bersifat mendorong untuk berfikir (misalnya dengan mengajukan pertanyaan kembali).
  • Setiap pembelajaran terbebas dari ancaman dan intimidasi (yang ditandai : tidak ada rasa takut, labelling, bulliying, anak menikmati, guru ramah).
  • Setiap proses pembelajaran bebas dari perlakuan kekerasan (emosional, fisik, pelecehan seksual).
  • Perilaku warga kelas (siswa dan guru) sesuai dengan tata tertib yang dibuat bersama dan etika yang berlaku.
  • Siswa mendengarkan dengan baik ketika guru atau siswa lain berbicara.
  • Komunikasi terjalin dengan baik antara guru-siswa dan siswa-siswa.
8. Keterlibatan Siswa
  • Siswa aktif dan asyik berbuat /bekerja dalam setiap kegiatan pembelajaran.
  • Guru selalu meberikan kesempatan kepada siswa untuk tampil di depan kelas untuk menyajikan/mengemukakan /melakukan sesuatu.
  • Dalam setiap kerja kelompok ada kejelasan peran masing-masing siswa dan terlaksana secara bergilir.
9. Refleksi
  • Setiap usai pembelajaran guru meminta siswa menuliskan/mengungkapkan kesan  dan keterpahaman siswa tentang apa yang telah dipelajari.
  • Guru melaksanakan refleksi/perenungan tentang kekuatan dan kelemahan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
10. Hasil Karya Siswa
  • Berbagai hasil karya siswa dipajangkan, ditata rapid an diganti secara teratur sesuai perkembangan penyampaian materi pembelajaran.
  • Hasil karya siswa adalah murni karya /buatan siswa sendiri.
11. Hasil Belajar
  • Hasil belajar siswa memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM).
  • Siswa mengalami peningkatan kompetensi personal/sosial sesuai dengan potensinya (kerjasama, toleransi, menyelesaikan konflik secara sehat, bertanggung jawab dan kepemimpinan).
  • Siswa mengelami peningkatan rasa percaya diri (kemampuan bertanya, menjawab dan tampil di depan kelas).
Kelas dan pembelajaran yang PAKEM ternyata tidak hanya terlihat dari segi fisik saja, misalnya banyaknya pajangan di kelas sehingga nampak ramai dan meriah, namun yang lebih penting dan utama adalah proses pembelajaran dan cara mengajar yang sudah tidak konvensional lagi.
Marilah, dengan pembelajaran yang PAKEM kita sambut UN 2010 dengan penuh optimisme dan rasa percaya diri. Saya percaya bahwa seluruh guru di Indonesias sudah lama melaksanakan pembelajaran secara PAKEM. Postingan ini hanyalah sebagai on service saja. Mudah-mudahan walau sekecil apa pun dapat membawa manfaat bagi kita semua.
Majulah Pendidikan Indonesia!

Sunday, March 4, 2012

CASE STUDY DALAM PEMBELAJARAN

Oleh Mary dan Teuku Alamsyah
Dipublkskn oleh Abdul Zakaria

1. Hakikat Case study
Case study atau studi kasus adalah rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas. Pengalaman tersebut memberikan contoh nyata tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembelajaran. Gunanya adalah melalui pengkajian case study dalam pembelajaran dengan segala komponennya, para guru dapat melakukan evaluasi diri (self evalution), dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas. Bagi para calon guru, kajian terhadap case study akan dapat membuka wawasan mereka terhadap pembelajaran dan menanamkan konsep bagaimana seharusnya pembelajaran itu berlangsung.
Di sisi lain, case study tentang pembelajaran dapat digunakan untuk membantu, baik guru maupun mahasiswa calon guru dalam memahami hakikat pembelajaran. Studi kasus seperti ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan pembelajaran secara nyata. Case study ditulis dalam bentuk narasi dan berisi pengalaman pembelajaran yang paling berkesan yang Anda ingat karena kesuksesannya, kesulitan, atau pengalaman yang penuh problematika. Case study ditulis dengan memperhatikan hal-hal berikut ini.
1) Case study ditulis dalam bentuk cerita naratif yang sangat rinci dan sangat erat kaitannya dengan pengalaman yang Anda alami.
2) Case study tersebut sedapat-dapatnya harus ringkas. Maksismum dua halaman ketikan. Namun, jika pengalaman yang akan diungkap dalam case study tergolong cukup esensial sebagai pengalaman bagi orang lain, case study dapat juga ditulis melebihi dua halaman ketikan.
3) Case study harus memuat unsur kemanusiaan: kemauan yang Anda miliki, tindakan dan kesalahan Anda yang mengecewakan dan rasa kesenangan atau kekecewaan pada saat selesainya pembahasan.
4) Case study harus memiliki judul yang dapat mewakili keseluruhan isi pengalaman pembelajaran yang dituliskan.
5) Pengalaman yang dituangkan dalam case study adalah ungkapan kejujuran. Artinya, cerita dalam case study adalah cerita kejujuran.

2. Manfaat Case Study
Manfaat yang dapat dipetik dari case study bagi guru dan bagi mahasiswa calon guru dapat dikemukakan sebagai berikut.
1) Sebagai evaluasi diri (self evalution) bagi guru untuk dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas.
2) Sebagai pembuka wawasan mahasiswa calon guru terhadap pembelajaran dan penanaman konsep bagaimana seharusnya pembelajaran itu berlangsung.
3) Guru dan mahasiswa calon guru dapat belajar dari kegagalan orang lain (guru penulis case study).
4) Menemukan kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran berdasarkan pengalaman penulis case study.
5) Mahasiswa calon guru dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang dunia anak—khususnya di sekolah, termasuk di dalamnya memahami psikologi anak.
6) Guru dan mahasiswa calon guru dapat menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang tepat sehingga tidak mengulangi kekeliruan yang dialami oleh penulis case study.
7) Keberhasilan yang dialami oleh penulis case study dapat menjadi acuan bagi orang lain (guru dan calon guru).
8) Bagi guru pamong, case study bermanfaat dalam pembimbingan mahasiswa PPL melaksanakan pembelajaran agar menjadi lebih baik.
9) Dengan mengkaji case study, guru ataupun calon guru menjadi lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih berani mengungkapkan kegagalan yang dialaminya dalam pembelajaran.
10) Guru dan calon guru dapat belajar menulis pengalaman pembelajarannya dalam bentuk narasi pembelajaran.

3. Metode untuk Mengembangkan Case Study
1) Seorang guru menceritakan/menulis pengalaman yang sukses atau suatu permasalahan yang menarik yang muncul saat pembelajaran dengan pokok bahasan atau topik tertentu. Pengalaman yang diceritakan/dituliskan itu menggambarkan pemikiran guru tersebut tentang mengapa permasalahan atau pengalaman tersebut menarik.
2) Harus ditulis sesegera mungkin supaya tidak mudah terlupakan
3) Sebagai masukan dalam penulisan, penulis narasi dapat mempedomani komentar-komentar guru lain (guru mitra) yang ikut mengamati proses pembelajaran
4) Persiapan guru
5) RPP
6) Pelaksanaan pembelajaran
• Kegiatan awal, inti, dan akhir
• Metode dan strategi pembelajaran
• Materi pembelajaran
• Evaluasi
• Ketercapaian tujuan pembelajaran
7) Perilaku siswa
8) Perasaan guru (keberhasilan, kegagalan, dan persepsinya terhadap siswa)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebuah case study dalam bentuk narasi pembelajaran, prosesnya adalah sebagai berikut.
(1) Ada tim kolaborasi (beberapa orang guru)
(2) Ada persiapan-persiapan prapembelajaran
(3) Praktik pembelajaran di kelas (ada yang berpraktik mengajar dan ada yang mengamati)
(4) Pengamat menuliskan komentarnya
(5) Komentar yang ditulis oleh pengamat tidak berupa “potret pembelajaran”, tetapi mengarah pada proses pembelajaran dengan segala komponennya
(6) Komentar pengamat ditulis pada saat proses pembelajaran berlangsung
(7) Pada akhir pembelajaran, komentar pengamat diserahkan kepada guru yang berpraktik mengajar
(8) Guru yang berpraktik mengajar menuliskan pengalaman pembelajarannya dalam bentuk narasi pembelajaran
(9) Narasi yang sudah ditulis, diberi judul yang sesuai
(10) Setelah menulis narasi, guru juga menulis refleksi dengan cara membaca kembali narasi yang ditulisnya, kemudian baru menuliskan refleksi.
(11) Narasi yang sudah ditulis dibaca oleh pengamat dan pengamat menuliskan komentarnya berdasarkan narasi dan hasil pengamatan pembelajaran
(12) Case study dilengkapi dengan RPP dan hasil kerja siswa
(13) Narasi memuat semua hal yang dialami dan dirasakan guru dalam pembelajaran, termasuk di dalamnya perilaku siswa

Penulisan Refleksi
1) Penulis disarankan membaca ulang narasi yang sudah ditulisnya itu beberapa kali, kemudian menuliskan refleksi terhadap narasi itu.
2) Guru-guru lainnya diminta memberikan tanggapan/komentar dengan menuliskan ide-ide mereka sehubungan dengan kasus yang mereka baca tersebut. 

Friday, January 6, 2012

Facebook and Education : the Pros and Cons

Facebook, the popular social networking website, was the topic of discussion at the first Teaching and Learning with Technology Speaker Series session of 2009. Originally launched in 2004, by a Harvard student, Facebook began as a social networking website created exclusively for post-secondary students. Currently, Facebook has over 150 million active users worldwide, and has expanded to allow anyone with a valid email address to sign up. As it has gained in popularity, Facebook has become one of the main communication tools used by university students to stay in touch with friends, organize events, and connect with classmates.


Pro: Students and Educators use Innovative Strategies on Facebook

Social software tools such as weblogs and wikis are already being used for educational purposes at UBC, but can Facebook be used in an academic setting? Philip Jeffrey, an Interdisciplinary Studies graduate student, brought forth a few examples of how Facebook has been used by students and educators to quickly inform and communicate with others in the larger community. Philip found out about the potential closure of the UBC Aquatic Centre weight room through a friend on Facebook. Partly due to awareness-raising on Facebook, a grassroots movement formed that eventually over-turned the administration’s decision to close the gym. Recently, a York University anti-strike group has formed and, with over 4,500 members, the Facebook page has become a place where people go to get the latest information about the strike. Some universities are even using Facebook to recruit students.

Cyprien Lomas, Director of the Learning Centre in Land and Food Systems, added another example of how the Faculty’s student advising office is using Facebook to connect with and inform students. According to Cyprien, “the interesting difference with using Facebook is that often students will take pieces of information and then repeat it back to their own constituent groups…students [are] mentoring and advising other students on affairs that matter to them and also matter to us.”

Cyprien also discovered that some students are using the site to facilitate online discussion groups. Even though students have access to WebCT Vista, and can use its discussion forum to interact with other students, some are choosing to use Facebook because it is their preferred place to communicate online. Students themselves say “well, why don’t we put it in a place where we know it’s going to work…and move it into Facebook?” Cyprien notes that “whether or not we like it…we may see more and more examples of this,” which is of concern because many Facebook users are not aware of the privacy issues related to the popular social networking tool.


Con: Privacy Concerns - Is Facebook Right for the Classroom?

Questions were raised from the audience about whether Facebook can be used in the classroom for academic purposes. The third member of the panel, Humanities and Social Sciences Librarian Sheryl Adam, raised concerns over the disclosure of personal information on the site. “Can we require that students be involved in something that requires them to put personal information on a server in the United States? I don’t think so,” asserts Sheryl. A larger discussion broke out amongst the audience, and the room came to a general understanding that if you expect students to interact with you or your Facebook group for a course, then you are requiring them to be involved in something that they may or may not know a whole lot about. For instance, users might not know that when using an application in Facebook, they are allowing the application to collect data from their Facebook profile. Philip notes that there is a “higher level of trust” amongst friends on Facebook, which may lead many to overlook the fact that if they are not careful with their privacy settings and use of applications, they might be disclosing personal information to complete strangers.

You also cannot require a student to use Facebook, as not all of them will want to share their personal information with their classmates and instructor. If there is any UBC-sanctioned involvement using a tool that stores data in the United States, there has to be an option for the students to preserve their anonymity. The fact that this is not possible with Facebook (which has its servers located in the United States) raises a bigger issue: users should be concerned with how secure the service is, where the data sits, who owns the content, and how it is being used. Cyprien notes that this is not just a Facebook issue, but a general IT issue. “If you ask me how secure Facebook is, I would say not secure enough if you are worried about it,” remarks Cyprien.

Even though many students are using Facebook to communicate with their peers, it does not necessarily mean that they will want to use Facebook in an educational setting. Sheryl originally joined Facebook to communicate with her students in a space that is comfortable for them. However, she has discovered that students have not communicated with her on Facebook, but are instead using other forms of communications such as email, telephone, and MSN Messenger. For Sheryl, Facebook “seems like the wrong place for a professional-student relationship. It seems to be more [for] peer-to-peer relationships.”

Another drawback of using Facebook in the classroom is that students will have to go to another location (other than WebCT Vista) to access their course information. Sheryl points out that this fragmentation of course information is “a big disservice no matter how convenient the communication piece.” She points to the advantages of WebCT Vista, which centralizes information and allows students to access course materials “all in one house.”

So What Now?

Some attendees said that they would like to see more centralized resources and guidance to inform students, faculty, and staff about social networking tools (like Facebook) in order to build awareness of privacy concerns and the pros and cons of their use. Attendees also thought that members of the UBC community need to be educated about these tools. Infoation resources, such as the Digital Tattoo Project (which Sheryl is a part of), have been created to educate students, faculty, and staff about online usage, but still more needs to be done.

Cyprien suggested that we could start leveraging connections at other schools to come to a solution for a broader community. If UBC is struggling with this issue, other educational institutions must be too. It was here that Sheryl offered up the example of RefWorks, which used to be hosted on an American server. To address privacy concerns, a consortium of Canadian libraries banded together to move RefWorks data onto a Canadian server. Such a consortium could be beneficial when addressing the use of social networking tools in an educational setting, eventually helping UBC solidify a strategy for addressing issues that arise with the increased popularity of these tools.

Wednesday, July 13, 2011

Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam dunia Pendidikan dan Pembelajaran

Penyempurnaan kurikulum dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, bahan kajian yang harus dikuasai oleh siswa disesuaikan dengan tuntutantuntutan
tersebut. Selain itu, bukan hanya bahan kajian saja yang harus dikuasi oleh siswa tetapi
juga kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian
yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa
memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah
yang dihadapinya. Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu
dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information
and Communication Technology (ICT) yang berfungsi baik sebagai alat maupun bahan
pembelajaran.
Mata pelajaran baru yang akan atau mungkin diterapkan di sekolah dari segala jenis dan
tingkat pendidikan ini belum ada kata sepakat, selain materinya baru juga oleh kesiapam SDM
(guru) dan sasana pendidikan di sekolah. Namun demikian, kita akan melihatnya dari sisi lain,
bukan dari sisi adan tidaknnya mata pelajaran tersebut tetapi, kemampuan sekolah dan guru
mengadopsi teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran di kelas .
Alasan lain yang memperkuat adalah, mana mungkin memperkenalkan sebuah teknologi
dengan ceramah, dan mana mungkin labor lama dapat mengadaptasi penemuan-penemuan baru
dalam ilmu pengetahuan, apalagi sekeliling anak ada handphone, ada rental komputer, ada rental
internet dan ada macam-macam lagi.
Pembahasan secara komfrehensif mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan
difokuskan pada pengembangan dan penerapan konsep belajar terbuka, termasuk belajar jarak
jauh, dan belajar berbasis aneka sumber (resource based learning). Pembahasan meliputi
perkembangan dari aspek kerekayasaan, aspek kemasyarakatan, serta aspek ekonimis, aspek
psikologis dam aspek pendidikan sendiri. Kegiatan belajar di sekolah adalah pemberian
pengalaman langsung (hands on experience) dalam memanfaatkan teknologi canggih dalam
proses pembelajaran.
Konsep belajar terbuka di sekolah atau berbasis aneka sumber (resource based learning)
akan mengubah fungsi guru dikelas – yang tidak hanya satu-satunya sumber belajar dan dapat
mengembangkan metode mengajar di kelas. Konsep belajar terbuka artinya guru tidak hanya
mempunyai suatu sumber belajar (buku) dan satu metode (ceramah) tetapi dapat melakukan
variasi dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif.
Sumber belajar terbuka bisa bersumber dari (1) internet, (2) Radio, (3) Televisi, (4) Tape
Recorder, (5) CD Player, (6) komputer, (6) laboratorium alam (masyarakat) dan sejenisnya.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat masing-masing bagian.
1. Internet
Apa itu internet (international nelwork). Internet adalah kumpulan komputer antarsatu
wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan
komunikasi ini diatur oleh protokol. (Gatot Subroto, 1999) Dengan kata lain, internet adalah
media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya
disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang
komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan,
maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara
bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh
perangkat digital non komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi
komputer yang global. Dengan internet, maka di manapun kita berada dapat berhubungan satu
sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah
yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi informasi sekarang ini, ada semacam
persiapan yang bisa ditempuh orang tua dalam membantu anak-anak mereka untuk tetap berjalan
seiring dalam era informasi ini. Beberapa langkah persiapan yang bisa ditempuh orang tua
adalah, pertama orang tua harus memastikan diri bahwa mereka mempunyai pengetahuan dan
kemampuan praktis tentang komputer pribadi. Alasannya sangat sederhana, bagaimana orang tua
bisa mengajarkan anak-anak mereka naik sepeda sedangkan mereka sendiri tidak bisa naik
sepeda. Namun demikian, orang tua tidak perlu menjadi seorang ahli dalam menggunakan
komputer supaya menjadi contoh positif bagi anak-anak mereka menggunakan teknologi ini.
Dapat dipertimbangkan untuk mengikuti pelajaran komputer di tempat anak bersekolah, atau
mempelajari melalui buku tentang komputer bagi pemula khususnya.
Kedua, mulai membiasakan anak-anak untuk menggunakan komputer. Ini seperti
layaknya mengendarai sepeda, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,
mengendarai sepeda menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Langsung menggunakan komputer
juga dapat memberikan semacam pengalaman bagi anak-anak untuk merasakan nyaman dan
senang, sehingga dapat berkreasi dalam mengoperasikan teknologi canggih tersebut. Salah satu
kunci utama untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam rumah dari media
adalah secara langsung mengamati anak-anak. Artinya orang tua harus berada dekat dengan
anak-anak pada saat mereka menjelajah jaringan Internet. Kalau memang khawatir, sebetulnya
komputer pribadi dapat dipindahkan ke ruang keluarga berkumpul atau tempat-tempat yang
terbuka dan mudah diawasi.
Bila di rumah anda belum terpasang jaringan internet, anda tidak perlu berkecil hati.
Sekarang sudah banyak wartel, warung telekomunikasi yang tidak hanya menyediakan jasa
fasilitas telepon saja, tapi juga internet. Kita bisa menggunakan (baca: sewa) selama kita mau
dan mampu. Hanya tinggal membayar sewanya, dan harga sewanya cukup terjangkau dengan
tarif rata-rata adalah Rp.10.000,- per jam.
Lebih jauh, sekarang pelayanan jasa internet sudah dikemas dengan lebih apik, nyaman,
dan menyenangkan. Di Jakarta, Gatot Subroto (1999) pernah menjumpainya di daerah Blok M
Plaza (lantai IV dan V) yaitu Smashnet dan X-Trac, adalah dua tempat gaul internet yang bisa
dikunjungi oleh semua orang (kebanyakan pada umumnya remaja). Di Citraland dan Roxy Mas,
juga ada fasilitas seperti ini, kalau hari Sabtu tempat ini penuh akan antrean remaja yang hobi
akan teknologi dan menjelajah atau melanglang buana di dunia maya. Satu lagi di Mall Taman
Anggrek, sebuah tempat bernama NetCafe yang mengkemas dan meramu pojok internetnya
lebih bersuasana café. Sedangkan internet untuk keperluan anak-anak, pada dasarnya tidak jauh
berbeda dengan servis internet yang digunakan untuk internet biasa secara umum, yang
menonjol di sini mengenai informasi dan isi pengetahuan yang ditampilkannya, khususnya yang
mendukung perkembangan anak. Namun, salah satu tantangan yang cukup besar di dunia
internet adalah masalah penggunaan bahasa Inggris, sehingga dibuatkan perbendaharaan kata
dan pemahaman bahasa Inggris yang memadai bagi mereka untuk menjelajahi jaringan Internet.
Hal ini sekaligus merupakan suatu sarana untuk melatih dan mempraktikan kemampuan
berbahasa Inggris.
Beberapa contoh aplikasi internet untuk pendidikan yang mungkin akan menarik untuk
anak kita akan diberikan di bawah ini. Misalkan situs www.safekids.com – yang didirikan tahun
1994. Lawrence Magid menulis "Child Safety on the Information Highway" dan melanjutkan
penelitiannya pada masalah ini serta menciptakan Safekids.com. Sebuah situs yang membantu
orang tua guru, anak-anak dan remaja dalam mempelajari cara-cara yang aman dalam
menjelajahi dunia Internet. Letsfindout.com merupakan tempat yang sangat baik untuk
menambah pengetahuan atau untuk anak-anak atau siapapun yang ingin tahu tentang berbagai
hal.
2. Televisi
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan
dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi.
Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anakanak.
Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan
program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang
sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya
dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab
mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis
bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor
keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada
anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar,
majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi
merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis,
bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi
korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak
lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan
penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel
Indonesia, tampak hidup di layar televisi.
Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk
menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah
dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan.
Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui
stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu
bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung
dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi
sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para
penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang
televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari.
Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam
aspek kognetif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara
lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan
instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang
jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas.
Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta
didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar,
teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai
dengan tujuan yang dikehendaki.
Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan
sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991),
gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini
Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah
kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan
kesan pada diri pemirsa.
Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk
menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah
mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa
menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya
yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses
penyuntingan.
Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi
mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa mengakrabkan objek yang
jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga
Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan
komunikasi interpersonal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih,
simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan
keempat adalah perilaku para penyair televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita,
memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya.. Mereka mempunyai posisi
stategis dalam menyampaikan pesan pada khalayak.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan
kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai
positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat
merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai
masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan
ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.
3. Radio
Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di berbagai daerah di seluruh
Indonesia, belum termasuk stasiun radio yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998.
Wilayah jangkauannya secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan
Nusantara -meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan dapat mencakup setiap
desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus
yang diperlukan khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau keterampilan
membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja sudah lebih dari 69% penduduk yang
berusia 10 tahun ke atas mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu, angka ini diperkirakan telah
meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio oleh masyarakat sudah begitu
merata dan banyak, sehingga statistik mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat:
Direktorat Jenderal RTF (1998), BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan kelurahan adalah
data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua arah perkembangan. Di
dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang sebagai industri non pemerintah penunjang
kehidupan ekonomi dan politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan
sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara; perhatikan misalnya Voice of
America, Radio Free Europe, dsb. Di Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam
negeri sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah walaupun dengan sifat
yang independen, umpamanya BBC. (Untuk informasi mengenai perkembangan radio sebagai
institusi, lihat: Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
Dengan teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas mulai pula
berkembang sebagai radio global melalui jaringan internet. Setidaknya ratusan stasiun radio
lokal dari segenap penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara online.
4. Tape Recorder, CD Player dan Televisi
Ketika jenis benda elektrokik ini sudah dikenal umum, Tape recorder adalah untuk
merekam dan memutar kaset, sedangkan CD Player adalah untuk memutar CD Rom, di mana
televisi selain sebagai wadah tontonan adalah sebagai media pelengkap CD|rom.
5. Komputer
Komputer yang digunakan sebagai basis dalam kegiatan pembelajaran pada dasamya
menerapkan konsep efektivitas dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan. Pada fase I,
komputer memainkan peran sebagai alat bantu yang dikenal dengan sebutan Computer-asisted
instruction (CAI), Computer based instruction (CBI), Computer-enriched instruction (CEI), dan
Computer-managed instruction (CMI). Namun memasuki fase II komputer telah memainkan
peran dalam bentuk CMC (Computer mediated communication). Pemunculan CMC menggeser
peran komputer dalam kegiatan pembelajaran dari alat bantu menjadi sumber belajar. Namun
tidak mengurangi arti sebagai alat bantu guru dalam mengajar materi yang sulit (bahaya) dan
berulang dan yang kurang dikuasainya. Misalnya tentang gerak, pertumbuhan, ledakan,
pembedahan, pewarnaan, desain, audio dan video dan sebagainya. Karena itu komputer bisa
merangsang inovasi, kreatifitas, dan produkifitas guru dan siswa.
Berbagai software telah diciptakan untuk mendesain pembelajaran dengan komputer, di
mana dikenal istilah program interaktif, yaitu suatu desain pembelajaran, di mana pemakainya
seperti sedang melakukan interaksi dengan seseorang, layaknya sebuah game, sehingga tidak
membosankan, selain itu dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dan hidup dan
merangsang belajar.
Pada fase II memungkinkan komputer membantu lebih luas, karena CMC telah ditopang
dengan berbagai media (multimedia) untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan dalam
upaya meningkatkan kegiatan pembelajaran secara efektif. Melalui media ini unsur-unsur dasar
kegiatan pembelajaran memungkinkan untuk tercapai secara optimal. Unsur-unsur itu antara lain
terjadinya interaksi antar individu - baik guru-siswa, antarsiswa, siswa dengan orang lain
(pakar), dan/atau masyarakat sosial lainnya.
Pergeseran pemakaian sistem komputer ini bukan tanpa dasar, pergeseran ini merupakan
perwujudan pergeseran konsep belajar dari prinsip-prinsip yang cenderung behavioristik ke
prinsip-prinsip belajar kognitivistik, dari pola preskriptif ke deskriptif, dari yang menekankan
pada proses pengulangan (drill) ke pola-pola pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Di sisi lain, perubahan prinsip belajar berbasis komputer ini juga memberikan dampak pada
profesionalitas guru. Dalam hal ini, guru sudah harus menambah pengetahuan dan keterampilan
dalam profesi yang baru dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan mencapai tujuan
belajar.
Dengan pergeseran sistem pembelajaran yang berbasis komputer, dari alat bantu menjadi
sumber belajar ini, khasanah pengetahuan terbuka luas. Belajar tidak lagi terkukung dalam ruang
kelas semata, melainkan telah mampu menjelajah ke dunia lain baik dalam intranet maupun
secara global internet. Guru dan siswa hampir tanpa batas waktu dan ruang untuk berinteraksi,
begitu juga antara siswa dengan para pakar. Semua terpampang di depan mata. Dalam hal ini,
kemampuan mengorganisir, menganalisis dan menyeleksi informasi-informasi yang paling tepat
sangat penting artinya. Dengan kata lain ruang ini telah kebanjiran data atau informasi untuk
senantiasa dicermati oleh berbagai pihak, temasuk siswa-siswa dan para pendidik. Dari luapan
informasi itu mungkin saja sebagian besar informasi itu tidak perlu, dan tidak dibutuhkan oleh
siswa atau pendidik. Begitu juga dalam upaya mengambil kebijakan, tidak semua informasi
memberikan dukungan terhadap kebijakan.
B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Teknologi Pembelajaran
Uraian berikut bukan bermakud suatu keharusan sebuah sekolah memiliki atau membeli
semua perankat yang disebutkan karena selain harga yang mahal, juga teknis pemakaian,
perawatannya yang sulit, juga sulit mencarinya, tetapi uraian ini bermaksud memberikan
gambaran ideal bila sekolah mampu memilikinya sendiri, jika tidak sekolah bisa memanfaatkan
dengan sistem kerja sama atau bagi hasil dengan pihak luar.
Hardware (perangkat keras) yang harus dipunyai oleh sekolah adalah: (a) Radio, (b)
televisi, (c) Tape recorder (d) CD Player, (e) Camera tustel, (f) Kamera video, (g) CCTV, (h)
Handy Talky, (i) Proyektor, dan sejenisnya, sementara software yang harus dimiliki adalah (1)
Identifikasi Program, (2) Kaset pembelajaran (3) Video Pembelajaran, (4) Internet.
Bagaimanakah teknis atau strategi pembelajaran mengunakan alat dan sumber ini, hal ini
akan dibicara pada kesempatan lain.
C. Starategi Penerapan
Setiap sekolah, setiap daerah desa, kecamatan dan kabupaten di mana saja berbeda.
Makin sederhana suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten, makan semakin sederhana
perubahan/ pembaharuan yang dapat dilakukan tetapi semakin maju suatu sekolah, desa,
kecamatan dan kabupaten maka semakin kompleks pula perubahan yang dapat dilakukan, atinya,
perubahan/ penbaharuan membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar dan banyak.
Berdasarkan pemikiran ini, maka pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tergantung
dengan karakteristik sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten yang bersangkutan, artinya makin
sederhana sekolahnya makin sederhana teknologi yang diterapkan dan semakin maju sekolah itu
maka semakin kopmpleks teknologi yang dapat diterapkan.
Namun, betapun kesimpulan ini sederhana, kita tidak boleh mengatakan nanti, kalau bisa
dilakukan hari mengapa harus esok, karena hari esok kita sudah dibelakang lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M, H. (1994). Ilmu Perbandingan Pendididikan. Jakarta: Golden Trayon Press
Adningsih, Utami. (1999). Kualitas dan Profesionalisme Guru. Internet.
Anwas, M. Oos, (2004) Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis). Jurnal
Pustekkom Depdiknas.
Balitbang,Biro Humas dan Hukum. (Kompas, 2 Juli 2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Baru Diimplementasi Tahun 2004.
Belawati, Tian. (2000). Prinsip-Prinsip Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta:
Depdiknas.
Debdikbud. (1996-1997). Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud
____________. (1997-1998). Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru
Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Darmaningtyas. (1999). Pendidikan pada dan Selepas Kriris: Evaluasi Pendidikan di Masa
Krisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Duta Hari Murthi Consultants, PT. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Duta Hari
Murthi Consultants, PT.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2001). Modul Manajemen Berbasis Sekolah. Badung.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kuntjaraningrat. (1982) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mulyasa. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remadja Rosdakarya.
Nurholis. (1991). Hakekat Desenteralisasi Model MBS. Pendidikan Networ: internet.
Puspitasari, Ambar, Kristanti. (2002). Layanan Bantuan Belajar Dalam Sistem Pendidikan
Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Padmo, Dewi. (2001). Ragam dan Pemilihan Media Dalam Sistem Pendidikan Terbuka dan
Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Suarabaya: Usaha Nasional.
Saepudin Asep. (2000). Potret Pendidikan dalam Alih Ilmu dan Teknologi, internet.
Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar. Jakarta: Paramadia.
Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra
Gama Widyaa.
Sindhunata. (2000, editor). Menggas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suparman, Atwi. (1996). Pendidian Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Tilar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.

Friday, July 8, 2011

Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran


Penyempurnaan kurikulum dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, bahan kajian yang harus dikuasai oleh siswa disesuaikan dengan tuntutantuntutan
tersebut. Selain itu, bukan hanya bahan kajian saja yang harus dikuasi oleh siswa tetapi juga kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) yang berfungsi baik sebagai alat maupun bahan pembelajaran.
Mata pelajaran baru yang akan atau mungkin diterapkan di sekolah dari segala jenis dan tingkat pendidikan ini belum ada kata sepakat, selain materinya baru juga oleh kesiapam SDM (guru) dan sasana pendidikan di sekolah. Namun demikian, kita akan melihatnya dari sisi lain, bukan dari sisi adan tidaknnya mata pelajaran tersebut tetapi, kemampuan sekolah dan guru mengadopsi teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran di kelas .
Alasan lain yang memperkuat adalah, mana mungkin memperkenalkan sebuah teknologi dengan ceramah, dan mana mungkin labor lama dapat mengadaptasi penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, apalagi sekeliling anak ada handphone, ada rental komputer, ada rental internet dan ada macam-macam lagi.
Pembahasan secara komfrehensif mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan difokuskan pada pengembangan dan penerapan konsep belajar terbuka, termasuk belajar jarak jauh, dan belajar berbasis aneka sumber (resource based learning). Pembahasan meliputi perkembangan dari aspek kerekayasaan, aspek kemasyarakatan, serta aspek ekonimis, aspek psikologis dam aspek pendidikan sendiri. Kegiatan belajar di sekolah adalah pemberian pengalaman langsung (hands on experience) dalam memanfaatkan teknologi canggih dalam
proses pembelajaran.
Konsep belajar terbuka di sekolah atau berbasis aneka sumber (resource based learning) akan mengubah fungsi guru dikelas – yang tidak hanya satu-satunya sumber belajar dan dapat mengembangkan metode mengajar di kelas. Konsep belajar terbuka artinya guru tidak hanya mempunyai suatu sumber belajar (buku) dan satu metode (ceramah) tetapi dapat melakukan variasi dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif.
Sumber belajar terbuka bisa bersumber dari (1) internet, (2) Radio, (3) Televisi, (4) Tape Recorder, (5) CD Player, (6) komputer, (6) laboratorium alam (masyarakat) dan sejenisnya.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat masing-masing bagian.
1. Internet
Apa itu internet (international nelwork). Internet adalah kumpulan komputer antarsatu wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan komunikasi ini diatur oleh protokol. (Gatot Subroto, 1999) Dengan kata lain, internet adalah media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan,
maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh perangkat digital non komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi komputer yang global. Dengan internet, maka di manapun kita berada dapat berhubungan satu sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi informasi sekarang ini, ada semacam persiapan yang bisa ditempuh orang tua dalam membantu anak-anak mereka untuk tetap berjalan seiring dalam era informasi ini. Beberapa langkah persiapan yang bisa ditempuh orang tua adalah, pertama orang tua harus memastikan diri bahwa mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan praktis tentang komputer pribadi. Alasannya sangat sederhana, bagaimana orang tua bisa mengajarkan anak-anak mereka naik sepeda sedangkan mereka sendiri tidak bisa naik sepeda. Namun demikian, orang tua tidak perlu menjadi seorang ahli dalam menggunakan
komputer supaya menjadi contoh positif bagi anak-anak mereka menggunakan teknologi ini.
Dapat dipertimbangkan untuk mengikuti pelajaran komputer di tempat anak bersekolah, atau mempelajari melalui buku tentang komputer bagi pemula khususnya.
Kedua, mulai membiasakan anak-anak untuk menggunakan komputer. Ini seperti layaknya mengendarai sepeda, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mengendarai sepeda menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Langsung menggunakan komputer juga dapat memberikan semacam pengalaman bagi anak-anak untuk merasakan nyaman dan senang, sehingga dapat berkreasi dalam mengoperasikan teknologi canggih tersebut. Salah satu kunci utama untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam rumah dari media adalah secara langsung mengamati anak-anak. Artinya orang tua harus berada dekat dengan anak-anak pada saat mereka menjelajah jaringan Internet. Kalau memang khawatir, sebetulnya
komputer pribadi dapat dipindahkan ke ruang keluarga berkumpul atau tempat-tempat yang terbuka dan mudah diawasi.
Bila di rumah anda belum terpasang jaringan internet, anda tidak perlu berkecil hati. Sekarang sudah banyak wartel, warung telekomunikasi yang tidak hanya menyediakan jasa fasilitas telepon saja, tapi juga internet. Kita bisa menggunakan (baca: sewa) selama kita mau dan mampu. Hanya tinggal membayar sewanya, dan harga sewanya cukup terjangkau dengan tarif rata-rata adalah Rp.10.000,- per jam. Lebih jauh, sekarang pelayanan jasa internet sudah dikemas dengan lebih apik, nyaman, dan menyenangkan. Di Jakarta, Gatot Subroto (1999) pernah menjumpainya di daerah Blok M Plaza (lantai IV dan V) yaitu Smashnet dan X-Trac, adalah dua tempat gaul internet yang bisa dikunjungi oleh semua orang (kebanyakan pada umumnya remaja). Di Citraland dan Roxy Mas, juga ada fasilitas seperti ini, kalau hari Sabtu tempat ini penuh akan antrean remaja yang hobi akan teknologi dan menjelajah atau melanglang buana di dunia maya. Satu lagi di Mall Taman Anggrek, sebuah tempat bernama NetCafe yang mengkemas dan meramu pojok internetnya lebih bersuasana café. Sedangkan internet untuk keperluan anak-anak, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan servis internet yang digunakan untuk internet biasa secara umum, yang menonjol di sini mengenai informasi dan isi pengetahuan yang ditampilkannya, khususnya yang mendukung perkembangan anak. Namun, salah satu tantangan yang cukup besar di dunia internet adalah masalah penggunaan bahasa Inggris, sehingga dibuatkan perbendaharaan kata dan pemahaman bahasa Inggris yang memadai bagi mereka untuk menjelajahi jaringan Internet.
Hal ini sekaligus merupakan suatu sarana untuk melatih dan mempraktikan kemampuan berbahasa Inggris.
Beberapa contoh aplikasi internet untuk pendidikan yang mungkin akan menarik untuk anak kita akan diberikan di bawah ini. Misalkan situs www.safekids.com – yang didirikan tahun 1994. Lawrence Magid menulis "Child Safety on the Information Highway" dan melanjutkan penelitiannya pada masalah ini serta menciptakan Safekids.com. Sebuah situs yang membantu orang tua guru, anak-anak dan remaja dalam mempelajari cara-cara yang aman dalam menjelajahi dunia Internet. Letsfindout.com merupakan tempat yang sangat baik untuk menambah pengetahuan atau untuk anak-anak atau siapapun yang ingin tahu tentang berbagai hal.
2. Televisi
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi. Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anak anak. Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis
bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar, majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis, bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel
Indonesia, tampak hidup di layar televisi. Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah
dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan.
Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari. Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam
aspek kognetif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas.
Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar, teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.
Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991), gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan kesan pada diri pemirsa.
Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses penyuntingan.
Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa mengakrabkan objek yang jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga
Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan komunikasi interpersonal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih, simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan keempat adalah perilaku para penyair televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita, memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya.. Mereka mempunyai posisi stategis dalam menyampaikan pesan pada khalayak.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.
3. Radio
Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di berbagai daerah di seluruh Indonesia, belum termasuk stasiun radio yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998.
Wilayah jangkauannya secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan Nusantara -meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan dapat mencakup setiap desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus yang diperlukan khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau keterampilan membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja sudah lebih dari 69% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu, angka ini diperkirakan telah meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio oleh masyarakat sudah begitu merata dan banyak, sehingga statistik mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat: Direktorat Jenderal RTF (1998), BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan kelurahan adalah data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua arah perkembangan. Di dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang sebagai industri non pemerintah penunjang kehidupan ekonomi dan politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara; perhatikan misalnya Voice of America, Radio Free Europe, dsb. Di Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam negeri sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah walaupun dengan sifat yang independen, umpamanya BBC. (Untuk informasi mengenai perkembangan radio sebagai institusi, lihat: Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
Dengan teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas mulai pula berkembang sebagai radio global melalui jaringan internet. Setidaknya ratusan stasiun radio lokal dari segenap penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara online.
4. Tape Recorder, CD Player dan Televisi
Ketika jenis benda elektrokik ini sudah dikenal umum, Tape recorder adalah untuk merekam dan memutar kaset, sedangkan CD Player adalah untuk memutar CD Rom, di mana televisi selain sebagai wadah tontonan adalah sebagai media pelengkap CD|rom.
5. Komputer
Komputer yang digunakan sebagai basis dalam kegiatan pembelajaran pada dasamya menerapkan konsep efektivitas dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan. Pada fase I, komputer memainkan peran sebagai alat bantu yang dikenal dengan sebutan Computer-asisted instruction (CAI), Computer based instruction (CBI), Computer-enriched instruction (CEI), dan Computer-managed instruction (CMI). Namun memasuki fase II komputer telah memainkan peran dalam bentuk CMC (Computer mediated communication). Pemunculan CMC menggeser peran komputer dalam kegiatan pembelajaran dari alat bantu menjadi sumber belajar. Namun tidak mengurangi arti sebagai alat bantu guru dalam mengajar materi yang sulit (bahaya) dan
berulang dan yang kurang dikuasainya. Misalnya tentang gerak, pertumbuhan, ledakan, pembedahan, pewarnaan, desain, audio dan video dan sebagainya. Karena itu komputer bisa merangsang inovasi, kreatifitas, dan produkifitas guru dan siswa.
Berbagai software telah diciptakan untuk mendesain pembelajaran dengan komputer, di mana dikenal istilah program interaktif, yaitu suatu desain pembelajaran, di mana pemakainya seperti sedang melakukan interaksi dengan seseorang, layaknya sebuah game, sehingga tidak membosankan, selain itu dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dan hidup dan merangsang belajar.
Pada fase II memungkinkan komputer membantu lebih luas, karena CMC telah ditopang dengan berbagai media (multimedia) untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan dalam upaya meningkatkan kegiatan pembelajaran secara efektif. Melalui media ini unsur-unsur dasar kegiatan pembelajaran memungkinkan untuk tercapai secara optimal. Unsur-unsur itu antara lain terjadinya interaksi antar individu - baik guru-siswa, antarsiswa, siswa dengan orang lain (pakar), dan/atau masyarakat sosial lainnya.
Pergeseran pemakaian sistem komputer ini bukan tanpa dasar, pergeseran ini merupakan perwujudan pergeseran konsep belajar dari prinsip-prinsip yang cenderung behavioristik ke prinsip-prinsip belajar kognitivistik, dari pola preskriptif ke deskriptif, dari yang menekankan pada proses pengulangan (drill) ke pola-pola pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Di sisi lain, perubahan prinsip belajar berbasis komputer ini juga memberikan dampak pada profesionalitas guru. Dalam hal ini, guru sudah harus menambah pengetahuan dan keterampilan dalam profesi yang baru dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan mencapai tujuan belajar.
Dengan pergeseran sistem pembelajaran yang berbasis komputer, dari alat bantu menjadi sumber belajar ini, khasanah pengetahuan terbuka luas. Belajar tidak lagi terkukung dalam ruang kelas semata, melainkan telah mampu menjelajah ke dunia lain baik dalam intranet maupun secara global internet. Guru dan siswa hampir tanpa batas waktu dan ruang untuk berinteraksi, begitu juga antara siswa dengan para pakar. Semua terpampang di depan mata. Dalam hal ini, kemampuan mengorganisir, menganalisis dan menyeleksi informasi-informasi yang paling tepat sangat penting artinya. Dengan kata lain ruang ini telah kebanjiran data atau informasi untuk senantiasa dicermati oleh berbagai pihak, temasuk siswa-siswa dan para pendidik. Dari luapan informasi itu mungkin saja sebagian besar informasi itu tidak perlu, dan tidak dibutuhkan oleh
siswa atau pendidik. Begitu juga dalam upaya mengambil kebijakan, tidak semua informasi memberikan dukungan terhadap kebijakan.
B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Teknologi Pembelajaran
Uraian berikut bukan bermakud suatu keharusan sebuah sekolah memiliki atau membeli semua perankat yang disebutkan karena selain harga yang mahal, juga teknis pemakaian, perawatannya yang sulit, juga sulit mencarinya, tetapi uraian ini bermaksud memberikan gambaran ideal bila sekolah mampu memilikinya sendiri, jika tidak sekolah bisa memanfaatkan dengan sistem kerja sama atau bagi hasil dengan pihak luar.
Hardware (perangkat keras) yang harus dipunyai oleh sekolah adalah: (a) Radio, (b) televisi, (c) Tape recorder (d) CD Player, (e) Camera tustel, (f) Kamera video, (g) CCTV, (h) Handy Talky, (i) Proyektor, dan sejenisnya, sementara software yang harus dimiliki adalah (1) Identifikasi Program, (2) Kaset pembelajaran (3) Video Pembelajaran, (4) Internet.
Bagaimanakah teknis atau strategi pembelajaran mengunakan alat dan sumber ini, hal ini akan dibicara pada kesempatan lain.
C. Starategi Penerapan
Setiap sekolah, setiap daerah desa, kecamatan dan kabupaten di mana saja berbeda. Makin sederhana suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten, makan semakin sederhana perubahan/ pembaharuan yang dapat dilakukan tetapi semakin maju suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten maka semakin kompleks pula perubahan yang dapat dilakukan, atinya, perubahan/ penbaharuan membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar dan banyak.
Berdasarkan pemikiran ini, maka pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tergantung dengan karakteristik sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten yang bersangkutan, artinya makin sederhana sekolahnya makin sederhana teknologi yang diterapkan dan semakin maju sekolah itu maka semakin kopmpleks teknologi yang dapat diterapkan.
Namun, betapun kesimpulan ini sederhana, kita tidak boleh mengatakan nanti, kalau bisa dilakukan hari mengapa harus esok, karena hari esok kita sudah dibelakang lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M, H. (1994). Ilmu Perbandingan Pendididikan. Jakarta: Golden Trayon Press
Adningsih, Utami. (1999). Kualitas dan Profesionalisme Guru. Internet.
Anwas, M. Oos, (2004) Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis). Jurnal
Pustekkom Depdiknas.
Balitbang,Biro Humas dan Hukum. (Kompas, 2 Juli 2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Baru Diimplementasi Tahun 2004.
Belawati, Tian. (2000). Prinsip-Prinsip Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta:
Depdiknas.
Debdikbud. (1996-1997). Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud
____________. (1997-1998). Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru
Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Darmaningtyas. (1999). Pendidikan pada dan Selepas Kriris: Evaluasi Pendidikan di Masa
Krisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Duta Hari Murthi Consultants, PT. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Duta Hari
Murthi Consultants, PT.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2001). Modul Manajemen Berbasis Sekolah. Badung.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kuntjaraningrat. (1982) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mulyasa. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remadja Rosdakarya.
Nurholis. (1991). Hakekat Desenteralisasi Model MBS. Pendidikan Networ: internet.
Puspitasari, Ambar, Kristanti. (2002). Layanan Bantuan Belajar Dalam Sistem Pendidikan
Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Padmo, Dewi. (2001). Ragam dan Pemilihan Media Dalam Sistem Pendidikan Terbuka dan
Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Suarabaya: Usaha Nasional.
Saepudin Asep. (2000). Potret Pendidikan dalam Alih Ilmu dan Teknologi, internet.
Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar. Jakarta: Paramadia.
Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra
Gama Widyaa.
Sindhunata. (2000, editor). Menggas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suparman, Atwi. (1996). Pendidian Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Tilar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.