This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Showing posts with label Model pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Model pembelajaran. Show all posts
Thursday, July 12, 2012
Pengembangan Pengelolaan Pembelajaran Matematika Berbasis ATI
July 12, 2012
Aptitude Treatment Interaction (ATI), E-learning, Edukasi, Model pembelajaran, SERBA SERBI
No comments
Pengelolaan
pembelajaran matematika berbasis ATI ditujukan untuk mengembangkan dan
menciptakan pembelajaran yang peduli dan memperhatikan keterkaitan antara
kemampuan awal (aptitude) siswa dengan tindakan pembelajaran (treatment).
Untuk mencapai tujuan tersebut, ATI dalam pembelajaran berupaya
menemukan dan memilih model, pendekatan, strategi, dan sejumlah metode yang
dijadikan sebagai tindakan pembelajaran yang sesuai dengan perbedaan kemampuan
awal siswa. Kemudian melalui interaksi yang positif multiplikatif dikembangkan
tindakan-tindakan teknik dan taktik pembelajaran, sehingga akhirnya dapat
diciptakan optimali-sasi perubahan perilaku dan prestasi akademik siswa.
Model
pembelajaran ATI dikembangkan dari model interaksi sosial dan
personal-humanistik. Manusia diciptakan sebagai makhluk individu sekaligus
sebagai makhluk sosial. Hal ini berimplikasi, ada saatnya seseorag bekerja
sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tetapi disisi lain tidak bisa
melepaskan diri dari ketergantungan dengan pihak lain. Perpaduan ke-dua model
tersebut berorientasi kepada aktivitas dan pengalaman siswa. Melalui model ini
diharapkan dapat mengembangkan siswa menjadi subjek yang aktif dan mampu
mengembangkan seluruh potensinya, sesuai karak-teristik siswa sebagai makluk
yang unik. Pendekatannya dikembang-kan dari pendekatan pembelajaran yang
berpusat pada siswa (student centered learning). Pendekatan pembelajaran
yang ber-pusat pada siswa menurunkan strategi inquiry dan induktif dalam
koridor kontekstual dengan setting group learning tutor sebaya.
Dalam group learning, siswa belajar dalam kelompok kecil (4 siswa)
dengan beragam kemampuan awal (tinggi: 1 siswa, sedang: 2 siswa, rendah: 1
siswa) dan secara bergantian (mulai yang kemampuan awalnya tinggi) salah satu
menjadi tutor sebaya. Strategi inquiry dan induktif dikembangkan dengan
kombinasi metode (1) demonstrasi, (2) diskusi, (3) tanya jawab, (4) pengalaman
lapangan, dan (5) penugasan. Teknik dan taktik dikembangkan dengan pemanfaatan
media dan sumber belajar.
Pengembangan
materi pembelajaran matematika berbasis ATI yang menyangkut isi adalah
ilmiah, relevan, memadai, aktual dan kontekstual, fleksibel, dan menyeluruh. Ilmiah, mencakup
ke-seluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam materi ajar
matematika. Keseluruhan materi dan kegiatan tersebut harus benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Rele-van, cakupan, kedalaman, tingkat
kesukaran dan urutan penya-jian dalam materi ajar matematika disesuaikan dengan
tingkat perkembangan intelektual, sosial, emosional, dan spiritual siswa.
Materi
ajar memadai,
artinya bahwa materi ajar cukup menun-jang pencapaian kompetensi dasar. Materi
ajar harus memuat prinsip aktual dan kontekstual. Prinsip ini
mencakup indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem
penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, seni mutakhir dalam
kehidupan nyata. Pengembangan materi ajar harus fleksibel di-sesuaikan dengan
fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Menyeluruh maksudnya,
pengembangan materi ajar harus dapat menunjang pencapaian kognitif, skill dan
sikap. Hal ini dibuktikan oleh pembelajaran matematika dituntut untuk selalu
berpikir logis, kritis dan terstruktur.
Pengembangan
materi pembelajaran matematika berbasis ATI yang menyangkut tata urutan
adalah sistematis dan konsisten. Pengembangan materi ajar menggunakan KD awal
sebagai dasar KD pembelajaran selanjutnya. Hal ini dilakukan jika topik antarKD
awal dengan KD selanjutnya saling berkesinambungan. Keajegan antara SK dan KD
sangat diperlukan dalam pengembangan materi ajar. Agar materi ajar sistematis
dan konsisten dengan SK dan KD serta indikator yang ada dalam silbus, guru
dituntut mengem-bangkan bahan ajar berupa lembar kerja.
Berangkat
dari karakteristik matematika yang telah disampai-kan di atas, pengembangan
pengelolaan pembelajaran matematika berbasis ATI juga memperhatikan
penyajian materi ajar, dimulai dari yang konkrit menuju yang abstrak, dimulai
dari yang sederhana menuju yang kompleks, dan pembelajaran matematika bermakna.
Konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis, terstruktur, logis, dan
sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang
paling kompleks. Bermakna, yaitu pem-belajaran yang mengutamakan
pemahaman konsep dan pene-rapannya dalam kehidupan siswa. Hal ini dituangkan
dalam lembar kerja yang disusun guru.
Kegiatan
belajar matematika agar menjadi bermakna, maka gerak otak dan tubuh dalam
belajar harus bersama-sama. Menurut Sutama
(2004: 80) gerak otak dan tubuh dalam belajar matematika harus
bersama-sama melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mendengarkan. Siswa
dikatakan belajar matematika bermakna apabila siswa membangun sendiri pemahaman
matematika. Untuk memahami apa yang dipelajari, siswa harus melakukan kegiatan
matematika (doing math), yaitu “menyatakan”, “mengubah”,
“menyelesaikan”, “menerapkan”, “mengkomunikasikan”, “menguji” dan
“membuktikan”.
Menurut
Clark dan Microslav Lovric (2008) belajar merupakan proses yang bermakna,
apabila guru berusaha melakukan kegiatan: (1) Memilih tugas-tugas matematika
yang bermanfaat bagi siswa di kemudian
hari dan diberi langkah pengerjaannya, sehingga memotivasi siswa untuk
meningkatkan keterampilan intelektualnya; (2) Memberi kesempatan kepada siswa
untuk mendalami proses dan hasil pengerjaan matematika serta penerapannya; (3)
Men-ciptakan suasana kelas yang mendorong dicapainya penemuan dan pengembangan
idea matematika; (4) Membantu pemahaman siswa, dengan menggunakan alat-alat
teknologi dan sumber bahan ajar lain; (5) Membantu siswa untuk mencari hubungan
antara pengetahuan semula dengan pengetahuan baru; dan (6) Mem-bimbing secara
individual, kelompok, maupun klasikal.
Tahap
terakhir dari pembelajaran berbasis ATI adalah mela-kukan penilaian.
Penilaian sebagai bagian integral dari pembe-lajaran memiliki fungsi yang amat
menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan luaran pembelajaran
berbasis ATI. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan
informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap penga-laman
belajar siswa. Terkumpulnya berbagai data dan informasi yang lengkap sebagai
perwujudan dari penerapan penilaian, maka akan semakin akurat pula pemahaman
guru terhadap proses dan hasil pengalaman belajar setiap siswa.
Melalui
penilaian, guru dengan cermat akan mengetahui kema-juan, kemunduran, dan
kesulitan siswa dalam belajar. Melalui peni-laian, guru juga akan memiliki
kemudahan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan dan penyempurnaan proses
bimbingan belajar untuk langkah selanjutnya. Berdasarkan gambaran tentang
kemajuan belajar siswa diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka
penilaian pembelajaran berbasis ATI tidak hanya dilakukan pada akhir
program pembelajaran, tetapi secara integral dilakukan selama proses
pembelajaran. Dengan cara tersebut di atas, guru secara nyata akan mengetahui
tingkat kemampuan siswa yang sebe-narnya.
Agar
tingkat keberhasilan (efektivitas) pengelolaan pembe-lajaran matematika
berbasis ATI dapat dicapai dengan baik, maka dalam implementasinya perlu
diperhatikan dan dihayati tiga prinsip yang dikemukakan oleh Cronbach dan Snow
(1979). Prinsip per-tama, interaksi antara kemampuan dan perlakuan
pem-belajaran berlangsung dalam pola yang kompleks, dan senantiasa dipengaruhi
oleh variabel tugas, jabatan dan situasi. Ini berarti, dalam
mengimplementasikan pembelajaran berbasis ATI perlu mem-perhatikan dan
meminimalkan bias yang diperkirakan berasal dari variabel-variabel tersebut.
Prinsip kedua, lingkungan pem-belajaran yang terstruktur cocok bagi siswa yang
memiliki kemam-puan rendah dan lingkungan pembelajaran yang fleksibel lebih
cocok untuk siswa yang pandai. Prinsip ketiga, siswa yang rasa percaya dirinya
kurang cenderung belajarnya akan lebih baik dalam lingkungan terstruktur dan
sebaliknya siswa yang inde-pendent belajarnya akan lebih baik dalam
situasi fleksibel.
Selain
tiga prinsip tersebut, proses pembelajaran berbasis ATI harus
mempertimbangkan karakteristik-karakteristik: (1) kerja sama, (2) saling
menunjang, (3) menyenangkan dan tidak membo-sankan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran
terinte-grasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing
dengan teman, (9) siswa kritis guru kreatif, (10) dinding kelas dan
lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa (tabel, diagram, proses pemecahan
masalah), (11) laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi juga hasil
karya siswa.
Menurut
Walmsley dan Aaron Hickman (2007) desain pembe-lajaran yang memperhatikan
perbedaan individu, yaitu dalam setiap pertemuan siswa dibagi menjadi beberapa
kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 orang. Setiap pertemuan dengan waktu
40 menit dibagi menjadi empat bagian, yaitu 8 menit pembukaan, 12 menit
pengembangan konsep 1, 12 menit pengembangan konsep 2, dan 8 menit penutup.
Pembukaan, mengecek PR, memberi pe-luang siswa bertanya dan memberi umpan
balik. Tujuan pem-bukaan, siswa memperbaiki kesalahannya dan memahami konsep
yang lalu untuk membuat hubungan dengan konsep yang akan dipelajari melalui
kerangka kontektual. Pengembangan konsep, membahas konsep dengan metode tanya
jawab melalui contoh dan beberapa latihan untuk didiskusikan dengan
kelompoknya. Penutup, siswa di minta mencari hubungan antara pembukaan dan
konsep yang dipelajarai. Tujuannya, siswa dapat menemukan pola secara mandiri
dan melihat imbangan antarkonsep.
Desain
pengelolaan pembelajaran matematika berbasis ATI dikembangkan
berdasarkan pendapat Walmsley dan Aaron Hickman di atas, yaitu tahap pertama kegiatan pendahuluan,
tahap kedua kegiatan inti, dan tahap ketiga kegiatan penutup. Ketiga tahapan
diwujudkan dalam bentuk belajar kelompok kecil dengan tutor sebaya.
Kegiatan
pendahuluan meliputi: 1) review, yaitu membahas tugas, yang esensial dan
sulit diberi balikan, 2) motivasi awal, yaitu memberitahukan tujuan
pembelajaran, memberikan gambaran umum materi ajar dan memberikan gambaran
kegiatan yang akan dilakukan, dan 3) apersepsi, yaitu memberikan materi pengait
sesuai materi yang dibahas.
Kegiatan
inti meliputi pengembangan konsep dan penerapan. Dalam pengembangan konsep,
pembahasan materi ajar melalui strategi induktif dengan menggunakan media
pembelajaran dan sumber belajar, serta tindakan pembelajaran disesuaikan
kemam-puan awal siswa (ATI) dengan taktik, a) menampilkan sikap
ber-sahabat, b) menghindari perbuatan yang dapat mengganggu pera-saan siswa, c)
menunjukkan sikap adil kepada semua siswa, d) menggunakan berbagai teknik untuk
memelihara tingkah laku sis-wa, e) menghargai setiap perbedaan pendapat, f)
menekankan bagian-bagian penting, g) membantu siswa yang mendapat kesulitan, h)
mendorong siswa aktif, menumbuhkan kepercayaan siswa, dan menciptakan suasana
kondusif. Hal ini didukung Ellis dan Berry (2005) bahwa pembelajaran terbaik
terjadi ketika tindakan berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa. Prinsip
ini mengatakan bahwa (1) anak-anak mempunyai kebebasan untuk mengembangkan diri
secara alami, (2) minat siswa merupakan motivasi untuk semua kegiatan, dan (3)
guru adalah seorang pemandu dan tidak berperan utama dalam kegiatan
pembelajaran.
Tahap
penerapan diberikan latihan terkontrol dan latihan mandiri. Latihan terkontrol
setting kelas kelompok kecil (tiap kelom-pok 4 siswa dengan kemampuan awal
bevariasi) meliputi kegiatan: a) tugas diarahkan dengan jelas, b) membimbing
dan memudahkan belajar siswa, c) menuntut tanggung jawab siswa, d) menumbuhkan
kerja sama antarsiswa, dan e) menumbuhkan inisiatif siswa dalam belajar.
Latihan mandiri meliputi kegiatan: a) komunikasi antar-pribadi menunjukkan
kehangatan, b) merespon setiap pendapat siswa, c) membimbing belajar siswa, d)
mendorong siswa untuk banyak berkreasi dalam belajar, dan e) menumbuhkan
keper-cayaan siswa kepada diri sendiri.
Kegiatan
penutup meliputi review terhadap rangkuman dan tindak lanjut. Kegiatan review
terhadap rangkuman, yaitu a) mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman dan b)
rangkuman jelas dan mencakup seluruh inti materi ajar. Kegiatan tindak lanjut,
meliputi: a) mengevaluasi hasil belajar siswa, b) menyarankan agar materi ajar
dipelajari kembali di rumah, c) memberikan tugas rumah dengan langkah-langkah
pengerjaan, dan d) menyarankan agar materi ajar berikutnya dipelajari terlebih
dahulu di rumah.
Desain
pengelolaan pembelajaran matematika berbasis ATI, secara umum dapat
dilakukan melalui langkah-langkah: (1) sesuai kemampuan awal siswa, pemikiran
siswa dikembangkan untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna (merubah
paradigma belajar sebagai kewajiban menjadi belajar sebagai kebutuhan), (2)
melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry terbimbing untuk semua
topik yang dipelajari, (3) mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan
memunculkan pertanyaan-pertanyaan, (4) mencipta-kan masyarakat belajar, seperti
melalui kegiatan kelompok belajar dengan tutor sebaya (berdiskusi, tanyajawab,
dan pemecahan masalah), (5) menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran,
bisa melalui ilustrasi model bahkan media yang sebenarnya, (6) membiasakan
siswa untuk melakukan refleksi dari
setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan (apa yang berhasil, apa yang
belum berhasil, mengapa hal itu terjadi, dan selanjutnya bagai-mana), dan (7)
melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya
pada setiap siswa.
Sunday, May 20, 2012
PARTNER IN LEARNING
Membaca slogan yang dipakai oleh Microsoft yaitu "MICROSOFT PARTNERS IN LEARNING "sedikit akan saya sampaikan salah satu model pembelajaran yang terinspirasi oleh slogan Microsoft tersebut.Dan semoga model pembelajaran ini dapat menginspirasi teman - teman pendidik untuk bisa mempraktekan serta meniru kegiatan yang dilakukan oleh Microsoft Indonesia. Berbicara mengenai teknik/model pembelajaran tentunya akan banyak sekali kriteria-kriteria yang harus dipenuhi, namun melalui pemahaman yang komprehensif setidaknya jenis-jenis model pembelajaran yang telah diungkapkan oleh Bruce Joyce dalam bukunya “Model of Teaching” dapat kita pahami sedikit demi sedikit, diantara model pembelajaran menurutnya yaitu Partner in Learning.
Apa dan bagaimana sebenarnya partner in learning itu sedikit catatan dari teman saya ini semoga dapat memahaminya.
I Latar Belakang
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses komunikasi merupakan suatu bentuk interaksi timbal balik antara guru sebagai komunikator dan subjek didik, guru sebagai komunikator dalam mengembangkan ide atau konsep. Salah satu komponen komunikasi yang terpenting adalah pesan dalam bentuk materi pelajaran. Materi pelajaran akan sampai pada anak didik melalui proses komunikasi apabila menggunakan teknik dan persiapan yang matang. Kemampuan guru dalam memilih teknik, metode serta ketepatan mempergunakannya akan memberikan kontribusi secara maksimal terhadap keberhasilan belajar anak didik.
Pada umumnya para pengajar dalam proses kegiatan pembelajaran di sekolah formal biasa menggunakan metode ceramah sehingga membuat kejenuhan para peserta didik di sekolah tersebut metode ceramah ini memang mudah dilaksanakan oleh para pengajar atau guru dalam menyampaikan kegiatan pembelajaran di sekolah, namun para peserta didik kadang-kadang ada kejenuhan dalam menerima materi pembelajaran dengan metode yang monoton.
Berdasarkan pengalaman tersebut maka untuk mengatasi kejenuhan siswa dalam pembelajaran IPS SD dengan menggunakan model “Partner in learning”.
Kurangnya motivasi dan jenuhnya siswa terhadap pelajaran IPA Fisika maka tidak mengembangkan kemampuannya secara optimal untuk mempelajari IPA Fisika. Untuk itu guru mengambil langkah-langkah atau cara untuk mengatasi kejenuhan siswa dalam pembelajaran IPA. Yaitu dengan model yang tepat sepeti “Partner in learning”.
PARTNER IN LEARNING DALAM PEMBELAJARAN IPA FISIKA DI SMP
1 Pengertian
Partner in learning adalah cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Atau Partner in learning juga bisa disebut suatu proses kerja sama yang dilakukan oleh baik antar individu maupun antar kelompok, yang saling penuh perhatian dan penghargaan sesama anggota untuk mencapai tujuan bersama
Berdasarkan batasan ini, pembelajaran kolaborasi menekankan pentingnya pengembangan belajar secara bermakna dan pemecahan masalah secara intelektual serta pengembangan aspek sosial.
Pembelajaran Parner in learning merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran Partner in learning dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok kecil. Tetapi belajar Partner in learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok (Sugandi, 2002:14).
Partner in learning telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam model Partner in learning terdapat saling ketergantungan positif di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif, siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir, serta mampu membangun hubungan interpersonal.
Model Partner in learning memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, evaluasi proses kelompok.
Karakteristik model Partner in learning diantaranya: siswa bekerja dalam kelompok kecil 2-5 orang untuk menguasai materi akademis; anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi; jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok Partner in learning berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin; sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu.
2 Tahapan keterampilan yang harus ada dalam model Partner in learning yaitu:
Terdapat empat tahapan keterampilan yang harus ada dalam model Partner in learningyaitu:
a) Forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma.
b) Functioniong (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok.
c) Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan
d) Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan.
3 Prinsip-prinsip Partner in leraning
Pembelajaran Partner in learning menekankan adanya prinsip-prinsip kerja. Prinsip-prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam model Partner in learning tersebut adalah sebagai berikut.
1) setiap anggota melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan saling ketergantungan;
2) individu-individu bertanggung jawab atas dasar belajar dan perilaku masing masing;
3) keterampilan kooperatif dibelajarkan, dipraktekkan dan balikan (feedback) diberikan berdasarkan bagaimana sebaiknya latihan keterampilan tersebut diterapkan; dan
4) kelas atau kelompok didorong ke arah terjadinya pelaksanaan suatu aktivitas kerja kelompok yang kohesif.
4 Langkah-langkah model Partner in learning
1. Tahap Persiapan
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas.
c. Mempertimbangkan karakteristik anak dengan benar.
d. Menyiapkan kerangka yang akan diskusikan
e. Menyiapkan fasilitas, meliputi:
(1) menggandakan bahan diskusi,
(2) menentukan dan mendisain tempat,
(3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
2. Tahap pelaksanaan
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan.
c. Menjelaskan prosedur diskusi.
d. Mengatur kelompok-kelompok diskusi
e. Melaksanakan diskusi.
3. Tahap penutup
a. Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil.
b. Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi.
c. Memberikan umpan balik.
d. Menyimpulkan hasil diskusi.
II. 5 Keunggulan dari Model Partner in learning
Ada beberapa keunggulan yang dapat diperoleh melalui pembelajaran Partner in learning menurut Hill & Hill (1993) berkenaan dengan:
1) prestasi belajar lebih tinggi;
2) pemahaman lebih mendalam;
3) belajar lebih menyenangkan;
4) mengembangkan keterampilan kepemimpinan;
5) meningkatkan sikap positif;
6) meningkatkan harga diri;
7) belajar secara inklusif;
8) merasa saling memiliki; dan
9) mengembangkan keterampilan masa depan
Kegiatan pembelajaran Partner in learning diarahkan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan (habits) untuk memahami apa yang dipelajari, sikap ingin melakukan sesuatu, dan keterampilan bagaimana melakukan sesuatu. Hal ini sejalan dengan pandangan (Covey, dalam Medsker & Holdsworth, 2001) yang menyatakan bahwa sikap mencakup tiga hal pokok, yaitu:
1) pengetahuan atau knowledge (the what, where, when, dan why),
2) sikap atau attitudes (the want to), dan
3) keterampilan atau skills (the how to).
Pembelajaran Partner in learning merupakan suatu prosedur pembelajaran dalam hal ini para pebelajar belajar bersama secara berkelompok dan diarahkan untuk mencapai tujuan secara kolektif (Cruickshank, Jenkins, & Metcalf, 2006).
Model Partner in learning adalah khas di antara model-model pembelajaran karena menggunakan suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Struktur tugas memaksa siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil. Sistem penghargaan mengakui usaha bersama, sama baiknya seperti usaha individual.
Model Partner in learning berkembang dari kebiasaan pendidikan yang menekankan pada pemikiran demokratis dan latihan atau praktek, pembelajaran aktif, lingkungan pembelajaran yang kooperatif dan menghormati adanya perbedaan budaya masyarakat yang bermacam-macam.
Model Partner in learning bertujuan agar terdapat efek (pengaruh) di luar pembelajaran akademik, khususnya peningkatan penerimaan antarkelompok serta keterampilan sosial dan keterampilan kelompok.
Dasar-dasar teoretis dan empiris mendukung penggunaan model Partner in learning untuk tujuan pendidikan berikut: mendapatkan tingkah laku kooperatif, hasil kerja teoreitis dan memperbaiki hubungan-hubungan yang tidak harmonis.
6 Penerapan Partner in learning
Perencanaan tugas berkaitan dengan model Partner in learning, yang menekankan pada pengorganisasian siswa untuk kelompok kerja kecil, dan menggunakan materi pembelajaran yang beragam untuk digunakan selama kelompok-kelompok kerja (kelompok belajar) berlangsung. Tak peduli pendekatannya, Partner in learning dicirikan dengan kerja siswa dalam kelompok kecil, dan berorientasi pada adanya penghargaan kelompok.
Memimpin Partner in learning mengubah peranan guru dari sebagai pusat pembicara atau pembicara utama menjadi choreographer dalam aktivitas kelompok kecil. Kelompok kerja kecil menimbulkan suatu tantangan pengelolaan bagi guru. Guru harus membantu siswa melakukan transisi di dalam kelompok kecil mereka, mengatur kelompok kerja mereka, dan mengajarkan keterampilan penting, yakni keterampilan sosial dan keterampilan kelompok.
PENUTUP
1 Kesimpulan
Partner in learning merupakan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Kegiatan ini harus dilatihkan kepada para siswa untuk menanamkan sikap demokratis dalam pemecahan masalah. Agar siswa dapat berlatih. Oleh karena itu, guru harus menguasai keterampilan ini, agar dapat menjadi contoh bagi siswa.. . Dalam Partner in learning dan perorangan terjadi hubungan interpersonal yang akrab antara guru-siswa maupun antarsiswa. Siswa belajar sesuai dengan kecepatan, cara, kemampuan, dan minat masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
http://berlian100.wordpress.com/2009/03/06/strategi-pembelajaran-2/
Friday, April 13, 2012
STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini dimulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Masalah tersebut dapat berasal dari peserta didik atau dari pendidik. Peserta didik akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, peserta didik belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah.
Dengan demikian peserta didik belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana.
Menurut Agus dalam buku cooperative learning, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan. Sintaks PBL adalah sebagai berikut :
Fase-fase
|
Perilaku pendidik
|
Fase 1 : memberikan orientasi tentang
permasalahannya kepada peserta didik. |
Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran,
mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah. |
Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik
untuk meneliti |
Pendidik membantu peserta didik
mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya. |
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan
kelompok |
Pendidik mendorong peserta didik untuk
mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi. |
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan
artefak dan exhibit |
Pendidik membantu peserta didik dalam
merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain. |
Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses
mengatasi masalah |
Pendidik membantu peserta didik melakukan
refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan. |
David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :
1) Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2) Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
3) Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4) Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5) Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)
Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :
Tahap-tahap
|
Kemampuan yang diperlukan
|
Merumuskan masalah
|
Mengetahui dan merumuskan masalah secara
jelas |
Menelaah masalah
|
Menggunakan pengetahuan untuk memperinci,
menganalisis masalah dari beberapa sudut. |
Merumuskan hipotesis
|
Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup,
sebab akibat, dan alternatif penyelesaian. |
Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai
bahan pembuktian hipotesis |
Kecakapan mencari dan menyusun data.
Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, dan table. |
Pembuktian hipotesis
|
Kecakapan menelaah dan membahas data.
Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan. |
Menentukan pilihan penyelesaian
|
Kecakapan membuat alternative penyelesaian
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan. |
Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis danmengevaluasi proses dan hasil.
Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya.
[Sumber : http://edukasiana.com]
Thursday, January 12, 2012
Beberapa contoh Metode mengajar
METODE MENGAJAR
A. Berbagai Metode Mengajar
Guru yang profesional tidak hanya menguasai sejumlah materi pembelajaran, tetapi juga terampil dalam menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran serta situasi pada saat materi tersebut harus disajiakan. Selain itu, guru juga harus memilih metode yang tepat agar pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Atau metode pembelajaran dapat dikatakan sebagai cara menyajikan isi pembelajaran kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi.
Metode mengajar merupakan prosedur/cara yang harus dilakukan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga proses belajar berjalan baik dalam arti kompetensi atau tujuan pembelajaran dapat tercapai. Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui,dan mempelajari beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar. Dalam proses belajar mengajar (PBM) peranan metode dalam strategi pembelajaran sangat menentukan berhasil atau tidaknya seorang guru menyampaikan pesan kepada peserta didiknya. Memilih metode yang tepat untuk menciptakan suasana proses belajar mengajar yang menarik. Penilaian metode dari segi penerapannya sangat tergantung kepada jumlah peserta didik yang besar atau kecil. Beberapa metode mengajar yang dapat divariasikan oleh pendidik diantaranya.
Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran IPA diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) eksperimen (4) diskusi (5) bermain peran, (6) simulasi dan (7) bermain peran. Pada pelaksanaannya metode ini dapat dipilih guru sesuai dengan topik-topik dalam pembelajaran IPA di SMP. Metode yang dipilih harus mempermudah para peserta didik menyerap materi ajar dan mempermudah guru menyajikan bahan ajar tersebut. Masing-masing metode mempunyai ciri, keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan.
1. Metode Ceramah (Preaching Methode)
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah peserta didik yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham peserta didik. Biasanya guru memberikan perintah, menjelaskan hal-hal tertentu, mengetengahkan pengalaman dan dengan keahliannya dibantu bahan-bahan / buku yang tersedia meningkatkan pengetahuan para peserta didik.
Metode ceramah merupakan metode dimana guru lebih banyak memberikan informasi pada peserta didik, sehingga peserta didik menjadi pasif dalam pembelajaran. Pada pembelajaran yang menggunakan metode ceramah diupayakan tidak hanya menyajikan informasi dari guru, karena pada setiap pembelajaran harus diusahakan peserta didik yang aktif. Penggunaan metode ceramah pembelajaran harus digunakan teknik bertanya, sehingga tetap terjadi interaksi antara guru dan peserta didik atau antara peserta didik dan peserta didik. Tanya jawab juga diperlukan untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap apa yang telah disampaikan oleh guru melalui metode ceramah. Penggunaan jenis pertanyaan harus bervariasi seperti pertanyaan konvergen, divergen, pertanyaan untuk menguji keterampilan proses dan keterampilan berpikir sesuai dengan konsep IPA yang disajikan, teknik mengajukan pertanyaan juga harus memperhatikan situasi kelas, kapan melakukan promting atau kapan melakukan redirecting. (lihat modul Kinerja pada materi Teknik Bertanya, Indrawati). Agar penyajian ceramah dikelas dapat diserap oleh peserta didik semaksimal mungkin, maka seorang guru harus mempersiapkan langkah-langkahnya secara sistematis.
Untuk mempertinggi hasil dari metode ceramah umumnya dilakukan beberapa langkah sebagai berikut yaitu (a) rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh peserta didik, (b) setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah .metode ceramah benar- benar merupakan metode yang tepat, (c). susunan bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan (d). pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya, (e) tangkaplah perhatian peserta didik dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan, (f). Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Metode Ceramah wajar dipergunakan untuk (a) menyampaikan fakta (kenyataan) atau pendapat dan tidak, terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud., (b) menyampaikan fakta kepada peserta didik yang besar jumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yang lain tidak mungkin dapat dipergunakan, (c) memberikan semangat dan rnerangsang peserta didik untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan atau belajar dengan baik. Metode ceramah dilaksanakan dengan tujuan untuk : (a) membangkitkan motivasi belajar, (b) memperjelas bagian-bagian tertentu, (c) menonjolkan bagian-bagian konsep atau pengetahuan yang dianggap penting, (d) memperluas isi bahan pelajaran.
Keunggulan Metode Ceramah diantaranya;
a) Dapat menyampaikan materi lebih banyak dibandingkan dengan metode-metode yang lain,
b) Pada pembelajaran IPA tidak banyak memerlukan peralatan laboratorium,
c) Bila disiapkan dengan baik misalnya menggunakan model pembelajaran “ direct instruction” dapat membangkitkan aktivitas peserta didik.
Sementara itu, kelemahan Metode Ceramah diantaranya;
a) Kalau penyajian “Teacher Centre” dan peserta didik sama sekali tidak dilibatkan, maka materi yang disajikan mudah terlupakan karena peserta didik hanya mendengar saja.
b) Akibat peserta didik tidak aktif maka menjadi mengantuk, memikirkan yang lain-lain, atau mencari kegiatan-kegiatan lain seperti berbicara dengan teman yang lain atau mengganggu temannya.
2. Metode Diskusi ( Discussion Methode)
Diskusi merupakan situasi dimana diantara peserta didik, peserta didik dengan guru terjadi tukar menukar informasi, idea tau pendapat untuk memecahkan suatu masalah (Cruickshank, 2006). Tujuan diskusi adalah untuk mereviu apa yang telah peserta didik pelajari, mendorong peserta didik untuk merefleksikan ide mereka atau pendapat mereka, menggali isu-isu, memecahkan masalah dan meningkatkan keterampilan komunikasi secara langsung atau bertemu muka. Metode diskusi ada yang berupa diskusi umum atau diskusi kelas dan diskusi kelompok.
a). Metode Diskusi Kelas
Metode diskusi umum (diskusi kelas) bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/pengalaman diantara peserta sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan lain-lain.
b). Metode Diskusi Kelompok
Sama seperti diskusi umum, diskusi kelompok adalah pembahasan suatu topik dengan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan juga meningkatkan partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam diskusi yang lebih luas. Tujuan penggunaan metode ini adalah mengembangkan kesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu persoalan.Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengan diskusi pleno.
Metode diskusi yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ). Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/pengalaman diantara peserta didik, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta didik dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta didik lainnya. Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, per-mainan, dan lain-lain. Dalam proses belajar mengajar ada dua jenis diskusi yaitu: (a) diskusi terpimpin, guru yang memegang pimpinan diskusi, (b) diskusi tanpa pimpinan guru, jadi pimpinan diskusi dapat ketua kelompok atau salah satu peserta yang ditunjuk. Pada metode diskusi, maka tugas pimpinan / Ketua Diskusi adalah: (a) mengatur giliran bicara (bila diskusi panel); (b) menyebutkan nama peserta yang akan bertanya, menyanggah atau memberi saran lalu memberi kesempatan kepada yang bersangkutan; (c) merangkum, menyimpulkan, merumuskan pendapat yang telah diuraikan
Pada pembelajaran kimia, metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk : (a). mendorong peserta didik berpikir kritis. (b). mendorong peserta didik mengekspresikan pendapatnya secara bebas, (c). mendorong peserta didik menyum-bangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama, (d). Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama. Kelebihan metode diskusi sebagai berikut (a). Menyadarkan peserta didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan, (b). Menyadarkan peserta didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif, sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik, (c) membiasakan peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. Kelemahan metode diskusi sebagai berikut (a). tidak dapat dipakai dalam ke-lompok yang besar, (b) peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas, (c). dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara, (d). biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.
3. Metode Demontrasi ( Demonstration methode )
Metode demonstrasi digunakan untuk membelajarkan peserta didik dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan oleh guru atau pemandu kepada peserta didik. Berdasarkan tujuannya demonstrasi dapat dibagi menjadi dua:
1) Demonstrasi proses yaitu metode yang mengajak peserta didik memahami langkah demi langkah suatu proses;
2) Demonstrasi hasil yaitu metode untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses.
Metode demonstrasi di dalam pembelajaran IPA adalah metode dimana guru menyajikan suatu percobaan IPA di depan kelas atau di tempat yang dapat dilihat oleh seluruh peserta didik. Setelah mengikuti demonstrasi baik demonstrasi proses maupun demonstrasi hasil, peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat atau melakukan pengamatan sendiri apa yang didemonstrasikan.
Oleh karena itu, demonstrasi dapat berupa praktek yang diperagakan kepada peserta. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan yaitu (a) demonstrasi proses untuk memahami langkah demi langkah; dan (b) demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses.Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai hasil, peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat, melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.
Seorang guru yang melaksanakan metode demonstrasi harus melakukan hal-hal berikut;
1. Sebelum pelaksanaan
a. Menjelaskan tujuan yang akan dicapai dengan kegiatan tersebut
b. Membuat rencana, memilih sumber dan menjelaskan cara melakukan kegiatan secara terperinci
c. Mempersiapkan alat dan mengujinya, demikian juga bahan-bahan yang akan digunakan
2. Selama kegitan berlangsung
a. Menjawab pertanyaan peserta didik sehubungan dengan aktivitas yang berlangsung
b. Menjelaskan hal-hal yang kurang dipahami oleh peserta didik, misalnya ketika mendemonstrasi beberapa reaksi kimia antara logam alkalia atau alkali tanah dengan air menghasilkan gas letup.
3. Setelah kegiatan
a. Memberi kesempatan berdiskusi sebagai tindak lanjut dari aktivitas kegiatan demonstrasi.tersebut
b. Membawa peserta didik menyimpulkan dan mengevaluasi hasilnya
Guna memilih kegiatan demonstrasi ataukah praktikum/percobaan yang direncanakan untuk diberikan kepada peserta didik guru harus memperhatikan: (1) fasilitas yang dimiliki oleh sekolah, (2) proses/kegiatan yang berlangsung apakah cukup berbahaya hingga memerlukan pengawasan yang terus menerus dari guru, (3) yang digunakan sederhana atau rumitkah. Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi meliputi; (a) perhatian peserta didik dapat lebih dipusatkan. (b). Proses belajar peserta didik lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari. (c). Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri peserta didik. Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut: (a) membantu peserta didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda, atau suatu kegiatan percobaan, (b) memudahkan berbagai jenis penjelasan, (c) kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya. Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut (a) peserta didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan, (b) tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
4. Metode Ceramah Plus
Metode cermah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode (multimetode), yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya. Dalam hal ini penulis akan menguraikan tiga macam metode ceramah plus yaitu;
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT).
Metode ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Metode campuran ini idealnya dilakukan secar tertib, yait; (1). Penyampaian materi oleh guru, (2). Pemberian peluang bertanya jawab antara guru dan peserta didik, (3). Pemberian tugas kepada peserta didik.
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
Metode CPDT dilakukan oleh guru dalam upaya mengatasi kelemhadari metode ceramah murni, Metode CPDT ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill).
5. Metode Percobaan ( Experimental Method )
Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada peserta didik secara perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan, dalam hal ini kegiatan percobaan kimia. Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan alat dan bahan kimia tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali percobaan, sedangkan untuk pembelajaran kimia dilkasanakan di Laboratorium Kimia.
Kelebihan metode percobaan sebagai berikut; (a) Metode ini dapat membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku, artinya dapat memperkuat pemahaman konsep-konsep atau pengetahuan kimia. yang diterima di kelas, (b). Peserta didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi serta serta keterampilan tangan (Hand on), (c). Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Keunggulan-Keunggulan Metode Eksperimen
a) Fakta atau data yang diperoleh peserta didik secara langsung mudah diingat
b) Guru dapat berkeliling kelas sambil melakukan penilaian terhadap sikap dan psikomotorik
c) Melatih kerja sama pada diri peserta didik karena metode eksperimen di sekolah biasanya dilakukan secara berkelompok
Kelemahan-Kelemahan Metode Eksperimen
a) Memerlukan bahan dan alat praktik yang banyak
b) Kalau peserta didik tidak diawasi dengan baik kadang-kadang ada yang main-main di kelompoknya
c) Memerlukan waktu belajar yang lebih lama dari pada metode demonstrasi
Untuk menerapkan metode eksperimen pada pembelajaran IPA, ada beberapa persyaratan yang harus dilakukan, diantaranya :
- peralatan dan bahan yang tersedia dilaboratorium harus memadai untuk eksperimen;
- menggunakan bahan praktikum yang tidak berbahaya;
- menggunakan peralatan yang aman bagi keselamatan dan mudah digunakannya.
6. Metode Karya Wisata (Study Tour Method)
Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh guru dan diharapkan peserta didik membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh guru, yang kemudian dibukukan. Pada pembelajaran kimia, metode karya wisata dilakukan melalui kunjungan pada suatu pabrik atau industri berbasis proses kimia, misalnya karya wisata ke pabrik semen, pabrik pupuk, atau pabrik pembuatan gula.
Kelebihan metode karyawisata, diantaranyasebagai berikut (a) Karya-wisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran, (b). Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
(c). Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak. Dalam melaksanakan karyawisata, yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
(c). Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak. Dalam melaksanakan karyawisata, yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Sebelum pelaksanaan
a. Menyarankan obyek, menetapkan lama waktu penyelenggaraan karya wisata.
b. Menetapkan pejabat / jawatan yang harus dihubungi dan menyelesaikan kelengkapan administrative seperti surat ijin, pemberitahuan
c. Memperhitungkan jumlah peserta didik, alat-alat / kelengkapan yang perlu di bawa, menjelaskan teknik pengumpulan data, cara menyusun laporan dan memberi keterangan global atau secara umum mengenai obyek yang dikunjungi.
2. Pada waktu kegiatan berlangsung
a. Menemui pimpinan obyek sesampai di tempat tujuan
b. Mengadakan perkenalan, mohon penjelasan mengenai kegiatan yang ada di tempat tersebut
c. Selama berkeliling meninjau obyek, guru ikut melakukan observasi sambil mengawasi peserta didik
d. Selesai mengadakan observasi peserta didik dikumpulkan kembali untuk bertanya jawab dan mohon diri
e. Sebelum pulang mengecek perlengkapan dan daftar hadir
3. Tindak lanjut
a. Meminta peserta didik supaya berdiskusi mengenai hasil observasi yang mereka peroleh selama kunjungan ke industri atau pabrik.
b. Meneliti hasil laporan
Adapun kekurangan metode karyawisata, diantaranya sebagai berikut: (a) Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak., (b) Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang., (c) Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan. (d) Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan, (e) Biayanya cukup mahal, (f) Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.
8. Metode Latihan Keterampilan ( Drill method )
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar , dimana peserta didik diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat alat peraga kimia, media CD pembelajaran kimia, atau ke tempat industri pembuatan sabun.
Kelebihan metode latihan keterampilan sebagai berikut, diantaranya peserta didik dapat: (a) memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat, (b) memperoleh kecakapan mental dan berpikir, seperti dalam berpikir kritis dan kreatif, inovatif, memecahkan masalah, serta memupuk jawa kewirausahaan, (c) membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan berpikir dan bertindak. Kekurangan metode latihan keterampilan sebagai berikut (a) Menghambat bakat dan inisiatif peserta didik, karena peserta didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.; (b) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
(c). Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan membosankan., (d). Dapat menimbulkan verbalisme.
(c). Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan membosankan., (d). Dapat menimbulkan verbalisme.
9. Metode Tugas
Merupakan suatu cara mengajar dimana guru dengan peserta didik merencanakan bersama-sama suatu soal, problema atau kegiatan yang harus diselesaikan peserta didik dalam waktu tertentu.Dalam pembelajaran kimia metode tugas ini sering diterapkan dalam upaya memperdalam penguasaan konsep peserta didik, yaitu guru memberikan tugas pada peserta didik untuk menyelesaikan soal-soal kimia terkait pokok bahasan yang telah dipelajari. Metoda Tugas dapat digunakan untuk tujuan:
1. Membimbing peserta didik mempersiapkan diri mengenai materi pelajaran yang akan diberikan dengan cara mempelajari denagan baik
2. Memperluas bahan atau memperdalamnya karena keterbatasan waktu yang tersedia di kelas
3. Melatih tanggung jawab peserta didik sesuai dengan apa yang telah disepakati
Kelebihan Metode Tugas
a. Tugas yang diberikan mempunyai tujuan yang jelas dan dapat dimengerti.
b. Peserta didik memperolehpengalaman mengerjakan tugas
c. Hubungan guru dan peserta didik menjadi semakin akrab karena adanya keterbukaan guru menerima peserta didik berkonsultasi dalam menyelesaikan tugas
d. Guru dapat mengikuti perkembangan kemajuan peserta didik-peserta didiknya dari hasil pemantauan / monitoring kemajuan pengerjaan tugas tersebut.
Kelemahannya antara lain;
a. Guru mengalami banyak kesulitan dalam menyesuaikan tugas dengan kondisi individu masing-masing peserta didiknya
b. Peserta didik yang cerdas dan rajin akan maju pesat, tetapi yang lambat akan semakin tertinggal
c. Sulit bagi guru untuk ikut mengawasi / membimbing kegiatan peserta didik di luar jam pelajaran.
12. Metode Pemecahan Masalah ( Problem Solving Method )
Metode pemecahan masalah adalah suatu metode mengajar yang mana peserta didiknya diberi soal-soal, lalu diminta pemecahannya. Metode ini dapat merangsang dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berinisiatif sendiri mampu melakukan analisis dan sintesis terhadap persoalan yang dihadapi sehingga diperoleh penyelesaian.
Masalah merupakan keadaan suatu hal atau peristiwa yang harus kita ganti dengan suatu cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Pemecahan masalah dapat diartikan sebagai suatu proses dimana peserta didik dapat menggali dan memadukan aturan-aturan yang telah dipelajari sebelumnya sehingga dapat diterapkan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Jadi pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan yang kompleks dan termasuk tingkat tinggi dari proses mental seseorang. Pendapat lainnya menyatakan bahwa pemecahan masalah merupakan kombinasi dari gagasan yang cemerlang untuk membentuk kombinasi gagasan baru.
Kelebihan metode pemecahan masalah ini :
1. Mendidik peserta didik untuk berpikir logis, sistematis, melakukan analisis
2. Melatih peserta didik memilih alternative pemecahan yang paling tepat atau menguntungkan
3. Mendidik peserta didik mencari berbagai jalan keluar dalam menghadapi problema
Kekurangannya dari metode pemecahan masalah adalah (a) :Memerlukan waktu yang lama, (b) Sukar diterapkan pada kurikulum yang berpusat pada pelajaran (subject oriented).
13. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara untuk menyampaikan materi pelajaran didepan kelas dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab peserta didik pada saat itu juga. Pada pembelajaran kimia, misalnya guru menanyakan pada peserta didik mengapa senyawa makromolekuler karbohidrat sangat penting bagi tubuh?. Kelebihan dari metode tanya jawab ini adalah (a). Pertanyaan akan mendorong peserta didik memusatkan perhatian, (b). peserta didik dapat dengan cepat mengetahui kesalahannya dalam menjawab pertanyaan, (c). membiasakan peserta didik berani menjawab. Sedangkan kekurangan dari metode tanya jawab ini diantarnya adalah (a) peserta didik dapat dicekam ketakutan selama tanya jawab berlangsung, (b). tidak mungkin memberi pertanyaan kepada seluruh peserta didik di kelas bila jamnya terbatas, (c) mungkin hanya peserta didik pandai atau kelompok prestasi atas yang dapt menjawab pertanyaan, (d). jika waktu yang disediakan cukup, munkin peserta didik yang semula tidak dapat menjawab akhirnya dapat menjawab.
14. Metode Bermain Peran (Role Play Method)
Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk memerankan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap pemeran. Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam „pertunjukan‟, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
15. Metode Simulasi
Metode simulasi merupakan bentuk metode praktek yang sifatnya untuk mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek didalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang peserta didik sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan). Contoh lainnya, dalam sebuah pelatihan fasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar seakan-akan tengah melakukannya bersama kelompok dampingannya. Pendamping lainnya berperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan ditemui dalam keseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok, dsb.). Dalam contoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapi dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saa tmelakukan suatu kegiatan/tugas yang benar-benar akan dilakukannya. Untuk pembelajaran kimia metode simulasi jarang dilaksankan, sehingga tantangan bagi guru kimia untuk menerapkann metode ini.
16. Metode Permainan (Games Method)
Permainan (games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah „pemecah es‟. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme.
Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi dinamis (akrab), dan dari jenuh menjadi riang (segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat. Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses
Metode permainan dalam pembelajan dapat dilakukan untuk mengembangkan konsep atau untuk mengevaluasi. Permainan pada pembelajaran sebaiknya dirancang dahulu baik skenario maupun alat-alat permainannya.








