This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Geguyon. Show all posts
Showing posts with label Geguyon. Show all posts

Thursday, April 5, 2012

"PENJARA" KURIKULUM KITA

Sejarah telah menunjukkan bahwa anak-anak pada jaman Yunani Kuno telah menganggap sekolah sebagai suatu kegiatan yang mengasyikkan dan menyenangkan karena mereka dapat mempelajari berbagai hal yang ingin mereka ketahui diwaktu senggang. Hal ini mungkin membuat orang jaman itu menamainya dengan Sekolah. Sekolah yang dalam bahasa aslinya, yakni skhole, scola, scolae, atau schola berarti 'waktu luang' atau 'waktu senggang'. Waktu senggang ini digunakan oleh orangtua Yunani untuk menitipkan anaknya kepada orang yang dianggap pintar agar memperoleh pengetahuan dan pendidikan tentang filsafat, alam, dan lain sebagainya.
Realitanya sekarang ini sangat bertolak belakang dengan asal muasal sekolah di atas. Kebanyakan anak maupun remaja sekarang justru menganggap sekolah sebagai beban. Menurut pengalaman saya dulu ketika masih berstatus sebagai pelajar, institusi pendidikan seperti sekolah tidak mengajarkan hal-hal yang saya anggap menarik untuk saya pelajari, melainkan mengajarkan segala pelajaran yang ditentukan oleh kurikulum yang berlaku. Seakan-akan seluruh ajaran yang diajarkan sekolah terkurung oleh sistem kurikulum yang ada saat ini.
Hal ini tentu saja membawa berbagai efek buruk. Anak-anak yang ingin mengejar prestasi harus berusaha keras menguasai beban kurikulum yang didapat, bahkan sampai harus mengikuti berbagai les tambahan. Belum lagi ketika nanti sudah mencapai kelas 3 baik di SMP maupun SMA, anak-anak dituntut harus bisa menguasai seluruh pelajaran. Anak-anak remaja yang pasrah akan keadaan, seringkali berbuat hal yang buruk di luar jam sekolah seperti berkelahi/tawuran. Ini terjadi karena keengganan mereka untuk mempelajari hal-hal yang tidak mereka sukai. Bukan itu saja, dari pengalaman saya, tidak semua pelajaran yang saya dapat di sekolah dasar maupun menengah berguna bagi saya di perguruan tinggi, dan tidak semua pelajaran yang saya dapat di perguruan tinggi berguna di lapangan pekerjaan. Mengutip pernyataan Eka, kurikulum yang sangat tidak efektif, dan sangat banyak membuang waktu dan pikiran mengakibatkan Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang handal.
Alternatif Solusi
Teman saya menganalogikan seperti ini, seorang guru ekonomi mungkin tidak dapat menjelaskan rumus Newton yang paling sederhana. Begitu pula seorang guru fisika, mungkin tidak mengerti dan hafal apa yang disebut sebagai Hukum Gossen dalam ekonomi. Padahal mereka sama-sama mempelajari hal tersebut ketika masih di sekolah menengah. Jadi jika saya bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan fisika, haruskah saya mempelajari ekonomi sekolah menengah? Begitu pula sebaliknya, jika saya ingin menjadi ahli ekonomi, saya seharusnya tidak terlalu mendalami fisika.
Sistem pembelajaran yang dianut bangsa ini hingga saat ini adalah “Semakin dalam kita mempelajari, maka semakin sempit yang kita pelajari”. Artinya, makin tinggi pendidikan kita, makin kecil lingkup yang kita pelajari namun semakin dalam. Sistem yang seharusnya kita berikan dalam sistem pembelajaran kita adalah mempelajari lingkup yang kecil sejak dini, sehingga ketika lulus seorang murid memiliki spesialisasi yang hebat dalam lingkup yang ia pelajari, dengan tidak menyia-nyiakan kemampuannya. Jika sejak dini seorang murid diberikan pelajaran yang cocok dengan bakat dan kemampuannya dan dengan tidak memberikan beban pelajaran lain yang tidak sesuai dengan kemampuannya, maka sudah pasti murid tersebut akan merasa nyaman dan tidak seperti terpenjara pendidikannya.
Biarlah anak mempelajari fisika karena dia memang memiliki bakat dalam bidang fisika. Jika ia memiliki bakat dalam bidang ekonomi, biarlah ia mendalami ekonomi. Jika ia memiliki bakat dalam bidang olahraga, biarlah ia mendalami olahraga. Biarlah bakatnya yang menuntun ke arah mana dia harus menjalankan kehidupannya.
Disarikan dari berbagai sumber

Sunday, October 30, 2011

NASEHAT ABU NAWAS KEPADA RAJA


Suatu saat Raja Harun Ar-Rasyid menunaikan ibadah haji.
Ketika sampai di pusat kota Kuffah, tiba-tiba terlihat olehnya Abu Nawas sedang menaiki sebatang kayu berlarian ke sana kemari dan diikuti anak-anak dengan riangnya.
Wajah sang Raja mendadak menjadi sumringah dibuatnya. Matanya berbinar-binar karena begitu merindukan sosok Abu Nawas. Memang Abu Nawas sejak beberapa bulan terakhir meninggalkan kerajaannya sebagai bentuk protes atas ketidakadilan dan kesombongannya.

Sejak kepergian Abu Nawas itulah raja seperti mengalami kesepian. Tidak ada lagi orang yang diajaknya berdiskusi maupun hanya sekedar bercanda. Karena itu Raja sangat gembira begitu melihat sosok Abu Nawas.


Dirindukan Raja.
Karena sangat penasaran, Raja Harun Ar-Rasyid kemudian bertanya kepada para pengawalnya.
"Siapa dia?" tanya Raja.
"Dia si Abu Nawas yang gila itu," jawab salah seorang pengawalnya.
"Coba panggil dia kemari, tanpa ada yang tahu, dan sekali lagi aku peringatkan kamu jangan berkata yang buruk lagi tentang dia, perintah Raja Harun.
"Baiklah wahai Rajaku," jawab pengawal.

Tidak berapa lama kemudian para pengawal berhasil membawa Abu Nawas ke hadapan Raja. Abu Nawas diperkenankan duduk di hadapan Raja.
"Salam bagimu wahai Abu Nawas," sapa Raja Harun Ar-Rasyid.
"Salam kembali wahai Amirul Mukminin," jawab Abu Nawas.
"Kami merindukanmu wahai Abu Nawas," kata Raja Harun Ar Rasyid.
"Ya, tetapi aku tidak merindukan Anda semuanya," jawab Abu Nawas dengan ketus.

Beberapa pengawal kerajaan spontan saja akan mencabut pedang dari sarungnya untuk memberikan pelajaran kepada Abu Nawas yang tak mampu menjaga perkataannya di hadapan raja, sang pemimpin. Akan tetapi niat tersebut dicegah sendiri oleh Raja Harun Ar-Rasyid.
"Wahai Abu Nawas, aku merindukan kecerdasanmu, maka berilah aku nasihat," pinta Raja.
"Dengan apa aku menasehatimu, inilah istana dan kuburan mereka," kata Abu Nawas.
"Tambahkan lagi, engkau telah memberikan nasihat yang bagus," ujar raja mulai bersemangat.
"Wahai Amirul Mukminin, barang siapa yang dikarunia Allah SWT dengan harta dan ketampanan, lalu ia dapat menjaga kehormatannya dan ketampanannya, serta memberikan bantuan dengan hartanya, maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang shaleh," kata Abu Nawas.

Pemimpin Adil dan Bijaksana
Raja Harun Ar-Rasyid begitu senang mendapatkan nasihat itu. Ia kemudian mengira Abu Nawas menginginkan sesuatu darinya.
"Aku telah menyuruh para pengawalku untuk membayar hutangmu," kata Raja.
"Tidak Amirul Mukminin, kembalikan harta itu kepada yang berhak menerimanya. Bayarlah hutang diri Anda sendiri," kata Abu Nawas.

Namun Raja Harun tak menyerah begitu saja. Ia kemudian mempersiapkan hadiah khusus pada Abu Nawas.
"Aku telah mempersiapkan sebuah hadiah untukmu,"katanya.
"Wahai Amirul Mukminin, apakah Paduka berfikir bahwa Allah hanya memberikan karunia kepada Anda dan melupakanku," jawab Abu Nawas yang segera pergi dari hadapan raja.

Perlakuan itu membuat sang Raja merenung sambil mengevaluasi dirinya sendiri.
Raja Harun sadar kalau selama ini dirinya kurang adil dan berlaku sombong dengan jabatannya sehingga mudah meremehkan orang lain. Usai mendapat nasihat dari Abu Nawas, Raja Harun berubah menjadi raja yang adil dan bijaksana kepada rakyatnya.

[Abu Nawas memberikan nasihat berupa sedikit sindiran, namun sang raja tidak tersinggug, atau marah atau bahkan memenjarakan Abu Nawas. Raja malah merenung dan terus merenungi apa gerangan kesalahan yang telah dia buat selama memimpin kerajaan.
Salut untuk Raja Harun Ar-Rasyid yang telah menerima kritikan dari rakyat kecil.]
· · Bagikan


  • 681 orang menyukai ini.
  • 114 kali dibagikan
  • 50 dari 124

    • Ir Cinlus coba syb ky gtuh...
      5 Oktober 2011 pukul 18:48 ·

    • Rudolf Pardede Akupun sering berbuat kekeliruan,kesombongan dan ketidak pedulian.Ampuni aku Tuhan.Ajar aku mampu berbuat baik terhadap diriku dan sesamaku manusia.
      5 Oktober 2011 pukul 19:12 · · 2

    • Rudolf Pardede Melakukan kebaikan,kadang menunjukkan kemampuan.Jika benar aku melakukan kebaikan berarti memuliakan diriku dikemudian hari.Tapi jika aku melakukan kebaikan supaya dipuji orang maka aku tak dapat kemuliaan dihari kemudian kelak.
      5 Oktober 2011 pukul 19:16 ·

    • Endro Sukmono Apa jadinya ya jika di Indonesia, Pemimpinnya seperti Harun Ar Rasyed, dan rakyatnya seperti Abu Nawas. Jelas Indonesia akan menjadi Negeri Dongeng.
      5 Oktober 2011 pukul 22:43 ·

    • Suhandi Zarkasih Sekarang saja sudah jadi negeri Dongeng Mas, ada yang di penjara,, bisa jalan - jalan ke Bali, jadi oknum 2 bulan tugas bisa bangun Gubuk Istana, katanya gaji tidak cukup tapi hidupnya seperti bangsawan, wah banyak lagi Mas dongeng yang lain...yang hebatnya,, Indonesia banyak hutang, para pejabat masih saja Korupsi.....
      5 Oktober 2011 pukul 23:07 · · 2

    • Endang Muchlish Abu Nawas sami sareng si Kabayan di tatar Sunda
      6 Oktober 2011 pukul 8:09 ·

    • Moch Ifhan coba ABU BAMBANG Gtuu...
      7 Oktober 2011 pukul 11:15 · · 1

    • Fitria Agustin jadi pemimpin kita seperti itu?? tdk melulu berkata prihatin aja tanpa tindakan...
      7 Oktober 2011 pukul 20:44 ·

    • Ali Ridlo semoga ada pemimpin seperti HARUN AL-RASYID di jaman ini.
      8 Oktober 2011 pukul 3:32 ·

    • Manis Slank Coba pemimpinxa Pintar.... jd bisa berfikir sperti abu nawas
      8 Oktober 2011 pukul 17:14 ·

    • Ridwan Arief Piskaf Pmimpin2 kita disindir kasar saja tidak mempan/pura2 g'tau apalagi halus...? hmmmm..
      14 Oktober 2011 pukul 7:19 ·

    • Andi Widada itulah indonesia.....????
      15 Oktober 2011 pukul 14:02 ·

    • Muchamat Wahjudi
      Dalam kehidupan sehari - hari , disekitar kita . Masih banyak orang yang belum bisa menerima Kritik , sekalipun itu membangun . Beda pendapat selalu disikapi dengan ANTIPATI , Dan menempatkan orang yang pendapatnya tidak sama dengan kita se...Lihat Selengkapnya

      16 Oktober 2011 pukul 20:53 · · 2

    • David Rinaldi ah biasa aja ceritanya
      28 Oktober 2011 pukul 13:30 ·

    • Gandung Widayaka Negara yg asyeek.,rajany enjoy ngobrol sama rakyat jelata.,Indonesia??

      30 Oktober 2011 pukul 11:47 ·

    • Sabar Nakal hem..
      1 November 2011 pukul 19:59 ·

    • Ilham Hoedrawi hal yang mungkin tidak akan dijumpai di zaman sekarang ini..... terlebih di INDONESIA kita TERCINTA...
      5 November 2011 pukul 11:55 ·

    • Nastiti Dewi kawan, bisa jadi sulit diperoleh, tetapi jangan putus asa dengan kasih Allah, suatu saat Indonesia akan punya pemimpin seperti Yang mulia Harun Al-Rasyid
      7 November 2011 pukul 8:37 ·

    • Nastiti Dewi Mulailah dari diri sendiri, bisa kah kita mencontoh nabi SAW atau paling tidak Harus Al Rasyid, paling tidak untuk keluarga, RT, RW, kecamatan dan .......lama2 untuk INDONESIA.
      7 November 2011 pukul 8:41 · · 1

    • Gus Rifa'i abu nawas yg anda cari ? dia telah ada tidak jauh dari kita, mau tahu ?? ntar ya!!!! kutunggu !!!
      8 November 2011 pukul 16:15 ·

    • Ester B Pasago Kapan ya, para pemimpin negara kita ini bisa seperti sang raja? Belajar dr nasehat "orang kecil"?
      10 November 2011 pukul 19:59 ·

    • Ahmad Rifa'i hahahahahahahahah.......................
      11 November 2011 pukul 9:07 ·

    • Deden Kurniawan setiap orang adalah pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri.....pertanyaannya sudahkah kita menjadi Harun Al Rasyid??
      12 November 2011 pukul 4:52 ·

    • Om Hast cerita....cerdas..........kena sasaran
      13 November 2011 pukul 21:30 ·

    • Abii Mudah-mudahan Dapat Hidayah Mudah2an raja kita juga suka membaca ini.....
      26 November 2011 pukul 9:38 ·

    • Tomy Smansa Blora Kita memang butuh "presiden Harun Al Rasyid" dan "Abunwas" untuk mengatur negeri tercinta ini.
      18 Desember 2011 pukul 2:01 ·

    • Kidam Muamar gus dur=abu nawasnya indonesia
      21 Desember 2011 pukul 1:46 ·

    • Rifan Tirex setuju,,
      5 Januari pukul 13:06 ·

    • Dibyo Hadi Padmono itu letak lucunya dimana y???
      6 Januari pukul 4:30 ·

    • Zuki Ega yang merasa hrus intropeksi diri,..
      13 Januari pukul 8:33 ·

    • Kunto Budi Tjiptono kalau spt Abunawas pasti banyak...ttp yang seperti raja Harun apa msh ada?
      27 Januari pukul 17:40 · · 1

    • Lika-Liku Laki laki UNTUK RAJANYA OTAKNYA CEPAT TANGGAP DAN BERHATI BAIK, klau sekarang pura2 budek,dan pura2 bego
      31 Januari pukul 12:43 ·

    • H Hoirul Aly Wafa sip terrong gosong
      3 Februari pukul 17:45 ·

    • Danang Sastra Wijaya pelajaran yg sangat bagus utk kita smuanya
      7 Februari pukul 17:57 ·

    • Abdulkarim Kerwanto Kayaknya cerita Abu Nawas dan Raja Harun harus diteliti dulu keontetikannya... Dalam Sejarah selalu ada 2 sisi (baik dan buruk).. BIsa jadi kisah keemasan Harun Rasyid bersisi dua, mengingat semasanya terjadi pemberontakan2 yang begitu dahsyatnya.. bahkan ia meninggal kala membasmi pemberontakan kaum muslimin.. Anehkan??
      16 Februari pukul 12:35 ·

    • Ingot Simangunsong Tidak perlu diteliti....ambil saja sisi baiknya dari cerita ini
      19 Februari pukul 17:06 ·

    • H-Ma'ruf Ppmu Putra byk sekali cerita abu nawas lucu dan nasehat buat raja harun Alrasyid,
      26 Februari pukul 23:09 ·

    • Muslimm Mudzakirr kaca bagi pemimpin/penguasa negeri ini,
      27 Februari pukul 6:38 ·

    • Ryna Cyueety cerita 1001 malam....
      2 Maret pukul 0:15 ·

    • Iam Ikliel andaikata para pemimpin kita spt raja harun al rosyid...
      3 Maret pukul 10:08 ·

    • Kartono Hardjoprawiro Kartono Suatu nasehat yang patut kita jadikan cermin
      11 Maret pukul 5:44 ·

    • Yuarto Setiawan Wawan sekarang banyak yang Ndableg, disindir juga nggak akan ngrasa
      17 Maret pukul 13:39 ·

    • Watiman Fajar Coba di Negeri kita ada pemimpin yang seperti itu.
      17 Maret pukul 20:56 ·

    • Al Iraani Juanda negrei kita jauh dari kata kata gusdur gitu aja kok repot
      18 Maret pukul 22:45 ·

    • Menj Azrial cerita ini rada mirip dengan kisah Bahlul Rahmatullah 'alaihi dalam kitab Fadhilah Sedekah (maulana Zakaria Al-Khandalawi)..kisah ini sangat baik bt qt terutama bg pemimpin pemerintah...smoga bermanfaat..amin...
      20 Maret pukul 8:53 ·

    • Aryansyah Andi ‎:)
      8 April pukul 12:04 ·

    • Hasyim Asngari Kalo bukan Gus Dur gak iso koyo ngono.
      Selasa pukul 10:07 ·