This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Facebook. Show all posts
Showing posts with label Facebook. Show all posts

Saturday, March 24, 2012

Jejaring Sosial Untuk Pembelajaran

Pertama, seiring dengan dinamika masyarakat global yang kian terbuka, akses terhadap informasi juga makin cepat dan mudah. Para praktisi pendidikan yang notabene menjadi agen pembelajaran juga mesti bersikap proaktif dan terlibat sebagai “pemain” di dalamnya, tidak hanya sekadar jadi penonton. Dunia virtual yang menyajikan informasi tanpa dibatasi dimensi ruang dan waktu bisa dioptimalkan untuk peningkatan mutu pembelajaran. Sumber-sumber dan bahan pembelajaran yang aktual dan menarik bisa dengan mudah didapatkan melalui internet. Bahkan, guru juga bisa memanfaatkan blog dan media sosial yang belakangan ini sedang mengalami masa “euforia” di ranah virtual untuk kepentingan pembelajaran. Berbagai kemudahan yang ditawarkan ruang maya bagi para pengguna, baik dalam soal akses, manfaat, partisipasi, maupun kontrol,blog, misalnya, bisa dioptimalkan sebagai “laboratorium virtual” untuk kemajuan dunia pendidikan yang sangat besar manfaatnya bagi peserta didik, guru yang bersangkutan, maupun sesama rekan sejawat. Melalui blog, sesama guru, gurudan murid, guru dan siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan bisa saling berinteraksi tanpa dibatasi sekat ruang dan waktu. Blog bisa dioptimalkan untuk unjuk kinerja guru dalam menyajikan berbagai persoalan dan pernak-pernik dunia pendidikan, sehingga mesin pencari makin ramah terhadap masalah-masalah pendidikan yang hingga saat ini masih menyisakan banyak problem dan tantangan.

Kedua, siswa pun bisa diajak ikut-serta untuk memanfaatkannya. Tentu saja, dibutuhkan keteladanan dan pendampingan sang guru. Bagaimana mungkin kita bisa memotivasi siswa kalau sang guru tidak pernah bersentuhan dengan ruang maya? Jika pendidik dan peserta didik sama-sama bisa hadir di ruang maya, mereka bisa berinteraksi secara intens, sehingga berbagai masalah yang terkait dengan pembelajaan bisa terjembatani. Siswa terpacu untuk melakukan “browsing” materi pembelajaran untuk menumbuhkembangkan potensi dirinya, sementara itu sang guru juga akan terpacu “adrenalin”-nya untuk meng-upgrade diri dengan mengikuti berbagai perkembangan informasi sesuai dengan bidang keilmuan yang digelutinya.
Ketiga, jejaring sosial semacam facebook atau twitter kini bagaikan “primadona”. Ratusan juta orang telah memiliki akun ini. Dalam situasi demikian, mengapa tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran? Melalui facebook, misalnya, seorang guru bisa membuat group tertutup untuk kelas-kelas yang diajarnya. Pada wall group bisa di-update status yang berkaitan dengan materi pembelajaran, seperti tugas-tugas, PR, pembahasan materi, acara kelas, dan semacamnya. Siswadiberikan keleluasan untuk memberikan repson dan jawaban tanpa meninggalkan nilai-nilai kesantunan. Dari jejaring sosial semacam inilah anak-anak bisa terus belajar secara “informal” tanpa harus dibatasi tembol ruang kelas. Twitter, meski hanya dibatasi 140 karakter, tidak lantas berarti guru dan murid tidak bisa nge-tweet secara smart dan cerdas. Informasi-informasi penting yang berkaitan dengan pembelajaran bisa di-share lewat Twitter sehingga memiliki jangkauan publikasi yang jauh lebih luas. Baik Facebook maupun Twitter sama-sama merupakan jejaring sosial yang bisa dimanfaatkan untuk menjalin interaksi, berbagai informasi, dan bersilaturahmi dengan banyak orang, termasuk dalam pembelajaran. Bedanya hanya batasan jumlah karakter ketika ketika melakukan update status. Saya juga mengutipkan cara yang cerdas dari seorang guru dalam ber-facebook ria ala Internet Sehat berikut ini.
Do:
1.       Pisahkan halaman (page) Facebook pribadi dengan halaman yang dibuat sebagai seorang guru.
2.      Jika seorang murid ingin berteman di Facebook, tempatkan di halaman guru.
3.      Postinglah foto-foto tentang sekolah/pelajaran/perjalanan. Hal ini akan mengingatkan murid akan hal-hal yang terkait dengan sekolah.
4.      Buat group untuk kelas yang diajar. Dengan group tersebut, doronglah murid-murid untuk bertanya mengenai PR sekolah. Bantu mereka dengan mengadakan diskusi dan group wall. Identitas dan rasa memiliki sangat penting dalam proses belajar.
5.      Pastikan group yang dibuat dalam keadaan tertutup, sehingga orang harus me-request dulu sebelum bergabung di group tersebut. Dengan langkah ini, guru bisa memilih dengan bijak siapa-siapa saja yang boleh bergabung.
6.      Bergabunglah dengan group-group lain yang terkait dengan sekolah. Hal ini bisa membuat guru mengetahui apa yang diposting oleh para murid.
7.      Postingan yang dibuat sebaiknya bernilai positif.
8.      Gunakan layanan status untuk menginformasikan para murid tentang kebijakan di sekolah.
9.      Bermain game-game sederhana bersama para murid di Facebook bisa mempererat hubungan guru-murid.
10.   Jika murid kita ada yang berulang tahun, jangan segan-segan mengucapkannya di Facebook. Ini menunjukan kepedulian kita.
Don’t:
1.       Jangan ngobrol di FB chat untuk menghindari tuduhan yang tidak mengenakkan. Selain itu, kita tidak bisa menyimpan jejak chat yang kita lakukan.
2.      Jangan meng-add murid-murid kita terlebih dulu.
3.      Jangan mengirimkan pesan (message) pada mereka, kecuali untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Pastikan semuanya terbuka dan bisa dibaca siapa saja. Jika mereka mengirimi pesan di message, balas saja di wall.
4.      Jangan melihat foto-foto murid-murid kita, kecuali profile picture. Jika kita melihat foto yang tidak pantas dan melaporkannya, hal ini akan merusak hubungan guru dengan murid. Facebook bukanlah tempat untuk memonitor, dekati murid secara personal untuk memberitahukannya.
5.      Jejaring sosial di sekolah bukan ajang untuk kritik. Dengan kehadiran kita sebagai guru, usahakan untuk merepresentasikan kepemimpinan dan moral.
Keempat, guru, menurut PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (pasal 28) merupakan agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dengan menguasai empat kompetensi seperti itu, guru diharapkan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam memangku jabatan gurusebagai profesi. Blog dan jejaring sosial bisa dimanfaatkan untuk mengoptimalkan kompetensi profesional guru. Jika eksitensi blog guru terus hadir di ranah virtual, bukan mustahil dunia pendidikan kita akan semakin kaya berkat sentuhan paraguru dalam menyajikan postingan-postingan terbaik. Dengan demikian, blog gurubisa dijadikan sebagai portofolio rekam jejak guru dalam memberikan pengabdian terbaik buat bangsa dan negara melalui jagat virtual. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh internet, yang bisa diakses oleh siapa pun secara lintas-geografis, lintas-usia, dan lintas-budaya, diakui atau tidak, telah membuat dunia pendidikan makin dinamis dan progresif. Para pengunjung akan makin dimudahkan dalam mencari rujukan yang terkait dengan masalah keilmuan,pembelajaran, atau fenomena-fenomena pendidikan mutakhir yang lain. Karena tugas utamanya adalah mendidik dan mengajar, tentu saja sang guru harus pandai-pandai mengatur waktu, sehingga tugas utamanya tidak terganggu aktivitas ngeblognya. 24 jam dalam sehari lebih dari cukup bagi sang pendidikuntuk melakukan aktivitas keseharian (online dan offline), istirahat, atau mengurus keluarga.
Kelima, belajar, termasuk memanfaatkan internet untuk kemajuan dunia pendidikan, tidak bergantung pada usia. Sepanjang sang guru memiliki niat, gairah, dan semangat untuk meningkatkan literasi TIK-nya, bukan halangan di usia berapa pun untuk ber-internet ria. Atmosfer seperti ini yang perlu terus ditumbuhkan sehingga sang pendidikan mampu mendesain pembelajaran secara secara aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Mengakrabi piranti TIK juga sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan budaya.
Pilihan sudah membentang di depan mata. Mau menjadi “guru kurikulum” yang tugas dan rutinitas kesehariannya dibatasi empat tembok ruang kelas atau menjadi “guru inspiratif” yang mampu mengilhami peserta didik menjadi generasi masa depan yang cerdas, baik secara intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual, dengan mendesain pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi virtual? 

Friday, January 6, 2012

Facebook and Education : the Pros and Cons

Facebook, the popular social networking website, was the topic of discussion at the first Teaching and Learning with Technology Speaker Series session of 2009. Originally launched in 2004, by a Harvard student, Facebook began as a social networking website created exclusively for post-secondary students. Currently, Facebook has over 150 million active users worldwide, and has expanded to allow anyone with a valid email address to sign up. As it has gained in popularity, Facebook has become one of the main communication tools used by university students to stay in touch with friends, organize events, and connect with classmates.


Pro: Students and Educators use Innovative Strategies on Facebook

Social software tools such as weblogs and wikis are already being used for educational purposes at UBC, but can Facebook be used in an academic setting? Philip Jeffrey, an Interdisciplinary Studies graduate student, brought forth a few examples of how Facebook has been used by students and educators to quickly inform and communicate with others in the larger community. Philip found out about the potential closure of the UBC Aquatic Centre weight room through a friend on Facebook. Partly due to awareness-raising on Facebook, a grassroots movement formed that eventually over-turned the administration’s decision to close the gym. Recently, a York University anti-strike group has formed and, with over 4,500 members, the Facebook page has become a place where people go to get the latest information about the strike. Some universities are even using Facebook to recruit students.

Cyprien Lomas, Director of the Learning Centre in Land and Food Systems, added another example of how the Faculty’s student advising office is using Facebook to connect with and inform students. According to Cyprien, “the interesting difference with using Facebook is that often students will take pieces of information and then repeat it back to their own constituent groups…students [are] mentoring and advising other students on affairs that matter to them and also matter to us.”

Cyprien also discovered that some students are using the site to facilitate online discussion groups. Even though students have access to WebCT Vista, and can use its discussion forum to interact with other students, some are choosing to use Facebook because it is their preferred place to communicate online. Students themselves say “well, why don’t we put it in a place where we know it’s going to work…and move it into Facebook?” Cyprien notes that “whether or not we like it…we may see more and more examples of this,” which is of concern because many Facebook users are not aware of the privacy issues related to the popular social networking tool.


Con: Privacy Concerns - Is Facebook Right for the Classroom?

Questions were raised from the audience about whether Facebook can be used in the classroom for academic purposes. The third member of the panel, Humanities and Social Sciences Librarian Sheryl Adam, raised concerns over the disclosure of personal information on the site. “Can we require that students be involved in something that requires them to put personal information on a server in the United States? I don’t think so,” asserts Sheryl. A larger discussion broke out amongst the audience, and the room came to a general understanding that if you expect students to interact with you or your Facebook group for a course, then you are requiring them to be involved in something that they may or may not know a whole lot about. For instance, users might not know that when using an application in Facebook, they are allowing the application to collect data from their Facebook profile. Philip notes that there is a “higher level of trust” amongst friends on Facebook, which may lead many to overlook the fact that if they are not careful with their privacy settings and use of applications, they might be disclosing personal information to complete strangers.

You also cannot require a student to use Facebook, as not all of them will want to share their personal information with their classmates and instructor. If there is any UBC-sanctioned involvement using a tool that stores data in the United States, there has to be an option for the students to preserve their anonymity. The fact that this is not possible with Facebook (which has its servers located in the United States) raises a bigger issue: users should be concerned with how secure the service is, where the data sits, who owns the content, and how it is being used. Cyprien notes that this is not just a Facebook issue, but a general IT issue. “If you ask me how secure Facebook is, I would say not secure enough if you are worried about it,” remarks Cyprien.

Even though many students are using Facebook to communicate with their peers, it does not necessarily mean that they will want to use Facebook in an educational setting. Sheryl originally joined Facebook to communicate with her students in a space that is comfortable for them. However, she has discovered that students have not communicated with her on Facebook, but are instead using other forms of communications such as email, telephone, and MSN Messenger. For Sheryl, Facebook “seems like the wrong place for a professional-student relationship. It seems to be more [for] peer-to-peer relationships.”

Another drawback of using Facebook in the classroom is that students will have to go to another location (other than WebCT Vista) to access their course information. Sheryl points out that this fragmentation of course information is “a big disservice no matter how convenient the communication piece.” She points to the advantages of WebCT Vista, which centralizes information and allows students to access course materials “all in one house.”

So What Now?

Some attendees said that they would like to see more centralized resources and guidance to inform students, faculty, and staff about social networking tools (like Facebook) in order to build awareness of privacy concerns and the pros and cons of their use. Attendees also thought that members of the UBC community need to be educated about these tools. Infoation resources, such as the Digital Tattoo Project (which Sheryl is a part of), have been created to educate students, faculty, and staff about online usage, but still more needs to be done.

Cyprien suggested that we could start leveraging connections at other schools to come to a solution for a broader community. If UBC is struggling with this issue, other educational institutions must be too. It was here that Sheryl offered up the example of RefWorks, which used to be hosted on an American server. To address privacy concerns, a consortium of Canadian libraries banded together to move RefWorks data onto a Canadian server. Such a consortium could be beneficial when addressing the use of social networking tools in an educational setting, eventually helping UBC solidify a strategy for addressing issues that arise with the increased popularity of these tools.