This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Tuesday, January 22, 2013
CARA SUKSES BELAJAR FISIKA
CARA SUKSES BELAJAR FISIKA
Banyak orang
yang mengeluhkan tentang mata pelajaran Fisika yang sulit untuk dipahami.
Bahkan ada sebagian orang yang menganggap bahwa fisika itu menakutkan. Akhirnya
seringkali muncul beberapa pertanyaan dari para pembelajar fisika, seperti “Bagaimana
sih, supaya bisa Fisika ?” atau sering juga berbunyi “Fisika itu sulit
ya ?” Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu sering dilontarkan oleh sebagian
pelajar yang menganggap Materi Fisika sebagai pelajaran yang sulit.
Sebenarnya, belajar materi Fisika itu sama saja dengan belajar mata
pelajaran lainnya, yang membedakan hanyalah bidang yang dipelajarinya. Bagi
kalian yang merasa kesulitan dalam belajar Fisika dalam tulisan ini ada sedikit
tips atau saran yang bisa anda coba untuk menjadikan Fisika yang awalnya sulit
menjadi lebih mudah. Bagaimana caranya? Perhatikan uraian berikut tentang
Cara Sukses Belajar Fisika:
A. Pahami terlebih dahulu konsepnya
Dalam Fisika anda harus paham apa sih yang akan dipelajari? Apa
kegunaannya? Ada tidak relevansinya dengan kehidupanmu? Karena belajar Fisika
bukan hanya dengan cara menghafal rumus-rumus. Rumus Fisika itu punya makna dan
cerita di baliknya. Oleh sebab itu, pahami alur rumus dari konsep awal sampai
menjadi rumus akhir. Tujuannya adalah supaya anda mengerti dari mana
rumus-rumus itu berasal, semenjak konsep yang mendasarinya sampai menjadi rumus
akhir, kecuali beberapa rumus yang sudah merupakan definisi dan rumus ini
biasanya sangat sederhana.
Setelah mengerti rumus tersebut maka akan sangat mudah untukmu menghapal
rumus tersebut. Ingat, konsep itu tidak bisa dihafal, konsep hanya bisa
dipahami. Oleh karena itu, untuk memudahkanmu memahami konsep, cobalah buat
sebuah peta konsep. Peta konsep adalah rangkuman yang anda bikin mirip peta
untuk menunjukkan posisi sub pokok bahasan. Dengan membuat peta konsep anda
akan lebih mudah mendefinisikan posisi pemecahan masalah dengan benar. Dengan
memahami konsep secara baik dan benar anda dapat menjelaskan berbagai hal dalam
kehidupan sehari-hari yang berkaitan denan ilmu Fisika. Dengan memahami konsep
secara baik dan benar rumus-rumus yang sulit dengan sendirinya akan terpahami
dengan mudah.
B. Mulailah dari tingkat yang paling dasar
Biasanya rumus-rumus Fisika di buku yang kelihatannya sangat rumit
sebenarnya berasal dari konsep yang sederhana. Misalnya konsep tentang gaya
atau tentang energi, yang diturunkan menjadi rumus akhir yang dibutuhkan.
Pelajari konsep-konsep tersebut dahulu sebelum pergi ke rumus akhir. Pelajari
konsep-konsep secara berurutan sehingga anda dapat memahami alur dan kesaling
berkaitan di antara konsep tersebut
C. Rajin Berlatih Mengerjakan Soal
Hal utama yang perlu diperhatikan dalam mempelajari Fisika adalah sesering
mungkin berlatih mengerjakan soal. Kalau anda sering mengerjakan soal Fisika
dengan sendirinya rumus-rumus akan selalu teringat sekaligus anda juga akan
semakin memahami konsep Fisika. Dalam mengerakan soal, usahakan anda harus bisa
mengetahui maksud dan arah pertanyaan dari soal tersebut. Artinya pahami soal
dan ketahui apa yang ditanyakan. Dengan begitu, maka anda lebih mudah dalam
mengerjakannya. Ingat kerjakan soal dari yang termudah dahulu ya,… setelah soal
yang mudah ditaklukkan baru lanjut ke soal yang lebih sulit. Pada saat anda
mengerjakan latihan soal yang terdapat jawaban dan pembahasan dari soal
tersebut, meskipun sangat menggoda janganlah terburu-buru untuk melihat
pembahasannya tapi cobalah untuk mengerjakan soal tersebut secara mandiri.
D. Melangkah ke level soal yang lebih sulit
Cobalah mulai mengerjakan soal dengan level soal-soal yang lebih sulit atau
bervariasi. Keberhasilan kita menaklukkan soal dengan tingkat kesulitan yang
lebih tinggi akan membawa suatu kenikmatan yang berbeda. Buatlah coretan atau
gambar yang mudah anda pahami atas soal yang anda baca. Coretan boleh dalam
bentuk gambar atau catatan yang penting bisa anda pahami. Gambar dan coretan
itu bisa membantu logika dalam memahami soal.
E. Lebih baik lagi jika Belajar dilakukan bersama
Terkadang jenuh dan pusing jika belajar sendiri, cobalah cari teman belajar
yang lebih memahami Fisika untuk berdiskusi. Kadang dengan berdiskusi kita akan
lebih memahami konsep-konsep Fisika yang sedang kita pelajari.
Sebenarnya tidak salah memang jika ada yang beranggapan bahwa Fisika itu
sulit. Semoga dengan hadirnya tulisan tentang Cara Sukses Belajar Fisika
ini, dapat sedikit membantu kesulitan itu. Tetapi saya hanya ingin mengatakan
bahwa Fisika itu sulit, tapi Indah...!!!
Di edit dari engineeringtown.com
Friday, January 18, 2013
PENYUSUNAN KISI - KISI SOAL
Sebentar lagi dunia pendidikan akan punya gawe besar yaitu kegiatan Ujian sekolah, Ujian Praktek dan terakhir adalah Ujian Nasional yang semua memerlukan adanya soal dan juga kunci jawabannya. Bahwa pembuatan soal itu memerlukan beberapa langkah langkah yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik ( Guru ) diantaranya adalah penulisan kisi - kisi soal. Penulisan kisi-kis soal adalah kerangka dasar yang dipergunakan untuk penyusunan soal dalam evaluasi proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan kisi-kisi soal ini, maka seorang guru dengan mudah dapat menyusun soal-soal evaluasi. Kisi-kisi soal inilah yang memberikan batasan guru dalam menyusun soal evaluasi. Dengan kisi-kisi penulisan soal maka tidak akan terjadi penyimpangan tujuan dan sasaran dari penulisan soal untuk evaluasi penulisan soal. Guru hanya mengikuti arah dan isi yang diharapkan dalam kisi-kisi penulsan soal yang dimaksudkan.
Dalam penulisan kisi-kisi soal, guru harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Nama sekolah
Nama Sekolah ini menunjukkan tempat penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang akan
dievaluasi proses pembelajarannya. Ini merupakan identitas sekolah.
2. Satuan pendidikan
Satuan pendidikan menunjukkan tingkatan pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan dan
akan dievaluasi. Satuan pendidikan ini misalnya SD, SMP, SMA/SMK.
3. Mata Pelajaran
Mata pelajaran yang dimaksudkan dalam hal ini adalah mata pelajaran yang akan dibuatkan kisi-kisi soal
dan dievaluasi hasil belajar anak-anak. Misalnya Matematika.
4. Kelas/semester
Kelas/semester menunjukkan tingkatan yang akan dievaluasi, dengan menvantumkan kelas atau semsester
ini, maka kita semakin tahu batasan materi yang akan kita jadikan soal evaluasi proses.
5. Kurikulum acuan
Seperti yang kita ketahui model kurikulum di negeri ini selalu berganti, akhirnya ada tumpah tindih antara
kurikulum yang digunakan dan kurikulum baru. Untuk hal tersebut maka kita informasikan kurikulum yang
digunakan dalam penyusunan kisi-kisi penulisan soal. Misalny, KTSP.
6. Alokasi waktu
Alokasi waktu ini ditulis sebagai penyediaan waktu untuk penyelesaian soal. Dengan alokasi ini, maka kita
dapat memperkirakan kesulitan soal. Dan jumlah soal yang harus dibuat guru agar anak-anak tidak
kehabisan waktu saat mengerjakan soal.
7. Jumlah soal
Jumlah soal menunjukkan berapa banyak soal yang harus dibuat dan dikerjakan anak-anak sesuai dengan
jatah alokasi waktu yang sudah dikerjakan untuk ujian bersangkutan. Dalam hal ini guru sudah
memperkirakan penggunaan waktu untk masing-masing soal.
8. Penulis/guru mata pelajaran
Ini menunjukkan identias guru mata pelajaran atau penulis kisi-kisi soal. Hal ini sangat penting untuk
mengetahui tingkat kelayakan seseorang dalam penuisan kisi-kisi dan soalnya.
9. Standar kompetensi
Standar kompetensi menunjukan kondis standar yang akan dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti
proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan standar kompetensi ini maka guru dan anak didik dapat
mempersiapakan segala yang harus dilakukan.
10.Kompetensi dasar
Kompetensi dasar menunjukkan hal yang seharusnya dimiliki oleh anak didik setelah mengikuti proses
pendidikan dan pembelajaran. Dalam penulisan kisi-kisi soal aspek ini kita munculkan untuk mengevaluasi
tingkat pencapaiannya.
11.Materi pelajaran
Ini menunjukkan semua materi yang diberkan untuk proses pendidikan dan pembelajaran. Dalam
penulisan kisi-kisi soal, aspek ini merupakan batasan isi dari materi pelajaran yang kita jadikan soal.
12.Indikator soal
Indicator soal menunjukan perkiraan kondisi yang diambil dalam soal ujian. Indikasi yang bagaimana dari
materi pelajaran yang diterapkan disekolah.
13.Bentuk soal
Bentuk soal yang dimaksudkan adalah subjektif tes atau objektif tes. Untuk memudahkan kita dalam
menyusun soal, maka kita harus menentukan bentuk yes dalam setiap materi pelajaran yang kita ujikan
dalam proses evaluasi.
14.Nomor soal
Nomor soal menunjukkan urutan soal untuk materi atau soal yang guru buat. Dal hal ini, setiap standar
kompetensi dan kompetensi dasar, penulisan nomor soal dikisi-kisi penulisan soal tidak selalu
berurutan.guru dapat menulis secara acak. Misalnya, standar kompetensi A dan komptensi dasar A1
dapat saja diletakkan pada nomor 3 dan seterusnya sehingga tidak selalu standar kompetensi pertama dan
kompetensi dasar pertama harus diurutkan di nomor satu.
sumber :
http://victoryforpbi-a.blogspot.com/2012/04/kelompok-4-penyusunan-kisi-kisi.html
Thursday, January 17, 2013
SOAL ONLINE USAHA
Setelah liburan semester ganjil berakhir saatnya kita kembali beraktifitas di lingkungan sekolah untuk berjumpa dan bersua kembali dengan anak didik kita semua. Ada beberapa soal yang saya buat pada saat mengisi kegiatan liburan di rumah ini, salah satunya adalah dengan membuat soal Online dengan fasilitas quis creator wondershare
Pada kesempatan ini penulis berikan khusus untuk materi IPA Fisika kelas 8 semester genap pada materi Energi dan usaha. Bagi anak - anakku semuanya baik kelas 8A - 8F silahkan kalian mencoba untuk mengerjakan soal online ini sebagai latihan di rumah sekalian untuk mengukur kemampuan kalian pada materi Energi dan Usaha.. Selamat mencoba sebagai bermanfaat
Pada kesempatan ini penulis berikan khusus untuk materi IPA Fisika kelas 8 semester genap pada materi Energi dan usaha. Bagi anak - anakku semuanya baik kelas 8A - 8F silahkan kalian mencoba untuk mengerjakan soal online ini sebagai latihan di rumah sekalian untuk mengukur kemampuan kalian pada materi Energi dan Usaha.. Selamat mencoba sebagai bermanfaat
Friday, January 11, 2013
JENIS JENIS PENELITIAN
JENIS-JENIS
PENELITIAN
a.
Dasar filosofis penelitian
Jenis
penelitian berdasarkan pada landasan filosofisnya dibagi dua :
- penelitian kuantitatif landasan filosofisnya positivisme, filsafat ini melihat fenomena sebagai sesuatu yang rasional, general, dan empiris, maka menggunakan statistik untuk proses pengolahan datanya.
- penelitian kualitatif landasan filosofis konstruksionisme ( realitas dunia social bukan suatu yang alami, tetapi hasil dari konstruksi ) , fenomenologi ( fenomena social sebagai obyek penelitian dilihat sebagaimana adanya ) dan hermeneutic (fenomena social dilihat dari sisi maknanya ).
Implikasi
dari jenis penelitian yang akan digunakan adalah pada metode penelitian. Untuk
menentukan metode penelitian yang akan digunakan maka perlu mempertimbangkan
beberapa hal sebagai berikut :
- tipe pertanyaan penelitiannya.
- kontrol yang dimiliki peneliti terhadap peristiwa perilaku yang akan ditelitinya.
- fokus terhadap fenomena penelitiannya (fenomena kontemporer ataukah fenomena histories).
b.
metode penelitian kuantitatif
Penggunaan metode
kuantitatif dasar filsafatnya positivistic pada metode ini, maka tidak bisa melepaskan diri dari aspek-aspek; rasionalitas, generalisasi,
empirisme dan penggunaan statistik untuk proses pengolahan datanya. Metode ini
menggali data dan menganalisanya dengan menggunakan angka-angka sebagai kode
maupun ukuran. Angka berguna untuk menyederhanakan fenomena-fenomena di
lapangan dan mempermudah interpretasi data yang ada. Beberapa bentuk penelitian
bisa dipolakan seperti ini, jika berorientasi sebagai berikut:
1. Penelitian eksploratif
(penjajagan) ; merupakan bentuk penelitian yang dilakukan dalam rangka untuk
mengungkap fenomena yang menarik dan penting tetapi belum terungkap atau minim
penelitian – penelitian sebelumnya.
2.
Deskriptif; penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data di
lapangan, data yang ada dikategorisasikan pada kategori-kategori tertentu,
kategori tersebut diberi angka sebagai kode. Temuan-temuan yang ada maka bisa
dikuantifikasikan.
3. Penelitian penjelasan
(eksplanatif) , penelitian yang berusaha menjelaskan fenomena yang ada dengan
cara mencari hubungan kausalitas, perbedaan ataupun perbandingan. Kemudian
disusun suatu hipotesis untuk diuji dilapangan. Penelitian ini bedanya dengan
di atas pada sifatnya dan teknik analisanya.
4.
Penelitian evaluatif; merupakan jenis penelitian yang mengevaluasi suatu
program dengan cara melihat dan meneliti pelaksanaan program (evaluasi
formatif) dan mengukur hasil dari program atau tingkat pencapaian suatu
program.
5. Penelitian prediksi; penelitian
yang dilakukan untuk memprediksi suatu fenomena yang terjadi di masa yang akan
datang, sehingga hasil penelitian bisa untuk mengantisipasi sejak dini suatu
persoalan.
6. Penelitian operasional; penelitian yang
dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel tertentu dari suatu program yang
dianggap ada persoalan. Penelitian ini untuk meminimalisasi hambatan-hambatan
suatu program sehingga program bisa berhasil (Singarimbun, 1989 : 4 – 6).
b. Metode Penelitian Kualitatif
1. Metode Etnografi
Metode
etnografi merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang lebih banyak
terkait dengan Antropologi, yang mempelajari peristiwa budaya, yang menyajikan
pandangan hidup subyek yang menjadi obyek penelitian. Metode ini telah
dikembangkan menjadi metode ilmu-ilmu social yang menggunakan landasan
phenomenolgi. Etnografi merupakan salah satu diskripsi tentang cara mereka
berpikir, hidup dan berperilaku.[1]
2. Thieck Discription
Metode
ini diperkenalkan oleh Cliffod Geertz, dimana dalam metode ini menekankan upaya
mencari makna, bukan mencari hukum dan berupaya memahami bukan mecari teori
atas fenomena budaya dalam masyarakat. Dengan metode ini Geertz berusaha
menolak ethnoscientific model Levis – Strauss. Karena keduanya dianggap tidak
menggambarkan kehidupan melainkan mengubah yang hidup menjadi suatu system yang
formal. Karena budaya menurut Geertz, merupakan fenomena hermeneutic yang
memerlukan pemaknaan, bukan memerlukan penjelasan sebab akibat (kausal). Lebih
lanjut Geertz menjelaskan bahwa tidak ada social facts yang menunggu observasi
kita. Yang ada adalah kesiapan peneliti untuk memberi makna atas observasinya.
3. Grounded Research
Metode ini merupakan suatu metode
berupaya membangun teori berdasarkan data-data dari lapangan atau data empiri
yang diperoleh secara sistematis. Metode ini pertama kali dikemukakan oleh
Glaser dan Strauss. Hal yang mendasar menurut metode ini adalah peran bagaimana
proses ditemukannya teori merupakan hal yang terpenting.[2]
Metode ini mengkritik tentang tugas ilmu pengetahuan yang hanya mengadakan
verifikasi. Karena dengan model verifikasi teori terjadi penipisan temuan
teori-teori baru. Menurut Glaser dan Strauss dengan tugas verifikasi maka
ilmuwan-ilmuwan kemudian hanyalah bertugas membuktikan parsial dari
teori-teorinya orang-orang besar seperti Weber, Parsons dan lain sebagainya.
4. Life History
Metode ini banyak dipakai dalam
beberapa ilmu social, di dalam psikiologi metode ini disebut sebagai metode
personal dokumen, sedang dalam penelitian sosiologi disebut sebagai human
dokumen. Untuk istilah life history dipakai dalam ilmu antropologi. Metode ini
merupakan suatu metode penelitian kualitatif dengan cara mengumpulkan data
pengalaman individu berupa keterangan mengenai apa yang dialami oleh
individu-individu tertentu sebagai warga dari suatu masyarakat yang menjadi
obyek penelitian.[3]
5. Studi kasus
metode ini meneliti fenomena
kontemporer dalam konteks kehidupan nyata. Pertanyaan penelitiaannya “how” dan
“why” dan penelitian hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol
peristiwa-peristiwa yang diteliti.[4]
6. Studi pustaka
penlitian ini dilakukan dengan
memanfaatkan sumber kepustakaan untuk memperoleh data penelitiannya, sehingga
kegiatannya hanya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa memerlukan
riset lapangan.
Metode ini dilakukan dengan
mempertimbangkan sebagai berikut ;
1. persoalan penelitiannya hanya bisa
dijawablewat penelitian pustaka dan sebaliknya tidak mungkin mengharapkan
datanya dari riset lapangan.
2. studi pustaka diperlukan sebagai
salah satu tahap tersendiri, yaitu studi pendahuluan untuk memahami lebih dalam
gejala baru yang tengah berkembang di lapangan atau dalam masyarakat.
3. data pustaka tetap andal untuk
menjawab persoalan penelitian.[5]
7. Studi tokoh :
metode
penelitian ini dilakukan untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketokohan
seseorang individu dalam suatu komunitas tertentu, melalui
pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan warga dalam komunitasnya.
Tujuan
studi tokoh :
1. memperoleh gambaran tentang
persepsi, motivasi, aspirasi, dan ambisi sang
tokoh tentang bidang yang digelutinya.
2. memperoleh gambaran tentang teknik
dan strategi yang digunakannya dalam melaksanakan bidang yang digelutinya.
3. memperoleh gambaran tentang
bentuk-bentuk keberhasilan sang tokoh terkait dengan bidang yang digelutinya.
4. mengambil hikmah dari keberhasilan
sang tokoh.
[1] Noeng Muhajir, Metode Penelitian
Kualitatif , edisi IV, Rake Sarasin, Yogyakarta, 2000, hal. 129.
[2] Ibid, hal. 120- 121.
[3] Koentjaraningrat, Metode Penggunaan Data
Pengalaman Individu, dalam Metode-metode Penelitian Masyarakat, Edisi III, PT.
Gramedia Pustaka, Jakarta, 1997, hal. 158.
[4] Robert
K. Yin , Studi Kasus ( Desain dan Metode ), Rajawali Pers, Jakarta, 2003, hlm.
1-2.
[5] Mestika
Zed, Metode Penelitian kepustakaan, Yayasan Obor, Jakarta, 2004, hlm. 1-3.
Monday, January 7, 2013
Jadwal Ujian Nasional 2013
Rencana pemerintah untuk membuat 20 tipe soal yang sama sekali berbeda satu sama lain bukan hanya isapan jempol belaka. Jadi rencananya nanti dalam pelaksanaan Ujian Nasional UN 2013 nanti setiap siswa dalam satu ruang ujian akan mendapatkan masing-masing satu soal berbeda yang tidak hanya diacak susunan soalnya.
Tantangan berat buat kita semua, baik pendidik maupun siswa. Bagi pendidik tantangan terbesar adalah menyiapkan siswa untuk mampu menyerap semua kompetensi dasar yang akan diujikan pada UN 2013 serta memberi dukungan semangat bahwa mereka mampu untuk mengerjakan soal UN 2013 melalui kerja keras mereka sendiri. Sementara siswa pun harus meningkatkan kemampuan mereka mengerjakan soal UN 2013 nanti dengan banyak berlatih tipe soal UN yang pernah diujikan pada tahun-tahun sebelumnya.
Namun, jangan berkecil hati. Waktu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin masih cukup, mengingat pelaksanaan Ujian Nasional atau UNAS 2013 ini akan dilaksanakan bulan April - Mei nanti. Oleh karena itu mari kita songsong UN 2013 dengan optimis dan sungguh-sungguh bahwa kita semua mampu menghadapinya.
Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah jadwal UN 2013 untuk SD, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK.
Jadwal Ujian Nasional (UN) 2013 SD/MI
Jadwal Latihan UN SD Tahap I : 21-23 Maret 2013
Jadwal Latihan UN SD Tahap II : 15-17 April 2013
Ujian Nasional SD Utama : 6-8 Mei 2013
Ujian Nasional SD susulan : 13-15 Mei 2013
Jadwal Ujian Nasional (UN) 2013 SMP
Jadwal Latihan UN SMP Tahap I : 21-23 Feb 2013
Jadwal Latihan UN SMP Tahap II : 18-20 Maret 2013
Ujian Nasional SMP Utama : 22-25 April 2013
Ujian Nasional SMP susulan : 29 April - 2 Mei 2013
Jadwal Ujian Nasional (UN) 2013 SMA/SMK
Jadwal Latihan UN SMK tahap I : 21 - 23 Feb 2013
Jadwal Latihan UN SMK tahap II : 18-20 Mar 2013
Jadwal Latihan UN SMA Tahap I : 25-27 Feb 2013
Jadwal Latihan UN SMA Tahap II : 20-23 Maret 2013
Ujian Nasional SMA/SMK Utama : 15 - 18 April 2013
Ujian Nasional SMA/SMK susulan : 22 - 25 April 2013
Tantangan berat buat kita semua, baik pendidik maupun siswa. Bagi pendidik tantangan terbesar adalah menyiapkan siswa untuk mampu menyerap semua kompetensi dasar yang akan diujikan pada UN 2013 serta memberi dukungan semangat bahwa mereka mampu untuk mengerjakan soal UN 2013 melalui kerja keras mereka sendiri. Sementara siswa pun harus meningkatkan kemampuan mereka mengerjakan soal UN 2013 nanti dengan banyak berlatih tipe soal UN yang pernah diujikan pada tahun-tahun sebelumnya.
Namun, jangan berkecil hati. Waktu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin masih cukup, mengingat pelaksanaan Ujian Nasional atau UNAS 2013 ini akan dilaksanakan bulan April - Mei nanti. Oleh karena itu mari kita songsong UN 2013 dengan optimis dan sungguh-sungguh bahwa kita semua mampu menghadapinya.
Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah jadwal UN 2013 untuk SD, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK.
Jadwal Ujian Nasional (UN) 2013 SD/MI
Jadwal Latihan UN SD Tahap I : 21-23 Maret 2013
Jadwal Latihan UN SD Tahap II : 15-17 April 2013
Ujian Nasional SD Utama : 6-8 Mei 2013
Ujian Nasional SD susulan : 13-15 Mei 2013
Jadwal Ujian Nasional (UN) 2013 SMP
Jadwal Latihan UN SMP Tahap I : 21-23 Feb 2013
Jadwal Latihan UN SMP Tahap II : 18-20 Maret 2013
Ujian Nasional SMP Utama : 22-25 April 2013
Ujian Nasional SMP susulan : 29 April - 2 Mei 2013
Jadwal Ujian Nasional (UN) 2013 SMA/SMK
Jadwal Latihan UN SMK tahap I : 21 - 23 Feb 2013
Jadwal Latihan UN SMK tahap II : 18-20 Mar 2013
Jadwal Latihan UN SMA Tahap I : 25-27 Feb 2013
Jadwal Latihan UN SMA Tahap II : 20-23 Maret 2013
Ujian Nasional SMA/SMK Utama : 15 - 18 April 2013
Ujian Nasional SMA/SMK susulan : 22 - 25 April 2013
Friday, January 4, 2013
METODE ETNOGRAFI
METODE ETNOGRAFI
Etnografi merupakan aktifitas mendiskripsikan kebudayaan dalam rangka memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Pokok kajian dari etnografi adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin dipahami.
Tahapan-tahapan penelitian etnografi sedikit berbeda dengan tahapan penelitian social budaya yang lain, adapun tahapan penelitiannya;
a.memilih masalah ; permasalahan dalam etnografi dimulai dari hal umum, yaitu apa makna budaya yang
digunakan oleh masyarakat untuk mengatur tingkah laku dan menginterpretasikan pengalaman.
b.Mengumpulkan data kebudayaan. Dilakukan sebelum memformulasikan hipotesis apa pun (kecuali pernah
ada penelitian sebelumnya). Peneliti mengumpulkan data dengan wawancara (mengajukan pertanyaan-
pertanyaan deskriptif), observasi lapangan dan menyusun catatan lapangan.
c.Menganalisis data kebudayaan, berupa aktivitas pemeriksaan ulang catatan lapangan untuk mencari
symbol – symbol budaya (biasanya dinyatakan dalam istilah asli) serta mencari hubungan antara symbol-
simbol itu.
d.Memformulasikan hipotesis etnografis, merupakan hubungan yang harus diuji dengan cara mengecek hal-hal yang diketahui oleh informan. Hipotesis etnografi diformulasikan setelah mengumpulkan data awal.
e.Menuliskan etnografi, penulisan etnografi dilakukan mendekati akhir penelitian, namun demikian penulisan itu akan menstimulasi hipotesis baru dan membawa peneliti untuk kembali melakukan lebih banyak penelitian lapangan. Proses penulisan etnografi merupakan proses perbaikan analisis. Analisis data dalam etnografi ada beberapa macam ;
Pertama, analisis domain merupakan analisis yang mencari symbol-simbol budaya yang termasuk dalam kategori (domain) yang lebih besar berdasarkan beberapa kemiripan.
Kedua, analisis taksonomi merupakan upaya pencarian struktur internal domain (kategori) serta membentuk identifikasi susunan yang bertentangan.
Ketiga, analisis komponen berupa pencarian atribut-atribut yang menandai berbagai perbedaan diantara symbol-simbol dalam sebuah domain.
Keempat, analisis tema berupa pencarian hubungan diantara domain dan bagaimana domain-domain itu dihubungkan dengan budaya secara keseluruhan.
beberapa keuntungan secara metodologis dari etnografi:
1.menemukan teori grounded, dengan etnografi peneliti akan dapat mengembangkan teori-teori yang mendasarkan pada data empiris deskripsi kebudayaan.
2.memahami masyarakat yang kompleks, dengan penelitian etnografi peneliti akan menemukan beragam kelompok-kelompok masyarakat dengan budaya dan system social dengan berbagai ragam latar belakang geografis dan demografis.
3.memahami perilaku manusia, dengan etnografi peneliti akan menemukan beragam perilaku manusia. Setiap manusia dalam masyarakat memiliki pola perilaku yang beragam. Pola perilaku tersebut dimanifestasikan dalam bentuk yang beragam. Untuk bisa memahaminya maka harus mengungkap maknanya.
Etnografi merupakan aktifitas mendiskripsikan kebudayaan dalam rangka memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Pokok kajian dari etnografi adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin dipahami.
Tahapan-tahapan penelitian etnografi sedikit berbeda dengan tahapan penelitian social budaya yang lain, adapun tahapan penelitiannya;
a.memilih masalah ; permasalahan dalam etnografi dimulai dari hal umum, yaitu apa makna budaya yang
digunakan oleh masyarakat untuk mengatur tingkah laku dan menginterpretasikan pengalaman.
b.Mengumpulkan data kebudayaan. Dilakukan sebelum memformulasikan hipotesis apa pun (kecuali pernah
ada penelitian sebelumnya). Peneliti mengumpulkan data dengan wawancara (mengajukan pertanyaan-
pertanyaan deskriptif), observasi lapangan dan menyusun catatan lapangan.
c.Menganalisis data kebudayaan, berupa aktivitas pemeriksaan ulang catatan lapangan untuk mencari
symbol – symbol budaya (biasanya dinyatakan dalam istilah asli) serta mencari hubungan antara symbol-
simbol itu.
d.Memformulasikan hipotesis etnografis, merupakan hubungan yang harus diuji dengan cara mengecek hal-hal yang diketahui oleh informan. Hipotesis etnografi diformulasikan setelah mengumpulkan data awal.
e.Menuliskan etnografi, penulisan etnografi dilakukan mendekati akhir penelitian, namun demikian penulisan itu akan menstimulasi hipotesis baru dan membawa peneliti untuk kembali melakukan lebih banyak penelitian lapangan. Proses penulisan etnografi merupakan proses perbaikan analisis. Analisis data dalam etnografi ada beberapa macam ;
Pertama, analisis domain merupakan analisis yang mencari symbol-simbol budaya yang termasuk dalam kategori (domain) yang lebih besar berdasarkan beberapa kemiripan.
Kedua, analisis taksonomi merupakan upaya pencarian struktur internal domain (kategori) serta membentuk identifikasi susunan yang bertentangan.
Ketiga, analisis komponen berupa pencarian atribut-atribut yang menandai berbagai perbedaan diantara symbol-simbol dalam sebuah domain.
Keempat, analisis tema berupa pencarian hubungan diantara domain dan bagaimana domain-domain itu dihubungkan dengan budaya secara keseluruhan.
beberapa keuntungan secara metodologis dari etnografi:
1.menemukan teori grounded, dengan etnografi peneliti akan dapat mengembangkan teori-teori yang mendasarkan pada data empiris deskripsi kebudayaan.
2.memahami masyarakat yang kompleks, dengan penelitian etnografi peneliti akan menemukan beragam kelompok-kelompok masyarakat dengan budaya dan system social dengan berbagai ragam latar belakang geografis dan demografis.
3.memahami perilaku manusia, dengan etnografi peneliti akan menemukan beragam perilaku manusia. Setiap manusia dalam masyarakat memiliki pola perilaku yang beragam. Pola perilaku tersebut dimanifestasikan dalam bentuk yang beragam. Untuk bisa memahaminya maka harus mengungkap maknanya.
Wednesday, January 2, 2013
Soal Online IPA Kelas 8 Materi Gaya
Sebelum kalian mengerjakan Soal Online ini terlebih dahulu kalain disuruh mengisi
1. Alamat E-mail kalian
2. Nama
3. Kelas
4. No Absent
Setelah selesai mengisi itu semua baru kamu dapat mengerjakan, selamat mencoba semoga berhasil dan diakhir soal kamu bisa melihat hasil pekerjaan kalian
1. Alamat E-mail kalian
2. Nama
3. Kelas
4. No Absent
Setelah selesai mengisi itu semua baru kamu dapat mengerjakan, selamat mencoba semoga berhasil dan diakhir soal kamu bisa melihat hasil pekerjaan kalian
Tuesday, January 1, 2013
PENERBITAN SK SELURUH TUNJANGAN 2013
PENERBITAN SK SELURUH TUNJANGAN 2013
Pada tahun 2013 seluruh SK tunjangan (Tunjangan Profesi Pendidik (sertifikasi), Tunjangan Fungsional Guru Swasta (TFG), Tunjangan Kualifikasi Akademik (Beasiswa S1) jenjang Dikdas akan diterbitkan berdasarkan aplikasi pendataan pendidik (DAPODIK). Untuk itu kami himbau agar bapak/ibu guru memastikan data sudah masuk di aplikasi pendataan pendidik secara lengkap dan valid. Terutama mapping jumlah jam, jumlah siswa dan data-data yang lain. Bila data belum masuk dan valid silakan berhubungan dengan TIM KK DATADIK cq. subag perencanaan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten masing-masing .
Penerima TPP/sertifikasi wajib hukumnya mempunyai email pribadi guna meng approval/menyetujui atas data yang ybs yang ada di DAPODIK, Bila tidak di approval SK TPP tidak akan di print oleh Dirjen Dikdas.
Data Bapak/ibu guru bisa di lihat di web site http://p2tkdikdas.kemdikbud.go.id atau disini
Terbit dan tidaknya SK Tunjangan tahun 2013 untuk jenjang Dikdas tergantung dari kualitas DAPODIK yang Bapak Ibu/Guru kerjakan.
Saturday, December 22, 2012
Soal Online Materi Alat Optik
Latihan soal online : IPA Kelas 8 smt genap, Materi Alat Optik
Sebelum kalian mengerjakan Soal Online ini terlebih dahulu kalain disuruh mengisi1. Alamat E-mail kalian
2. Nama
3. Kelas
4. No Absent
Setelah selesai mengisi itu semua baru kamu dapat mengerjakan, selamat mencoba semoga berhasil dan diakhir soal kamu bisa melihat hasil pekerjaan kalian
Tuesday, December 18, 2012
Pengalaman di New Kuta Condotel Bali
Tak ketinggalan juga kita bagi tugas, saya yang mewakili ikut workshop Blockgrand Laboratorium IPA yang akan dilaksanakan tgl 17 - 19 Desember 2012 di Hotel New Kuta Condotel Bali. Saya menginap selama 3 hari 2 malam di New Kuta Condotel, tetapi Saya bisa merasakan pemandangan & service yg bagus. New Kuta Condotel dekat dengan pantai dreamland yg menakjubkan dengan view & ombaknya yang masih 1 kawasan dengan hotel. Disana terdapat tempat hiburan juga yg bernama "Klapa". Di area luar hotel jg terdapat beberapa spot yg menakjubkan semisal pantai padang-padang dan blue point.
Kamar serta area sekitar hotel jg menawarkan pemandangan yg bagus.Saya rasa tidak percuma untuk menghabiskan waktu di New Kuta Condotel.
Sebelumnya saya bersama beberapa teman utusan dari SMP se Jawa Tengah bagian pantura juga berkesempatan untuk melihat beberapa Objek wisata yang ada di sekitar New Kuta Condotel Bali antara lain ; Patung Besar Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Sunday, December 16, 2012
Mengenang Kembali Soe Hok Gie
Mengutip dari FB sebelah " MENGENANG KEMBALI SOE HOK GIE (17 Desember 1942 – 16 Desember 1969)"
Tanggal 16 Desember, 42 tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang putra terbaiknya: Soe Hok Gie, seorang demonstran yang – menurut Noegroho Notosutanto – “jujur dan berani dan mengerikan.” Di setiap masa selalu muncul orang-orang yang unik dan langka, yang mengusung ide dan prinsip baru yang terkadang melampaui zamannya dan karenanya menjadi bagian integral dari, dan mempengaruhi, proses sejarah. Era baru melahirkan visi baru dan semacam heroisme. Dalam hal ini kita sering kali membutuhkan suri tauladan untuk dicontoh, sebuah gagasan atau sosok ideal yang merepresentasikan cita-cita luhur atau sesuatu yang mendekati utopia. Kita membutuhkan sosok yang menegaskan perbedaan tajam antara kepahlawanan dan kepengecutan, antara keterusterangan dan kemunafikan, antara ketulusan niat dan egoisme pribadi; sosok yang melakukan sesuatu yang jauh dari sebatas mementingkan diri sendiri, melampaui kedirian yang terbatas dan terkadang pengap; sosok yang selalu secara serius mempertimbangkan landasan moral dalam segala aktivitas kehidupan.
Soe Hok Gie (SHG), kelahiran 17 Desember 1942, adalah manusia Indonesia yang unik dan luar biasa yang, sayangnya, terlalu cepat dipanggil Yang Maha Kuasa. Sebagai seorang Cina, etnis yang banyak dimusuhi di Indonesia waktu itu, dia tampil di panggung politik nasional tanpa merasa risih oleh latar belakangnya itu dan diakui sebagai tokoh intelektual dan gerakan mahasiswa yang paling disegani di era ‘66. Dia memainkan peran besar dan penting dalam menumbangkan rezim Soekarno dan pembentukan Orde Baru. Sebagai intelektual muda SHG berdiri ditengah-tengah berkecamuknya pertarungan ideologi dan kepentingan yang mewarnai masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru.
Sebagaimana lazimnya dalam masa transisi, selalu muncul manusia-manusia yang mencoba mengail di air keruh, mencari-cari kesempatan untuk memanfaatkan situasi demi kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya. Kini sejarah seperti berulang. Jika dulu penguasa Orde Baru mengkhianati cita-cita dan aspirasi gerakan mahasiswa 1966, sekarang hal yang serupa mulai tampak, saat cita-cita reformasi hanya sampai pada jargon-jargon dan spanduk-spanduk reformasi usang yang lusuh. Masa transisi menjadi ajang perebutan kekuasaan dengan mengatasnamakan demokrasi dan rakyat. Pesona kekuasaan telah melumpuhkan cita-cita gerakan moral mahasiswa, baik itu di tahun 1966 saat SHG masih hidup, maupun di era reformasi sekarang. Kursi kekuasaan telah menyedot banyak energi bangsa dan menghisap semua sumber daya, baik itu sumber daya manusia, politik, ekonomi maupun kultural. Kaum cendekiawan atau intelektual tak sedikit yang melacurkan diri demi kekuasaan ini.
Sebagai intelektual muda pada masa itu SHG juga tak lepas dari pergulatan dan tarik-menarik antara kekuasaan dan kecendekiawanan. Kekuasaan dan kecendekiawanan adalah dua hal berbeda yang menurut para ahli merupakan dunia yang hampir mustahil untuk didamaikan, dan kalau pun bisa, itu sifatnya hanya temporer. Kekuasaan dan kemapanan, apalagi kalau sudah sampai taraf absolut (otoritarian), cenderung membungkam segala bentuk kekritisan, yang merupakan ciri khas kaum cendekiawan. Kemesraan kekuasaan dan kecendekiawanan bisa menjadi kolaborasi yang sangat berbahaya. Dewasa ini kita banyak menyaksikan bagaimana kaum intelektual terserap dalam jaring laba-laba kekuasaan dan menjadikan mereka tak berdaya; mereka hanya menjadi corong dan pemasok legitimasi intelektual bagi kekuasaan dan kepentingannya. Menurut SHG kaum intelektual semestinya berada di luar jaring kekuasaan, menjadi profesional rebel. Intelektual atau cendekiawan seharusnya menjadi pengawal gerakan moral dalam segala bidang kehidupan, termasuk politik. Bagi SHG kecakapan dan kecerdasan serta kemampuan pemimpin tak banyak faedahnya bagi kehidupan berbangsa jika landasan moralnya berantakan. SHG jelas sama sekali tak meragukan kemampuan Soekarno sebagai pemimpin, namun pengalamannya dan pengetahuannya tentang Soekarno membuatnya tak mempercayai bahwa Soekarno bisa menjadi pemimpin yang baik, seperti ditulisnya sendiri dalam catatan hariannya: “Kesanku hanya satu, aku tak bisa percaya dia sebagai pemimpin negara karena dia begitu immoral” (Catatan Harian 24 Pebruari 1963). Namun SHG juga sadar betul bahwa imbauan dan seruan moral belaka tak cukup kuat untuk meruntuhkan, atau setidaknya mengubah, kekuasaan yang tak beermoral. SHG sadar bahwa secara ironis dia harus menggunakan media kekuasaan untuk mengubah atau membongkar kekuasaan yang immoral – “… yang penting adalah mendapatkan kekuatan yang perlu, sebab jika kita tak memelihara kekuatan dan hanya studi terus, kita akan disapu bersih oleh grup lawan … kini kita harus secara riel menyusun kekuatan. Dalam politik tak ada moral. Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak bisa menghindari lagi maka terjunlah … seperti dalam revolusi dulu. Dan jika sekiranya saatnya sudah sampai aku akan terjun ke lumpur ini.” (Catatan Harian, 16 Maret 1964).
Pandangan ini menyiratkan dilema yang tajam antara kekuasaan dan moral. Dalam realitas seringkali keyakinan moral tak cukup kuat bahkan untuk sekedar mengubah, apalagi menghancurkan penyelewengan kekuasaan. Dibutuhkan aksi, yang ironisnya memanfaatkan suatu kekuasaan tertentu, kekuataan dan paksaan untuk mengakhiri penyelewengan. Dalam hal ini timbul persoalan: dengan mengingat bahwa power tends to corrupt, jika keyakinan moral dijinkan memanfaatkan kekuasaan untuk menegakkan moralitas, maka seberapa jauhkah keyakinan moral yang ditopang dengan kekuasaan itu mampu membatasi kekuasaan atau hak untuk berkuasa dan sekaligus menjaga kehidupan moral di dalam kekuasaan? Di sini SHG sadar betul bahwa kerjasamanya dengan salah satu unsur kekuasaan – yakni tentara (Angkatan Darat) – dalam menggulingkan kekuasaan Soekarno tidak akan berumur panjang. Terus berkutat dalam “lumpur politik yang kotor” bukanlah keinginannya. Keinginan utamanya adalah menegakkan tatanan yang berdasarkan moral dan perikemanusiaan. Untuk itulah setelah rezim Soekarno digulingkan ia kembali menjaga jarak dengan kekuasaan, kembali menjadi lokomotif gerakan moral. Untuk keperluan ini dia membutuhkan ruang untuk mengekspresikan kritik-kritiknya dan itu ditemukannya dalam demokrasi. Maka tidak mengherankan ketika Orde Baru mulai mengkhianati demokrasi dan semakin jelas bergerak ke arah otoritarianisme, SHG menjadi gerah dan gelisah, hingga hampir mendekati tingkat frustasi. Menurut kakaknya, Arief Budiman, SHG tak lama sebelum meninggal berkata kepadanya, “Akhir-akhir ini saya selalu beerpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan. Saya mennulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan sejenisnya…Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa yang sebenarnya saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.”
Sekali lagi, dengan bercermin pada situasi politik di periode awal Orde Baru dan juga masa pasca gerakan reformasi sekarang ini, kita bertanya-tanya, apakah moral akan selalu dikalahkan oleh kekuasaan? Atau, dengan meletakkan pertanyaan ini pada perspektif yang lebih luas, kita bisa mempertanyakan kembali apakah kecendekiawanan hanya akan bisa berbuat sebatas memberi kritik semata tanpa mampu mengubah keadaan secara signifikan? Kegelisahan SHG adalah kegelisahan kita semua yang mendambakan demokrasi dan tatanan politik yang bermoral dan berperikemanusiaan. Rasanya sekarang kita membutuhkan lebih banyak Soe Hok Gie–Soe Hok Gie baru yang tegar mempertahankan kebebasan intelektualnya di tengah lubang hitam kekuasaan yang dengan rakus melahap segalanya demi mempertahankan kelanggengan kekuasaan, yang dengan lantang menyuarakan kembali harapannya seperti yang dituliskannya dalam catatan harian tanggal 10 Desember 1959: “Kita, generasi kita, ditugaskn untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh korupot-koruptor tua…Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia."
sumber :John MAXWELL, Soe Hok-Gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirant, translated by Tri Wibowo Budi Santoso [triwibs kanyut], Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 2001
Tanggal 16 Desember, 42 tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang putra terbaiknya: Soe Hok Gie, seorang demonstran yang – menurut Noegroho Notosutanto – “jujur dan berani dan mengerikan.” Di setiap masa selalu muncul orang-orang yang unik dan langka, yang mengusung ide dan prinsip baru yang terkadang melampaui zamannya dan karenanya menjadi bagian integral dari, dan mempengaruhi, proses sejarah. Era baru melahirkan visi baru dan semacam heroisme. Dalam hal ini kita sering kali membutuhkan suri tauladan untuk dicontoh, sebuah gagasan atau sosok ideal yang merepresentasikan cita-cita luhur atau sesuatu yang mendekati utopia. Kita membutuhkan sosok yang menegaskan perbedaan tajam antara kepahlawanan dan kepengecutan, antara keterusterangan dan kemunafikan, antara ketulusan niat dan egoisme pribadi; sosok yang melakukan sesuatu yang jauh dari sebatas mementingkan diri sendiri, melampaui kedirian yang terbatas dan terkadang pengap; sosok yang selalu secara serius mempertimbangkan landasan moral dalam segala aktivitas kehidupan.
Soe Hok Gie (SHG), kelahiran 17 Desember 1942, adalah manusia Indonesia yang unik dan luar biasa yang, sayangnya, terlalu cepat dipanggil Yang Maha Kuasa. Sebagai seorang Cina, etnis yang banyak dimusuhi di Indonesia waktu itu, dia tampil di panggung politik nasional tanpa merasa risih oleh latar belakangnya itu dan diakui sebagai tokoh intelektual dan gerakan mahasiswa yang paling disegani di era ‘66. Dia memainkan peran besar dan penting dalam menumbangkan rezim Soekarno dan pembentukan Orde Baru. Sebagai intelektual muda SHG berdiri ditengah-tengah berkecamuknya pertarungan ideologi dan kepentingan yang mewarnai masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru.
Sebagaimana lazimnya dalam masa transisi, selalu muncul manusia-manusia yang mencoba mengail di air keruh, mencari-cari kesempatan untuk memanfaatkan situasi demi kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya. Kini sejarah seperti berulang. Jika dulu penguasa Orde Baru mengkhianati cita-cita dan aspirasi gerakan mahasiswa 1966, sekarang hal yang serupa mulai tampak, saat cita-cita reformasi hanya sampai pada jargon-jargon dan spanduk-spanduk reformasi usang yang lusuh. Masa transisi menjadi ajang perebutan kekuasaan dengan mengatasnamakan demokrasi dan rakyat. Pesona kekuasaan telah melumpuhkan cita-cita gerakan moral mahasiswa, baik itu di tahun 1966 saat SHG masih hidup, maupun di era reformasi sekarang. Kursi kekuasaan telah menyedot banyak energi bangsa dan menghisap semua sumber daya, baik itu sumber daya manusia, politik, ekonomi maupun kultural. Kaum cendekiawan atau intelektual tak sedikit yang melacurkan diri demi kekuasaan ini.
Sebagai intelektual muda pada masa itu SHG juga tak lepas dari pergulatan dan tarik-menarik antara kekuasaan dan kecendekiawanan. Kekuasaan dan kecendekiawanan adalah dua hal berbeda yang menurut para ahli merupakan dunia yang hampir mustahil untuk didamaikan, dan kalau pun bisa, itu sifatnya hanya temporer. Kekuasaan dan kemapanan, apalagi kalau sudah sampai taraf absolut (otoritarian), cenderung membungkam segala bentuk kekritisan, yang merupakan ciri khas kaum cendekiawan. Kemesraan kekuasaan dan kecendekiawanan bisa menjadi kolaborasi yang sangat berbahaya. Dewasa ini kita banyak menyaksikan bagaimana kaum intelektual terserap dalam jaring laba-laba kekuasaan dan menjadikan mereka tak berdaya; mereka hanya menjadi corong dan pemasok legitimasi intelektual bagi kekuasaan dan kepentingannya. Menurut SHG kaum intelektual semestinya berada di luar jaring kekuasaan, menjadi profesional rebel. Intelektual atau cendekiawan seharusnya menjadi pengawal gerakan moral dalam segala bidang kehidupan, termasuk politik. Bagi SHG kecakapan dan kecerdasan serta kemampuan pemimpin tak banyak faedahnya bagi kehidupan berbangsa jika landasan moralnya berantakan. SHG jelas sama sekali tak meragukan kemampuan Soekarno sebagai pemimpin, namun pengalamannya dan pengetahuannya tentang Soekarno membuatnya tak mempercayai bahwa Soekarno bisa menjadi pemimpin yang baik, seperti ditulisnya sendiri dalam catatan hariannya: “Kesanku hanya satu, aku tak bisa percaya dia sebagai pemimpin negara karena dia begitu immoral” (Catatan Harian 24 Pebruari 1963). Namun SHG juga sadar betul bahwa imbauan dan seruan moral belaka tak cukup kuat untuk meruntuhkan, atau setidaknya mengubah, kekuasaan yang tak beermoral. SHG sadar bahwa secara ironis dia harus menggunakan media kekuasaan untuk mengubah atau membongkar kekuasaan yang immoral – “… yang penting adalah mendapatkan kekuatan yang perlu, sebab jika kita tak memelihara kekuatan dan hanya studi terus, kita akan disapu bersih oleh grup lawan … kini kita harus secara riel menyusun kekuatan. Dalam politik tak ada moral. Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak bisa menghindari lagi maka terjunlah … seperti dalam revolusi dulu. Dan jika sekiranya saatnya sudah sampai aku akan terjun ke lumpur ini.” (Catatan Harian, 16 Maret 1964).
Pandangan ini menyiratkan dilema yang tajam antara kekuasaan dan moral. Dalam realitas seringkali keyakinan moral tak cukup kuat bahkan untuk sekedar mengubah, apalagi menghancurkan penyelewengan kekuasaan. Dibutuhkan aksi, yang ironisnya memanfaatkan suatu kekuasaan tertentu, kekuataan dan paksaan untuk mengakhiri penyelewengan. Dalam hal ini timbul persoalan: dengan mengingat bahwa power tends to corrupt, jika keyakinan moral dijinkan memanfaatkan kekuasaan untuk menegakkan moralitas, maka seberapa jauhkah keyakinan moral yang ditopang dengan kekuasaan itu mampu membatasi kekuasaan atau hak untuk berkuasa dan sekaligus menjaga kehidupan moral di dalam kekuasaan? Di sini SHG sadar betul bahwa kerjasamanya dengan salah satu unsur kekuasaan – yakni tentara (Angkatan Darat) – dalam menggulingkan kekuasaan Soekarno tidak akan berumur panjang. Terus berkutat dalam “lumpur politik yang kotor” bukanlah keinginannya. Keinginan utamanya adalah menegakkan tatanan yang berdasarkan moral dan perikemanusiaan. Untuk itulah setelah rezim Soekarno digulingkan ia kembali menjaga jarak dengan kekuasaan, kembali menjadi lokomotif gerakan moral. Untuk keperluan ini dia membutuhkan ruang untuk mengekspresikan kritik-kritiknya dan itu ditemukannya dalam demokrasi. Maka tidak mengherankan ketika Orde Baru mulai mengkhianati demokrasi dan semakin jelas bergerak ke arah otoritarianisme, SHG menjadi gerah dan gelisah, hingga hampir mendekati tingkat frustasi. Menurut kakaknya, Arief Budiman, SHG tak lama sebelum meninggal berkata kepadanya, “Akhir-akhir ini saya selalu beerpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan. Saya mennulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan sejenisnya…Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa yang sebenarnya saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.”
Sekali lagi, dengan bercermin pada situasi politik di periode awal Orde Baru dan juga masa pasca gerakan reformasi sekarang ini, kita bertanya-tanya, apakah moral akan selalu dikalahkan oleh kekuasaan? Atau, dengan meletakkan pertanyaan ini pada perspektif yang lebih luas, kita bisa mempertanyakan kembali apakah kecendekiawanan hanya akan bisa berbuat sebatas memberi kritik semata tanpa mampu mengubah keadaan secara signifikan? Kegelisahan SHG adalah kegelisahan kita semua yang mendambakan demokrasi dan tatanan politik yang bermoral dan berperikemanusiaan. Rasanya sekarang kita membutuhkan lebih banyak Soe Hok Gie–Soe Hok Gie baru yang tegar mempertahankan kebebasan intelektualnya di tengah lubang hitam kekuasaan yang dengan rakus melahap segalanya demi mempertahankan kelanggengan kekuasaan, yang dengan lantang menyuarakan kembali harapannya seperti yang dituliskannya dalam catatan harian tanggal 10 Desember 1959: “Kita, generasi kita, ditugaskn untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh korupot-koruptor tua…Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia."
sumber :John MAXWELL, Soe Hok-Gie, Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirant, translated by Tri Wibowo Budi Santoso [triwibs kanyut], Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 2001
Wednesday, December 12, 2012
Soal Online Atom,Ion dan Molekul
Latihan soal online : IPA Kelas 8 smt genap, Materi Atom,ion dan molekul
Sebelum kalian mengerjakan Soal Online ini terlebih dahulu kalain disuruh mengisi1. Alamat E-mail kalian
2. Nama
3. Kelas
4. No Absent
Setelah selesai mengisi itu semua baru kamu dapat mengerjakan, selamat mencoba semoga berhasil dan diakhir soal kamu bisa melihat hasil pekerjaan kalian












