Tuesday, February 14, 2012

Jurnal Ilmiah Bentuk Pola Pikir Yang Terstruktur

Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyatakan, tidak ada kaitan antara jurnal ilmiah dengan pengekangan kebebasan berekspresi mahasiswa. Produk ilmiah yang diminta untuk dikembangkan dikalangan perguruan tinggi itu semata-mata untuk membangun budaya keilmuan.
Demikian disampaikan oleh Mendikbud usai menyaksikan sandiwara Timun Emas di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (11/02). “Ada 5,3 juta mahasiswa kita, tapi faktanya produk ilmiahnya sangat kurang, dan harus digenjot, dikelola. Caranya, harus dikaitkan dengan sistem yang menjadi bagian dari syarat kelulusan,” ujar Mendikbud.
Mendikbud mengatakan, pada dasarnya setiap mahasiswa diakhir kuliahnya sudah membuat karya ilmiah berupa skripsi. Namun karya tersebut belum dipublikasikan. Upaya untuk mempublikasikan karya ilmiah ini merupakan salah satu cara untuk mengembangkan dialektika, dan memperkecil kemungkinan plagiasi.  Karena plagiasi sering terjadi karena tidak ada kontrol terhadap karya ilmiah yang telah dibuat sebelumnya.
“Kalau sudah dipublikasikan, orang tentu tidak akan menulis apa yang sudah ditulis orang lain. Mereka justru akan mengembangkan tulisan tersebut, sehingga ilmu pengetahuan akan ikut berkembang,” tuturnya.
Menanggapi keluhan beberapa pihak berkaitan dengan kurangnya jurnal ilmiah sebagai tempat publikasi karya ilmiah, Mendikbud  menjelaskan, setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak untuk mempersulit atau menghambat kelulusan mahasiswa. Justru kebijakan tersebut dikeluarkan untuk mengembangkan budaya menulis.
“Kalau jumlah (jurnal ilmiah) nya terbatas, kita tambah. Kita fasilitasi. Kalau selama ini untuk mencetak jurnal dibutuhkan biaya, kita sediakan yang online,” kata Mendikbud. (AR)

0 comments:

Post a Comment