Wednesday, August 17, 2011

MAAFKAN AKU INDONESIA


Maafkan aku Indonesia
Hari ini di depan rumahku tidak ada kibaran Sang Saka
Bukan karena tak memiliki rasa nasionalisme, juga bukan karena tak cinta negara
Tapi aku sungguh kecewa
Di usiamu yang mulai renta, merahmu tak lagi menyala
Merahmu tak mampu lindungi rakyat dari culasnya negara tetangga
Keberanianmu seakan lenyap oleh kebodohan dan kemunafikan pemimpin bangsa.

Maafkan aku Indonesia
Hari ini aku tak bisa ikut ritual upacara
Bukan tak hormat padamu, Sang Saka
Tapi hatiku sungguh terluka
Karena kesucianmu tak mampu bersihkan nurani para pengelola negara
Putihmu telah dikotori tangan-tangan bandit berdasi dengan penampilan manis mempesona
Keanggunanmu tercemar oleh sikap najis para koruptor, pengusaha kotor dan makelar kasus yang berjuang demi uang semata.

Maafkan aku Indonesia
Hari ini aku tak bisa ikut berpesta
Bukan karena aku tak suka, juga bukan karena bulan puasa
Tapi jiwaku sungguh tak nyaman adanya
Karena jutaan rakyat merana, tercekik kenaikan harga yang sungguh menggila
Sementara para pejabat negara cuma bisa cuap-cuap, pidato kosong tak bermakna, tak juga pernah melihat realita
Para pemimpin hanya bisa menjual mimpi, bermain statistika demi tegaknya citra.

Maafkan aku Indonesia
Bendera di rumahku telah lusuh, sebagian robek dipakai tambalan celana anak ketiga
Sebagian lagi digunakan untuk tambalan beha mamanya agar isinya aman tak terlihat kemana-mana
Bukan karena aku tak tahu aturan, juga bukan karena tak punya etika
Tapi karena rasa tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga
Agar si kecil masih bisa sekolah, meski dengan celana seragam bertambalkan kain merah bendera
Dan mamanya bisa tenang memetik kangkung di ladang dengan beha tambalan di balik kebaya lusuh dan tua.

Maafkan aku Indonseia
Aku tak punya apa-apa
Hanya ada segenggam cinta dan bendera yang tetap tegak berkibar di dada
Dengan warna merah menyala, membakar semangat tuk mengusir kemunafikan diri dan kesombongan jiwa
Dengan warna putih bersih, bersinar terangi hati, membungkus nurani agar laku rapi tertata
Dan si kecil yang kini mulai beranjak remaja
Di bawah asuhan mamanya yang makin cantik dengan beha tambalan dan kebaya putih lusuh dan tua.


Pangkalan Bun, 18 Agustus 2010

(Tajam Tak  Bertepi)


0 comments:

Post a Comment