Wednesday, April 25, 2012

Guru Dituntut Kreatif dan Inovatif


  



MALANG, KOMPAS.com - Salah satu kekurangan guru di Indonesia adalah rendahnya kemampuan kreativitas, inovasi, dan kurangnya penguasaan terhadap materi yang akan diajarkan pada siswanya. Kritikan tersebut disampaikan oleh empat pakar pendidikan asal Jepang yang menjadi pembicara dalam acara workshop pengembangan guru yang diadakan oleh fakultas MIPA Universitas Negeri Malang, bekerjasama dengan Japan International Coorporation Agency (JICA), Rabu (25/4).

Empat pakar pendidikan tersebut diantaranya, Masaaki Sato, Atsushi Tsukui, Rio Suzuki, dan Rie Takahashi. Ke empat narasumber tersebut menyampaikan materi secara bergiliran di depan ratusan perwakilan dosen dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) di Jawa Timur.

Menurut Masaaki Sato, untuk di Indonesia, masih banyak kejadian di lapangan yang mengindikasikan ke gagalan proses pembelajaran juga diakibatkan oleh para guru sendiri. Di antaranya, guru tidak kreatif dan kurang memahami materi.

"Guru di Indonesia banyak yang tidak memiliki pengetahuan khusus, yang berhubungan dengan materi, atau guru tidak punya improvisasi, inovasi, ketika menghadapi siswa," jelas Masaaki, yang materinya diterjemahkan oleh penterjemah.

Masaaki juga menyampaikan pentingnya kreativitas dalam mengajar. "Kreativitas itu modal utama bagi guru. Ide-ide kreatif itu pertama kali bukan muncul dari murid, tapi guru. Karenanya wajar jika di Jepang ada guru yang menjadi penemu kemudian menular ke siswanya," paparnya.

Sementara itu Rie Takahashi menyampaikan bahwa perilaku belajar dan kreatif seharusnya bukan hanya terjadi di sekolah tapi juga di rumah. "Kalau anak cerdas, orangtua juga ikut menikmatinya karena anak adalah masa depan orangtua," katanya.

Ia menambahkan, siswa yang cerdas adalah potensi negara yang harus dididik dan dicerdaskan sehingga negara menjadi kuat dan maju.

0 comments:

Post a Comment