This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, August 5, 2011

Besaran dan Satuan

Besaran dan Satuan
Pernahkah kalian membeli gula, minyak tanah atau kain ? Apa yang penjual katakan ? Pasti penjual akan mengatakan “ mau membeli gula berapa kilogram , minyak tanah berapa liter atau berapa meter panjang kain ? “.
Hal tersebut adalah penting, karena kalau kita akan menjual kain 1 atau 2  saja  tanpa adanya satuan akan bingung. Menjual beras 4 saja tanpa satuan juga akan bingung. Jadi antara   besaran dan satuan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Misalnya gula 2 kilogram, minyak tanah 4 liter atau kain 5 meter.
Di dalam IPA, segala sesuatu yang diukur dinamakan besaran dan segala sesuatu yang dijadikan sebagai pembanding suatu besaran adalah satuan.  Jika kita, membandingkan suatu besaran yang diukur dengan sebuah satuan dikatakan mengukur.
Selanjutnya dalam modul ini akan dibahas tentang :

-      Besaran Pokok dan Besaran Turunan
-      Satuan Internasional dalam pengukuran
-      Konversi satuan panjang, masa, dan waktu secara sederhana
-      Konversi satuan turunan
Kuis
  • Sebelum memulai mempelajari topik ini, coba kamu jawab kuis berikut ini: 
  •   Apabila kamu dapat menjawab dengan benar, kamu dapat terus ke materi pelajaran. Jika masih ada yang salah, kamu dapat temukan jawabannya dengan mengklik ke link jawaban



Besaran Pokok
Sebelum membahas tentang besaran mungkin kalian dapat memperhatikan beberapa pertanyaan berikut ini.
Berapakah tinggi badanmu, berapa berat badanmu, berapa suhu tubuhmu, berapa lama kamu belajar, dan sebagainya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tepat, apa yang harus kamu lakukan? Tentunya kamu harus mengukur tinggi badan, berat badan suhu tubuh, dan lama kamu belajar. Nah, tahukah kamu apakah sebenarnya pengertian pengukuran itu?
pengukuran adalah proses membandingkan suatu besaran yang diukur dengan besaran sejenis yang ditentukan sebagai satuan. Segala sesuatu yang dapat diukur memiliki satuan. Satuan adalah besaran pembanding yang digunakan dalam pengukuran. Sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka disebut besaran.
Besaran yang ada dikelompokkan menjadi 2 yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah ditentukan dahulu.Ada 7 besaran pokok, seperti tertuang didalam table berikut :
                                  



Besaran Pokok Panjang
Untuk selanjutnya kita akan bahas lebih lanjut besaran pokok panjang, massa dan waktu secara lebih rinci.
 Besaran Pokok Panjang
 Besaran pokok panjang, menyatakan jarak antara dua titik. Satuan besaran panjang dalam sistem internasional(SI) adalah Meter.Alat ukur yang bias digunakan untuk mengukur besaran panjang adalah penggaris, meteran kelos, jangka sorong, dan mikrometer skrup.
Pengguna alat ukurnya kondisional, artinya penggunaan alat ukur disesuaikan dengan benda yang diukur , misalnya  jika kita hendak mengukur panjang meja maka alat ukur yang cocok adalah mistar, namun jika yang diukur adalah ketebalan kertas maka alat ukur yang sesuai adalah mikrometer skrup.
Penggaris adalah alat ukur besaran panjang yang sudah biasa digunakan dan pada umumnya kita sudah dapat menggunakan, namun yang perlu diperhatikan adalah cara melihat skalanya.
Beberapa alat ukur panjang




Besaran Pokok Waktu
Besaran Pokok Waktu
Besaran pokok waktu, menyatakan selang antar dua kejadian. Biasanya orang mengukur besaran waktu dengan menggunakan jam yang berpetunjuk detik, namun untuk keperluan yang lebih teliti digunakan jam henti atau stop watch.     
Satuan besaran pokok waktu dalam SI adalah sekon. Dan satuan umum digunakan adalah: 1 jam = 60 menit
1 jam = 3600 sekon
1 menit = 60 sekon

 Beberapa alat ukur waktu

Besaran Pokok Massa
Besaran pokok massa
Besaran pokok massa, menyatakan jumlah materi yang terkandung dalam suatu benda. Alat ukur yang biasa digunakan dilaboratorium adalah neraca. Neraca yang beredar cukup banyak. Dan salah satu contoh yang sering digunakan di sekolah-sekolah adalah neraca empat lengan dengan satuan gram. Neraca empat lengan dipasar tradisional jarang digunakan, kebanyakan orang menggunakan ’ Kiloan’. Namun, demi efisensi dan efektifitas kerja pada umumnya digunakan neraca digital.

Beberapa alat ukur massa :

Besaran Turunan
Besaran Turunan
Besaran yang ke-dua adalah besaran turunan. Besaran turunan yaitu besaran yang diturunkan dari besaran pokok, diantaranya :
a. Besaran turunan Luas
Dikatakan besaran turunan, karena satuannya diturunkan dari satuan pokok panjang.
Misalnya :
 b. Volume bola =  = 4/3  Ï€ jari-jari3
                       =  meter (m)  x meter (m) x meter (m)
                       =  m3
a. Luas persegi panjang = panjang x lebar
                                   = meter (m)  x meter (m)
                                   = m2
   

b. Luas Lingkaran = ½ Ï€ jari-jari2
                       =  meter (m)  x meter (m)
                       =  m2
                       

b. Besaran turunan volumeDikatakan besaran turunan, karena satuannya diturunkan dari satuan pokok panjang.
Misalnya :

a. Volume sebuah balok  = panjang x lebar x tinggi
                                     = meter (m)  x meter (m) x meter (m)
                                     = m3



 b. Volume bola      = 4/3  Ï€ jari-jari3
                                  =  meter (m)  x meter (m) x meter (m)
                                  =  m3

Beberapa besaran turunan yang laian adalah :

Satuan Sistem Internasional
Dahulu orang biasa menggunakan jengkal, hasta, depa, langkah sebagai alat ukur panjang. Ternyata hasil pengukuran yang dilakukan menghasilkan data berbeda-beda yang berakibat menyulitkan dalam pengukuran, karena jengkal orang satu dengan lainnya tidak sama. Oleh karena itu, harus ditentukan dan ditetapkan satuan yang dapat berlaku secara umum. Usaha para ilmuwan melalui berbagai pertemuan membuahkan hasil sistem satuan yang berlaku di Negara manapun dengan pertimbangan satuan yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
1)   Satuan selalu tetap, artinya tidak mengalami perubahan karena pengaruh apapun, misalnya
      suhu, tekanan dan kelembaban.
2)   Bersifat internasional, artinya dapat dipakai di seluruh negara.
3)   Mudah ditiru bagi setiap orang yang akan menggunakannya.
 
Pada tahun 1960 diresmikan satu sistem satuan yang dapat dipakai di seluruh negara (Internasional). Sistem ini disebut Sistem Internasional (SI). Satuan-satuan SI yang mempunyai syarat-syarat tersebut ditentukan dari sistem MKS (Meter sebagai satuan besaran panjang, Kilogram sebagai satuan besaran massa, Sekon sebagai satuan besaran waktu).
1. Standar untuk Satuan Pokok PanjangSekarang kita akan membahas tentang standar satuan pokok panjang .
Standar untuk satuan pokok panjang dalam SI adalah meter (m). Satu meter standar sama dengan jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa (vakum) pada selang waktu  1/299 792 458  sekon.
Satuan panjang dapat diturunkan dari satu meter standar yang telah  ditentukan sebagai berikut :


Masih terdapat satuan panjang selain yang telah ditetapkan menurut SI, yaitu inci, yard dan kaki. Satuan ini dapat diubah ke satuan meter  sebagai berikut :

Alat ukur meteran standar yang ada di museum Swiss

2. Standar untuk Satuan Pokok MassaSekarang kita akan membahas tentang standar satuan pokok massa .
Standar untuk satuan pokok massa dalam SI adalah kilogram ( kg ). Satu kilogram standar sama dengan massa sebuah silinder yang terbuat dari campuran platina-iridium. Massa standar disimpan di Sevres, Paris, Perancis. Massa satu kilogram standar mendekati massa 1 liter air murni pada suhu 4 0 C. Di dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi salah kaprah dengan massa suatu benda. Massa adalah kuantitas yang terkandung dalam suatu benda.

Alat ukur standar massa yang ada di meseum Swiss



3. Standar untuk Satuan Pokok WaktuSekarang kita akan membahas tentang standar satuan pokok Waktu .
Standar untuk satuan pokok waktu dalam SI adalah sekon (s). Satu  sekon standar adalah waktu yang diperlukan oleh atom Cesium – 133 ( Ce 133 ) untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali. Dalam selang waktu 300 tahun hasil pengukuran dengan menggunakan jam atom ini tidak akan bergeser lebih dari satu sekon. Satuan waktu lain yang biasanya dipakai dalam kehidupan sehari-hari antara lain : menit, jam, hari, minggu, bulan,tahun dan abad
1 menit = 60 sekon
1 jam = 60 menit = 3.600 sekon
1 hari = 24 jam = 1.440 menit = 86.400 sekon
Alat ukur waktu yang ada di Swiss 



Konversi satuan
Penggunaan satuan yang tidak seragam antara satu daerah dengan daerah lainnya dapat menimbulkan kesulitan. Kesulitan-kesulitan itu antara lain sebagai berikut.
a. Tidak adanya kesamaan hasil pengukuran. Hal ini diakibatkan karena besarnya anggota tubuh setiap orang berbeda.
b. Menimbulkan masalah ketika ingin beralih dari satu satuan ke satuan lainnya. Misalnya, ketika kamu ingin beralih dari satuan depa ke satuan jengkal akan timbul kesulitan akibat  tidak adanya aturan yang mengatur konversi satuan-satuan  tersebut.
Sampai saat ini, ada dua jenis satuan yang masih digunakan, yaitu sistem Inggris dan sistem Metrik. Dalam system Inggris  dikenal foot, pound, dan second (biasa disingkat FPS). Sedangkan sistem Metrik ini dibagi dua, yaitu MKS (meter, kilogram, sekon) dan CGS(centimeter, gram, sekon).
Contoh :Untuk mengonversi satuan sistem Metrik ke satuan system Inggris digunakan konversi seperti berikut.
1 cm         = 0,3937 inci
1 meter     = 3,281 ft (kaki)
1 meter     = 1,094 yard
1 ft (kaki)  = 12 inchi
1 yard       = 3 ft







Konversi Satuan Pokok
Konversi Satuan Panjang
Tahukah kalian  berapa panjang jembatan Suramadu? Berapakah lebar sebuah penggaris? Satuan apakah yang digunakan untuk mengukur panjang jembatan dan lebar penggaris? Panjang jembatan Suramadu sekitar 10 km, sedangkan lebar penggaris sekitar 3 cm. Tahukah kamu apakah hubungan antara satuan km dan cm?
Pada kehidupan sehari-hari seperti contoh di atas adakalanya kalian harus mengonversi satuan panjang tersebut yaitu km dan cm.
Untuk mengonversi satuan-satuan tersebut diperlukan faktor pengali satuan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tangga konversi besaran panjang.


Konversi Satuan Massa
Tahukah kalian berapa massa seekor gajah ? Berapakah massa sebuah kelereng? Satuan apakah yang digunakan untuk mengukur massa seekor gajah tersebut? Massa seekor gajah sekitar 1000 kg, sedangkan massa sebuah kelereng sekitar 3 gram. Tahukah kamu apakah hubungan antara satuan kg dan g?
Pada kehidupan sehari-hari seperti contoh diatas adakalanya kalian harus mengkonversi satuan massa tersebut yaitu kg dan gram.
Untuk mengkonversi satuan-satuan tersebut diperlukan faktor pengali satuan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tangga konversi besaran panjang
    
Konversi Satuan Waktu
Seperti pada besaran panjang dan massa, besaran waktu juga memiliki beberapa satuan yang dapat saling dikonversikan. Satuan-satuan besaran waktu antara lain jam, menit, dan detik. Bagaimana cara mengonversi satuan-satuan tersebut?
1 jam      = 60 menit atau 1 menit       = 1/60 jam
1 menit   = 60 sekon atau 1 sekon       = 1/60 menit
1 jam      = 3.600 sekon atau 1 sekon  = 1/3.600 jam

Konversi Satuan Turunan
Konversi Satuan Turunan           
Contoh besaran turunan adalah luas dan volume. Bagaimana menentukan luas papan tulis? Berapakah volume air dalam suatu bak mandi yang penuh?
Luas merupakan besarnya suatu daerah bidang. Luas dapat diperoleh dengan mengalikan antara dua besaran pokok panjang (panjang dan lebar atau alas dan tinggi). Oleh karena luas merupakan turunan dari besaran panjang, maka satuannya juga diturunkan dari besaran panjang. Satuan luas yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari antara lain km2, m2, dan cm2.
Volume dapat diartikan sebagai besarnya suatu ruang. Volume suatu balok dapat diperoleh dengan cara mengalikan tiga besaran pokok panjang (panjang, lebar, dan tinggi).
Satuan volume antara lain cm3, m3, dm3 dan liter ( 1 dm3 = 1 liter )
Untuk memahami cara mengonversi satuan luas dan volume, mari perhatikan tangga konversi berikut

Tuesday, July 26, 2011

Penangkal Bencana Dalam Keluarga

Penangkal Bencana Dalam Keluarga
Badai ujian dan cobaan dalam kehidupan rumah tangga bisa hadir kapanpun dan dimanapun tanpa peduli kita siap atau tidak, datang begitu tiba-tiba dan mendadak, terkadang membuat kita terhenyak dan terpuruk. Berbagai problem kehidupan rumah tangga selalu saja datang silih berganti. Dari sakit, konflik rumah tangga seolah tiada henti, anak yang dengan berbagai dinamika problem sosial. Tetangga dengan latar belakang karakter yang berbeda, tidak mudah untuk bersosialisasi. Ada tip dalam menghadapi bencana agar kita selamat. Sebagaimana Sabda Rasulullah, "Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, sholat, shodaqoh dan amar ma'ruf nahi Mungkar (HR. Bukhari & Muslim).

Rasululullah mengajarkan kita untuk menggunakan empat senjata yang ampuh dan berguna bagi kita untuk menghadapi bencana yaitu dengan puasa, sholat, shodaqoh dan amar ma'ruf nahi mungkar. Menurut Ibnu Qayyim dalam Kitabnya "al-Wabilush Shayyib" menjelaskan bahwa shodaqoh bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak bala' atau bencana karena Allah akan menghilangkan berbagai bencana dengan shodaqoh. Demikian halnya dengan puasa, sholat dan amar ma'ruf nahi mungkar juga merupakan senjata kita untuk melindungi keluarga kita dari bencana. Tentunya kita tidak akan pernah tahu kapan bencana itu datang dan begitu terhempas oleh bencana yang membuat kita jatuh terpuruk. Seolah semuanya terasa sempit, menyesakkan di dada, napaspun menjadi susah.

Itulah sebabnya, jika keluarga anda terbelit problem dan masalah, upaya telah dilakukan. Ingatlah bahwa solusi dan penyelesaian ada ditangan Allah.  Maka datanglah kepada Allah, adukan semua problem yang anda hadapi kepadaNya. Berserah dirilah kepada Allah dengan melakukan puasa, sholat, shodaqoh dan amar ma'ruf nahi mungkar. Bila Allah menghendaki untuk mengangkat bencana itu dari keluarga anda maka seketika itu juga seberat apapun masalahnya akan teratasi. Sebagaimana Nabi Ibrahim ketika Raja Namrud dilempar  ke dalam kobaran api, Allahpun menjadikan api yang panas berubah dingin dan Nabi Ibrahim tidak terbakar sedikitpun. Begitulah cara Allah yang menyelamatkan hambaNya dari bencana dengan KekuasaanNya. Seberat apapun masalah anda maka datanglah kepada Allah dan Allah akan merubah penderitaan anda menjadi kebahagiaan.

Wassalam,

Wednesday, July 13, 2011

Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam dunia Pendidikan dan Pembelajaran

Penyempurnaan kurikulum dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, bahan kajian yang harus dikuasai oleh siswa disesuaikan dengan tuntutantuntutan
tersebut. Selain itu, bukan hanya bahan kajian saja yang harus dikuasi oleh siswa tetapi
juga kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian
yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa
memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah
yang dihadapinya. Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu
dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information
and Communication Technology (ICT) yang berfungsi baik sebagai alat maupun bahan
pembelajaran.
Mata pelajaran baru yang akan atau mungkin diterapkan di sekolah dari segala jenis dan
tingkat pendidikan ini belum ada kata sepakat, selain materinya baru juga oleh kesiapam SDM
(guru) dan sasana pendidikan di sekolah. Namun demikian, kita akan melihatnya dari sisi lain,
bukan dari sisi adan tidaknnya mata pelajaran tersebut tetapi, kemampuan sekolah dan guru
mengadopsi teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran di kelas .
Alasan lain yang memperkuat adalah, mana mungkin memperkenalkan sebuah teknologi
dengan ceramah, dan mana mungkin labor lama dapat mengadaptasi penemuan-penemuan baru
dalam ilmu pengetahuan, apalagi sekeliling anak ada handphone, ada rental komputer, ada rental
internet dan ada macam-macam lagi.
Pembahasan secara komfrehensif mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan
difokuskan pada pengembangan dan penerapan konsep belajar terbuka, termasuk belajar jarak
jauh, dan belajar berbasis aneka sumber (resource based learning). Pembahasan meliputi
perkembangan dari aspek kerekayasaan, aspek kemasyarakatan, serta aspek ekonimis, aspek
psikologis dam aspek pendidikan sendiri. Kegiatan belajar di sekolah adalah pemberian
pengalaman langsung (hands on experience) dalam memanfaatkan teknologi canggih dalam
proses pembelajaran.
Konsep belajar terbuka di sekolah atau berbasis aneka sumber (resource based learning)
akan mengubah fungsi guru dikelas – yang tidak hanya satu-satunya sumber belajar dan dapat
mengembangkan metode mengajar di kelas. Konsep belajar terbuka artinya guru tidak hanya
mempunyai suatu sumber belajar (buku) dan satu metode (ceramah) tetapi dapat melakukan
variasi dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif.
Sumber belajar terbuka bisa bersumber dari (1) internet, (2) Radio, (3) Televisi, (4) Tape
Recorder, (5) CD Player, (6) komputer, (6) laboratorium alam (masyarakat) dan sejenisnya.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat masing-masing bagian.
1. Internet
Apa itu internet (international nelwork). Internet adalah kumpulan komputer antarsatu
wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan
komunikasi ini diatur oleh protokol. (Gatot Subroto, 1999) Dengan kata lain, internet adalah
media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya
disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang
komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan,
maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara
bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh
perangkat digital non komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi
komputer yang global. Dengan internet, maka di manapun kita berada dapat berhubungan satu
sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah
yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi informasi sekarang ini, ada semacam
persiapan yang bisa ditempuh orang tua dalam membantu anak-anak mereka untuk tetap berjalan
seiring dalam era informasi ini. Beberapa langkah persiapan yang bisa ditempuh orang tua
adalah, pertama orang tua harus memastikan diri bahwa mereka mempunyai pengetahuan dan
kemampuan praktis tentang komputer pribadi. Alasannya sangat sederhana, bagaimana orang tua
bisa mengajarkan anak-anak mereka naik sepeda sedangkan mereka sendiri tidak bisa naik
sepeda. Namun demikian, orang tua tidak perlu menjadi seorang ahli dalam menggunakan
komputer supaya menjadi contoh positif bagi anak-anak mereka menggunakan teknologi ini.
Dapat dipertimbangkan untuk mengikuti pelajaran komputer di tempat anak bersekolah, atau
mempelajari melalui buku tentang komputer bagi pemula khususnya.
Kedua, mulai membiasakan anak-anak untuk menggunakan komputer. Ini seperti
layaknya mengendarai sepeda, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,
mengendarai sepeda menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Langsung menggunakan komputer
juga dapat memberikan semacam pengalaman bagi anak-anak untuk merasakan nyaman dan
senang, sehingga dapat berkreasi dalam mengoperasikan teknologi canggih tersebut. Salah satu
kunci utama untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam rumah dari media
adalah secara langsung mengamati anak-anak. Artinya orang tua harus berada dekat dengan
anak-anak pada saat mereka menjelajah jaringan Internet. Kalau memang khawatir, sebetulnya
komputer pribadi dapat dipindahkan ke ruang keluarga berkumpul atau tempat-tempat yang
terbuka dan mudah diawasi.
Bila di rumah anda belum terpasang jaringan internet, anda tidak perlu berkecil hati.
Sekarang sudah banyak wartel, warung telekomunikasi yang tidak hanya menyediakan jasa
fasilitas telepon saja, tapi juga internet. Kita bisa menggunakan (baca: sewa) selama kita mau
dan mampu. Hanya tinggal membayar sewanya, dan harga sewanya cukup terjangkau dengan
tarif rata-rata adalah Rp.10.000,- per jam.
Lebih jauh, sekarang pelayanan jasa internet sudah dikemas dengan lebih apik, nyaman,
dan menyenangkan. Di Jakarta, Gatot Subroto (1999) pernah menjumpainya di daerah Blok M
Plaza (lantai IV dan V) yaitu Smashnet dan X-Trac, adalah dua tempat gaul internet yang bisa
dikunjungi oleh semua orang (kebanyakan pada umumnya remaja). Di Citraland dan Roxy Mas,
juga ada fasilitas seperti ini, kalau hari Sabtu tempat ini penuh akan antrean remaja yang hobi
akan teknologi dan menjelajah atau melanglang buana di dunia maya. Satu lagi di Mall Taman
Anggrek, sebuah tempat bernama NetCafe yang mengkemas dan meramu pojok internetnya
lebih bersuasana café. Sedangkan internet untuk keperluan anak-anak, pada dasarnya tidak jauh
berbeda dengan servis internet yang digunakan untuk internet biasa secara umum, yang
menonjol di sini mengenai informasi dan isi pengetahuan yang ditampilkannya, khususnya yang
mendukung perkembangan anak. Namun, salah satu tantangan yang cukup besar di dunia
internet adalah masalah penggunaan bahasa Inggris, sehingga dibuatkan perbendaharaan kata
dan pemahaman bahasa Inggris yang memadai bagi mereka untuk menjelajahi jaringan Internet.
Hal ini sekaligus merupakan suatu sarana untuk melatih dan mempraktikan kemampuan
berbahasa Inggris.
Beberapa contoh aplikasi internet untuk pendidikan yang mungkin akan menarik untuk
anak kita akan diberikan di bawah ini. Misalkan situs www.safekids.com – yang didirikan tahun
1994. Lawrence Magid menulis "Child Safety on the Information Highway" dan melanjutkan
penelitiannya pada masalah ini serta menciptakan Safekids.com. Sebuah situs yang membantu
orang tua guru, anak-anak dan remaja dalam mempelajari cara-cara yang aman dalam
menjelajahi dunia Internet. Letsfindout.com merupakan tempat yang sangat baik untuk
menambah pengetahuan atau untuk anak-anak atau siapapun yang ingin tahu tentang berbagai
hal.
2. Televisi
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan
dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi.
Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anakanak.
Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan
program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang
sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya
dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab
mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis
bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor
keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada
anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar,
majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi
merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis,
bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi
korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak
lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan
penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel
Indonesia, tampak hidup di layar televisi.
Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk
menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah
dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan.
Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui
stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu
bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung
dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi
sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para
penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang
televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari.
Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam
aspek kognetif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara
lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan
instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang
jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas.
Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta
didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar,
teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai
dengan tujuan yang dikehendaki.
Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan
sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991),
gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini
Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah
kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan
kesan pada diri pemirsa.
Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk
menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah
mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa
menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya
yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses
penyuntingan.
Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi
mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa mengakrabkan objek yang
jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga
Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan
komunikasi interpersonal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih,
simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan
keempat adalah perilaku para penyair televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita,
memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya.. Mereka mempunyai posisi
stategis dalam menyampaikan pesan pada khalayak.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan
kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai
positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat
merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai
masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan
ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.
3. Radio
Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di berbagai daerah di seluruh
Indonesia, belum termasuk stasiun radio yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998.
Wilayah jangkauannya secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan
Nusantara -meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan dapat mencakup setiap
desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus
yang diperlukan khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau keterampilan
membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja sudah lebih dari 69% penduduk yang
berusia 10 tahun ke atas mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu, angka ini diperkirakan telah
meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio oleh masyarakat sudah begitu
merata dan banyak, sehingga statistik mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat:
Direktorat Jenderal RTF (1998), BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan kelurahan adalah
data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua arah perkembangan. Di
dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang sebagai industri non pemerintah penunjang
kehidupan ekonomi dan politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan
sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara; perhatikan misalnya Voice of
America, Radio Free Europe, dsb. Di Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam
negeri sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah walaupun dengan sifat
yang independen, umpamanya BBC. (Untuk informasi mengenai perkembangan radio sebagai
institusi, lihat: Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
Dengan teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas mulai pula
berkembang sebagai radio global melalui jaringan internet. Setidaknya ratusan stasiun radio
lokal dari segenap penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara online.
4. Tape Recorder, CD Player dan Televisi
Ketika jenis benda elektrokik ini sudah dikenal umum, Tape recorder adalah untuk
merekam dan memutar kaset, sedangkan CD Player adalah untuk memutar CD Rom, di mana
televisi selain sebagai wadah tontonan adalah sebagai media pelengkap CD|rom.
5. Komputer
Komputer yang digunakan sebagai basis dalam kegiatan pembelajaran pada dasamya
menerapkan konsep efektivitas dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan. Pada fase I,
komputer memainkan peran sebagai alat bantu yang dikenal dengan sebutan Computer-asisted
instruction (CAI), Computer based instruction (CBI), Computer-enriched instruction (CEI), dan
Computer-managed instruction (CMI). Namun memasuki fase II komputer telah memainkan
peran dalam bentuk CMC (Computer mediated communication). Pemunculan CMC menggeser
peran komputer dalam kegiatan pembelajaran dari alat bantu menjadi sumber belajar. Namun
tidak mengurangi arti sebagai alat bantu guru dalam mengajar materi yang sulit (bahaya) dan
berulang dan yang kurang dikuasainya. Misalnya tentang gerak, pertumbuhan, ledakan,
pembedahan, pewarnaan, desain, audio dan video dan sebagainya. Karena itu komputer bisa
merangsang inovasi, kreatifitas, dan produkifitas guru dan siswa.
Berbagai software telah diciptakan untuk mendesain pembelajaran dengan komputer, di
mana dikenal istilah program interaktif, yaitu suatu desain pembelajaran, di mana pemakainya
seperti sedang melakukan interaksi dengan seseorang, layaknya sebuah game, sehingga tidak
membosankan, selain itu dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dan hidup dan
merangsang belajar.
Pada fase II memungkinkan komputer membantu lebih luas, karena CMC telah ditopang
dengan berbagai media (multimedia) untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan dalam
upaya meningkatkan kegiatan pembelajaran secara efektif. Melalui media ini unsur-unsur dasar
kegiatan pembelajaran memungkinkan untuk tercapai secara optimal. Unsur-unsur itu antara lain
terjadinya interaksi antar individu - baik guru-siswa, antarsiswa, siswa dengan orang lain
(pakar), dan/atau masyarakat sosial lainnya.
Pergeseran pemakaian sistem komputer ini bukan tanpa dasar, pergeseran ini merupakan
perwujudan pergeseran konsep belajar dari prinsip-prinsip yang cenderung behavioristik ke
prinsip-prinsip belajar kognitivistik, dari pola preskriptif ke deskriptif, dari yang menekankan
pada proses pengulangan (drill) ke pola-pola pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Di sisi lain, perubahan prinsip belajar berbasis komputer ini juga memberikan dampak pada
profesionalitas guru. Dalam hal ini, guru sudah harus menambah pengetahuan dan keterampilan
dalam profesi yang baru dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan mencapai tujuan
belajar.
Dengan pergeseran sistem pembelajaran yang berbasis komputer, dari alat bantu menjadi
sumber belajar ini, khasanah pengetahuan terbuka luas. Belajar tidak lagi terkukung dalam ruang
kelas semata, melainkan telah mampu menjelajah ke dunia lain baik dalam intranet maupun
secara global internet. Guru dan siswa hampir tanpa batas waktu dan ruang untuk berinteraksi,
begitu juga antara siswa dengan para pakar. Semua terpampang di depan mata. Dalam hal ini,
kemampuan mengorganisir, menganalisis dan menyeleksi informasi-informasi yang paling tepat
sangat penting artinya. Dengan kata lain ruang ini telah kebanjiran data atau informasi untuk
senantiasa dicermati oleh berbagai pihak, temasuk siswa-siswa dan para pendidik. Dari luapan
informasi itu mungkin saja sebagian besar informasi itu tidak perlu, dan tidak dibutuhkan oleh
siswa atau pendidik. Begitu juga dalam upaya mengambil kebijakan, tidak semua informasi
memberikan dukungan terhadap kebijakan.
B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Teknologi Pembelajaran
Uraian berikut bukan bermakud suatu keharusan sebuah sekolah memiliki atau membeli
semua perankat yang disebutkan karena selain harga yang mahal, juga teknis pemakaian,
perawatannya yang sulit, juga sulit mencarinya, tetapi uraian ini bermaksud memberikan
gambaran ideal bila sekolah mampu memilikinya sendiri, jika tidak sekolah bisa memanfaatkan
dengan sistem kerja sama atau bagi hasil dengan pihak luar.
Hardware (perangkat keras) yang harus dipunyai oleh sekolah adalah: (a) Radio, (b)
televisi, (c) Tape recorder (d) CD Player, (e) Camera tustel, (f) Kamera video, (g) CCTV, (h)
Handy Talky, (i) Proyektor, dan sejenisnya, sementara software yang harus dimiliki adalah (1)
Identifikasi Program, (2) Kaset pembelajaran (3) Video Pembelajaran, (4) Internet.
Bagaimanakah teknis atau strategi pembelajaran mengunakan alat dan sumber ini, hal ini
akan dibicara pada kesempatan lain.
C. Starategi Penerapan
Setiap sekolah, setiap daerah desa, kecamatan dan kabupaten di mana saja berbeda.
Makin sederhana suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten, makan semakin sederhana
perubahan/ pembaharuan yang dapat dilakukan tetapi semakin maju suatu sekolah, desa,
kecamatan dan kabupaten maka semakin kompleks pula perubahan yang dapat dilakukan, atinya,
perubahan/ penbaharuan membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar dan banyak.
Berdasarkan pemikiran ini, maka pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tergantung
dengan karakteristik sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten yang bersangkutan, artinya makin
sederhana sekolahnya makin sederhana teknologi yang diterapkan dan semakin maju sekolah itu
maka semakin kopmpleks teknologi yang dapat diterapkan.
Namun, betapun kesimpulan ini sederhana, kita tidak boleh mengatakan nanti, kalau bisa
dilakukan hari mengapa harus esok, karena hari esok kita sudah dibelakang lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M, H. (1994). Ilmu Perbandingan Pendididikan. Jakarta: Golden Trayon Press
Adningsih, Utami. (1999). Kualitas dan Profesionalisme Guru. Internet.
Anwas, M. Oos, (2004) Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis). Jurnal
Pustekkom Depdiknas.
Balitbang,Biro Humas dan Hukum. (Kompas, 2 Juli 2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Baru Diimplementasi Tahun 2004.
Belawati, Tian. (2000). Prinsip-Prinsip Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta:
Depdiknas.
Debdikbud. (1996-1997). Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud
____________. (1997-1998). Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru
Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Darmaningtyas. (1999). Pendidikan pada dan Selepas Kriris: Evaluasi Pendidikan di Masa
Krisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Duta Hari Murthi Consultants, PT. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Duta Hari
Murthi Consultants, PT.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2001). Modul Manajemen Berbasis Sekolah. Badung.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kuntjaraningrat. (1982) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mulyasa. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remadja Rosdakarya.
Nurholis. (1991). Hakekat Desenteralisasi Model MBS. Pendidikan Networ: internet.
Puspitasari, Ambar, Kristanti. (2002). Layanan Bantuan Belajar Dalam Sistem Pendidikan
Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Padmo, Dewi. (2001). Ragam dan Pemilihan Media Dalam Sistem Pendidikan Terbuka dan
Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Suarabaya: Usaha Nasional.
Saepudin Asep. (2000). Potret Pendidikan dalam Alih Ilmu dan Teknologi, internet.
Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar. Jakarta: Paramadia.
Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra
Gama Widyaa.
Sindhunata. (2000, editor). Menggas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suparman, Atwi. (1996). Pendidian Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Tilar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.

Friday, July 8, 2011

Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran

A. Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Pembelajaran


Penyempurnaan kurikulum dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, bahan kajian yang harus dikuasai oleh siswa disesuaikan dengan tuntutantuntutan
tersebut. Selain itu, bukan hanya bahan kajian saja yang harus dikuasi oleh siswa tetapi juga kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) yang berfungsi baik sebagai alat maupun bahan pembelajaran.
Mata pelajaran baru yang akan atau mungkin diterapkan di sekolah dari segala jenis dan tingkat pendidikan ini belum ada kata sepakat, selain materinya baru juga oleh kesiapam SDM (guru) dan sasana pendidikan di sekolah. Namun demikian, kita akan melihatnya dari sisi lain, bukan dari sisi adan tidaknnya mata pelajaran tersebut tetapi, kemampuan sekolah dan guru mengadopsi teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran di kelas .
Alasan lain yang memperkuat adalah, mana mungkin memperkenalkan sebuah teknologi dengan ceramah, dan mana mungkin labor lama dapat mengadaptasi penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, apalagi sekeliling anak ada handphone, ada rental komputer, ada rental internet dan ada macam-macam lagi.
Pembahasan secara komfrehensif mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembahasan difokuskan pada pengembangan dan penerapan konsep belajar terbuka, termasuk belajar jarak jauh, dan belajar berbasis aneka sumber (resource based learning). Pembahasan meliputi perkembangan dari aspek kerekayasaan, aspek kemasyarakatan, serta aspek ekonimis, aspek psikologis dam aspek pendidikan sendiri. Kegiatan belajar di sekolah adalah pemberian pengalaman langsung (hands on experience) dalam memanfaatkan teknologi canggih dalam
proses pembelajaran.
Konsep belajar terbuka di sekolah atau berbasis aneka sumber (resource based learning) akan mengubah fungsi guru dikelas – yang tidak hanya satu-satunya sumber belajar dan dapat mengembangkan metode mengajar di kelas. Konsep belajar terbuka artinya guru tidak hanya mempunyai suatu sumber belajar (buku) dan satu metode (ceramah) tetapi dapat melakukan variasi dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi aktif.
Sumber belajar terbuka bisa bersumber dari (1) internet, (2) Radio, (3) Televisi, (4) Tape Recorder, (5) CD Player, (6) komputer, (6) laboratorium alam (masyarakat) dan sejenisnya.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat masing-masing bagian.
1. Internet
Apa itu internet (international nelwork). Internet adalah kumpulan komputer antarsatu wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan komunikasi ini diatur oleh protokol. (Gatot Subroto, 1999) Dengan kata lain, internet adalah media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan,
maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh perangkat digital non komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi komputer yang global. Dengan internet, maka di manapun kita berada dapat berhubungan satu sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi informasi sekarang ini, ada semacam persiapan yang bisa ditempuh orang tua dalam membantu anak-anak mereka untuk tetap berjalan seiring dalam era informasi ini. Beberapa langkah persiapan yang bisa ditempuh orang tua adalah, pertama orang tua harus memastikan diri bahwa mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan praktis tentang komputer pribadi. Alasannya sangat sederhana, bagaimana orang tua bisa mengajarkan anak-anak mereka naik sepeda sedangkan mereka sendiri tidak bisa naik sepeda. Namun demikian, orang tua tidak perlu menjadi seorang ahli dalam menggunakan
komputer supaya menjadi contoh positif bagi anak-anak mereka menggunakan teknologi ini.
Dapat dipertimbangkan untuk mengikuti pelajaran komputer di tempat anak bersekolah, atau mempelajari melalui buku tentang komputer bagi pemula khususnya.
Kedua, mulai membiasakan anak-anak untuk menggunakan komputer. Ini seperti layaknya mengendarai sepeda, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mengendarai sepeda menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Langsung menggunakan komputer juga dapat memberikan semacam pengalaman bagi anak-anak untuk merasakan nyaman dan senang, sehingga dapat berkreasi dalam mengoperasikan teknologi canggih tersebut. Salah satu kunci utama untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam rumah dari media adalah secara langsung mengamati anak-anak. Artinya orang tua harus berada dekat dengan anak-anak pada saat mereka menjelajah jaringan Internet. Kalau memang khawatir, sebetulnya
komputer pribadi dapat dipindahkan ke ruang keluarga berkumpul atau tempat-tempat yang terbuka dan mudah diawasi.
Bila di rumah anda belum terpasang jaringan internet, anda tidak perlu berkecil hati. Sekarang sudah banyak wartel, warung telekomunikasi yang tidak hanya menyediakan jasa fasilitas telepon saja, tapi juga internet. Kita bisa menggunakan (baca: sewa) selama kita mau dan mampu. Hanya tinggal membayar sewanya, dan harga sewanya cukup terjangkau dengan tarif rata-rata adalah Rp.10.000,- per jam. Lebih jauh, sekarang pelayanan jasa internet sudah dikemas dengan lebih apik, nyaman, dan menyenangkan. Di Jakarta, Gatot Subroto (1999) pernah menjumpainya di daerah Blok M Plaza (lantai IV dan V) yaitu Smashnet dan X-Trac, adalah dua tempat gaul internet yang bisa dikunjungi oleh semua orang (kebanyakan pada umumnya remaja). Di Citraland dan Roxy Mas, juga ada fasilitas seperti ini, kalau hari Sabtu tempat ini penuh akan antrean remaja yang hobi akan teknologi dan menjelajah atau melanglang buana di dunia maya. Satu lagi di Mall Taman Anggrek, sebuah tempat bernama NetCafe yang mengkemas dan meramu pojok internetnya lebih bersuasana café. Sedangkan internet untuk keperluan anak-anak, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan servis internet yang digunakan untuk internet biasa secara umum, yang menonjol di sini mengenai informasi dan isi pengetahuan yang ditampilkannya, khususnya yang mendukung perkembangan anak. Namun, salah satu tantangan yang cukup besar di dunia internet adalah masalah penggunaan bahasa Inggris, sehingga dibuatkan perbendaharaan kata dan pemahaman bahasa Inggris yang memadai bagi mereka untuk menjelajahi jaringan Internet.
Hal ini sekaligus merupakan suatu sarana untuk melatih dan mempraktikan kemampuan berbahasa Inggris.
Beberapa contoh aplikasi internet untuk pendidikan yang mungkin akan menarik untuk anak kita akan diberikan di bawah ini. Misalkan situs www.safekids.com – yang didirikan tahun 1994. Lawrence Magid menulis "Child Safety on the Information Highway" dan melanjutkan penelitiannya pada masalah ini serta menciptakan Safekids.com. Sebuah situs yang membantu orang tua guru, anak-anak dan remaja dalam mempelajari cara-cara yang aman dalam menjelajahi dunia Internet. Letsfindout.com merupakan tempat yang sangat baik untuk menambah pengetahuan atau untuk anak-anak atau siapapun yang ingin tahu tentang berbagai hal.
2. Televisi
Memang televisi semakin dekat dengan anak. Banyaknya pilihan acara yang disuguhkan dari berbagai stasiun televisi, membuat anak semakin senang nongkrong di depan layar televisi. Pihak stasiun televisi tidak sedikit menyediakan acara-acara khusus untuk dikonsumsi anak anak. Simak saja acara-acara Sabtu dan Minggu pagi hampir semua stasiun TV menyajikan program anak-anak. Apalagi kini komunikasi antara orang tua dan anak cenderung berkurang sebagai konsekuensi kesibukan para orang tua pada pekerjaaanya serta makin hilangnya budaya dongeng orang tua saat pengantar tidur. Pendek kata, televisi sudah merupakan teman akrab mereka yang setiap saat mereka bisa menyaksikannya. Tulisan ini akan mencoba menganalisis
bagaimana potensi media televisi dan dampaknya terhadap perilaku anak serta konstribusi faktor keluarga dalam menagkal gencarnya siaran televisi tersebut.
Mengapa televisi diduga bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat, terutama pada anak-anak. Menurut Skomis, dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar, majalah, buku, dan lain sebagainya), televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis, bisa, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ekspresi korban kerusuhan di Ambon misalnya, hanya terungkap dengan baik lewat siaran televisi, tidak lewat koran ataupun majalah. Ratapan orang kelaparan di Ethiophia, gemuruhnya tepuk tangan penonton sepak bola di lapangan hijau, hiruk pikuknya suasana kampanye di bunderan Hotel
Indonesia, tampak hidup di layar televisi. Sebagai media informasi, televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerful) untuk menyampaikan pesan. Karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah
dialami sendiri dengan jangkauan yang luas (broadcast) dalam waktu yang bersamaan.
Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Melalui stasiun televisi, kerusuhan di Ambon dapat diterima di Banda Aceh dan di Jayapura dalam waktu bersamaan. Begitu pula acara pertandingan AC Milan melawan Juventus di Italia dapat langsung dinikmati pemirsa RCTI di Indonesia. Sungguh luar biasa, infomasi/kejadian di belahan bumi sana bisa diterima langsung di rumah. Televisi bisa menciptakan suasana tertentu, yaitu para penonton dapat melihat sambul duduk santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya Memang televisi akrab dengan suasana rumah dan kegiatan penonton sehari-hari. Televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam
aspek kognetif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan instruksional, seperti percobaan di laboratorium dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
Televisi juga dapat menghadirkan objek-objek yang berbahaya seperti reaksi nuklir, objek yang jauh, objek yang kecil seperti amuba, dan objek yang besar secara nyata ke dalam kelas.
Keuntungan lain, televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta didik, misalnya melalui teknik close up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar, teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.
Memang kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan. Begitu pula menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1991), gambaran dunia dalam televisi sebetulnya gambaran dunia yang sudah diolah. Dalam hal ini Jalaludin Rakhmat menyebutnya sebagai Tangan-tangan Usil. Tangan pertama yang usil adalah kamera (camera), gerak (motions), ambilan (shots), dan sudut kamera (angles) menentukan kesan pada diri pemirsa.
Tangan kedua adalah proses penyuntingan. Dua gambar atau lebih dapat dipadukan untuk menimbulkan kesan yang dikehendaki. Sinetron Jin dan Jun di RCTI misalnya, seolah-olah mereka bisa masuk ke dalam tembok, berjalan di angkasa, berlari-lari di atas air, atau bisa menghilang. Adegan memenggal kepala orang, bertarung di angkasa dan bentuk adegan lainnya yang tidak lazim dilakukan dalam kehidupan, merupakan hasil ulah editor dalam proses penyuntingan.
Tangan ketiga adalah ketika gambar muncul dalam layat televisi kita. Layar televisi mengubah persepsi kita tentang ruang dan waktu. Televisi juga bisa mengakrabkan objek yang jauh dengan penonton. Seorang penonton sepak bola di rumahnya berteriak kegirangan ketiga
Ronaldo (Inter Milan) memasukan bola ke gawang Juventus. Memang televisi bisa menjadikan komunikasi interpersonal antara penonton dengan objek yang ditonton. Perasaan gembira, sedih, simpatik, bahkan cinta bisa terjalin tanpa terhalang oleh letak geografis nan jauh di sana. Tangan keempat adalah perilaku para penyair televisi. Mereka dapat menggarisbawahi berita, memberikan makna yang lain, atau sebaliknya meremehkannya.. Mereka mempunyai posisi stategis dalam menyampaikan pesan pada khalayak.
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat menimbulkan pro dan kotra. Pandangan pro melihat televisi merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai positif masyatrakat. Sebaliknya pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang dapat merusak moral dan perilaku desktruktif lainnya. Secara umum kontraversial tersebut dapat digolongkan dalam tiga katagori, yaitu pertama, tayangan televisi dapat mengancam tatanan nilai masyarakat yang telah ada, kedua televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada, dan ketiga televisi dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan anak.
3. Radio
Dewasa ini terdapat 1069 stasiun radio dari berbagai jenis di berbagai daerah di seluruh Indonesia, belum termasuk stasiun radio yang baru memperoleh izin sejak bulan Mei 1998.
Wilayah jangkauannya secara geografis mencakup segenap daratan dan sebagian besar lautan Nusantara -meskipun karena kendala teknis dan topografis tidak akan dapat mencakup setiap desa dari 66.545 kelurahan yang ada. Lebih dari itu, radio tidak memerlukan persyaratan khusus yang diperlukan khalayak media massa lain, seperti kemampuan ekonomi atau keterampilan membaca. Menurut hasil Suscnas, pada tahun 1991 saja sudah lebih dari 69% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas mendengarkan radio ‘seminggu yang lalu, angka ini diperkirakan telah meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pemilikan pesawat radio oleh masyarakat sudah begitu merata dan banyak, sehingga statistik mengenai hal itu tidak lagi dapat diperoleh. Lihat: Direktorat Jenderal RTF (1998), BPS (1991). Jumlah Dati II, kecamatan dan kelurahan adalah data 1997 menurut catatan Pusat Informasi Nasional.
Di negara liberal Barat, khususnya Amerika Utara, terdapat dua arah perkembangan. Di dalam negeri radio sejak awal sudah berkembang sebagai industri non pemerintah penunjang kehidupan ekonomi dan politik. Tetapi terhadap dunia internasional, radio dikembangkan sebagai institusi komunikasi politik dari pemerintah dan negara; perhatikan misalnya Voice of America, Radio Free Europe, dsb. Di Eropa, media massa radio untuk komunikasi politik dalam negeri sampai sekarang masih ada yang merupakan institusi pemerintah walaupun dengan sifat yang independen, umpamanya BBC. (Untuk informasi mengenai perkembangan radio sebagai institusi, lihat: Hiebert, 1991 dan Dominick, 1990)
Dengan teknologi MPE baru, stasiun dengan warna lokal yang khas mulai pula berkembang sebagai radio global melalui jaringan internet. Setidaknya ratusan stasiun radio lokal dari segenap penjuru dunia seperti itu sekarangpun sudah dapat diakses secara online.
4. Tape Recorder, CD Player dan Televisi
Ketika jenis benda elektrokik ini sudah dikenal umum, Tape recorder adalah untuk merekam dan memutar kaset, sedangkan CD Player adalah untuk memutar CD Rom, di mana televisi selain sebagai wadah tontonan adalah sebagai media pelengkap CD|rom.
5. Komputer
Komputer yang digunakan sebagai basis dalam kegiatan pembelajaran pada dasamya menerapkan konsep efektivitas dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan. Pada fase I, komputer memainkan peran sebagai alat bantu yang dikenal dengan sebutan Computer-asisted instruction (CAI), Computer based instruction (CBI), Computer-enriched instruction (CEI), dan Computer-managed instruction (CMI). Namun memasuki fase II komputer telah memainkan peran dalam bentuk CMC (Computer mediated communication). Pemunculan CMC menggeser peran komputer dalam kegiatan pembelajaran dari alat bantu menjadi sumber belajar. Namun tidak mengurangi arti sebagai alat bantu guru dalam mengajar materi yang sulit (bahaya) dan
berulang dan yang kurang dikuasainya. Misalnya tentang gerak, pertumbuhan, ledakan, pembedahan, pewarnaan, desain, audio dan video dan sebagainya. Karena itu komputer bisa merangsang inovasi, kreatifitas, dan produkifitas guru dan siswa.
Berbagai software telah diciptakan untuk mendesain pembelajaran dengan komputer, di mana dikenal istilah program interaktif, yaitu suatu desain pembelajaran, di mana pemakainya seperti sedang melakukan interaksi dengan seseorang, layaknya sebuah game, sehingga tidak membosankan, selain itu dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dan hidup dan merangsang belajar.
Pada fase II memungkinkan komputer membantu lebih luas, karena CMC telah ditopang dengan berbagai media (multimedia) untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan dalam upaya meningkatkan kegiatan pembelajaran secara efektif. Melalui media ini unsur-unsur dasar kegiatan pembelajaran memungkinkan untuk tercapai secara optimal. Unsur-unsur itu antara lain terjadinya interaksi antar individu - baik guru-siswa, antarsiswa, siswa dengan orang lain (pakar), dan/atau masyarakat sosial lainnya.
Pergeseran pemakaian sistem komputer ini bukan tanpa dasar, pergeseran ini merupakan perwujudan pergeseran konsep belajar dari prinsip-prinsip yang cenderung behavioristik ke prinsip-prinsip belajar kognitivistik, dari pola preskriptif ke deskriptif, dari yang menekankan pada proses pengulangan (drill) ke pola-pola pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Di sisi lain, perubahan prinsip belajar berbasis komputer ini juga memberikan dampak pada profesionalitas guru. Dalam hal ini, guru sudah harus menambah pengetahuan dan keterampilan dalam profesi yang baru dalam upaya meningkatkan prestasi akademik dan mencapai tujuan belajar.
Dengan pergeseran sistem pembelajaran yang berbasis komputer, dari alat bantu menjadi sumber belajar ini, khasanah pengetahuan terbuka luas. Belajar tidak lagi terkukung dalam ruang kelas semata, melainkan telah mampu menjelajah ke dunia lain baik dalam intranet maupun secara global internet. Guru dan siswa hampir tanpa batas waktu dan ruang untuk berinteraksi, begitu juga antara siswa dengan para pakar. Semua terpampang di depan mata. Dalam hal ini, kemampuan mengorganisir, menganalisis dan menyeleksi informasi-informasi yang paling tepat sangat penting artinya. Dengan kata lain ruang ini telah kebanjiran data atau informasi untuk senantiasa dicermati oleh berbagai pihak, temasuk siswa-siswa dan para pendidik. Dari luapan informasi itu mungkin saja sebagian besar informasi itu tidak perlu, dan tidak dibutuhkan oleh
siswa atau pendidik. Begitu juga dalam upaya mengambil kebijakan, tidak semua informasi memberikan dukungan terhadap kebijakan.
B. Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Teknologi Pembelajaran
Uraian berikut bukan bermakud suatu keharusan sebuah sekolah memiliki atau membeli semua perankat yang disebutkan karena selain harga yang mahal, juga teknis pemakaian, perawatannya yang sulit, juga sulit mencarinya, tetapi uraian ini bermaksud memberikan gambaran ideal bila sekolah mampu memilikinya sendiri, jika tidak sekolah bisa memanfaatkan dengan sistem kerja sama atau bagi hasil dengan pihak luar.
Hardware (perangkat keras) yang harus dipunyai oleh sekolah adalah: (a) Radio, (b) televisi, (c) Tape recorder (d) CD Player, (e) Camera tustel, (f) Kamera video, (g) CCTV, (h) Handy Talky, (i) Proyektor, dan sejenisnya, sementara software yang harus dimiliki adalah (1) Identifikasi Program, (2) Kaset pembelajaran (3) Video Pembelajaran, (4) Internet.
Bagaimanakah teknis atau strategi pembelajaran mengunakan alat dan sumber ini, hal ini akan dibicara pada kesempatan lain.
C. Starategi Penerapan
Setiap sekolah, setiap daerah desa, kecamatan dan kabupaten di mana saja berbeda. Makin sederhana suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten, makan semakin sederhana perubahan/ pembaharuan yang dapat dilakukan tetapi semakin maju suatu sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten maka semakin kompleks pula perubahan yang dapat dilakukan, atinya, perubahan/ penbaharuan membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang besar dan banyak.
Berdasarkan pemikiran ini, maka pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tergantung dengan karakteristik sekolah, desa, kecamatan dan kabupaten yang bersangkutan, artinya makin sederhana sekolahnya makin sederhana teknologi yang diterapkan dan semakin maju sekolah itu maka semakin kopmpleks teknologi yang dapat diterapkan.
Namun, betapun kesimpulan ini sederhana, kita tidak boleh mengatakan nanti, kalau bisa dilakukan hari mengapa harus esok, karena hari esok kita sudah dibelakang lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M, H. (1994). Ilmu Perbandingan Pendididikan. Jakarta: Golden Trayon Press
Adningsih, Utami. (1999). Kualitas dan Profesionalisme Guru. Internet.
Anwas, M. Oos, (2004) Antara Televisi, Anak, dan Keluarga (Sebuah Analisis). Jurnal
Pustekkom Depdiknas.
Balitbang,Biro Humas dan Hukum. (Kompas, 2 Juli 2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Baru Diimplementasi Tahun 2004.
Belawati, Tian. (2000). Prinsip-Prinsip Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta:
Depdiknas.
Debdikbud. (1996-1997). Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud
____________. (1997-1998). Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru
Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Darmaningtyas. (1999). Pendidikan pada dan Selepas Kriris: Evaluasi Pendidikan di Masa
Krisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Duta Hari Murthi Consultants, PT. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Duta Hari
Murthi Consultants, PT.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2001). Modul Manajemen Berbasis Sekolah. Badung.
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
Kuntjaraningrat. (1982) Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mulyasa. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Remadja Rosdakarya.
Nurholis. (1991). Hakekat Desenteralisasi Model MBS. Pendidikan Networ: internet.
Puspitasari, Ambar, Kristanti. (2002). Layanan Bantuan Belajar Dalam Sistem Pendidikan
Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Padmo, Dewi. (2001). Ragam dan Pemilihan Media Dalam Sistem Pendidikan Terbuka dan
Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Suarabaya: Usaha Nasional.
Saepudin Asep. (2000). Potret Pendidikan dalam Alih Ilmu dan Teknologi, internet.
Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar. Jakarta: Paramadia.
Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra
Gama Widyaa.
Sindhunata. (2000, editor). Menggas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suparman, Atwi. (1996). Pendidian Jarak Jauh. Jakarta: Depdiknas.
Tilar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional.

Saturday, April 9, 2011

Kegiatan Tengah Semester

Alhamdulillah , pada hari ini sabtu tanggal 9 April 2011 , kegiatan Mid Semester Genap di SMP N 2 Kaliwungu telah berakhir , walau dengan kondisi yang seadanya disertai dengan beberapa kesibukan dari Bapak / Ibu Guru di dalam menyelesaikan tugasnya
Agenda kedepan adalah koreksi Ulangan Mid semester genap oleh guru mata pelajaran masing - masing , baik kelas VII - IX yang telah diterima oleh Bapak / Ibu guru , Batas akhir pengumpulan nilai Mid semester Genap SMP N 2 Kaliwungu Tahun pelajaran 2010 - 2011 adalah Hari Selasa , tanggal 12 April 2011 .Dari Guru Mata Pelajaran kepada Kaur Kurikulum , dan akan diserahkan kepada para wali kelas
Setelah wali kelas merekap dalam leger Mid Semester Genap , direncanakan Raport Mid Semester Genap ini akan dibagikan kepada Wali Murid pada Hari Sabtu , tanggal 16 April 2011 .
Sekali lagi , selamat kepada anak - anak yang telah melaksanakan Ulangan Mid Semester Genap , tak lupa kepada Anak - anak kelas IX , silahkan mulai menyiapkan diri untuk kegiatan pemadatan Mata Pelajaran Ujian Nasional ( Bhs Indonesia , Matematika , Bhs Inggris dan IPA ) yang akan dilaksanakan dari tanggal 11 - 21 April 2011

Penyakit yang menghambat terwujudnya Keluarga Sakinah

Penyakit Yang Menghambat Terwujudnya Keluarga Sakinah

Sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan, segala sesuatru mengandung unsur positif dan negatif. Dalam membangun keluarga sakinah juga ada faktor yang mendukung ada faktor yang menjadi kendala. Faktor-faktor yang menjadi kendala atau penyakit yang menghambat tumbuhnya sakinah dalam keluarga adalah,
1. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, magis dan sejenisnya. Bimbingan dukun dan sejenisnya bukan saja membuat langkah hidup tidak rasional, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.
2. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al haram ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.
3. Kemewahan. Menurut al Qur’an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku manyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.
4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL dan PIL). Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi berduaan dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis berduaan akan dapat menggiring pada perselingkuhan.
5. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial. Akibat Kebodohan sosial & matematis sosial maka sering terjadi pertengkaran dalam keluarga.
6. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.
7. Jauh dari agama. Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan menjanjikan padahal palsu.

Thursday, April 7, 2011

Mutiara Kalbu

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”,… sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.“Tidak”, …jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 65-66. ISBN 978-6028-686-402.

Info buku, silakan klik link (tautan) di bawah ini:

http://www.facebook.com/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465