This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, October 21, 2016

MANFAAT DAN JENIS MEDIA PEMBELAJARAN



C. Manfaat Media dalam Pembelajaran
Manfaat media pembelajaran secara umum adalah untuk memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.  Sedangkan manfaat secara khusus diantaranya untuk:
  1. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan
  2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
  3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
  4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
  5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
  6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja
  7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
  8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
D. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
  1. Berdasarkan dimensinya :
    1. Media Dua Dimensi
    2. Media Tiga Dimensi
  2. Berdasarkan perkembangan teknologi :
    1. Media Hasil teknologi Teknologi cetak
    2. Media hasil teknologi audio-visual.
    3. Media hasil teknologi yang berdasarkan komputer.
    4. Media hasil gabungan tenologi cetak dan teknologi komputer.
  3. Menurut jenis, daya liput, dan bahannya:
    1. Berdasarkan jenisnya, media terbagi menjadi :
      1. Media auditif
      2. Media visual
      3. Media audio visual
      4. Audio visual murni
      5. Audio visual tidak murni
    2. Berdasarkan daya liputnya, media terbagi menjadi :
      1. Media dengan daya liput luas dan serentak.
      2. Media dengan daya liput terbatas oleh ruang dan tempat.
      3. Media untuk pembelajaran invidual. Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri.
    3. Berdasarkan bahannya, media terbagi menjadi :
      1. Media sederhana
      2. Media kompleks
E. Menentukan Media Pembelajaran yang Tepat dalam Proses Pembelajaran
Kriteria dalam  pemilihan media pembelajaran :
  1. Tujuan
  2. Sasaran didik 
  3. Karateristik media yang bersangkutan
  4. Waktu
  5. Biaya
  6. Ketersediaan
  7. Konteks penggunaan
  8. Mutu Teknis
Prinsip/kriteria penggunaan media dalam proses belajar mengajar yaitu:
  1. Ketepatan dengan tujuan pembelajaran
  2. Dukungan terhadap isi bahan pembelajaran
  3. Kemudahan memperoleh media
  4. Keterampilan guru dalam menggunakan media
  5. Tersedianya waktu untuk menggunakannya
  6. Sesuai dengan taraf berfikir siswa sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami siswa
 Kriteria dalam memilih media :
  1. Sesuai dengan yang ingin dicapai.
  2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi.
  3. Praktis, luwes, dan bertahan.
  4. Guru terampil menggunakannya.
  5. Pengelompokkan sasaran.
  6. Mutu teknis.

Friday, October 14, 2016

MEDIA PEMBELAJARAN



A. Pengertian Media Pembelajaran Secara Umum
Metode pembelajaran berhubungan dengan pengelolaan pelajar dalam pembelajaran dan pengorganisasian sumber belajar, pelajar, strategi pembelajaran, media dalam pembelajaran serta evaluasi pembelajaran.  Pengorganisasian media pembelajaran berperan dalam presentasi atau cara penyampaian pembelajaran.    
Media dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual verbal.
Guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran (Hamalik, 1994:6) dalam Azhar Arsyad :
  1. Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar;
  2. Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan;
  3. Seluk beluk proses belajar;
  4. Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan;
  5. Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran;
  6. Pemilihan dan penggunaan media pendidikan;
  7. Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan;
  8. Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran;
  9. Usaha inovasi dalam media pendidikan
B. Fungsi Media Dalam Pembelajaran
  1. Fungsi Media dalam Pembelajaran
    1. Dua fungsi utama media pembelajaran :  1) sebagai alat bantu pembelajaran, 2) sebagai media sumber belajar.
    2. Media pembelajaran khususnya media visual memiliki empat fungsi yaitu :
      1. Fungsi atensi
      2. Fungsi afektif
      3. Fungsi kognitif
      4. Fungsi compensations
    3. Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa karena:
      1. Pengajaran lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasi belajar.
      2. Bahan pengajaran lebih jelas maknanya, sehingga dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik.
      3. Metode pengajaran akan  bervariasi.
      4. Siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
      5. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, dimulai dari taraf berfikir konkret menuju abstrak, dimulai dari yang sederhana menuju berfikir yang kompleks. Dengan adanya media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.

Wednesday, October 12, 2016

TEORI KEPEMIMPINAN

Sekolah sebagai pendidikan formal bertujuan membentuk manusia yang berkepribadian, dalam mengembangkan intelektual peserta didik dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan perannya sangat penting untuk membantu guru, murid dan seluruh komponen sekolah. Didalam kepemimpinnya kepala harus dapat memahami, mengatasi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lingkunagn sekolah.
Sebelum membahas lebih jauh tentang kepemimpinan sekolah, berikut referensi tentang pengertian pemimin atau kepemimpinan menurut para ahli,
William G. Scott (1962) Kepemimpinan ialah proses mempengaruhi aktifitas yang diorganisir dalam suatu kelompok dalam usahanya untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. F. A. Nigro (1965) Inti dari kepemimpinan ialah mempengaruhi aktifitas orang lain. F. I. Munson “The Management of Man”.Kepemimpinan sebagai kesanggupan atau kemampuan untuk mengatasi orang-orang yang sedemikian rupa agar mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan kemungkinan pergesekan yang sekecil-kecilnya dan sebesar mungkin terjalinnya kerja sama.

Wednesday, October 5, 2016

Kompetisi Bercerita Telkom `Indonesia Makin Digital`.


Kompetisi Bercerita Telkom
#IndonesiaMakinDigital
Telkom bersama Idblognetwork mengadakan `Kompetisi Bercerita Telkom `Indonesia Makin Digital`.
Story telling melalui blog dan vlog ini bertujuan untuk menceritakan pengalaman mempergunakan produk Telkom beserta kelebihannya dan menceritakan juga kisah menarik seputar pengalaman tersebut melalui tulisan atau video.
Ceritakan Pengalamanmu berinteraksi dengan digital dalam kehidupan sehari-hari, terutama menggunakan layanan produk dari Telkom. apa yang ingin kamu capai, manfaat apa yang sudah kamu rasakan, imajinasikan peran kamu melakukan inovasi karya digital untuk kemajuan bangsa.
Media: Tulisan Atau Video
Semua channel social media:semua channel Blog (SelfHosting,Blogspot,WordPress,Medium.com dan blog platform lainnya), social media (Facebook Notes, Google+, Linkedin Post dan platform social media lainnya), dan Video (Youtube)

Periode Lomba : 20 September 2016 - 30 Oktober 2016

Syarat Kompetisi:
  1. Peserta bebas menggunakan blog apapun dan untuk vlogger menggunakan channel youtube.
  2. Peserta WAJIB memasang Hashtag #IndonesiaMakinDigital di dalam postingan sebagai tanda keikutsertaan kontes.
  3. Peserta boleh mengirimkan lebih dari 2 artikel ataupun lebih dari 2 video blogging untuk dilombakan.
  4. Peserta boleh ikut menyebarluaskan kompetisi ini dan apabila orang yang diajak, memenangkan kompetisi, peserta ikut mendapatkan hadiah sebanyak 10% dari hadiah yang diterima orang yang diajaknya
  5. Minimal tulisan sebanyak 300 kata dan untuk video durasi 3 menit s/d 5 menit.
  6. Dalam artikel/video WAJIB memuat kalimat menyebutkan produk Telkom (salah satunya).
  7. Postingan ditulis dalam bahasa Indonesia.
  8. Pastikan Peserta sudah follow Account Twitter Telkom di @TelkomIndonesia , Account Instagram Telkom di Instagram.com/telkomindonesia dan Account Youtube Channel Telkom Indonesia Official
  9. Peserta sudah follow Account twitter @idblognetwork dan instagram @idblognetwork
  10. Share Foto dan shortlink tulisan di Instagram dan Twitter dengan mention Instagram dan Twitter @TelkomIndonesia cc @idblognetwork dan menggunakan hashtag #IndonesiaMakinDigital.
  11. Daftarkan Posting Artikel / Video pada dashboard yang disediakan
  12. URL lengkap postingan/video dapat dikirim menyusul, Anda dapat mengisi form terlebih dulu di halaman Pendaftaran.
  13. Tulisan tidak boleh melanggar hak kekayaan intelektual pihak manapun juga.
  14. Tulisan tidak boleh bermuatan politik dan SARA, atau memojokkan individu/golongan tertentu dan tidak melanggar hukum/aturan yang berlaku.
  15. Telkom berhak untuk mendiskualifikasi peserta dan/atau pemenang yang dianggap melanggar sebagian atau seluruh syarat dan ketentuan kompetisi ini.
Kriteria Penilaian:
  1. Konsep dan Kreativitas dalam bercerita menggunakan tulisan ataupun melalui audio/visual video
  2. Kisah mengandung motivasi/Inspirasional yang dapat menggerakan pembaca/pemirsa untuk melakukan hal-hal positif
  3. Alur yang jelas dalam menceritakan suatu cerita
  4. Penyampaian pesan yang mudah dicerna oleh pembaca/pemirsa
  5. Jumlah Interaksi yang terjadi antara pembaca/pemirsa terhadap hasil karya tulisan/video peserta
Total Hadiah: Rp 15,000,000,-kategori Blog/Tulisan
Untuk 3 pemenang blog/tulisan
Kategori Tulisan/Blog
Juara 1 : Rp 7,000,000,-
Juara 2 : Rp 5,000,000,-
Juara 3 : Rp 3,000,000,-

Referral juara 1 : Rp 700,000,-
Referral juara 2 : Rp 500,000,-
Referral juara 3 : Rp 300,000,-

Total Hadiah: Rp 22,000,000,-kategori Video
untuk 3 pemenang video
Kategori Vlog
Juara 1 : Rp 10,000,000,-
Juara 2 : Rp 7,000,000,-
Juara 3 : Rp 5,000,000,-

Referral juara 1 : Rp 1,000,000,-
Referral juara 2 : Rp 700,000,-
Referral juara 3 : Rp 500,000,-
Total Hadiah Referral
untuk 3 orang dari kategori tulisan dan video
Mendapatkan 10% dari nilai hadiah masing-masing pemenang
Pengertian Referral
Setiap Peserta mendapatkan kesempatan untuk menyebarkan informasi
adanya kegiatan ini : Kompetisi Bercerita Telkom #IndonesiaMakinDigital
Apabila ada rekan peserta yang ikut mendaftar pada akitivitas ini
dan kebetulan memenangkan, maka peserta yang mengajak berhak mendapatkan 10% dari hadiah yang diterima rekan yang diajak
Peserta Referral
1.Link Referral bisa didapatkan di dashboard peserta
2.Tidak boleh melakukan spamming.
3.Aktif ikut berpartisipasi menulis cerita pada Kompetisi Bercerita Telkom #IndonesiaMakinDigital
4.Bila Peserta tidak ikut berpartisipasi mengikuti lomba, tetapi teman/rekan/orang yang diajak memenangkan lomba, maka hadiah referral tidak dapat diberikan

Contact :

Support @ idblognetwork com
admin @ idblognetwork com
Twitter @idblognetwork
Instagram @idblognetwork
Telegram Account @idblognetwork
Telegram Group : idblognetwork
WhatsApp Idblognetwork official: 0812 1820 2753 

Wednesday, July 20, 2016

Inovasi Pembelajaran ( INOBEL ) 2016

Suatu inovasi yang dapat membantu memecahkan permasalahan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan mutu  proses dan hasil belajar siswa. Melalui lomba ini, karya-karya inovasi pembelajaran yang terpilih dapat dimanfaatkan menjadi rujukan bagi guru SMP dalam peningkatan mutu pembelajaran.

Sasaran kegiatan Lomba Inovasi Pembelajaran bagi Guru SMP Tingkat Nasional Tahun 2016 adalah guru SMP di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang mencakup guru:
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Matematika
5. Ilmu Pengetahuan Alam
6. Ilmu Pengetahuan Sosial
7. Bahasa Inggris
8. Seni dan Budaya
9. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan
10. Prakarya
11. Muatan Lokal
12. Bimbingan dan Konseling

 Ruang lingkup kegiatan Lomba Inovasi Pembelajaran bagi Guru SMP Tingkat Nasional Tahun 2016
berisi tentang pengalaman pembelajaran terbaik guru SMP yang merupakan hasil inovasi/hal-hal
baru/pembaharuan dalam model, pendekatan, strategi, metode,  dan media pembelajaran untuk
meningkatkan mutu proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Hasil inovasi dituangkan dalam bentuk
naskah yang didokumentasikan dalam bentuk hardcopy dan softcopy (CD/DVD/flashdisc). 
 Lomba Inovasi Pembelajaran ini dikelompokkan menjadi tiga bidang, yaitu:
1. Guru mata pelajaran yang melakukan inovasi di bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan  Alam (MIPA). Untuk bidang ini menggunakan kode MIPA.
2. Guru mata pelajaran yang melakukan inovasi di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa, PPKn, dan Muatan Lokal (Mulok). Untuk bidang ini menggunakan kode IPSB.
3. Guru mata pelajaran yang melakukan inovasi di bidang Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Seni Budaya, Prakarya, Pendidikan Agama, dan Bimbingan Konseling (BK). Untuk bidang ini menggunakan kode SORAK.



Tema Lomba Inovasi Pembelajaran Guru SMP Tingkat Nasional Tahun 2016: 
 “Inovasi Pembelajaran sebagai Upaya Mewujudkan Indonesia Pintar, Terampil, dan Berkarakter” 
Adapun isi karya lomba inovasi pembelajaran mengacu pada kurikulum yang berlaku di sekolah terkait dengan pendekatan, metode, model, strategi, dan media pembelajaran. 

Monday, February 2, 2015

Tujuan dan Jenis PTK

PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan mengingat tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Tujuan ini melekat pada diri guru dalam menunaikan misi profesional kependidikannya.
Manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas itu terkait dengan komponen pembelajaran, antara lain: (1) inovasi pembelajaran, (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas, dan (3) peningkatan profesionalisme guru.
Adapun ciri-ciri penelitian tindakan dikemukan oleh Zainal Aqib (2007:18-19) sebagai berikut:
(a) Penelitian tindakan partisipatori (participatory action research) yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan dengan menekankan keterlibatan anggota agar merasa ikut serta memiliki program kegiatan tersebut serta berniat ikut aktif memecahkan masalah berbasis umum.
(b) Penelitian tindakan kritis (critical action research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan menekankan adanya niat yang tinggi untuk memecahkan masalah dan menyempurnakan situasi.
(c) Penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran.
(d) Penelitian tindakan institusi (institutional action research), yaitu dilakukan oleh pihak pengelola sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan untuk meningkatkan kinerja, proses, dan produktivitas lembaga.

Jenis-jenis PTK antara lain: (a) PTK Diagnostik, yaitu penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Contohnya apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, perkelahian, konflik yang dilakukan antarsiswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas dengan cara mendiagnosis situasi yang melatarbelakangi situasi tersebut; (b) PTK Partisipan, apabila peneliti terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan. Dengan demikian, sejak perencanaan penelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencatat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisis data serta berakhir dengan melaporkan hasil penelitiannya; (c) PTK Empiris, ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitiannya berkenaan dengan penyimpangan catatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaan sehari-hari; (d) PTK Eksperimental, ialah apabila diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatan belajar-mengajar. Di dalam kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang diterapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.
Desain penelitian tindakan kelas menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Ide Awal
Seseorang yang berkehendak melaksanakan suatu penelitian baik yang berupa penelitian positivisme, naturalistik, analisis isi maupun PTK pasti diawali dengan gagasan atau ide, dan gagasan itu dimungkinkan yang dapat dikerjakan atau dilaksanakannya. Pada umumnya ide awal yang menggayut di PTK ialah terdapatnya suatu permasalahan yang berlangsung di dalam suatu kelas. Ide awal tersebut di antaranya berupa suatu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan penerapan PTK itu peneliti mau berbuat apa demi suatu perubahan dan perbaikan.
(2) Prasurvei
Prasurvei dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang kelas yang akan diteliti. Bagi pengajar yang melakukan penelitian di kelas yang menjadi tanggung jawabnya tidak perlu melakukan prasurvei karena berdasarkan pengalamannya selama ia di depan kelas sudah secara cermat dan pasti mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapinya, baik yang berkaitan dengan kemajuan siswa, sarana pengajaran maupun sikap siswanya. Dengan demikian para guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya sudah mengetahui kondisi kelas yang sebenarnya.
(3) Diagnosis
Diagnosis dilakukan oleh peneliti yang tidak terbiasa mengajar di suatu kelas yang dijadikan sasaran penelitian. Peneliti dari luar lingkungan kelas/sekolah perlu melakukan diagnosis atau dugaan-dugaan sementara mengenai timbulnya suatu permasalahan yang muncul di dalam kelas. Dengan diperolehnya hasil diagnosis, peneliti PTK akan dapat menentukan berbagai hal, misalnya strategi pengajaran, media pengajaran, dan materi pengajaran yang tepat dalam kaitannya dengan implementasinya PTK.
(4) Perencanaan
Perencanaan umum dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait dengan PTK. Sedangkan perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari siklus persiklus. Oleh karenanya dalam perencanaan khusus ini tiap kali terdapat perencanaan ulang (replanning). Hal-hal yang direncanakan di antaranya terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan materi pembelajaran, dan sebagainya.
(5) Implementasi Tindakan
Implementasi tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya. Strategi apa yang digunakan, materi apa yang diajarkan atau dibahas dan sebagainya.
(6) Pengamatan
Pengamatan, observasi atau monitoring dapat dilakukan sendiri oleh peneliti atau kolaborator yang memang diberi tugas untuk hal itu. Pada saat monitoring pengamat haruslah mencatat semua peristiwa atau hal yang terjadi di kelas penelitian. Misalnya mengenai kinerja guru, situasi kelas, perilaku dan sikap siswa, penyajian atau pembahasan materi, penyerapan siswa terhadap materi yang diajarkan, dan sebagainya.
(7) Refleksi
Refleksi ialah upaya evaluasi yang dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait dengan suatu PTK yang dilaksanakan. Refleksi ini dilakukan dengan kolaboratif, yaitu adanya diskusi terhadap berbagai masalah yang terjadi di kelas penelitian. Dengan demikian refleksi dapat ditentukan sesudah adanya implementasi tindakan dan hasil observasi. Berdasarkan refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan (replanning) selanjutnya ditentukan.
(8) Penyusunan Laporan
Laporan hasil penelitian PTK seperti halnya jenis penelitian yang lain, yaitu sesudah kerja penelitian di lapangan berakhir.
(9) Kepada Siapa Hasil PTK Dilaporkan
Sebenarnya, PTK lebih bersifat individual. Artinya bahwa tujuan utama bagi PTK adalah self-improvement melalui self-evaluation dan self-reflection yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.

Dengan demikian hasil pelaksanaan PTK yang berupa terjadinya inovasi pembelajaran akan dilaporkan kepada diri si peneliti (guru) sendiri. Guru perlu mengarsipkan langkah-langkah dan teknik pembelajaran yang dikembangkan melalui aktivitas PTK demi perbaikan proses pembelajaran yang dia lakukan di masa yang akan datang. Namun demikian hasil PTK yang dilaksanakan tidak menutup kemungkinan untuk diikuti oleh guru lain atau teman sejawat. Oleh karena itu guna melengkapi predikat guru sebagai ilmuwan sejati, guru perlu juga menuliskan pengalaman melaksanakan PTK tersebut ke dalam suatu karya tulis ilmiah. Karya tulis tersebut yang selama ini belum merupakan kebiasaan bagi para guru, sebenarnya masyarakat pengguna lain. Dengan melaporkan hasil PTK tersebut kepada masyarakat (teman sejawat, pemerhati atau pengamat pendidikan, dan para pakar pendidikan lainnya) guru akan memperoleh nilai tambah yaitu suatu bentuk pertanggungjawaban dan kebanggaan akademis atau ilmiah sebagai seorang ilmuwan hasil kerja guru akan merupakan amal jariah yang sangat membantu teman sejawat dan siswa secara khusus. Melalui laporan kepada masyarakat, PTK pada awalnya dilaksanakan dalam skala kecil yaitu ruang kelas akan memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.

Monday, January 5, 2015

Karakteristik PTK

Karakteristik PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (a) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; (b) adanya kolaborasi dalam pelaksanaan; (c) peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (d) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional; (e) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.
Menurut Hopkins (1993:57-61), ada 6 (enam) prinsip dalam PTK sebagai berikut:
(1) Pekerjaan utama guru adalah mengajar, dan apa pun metode PTK yang diterapkannya seyogyanya tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.
(2) Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
(3) Metodologi yang digunakan harus reliable, sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang dikemukakannya.
(4) Masalah program yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukan, dan bertolak dari tanggung jawab profesional.
(5) Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap proses dan prosedur yang berkaitan dengan pekerjaannya.
(6) Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan class room excerding perpsective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan perspektif misi sekolah secara keseluruhan. Sebagai contoh yang dilakukan oleh Kepala Sekolah. Sekolah memperbaiki sekolah, sedangkan Pengawas Sekolah memperbaiki sistem pendidikan (operasional kepengawasan). PTK hanyalah sebuah modal, yang penting proses memperbaiki.

Tuesday, November 11, 2014

Profesionalisme Guru


Profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989:45). Jadi profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu. Artinya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui pendidikan dan pelatihan secara khusus. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen)
Profesi menunjukkan lapangan yang khusus dan mensyaratkan studi dan penguasaan khusus yang mendalam, seperti bidang hukum, militer, keperawatan, kependidikan, dan sebagainya. Pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain (Nana Sudjana dalam Usman, 2005:46). Profesi seseorang yang mendalami hukum adalah ahli hukum, seperti jaksa, hakim dan pengacara. Profesi seseorang yang mendalami keperawatan adalah perawat. Sementara itu, seseorang yang menggeluti dunia pendidikan (mendidik dan mengajar) adalah guru, dan berbagai profesi lainnya.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa profesi adalah suatu keahlian (skill) dan kewenangan dalam suatu jabatan tertentu yang mensyaratkan kompetensi (pengetahuan, sikap dan keterampilan) tertentu secara khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Profesi biasanya berkaitan dengan mata pencaharian seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna.
Menurut Surya (2005:48) bahwa profesionalisme guru mempunyai makna penting, yaitu:(1) profesionalisme memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum;(2) profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat rendah;(3)profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya. 
Kualitas profesionalisme ditunjukkan oleh lima sikap, yaitu: (1) keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal; (2) meningkatkan dan memelihara citra profesi;(3) keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya; (4) mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi; dan (5) memiliki kebanggaan terhadap profesinya.
Pemerintah melalui Presiden sudah mencanangkan guru sebagai profesi pada tanggal 2 Desember 2004. Guru sebagai profesi dikembangkan melalui: (1) sistem pendidikan; (2) sistem penjaminan mutu; (3) sistem manajemen; (4) sistem remunerasi; dan (5) sistem pendukung profesi guru. Dengan pengembangan guru sebagai profesi diharapkan mampu: (1) membentuk, membangun, dan mengelola guru yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi di tengah masyarakat; (2) meningkatkan kehidupan guru yang sejahtera; dan (3) meningkatkan mutu pembelajaran yang mampu mendukung terwujudnya lulusan yang kompeten dan terstandar dalam rangka pencapaian visi, misi dan tujuan pendidikan nasional pada masa mendatang. Selain itu juga diharapkan akan mendorong terwujudnya guru yang cerdas, berbudaya, bermartabat, sejahtera, canggih, elok, unggul, dan profesional. Guru masa depan diharapkan semakin konsisten dalam mengedepankan nilai-nilai budaya mutu, keterbukaan, demokratis dan menjunjung akuntabilitas dalam melaksanakan tugas dan fungsi sehari-hari.


Monday, April 22, 2013

SATUAN BAKU DAN SATUAN TIDAK BAKU



Pada tulisan kali ini, kita akan membahasa tentang salah satu topik yang berhubungan dengan satuan. Dalam Fisika, dikenal dua jenis satuan, yakni satuan baku dan satuan tidak baku. Pernahkah anda mengisi ember dengan air sampai penuh? Misalnya, untuk mengisi ember sampai penuh diperlukan air sebanyak 10 gayung. Andaikan, gayung yang anda gunakan di awal kita ganti dengan gayung yang berukuran lebih kecil atau lebih besar. Coba anda ulangi pengisian ember tersebut. Samakah jumlah satuan gayung yang anda peroleh? Begitupula ketika kita hendak mengukur tinggi badan dengan menggunakan jengkal. Ukuran jengkal kita dan jengkal orang lain belum tentu sama.


Dari ilustrasi di atas, sebenarnya satuan seperti gayung, depa, hasta, dan jengkal disebut satuan tidak baku karena hanya berlaku setempat dan hasil pengukuran yang diperoleh tidak selalu sama. Sampai saat ini, satuan tidak baku masih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya di daerah Jawa Tengah ialah Ruh. Ruh adalah satuan untuk luas tanah. 1 ruh setara dengan 12 meter persegi, untuk di daerah Jawa Barat ialah tumbak. Tumbak adalah satuan untuk luas tanah. 1 tumbak setara dengan 14 meter persegi.

Selain satuan-satuan tidak baku tersebut, dapat pula digunakan satuan tidak baku untuk massa seperti menggunakan kelereng, dan satuan tidak baku untuk waktu seperti jam pasir dan jam matahari. Jam matahari adalah jam yang dibuat dengan sebuah lempeng jam matahari, bayangan tongkat akan berubah posisinya ketika matahari terbit atau ketika posisi matahari tepat di atas kepala. Posisi bayangan inilah yang berfungsi sebagai penanda waktu, tongkat yang memberi bayangan disebut dengan gnomon.

Sama halnya juga dengan jam pasir, alat yang juga digunakan sebagai penanda waktu. Cara kerja dari jam ini adalah dengan membalik sedemikian rupa sehingga semua pasir berada di pertangahan atas. Pasir tersebut akan memerlukan waktu 30 menit untuk mengalir ke dasar. Selain itu terdapat pula jam tetes air (clepsydras) yang digunakan di negeri Arab, mulai kira-kira 1.400 SM. Pada jam tetes air, waktu diukur berdasarkan berapa lama waktu yang dipakai untuk mengalirkan air keluar dari suatu tempat melalui sebuah lubang.

Untuk itu, sangat penting dikembangkan sebuah alat yang bisa menghasilkan satuan baku. Hal ini bertujuan agar siapapun yang menggunakan alat tersebut akan memperoleh hasil yang sama. Untuk mempermudah pengukuran, dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dibutuhkan keseragaman sistem satuan antarnegara yang bersifat baku atau standar. Syarat-syarat satuan baku atau standar harus memenuhi hal-hal berikut:

1. Satuan yang ditetapkan tidak mengalami perubahan oleh pengaruh apapun,
2. Satuan tersebut harus selalu sama di mana pun dan kapan pun,
3. Satuan yang ditetapkan harus mudah ditiru oleh siapa saja yang menggunakannya.

Dari syarat itulah, pada tahun 1975 para ilmuwan di Perancis telah menciptakan suatu standar sistem satuan yang berlaku di seluruh dunia. Sistem satuan baku ini disebut dengan Satuan Internasional (SI). Sistem ini juga dapat dinamakan Sistem Metrik. Sistem metrik ini terbagi menjadi dua, yakni sistem MKS dan sistem CGS. Contoh satuan baku dalam MKS yaitu; meter (m), kilogram (kg), dan sekon (s). Contoh satuan baku dalam CGS, yaitu; centimeter (cm), gram (gr), dan sekon (s). Selain sistem metrik, terdapat pula sistem British atau sistem Inggris, seperti kaki (foot) untuk satuan panjang, pon untuk satuan gaya, dan sekon untuk satuan waktu.

Wednesday, April 3, 2013

Fisikawan Muslim

Di bidang eksakta, termasuk di bidang fisika, para ilmuwan Muslim telah memberikan kontribusi luar biasa untuk kehidupan umat manusia. Karya-karya mereka, khususnya fisikawan Muslim di zaman keemasan (golden ages) Islam, banyak memberi inspirasi dan mewarnai karya para ilmuwan Barat. Sebut saja misalnya Al-Haitham. Karya fisikawan Muslim yang hidup pada tahun 965-1039 Masehi ini memberi inspirasi pada Roger Bacon, Johann Kepler, Leonardo da Vinci, dan lain-lain.
Berikut beberapa fisikawan Muslim yang berjasa dalam menyemarakkan peradaban dunia dengan karya-karyanya:
Al-Haitham
Fisikawan ternama ini bernama lengkap Abu Ali Al-Hasan Ibn Al-Hasan (atau al-Husain) Ibn Al-Haitham. Ia lahir tahun 965 di Basrah (Irak). Namun namanya mulai masyhur di Mesir, saat pemerintahan Islam dipimpin oleh Khalifah Al-Hakim (996-1020). Fisikawan Muslim terbesar dan salah satu pakar optik terbesar sepanjang masa, itu wafat di Kairo sekitar tahun 1039.
Sepanjang hidupnya, Al-Haitham telah menulis sekitar 70 kitab. Salah satu kitabnya, Al-Manazir, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan tajuk Opticae Thesaurus. Dalam kitabnya Al-Haitham mengatakan, proses melihat adalah jatuhnya cahaya ke mata. Bukan karena sorot mata sebagaimana diyakini orang sejak zaman Aristoteles. Dalam kitab itu ia juga menjelaskan berbagai cara untuk membuat teropong dan kamera sederhana (kamera obscura).
Kitab tentang optika ini telah menginspirasi para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon dan Johann Kepler. Tak heran jika Al-Hazen, demikian Barat menyebut nama Al-Haitham, mendapat gelar ”Bapak Optika Modern”.
Al-Haitham juga dinilai telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan metode penelitian. Ia telah memulai suatu tradisi metode ilmiah untuk menguji sebuah hipotesis, 600 tahun mendahului Rene Descartes yang dianggap Bapak Metode Ilmiah Eropa di zaman Rennaisance. Metode ilmiah Al-Haitham diawali dari pengamatan empiris, perumusan masalah, formulasi hipotesis, uji hipotesis dengan melakukan penelitian, analisis hasil penelitian, interpretasi data dan formulasi kesimpulan, serta diakhiri dengan publikasi.
Selain fisikawan, Al-Haitham juga dikenal sebagai astronom dan matematikawan. Ia telah menulis komentar tentang Aristoteles dan Galen.
Ibnu Bajjah
Namanya Abu-Bakr Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Al-Sayigh. Tapi ia biasa dipanggil Ibnu Bajjah yang berarti “anak emas”. Ibnu Bajjah lahir di Saragoza, Spanyol, pada tahun 1082 dan wafat pada 1138 M. Ia mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan di zaman kekuasaan Dinasti Murabbitun. ”Avempace” –sebutan Barat untuk Ibnu Bajjah–antara lain mengembangkan ilmu fisika, matematika, astronomi, musik, ilmu kedokteran, psikologi, sastra, dan filsafat.
Sebagaimana Al-Haitham, karya Ibnu Bajjah dalam bidang fisika banyak mempengaruhi fisikawan Barat abad pertengahan seperti Galileo Galilei. Ibnu Bajjah menjelaskan tentang hukum gerakan. Menurutnya, kecepatan sama dengan gaya gerak dikurangi resistensi materi. Prinsip-prinsip yang dikemukakannya ini menjadi dasar bagi pengembangan ilmu mekanika modern. Karena itu tidak mengherankan jika hukum kecepatan yang dikemukakan Galilei sangat mirip dengan yang dipaparkan Ibnu Bajjah. Karya-karya Ibnu Bajjah mengenai analisis gerakan juga sangat mempengaruhi pemikiran Thomas Aquinas.
Al-Farisi
Kamal al-Din Abu’l-Hasan Muhammad Al-Farisi lahir di Tabriz, Persia (sekarang Iran) pada tahun 1267 dan wafat pada 1319 M. Al-Farisi terkenal dengan kontribusinya tentang optik. Dalam bidang optik, ia berhasil merevisi teori pembiasan cahaya yang dicetuskan para ahli fisika sebelumnya. Al-Farisi membedah dan merevisi teori pembiasan cahaya yang telah ditulis oleh Al-Haitham. Hasil revisi itu ia tulis dalam kitab Tanqih al-Manazir (Revisi tentang Optik).
Menurut Al-Farisi, tidak semua teori optik yang dikemukakan Al-Haitham benar. Karena itulah ia berusaha memperbaiki kelemahan dan menyempurnakan teori Al-Haitham. Tak cuma itu, teori Al-Haitham soal pelangi juga ia perbaiki. Bahkan Al-Farisi mampu menggabungkan teori Al-Haitham ini dengan teori pelangi dari Ibnu Sina.
Al-Farisi mampu menjelaskan fenomena alam ini dengan menggunakan matematika. Inilah salah satu karya fenomenalnya.
Taqi al-Din
Selain dikenal sebagai pakar fisika, Taqi al-Din Muhammad ibnu Ma’ruf al-Shami al-Asadi (1526-1585 M) adalah pakar matematika, pakar botani, astronom, astrolog, dan ahli teknik. Taqi al-Din juga teolog, filsuf, ahli hewan, ahli obat-obatan, hakim, guru, dan imam masjid. Sebagai ahli teknik, ia misalnya membuat jam dinding dan jam tangan.
Taqi al-Din menulis sekitar 90 kitab. Salah satunya bertajuk Al-Turuq al-Samiyya fi al-Alat al-Ruhaniyya. Kitab yang ditulis pada 1551 ini menjelaskan kerja mesin dan turbin uap air. Karya ini mendahului penemuan Giovanni Branca (1629) tentang mesin uap air. Kitab-kitab lainnya antara lain menerangkan tentang optik, matematika, mekanika, astronomi, dan astrologi.
Al-Khazini
Abdurrahman al-Khazini hidup pada abad ke-12 M. Ia adalah ilmuwan yang menemukan berbagai teori penting dalam sains. Temuan ilmuwan kelahiran Bizantium ini antara lain: metode ilmiah eksperimental dalam mekanik; perbedaan daya, masa dan berat; jarak gravitasi; serta energi potensial gravitasi.
Sumbangan penting Al-Khazini dalam bidang fisika terangkum dalam kitab Mizan al-Hikmah yang ditulisnya pada tahun 1121. Dalam buku ini ia menjelaskan tentang teori keseimbangan hidrostatika.Teori ini telah mendorong penciptaan peralatan ilmiah. Tak mengherankan jika Robert E. Hall dalam tulisan bertajuk ”Al-Khazini” yang dimuat dalam A Dictionary of Scientific Biography Volume VII (1973) menyebutkan, ”Al-Khazini adalah salah seorang saintis terbesar sepanjang masa.” Sedangkan editor Dictionary of Scientific Bibliography, Charles C. Jilispe, menjuluki Al-Khazini sebagai ”Fisikawan terbesar sepanjang sejarah.”
Dalam bukunya, Al-Khazini menerangkan prinsip keseimbangan hidrostatika dengan tingkat ketelitian obyek sampai ukuran mikrogram (10?6 gr). Tingkat ketelitian seperti ini, menurut K. Ajram dalam The Miracle of Islamic Science, baru dapat tercapai pada abad ke-20 M.
Al-Khazini juga menjelaskan definisi ”berat”. Menurutnya, berat merupakan gaya yang inheren dalam benda-benda padat yang menyebabkan mereka bergerak dalam satu garis lurus terhadap pusat bumi (gravitasi) dan terhadap pusat benda itu sendiri. Besaran gaya ini tergantung dari kerapatan benda.
Ia juga menerangkan pengaruh suhu (temperatur) terhadap kerapatan benda. Hal ini ia lakukan sebelum Roger Bacon menemukan dan membuktikan suatu hipotesis tentang kerapatan air saat ia berada dekat pusat bumi.
Sebagaimana para ilmuwan Muslim lainnya yang hidup di era keemasan Islam, Al-Khazini merupakan ilmuwan multidisiplin. Selain pakar fisika, ia juga ahli di bidang biologi, kimia, matematika, astronomi, dan filsafat.
Al-Khazini, dan para ilmuwan Muslim lainnya, telah melahirkan ilmu gravitasi yang kemudian berkembang di Eropa. Al-Khazini juga telah berjasa meletakkan fondasi bagi pengembangan mekanika klasik di era Renaisans Eropa. Inilah salah satu bukti betapa para ilmuwan Muslim telah memberi kontribusi yang luar biasa bagi peradaban dunia.